Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 69



Waktu itu masih pukul dua siang ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. Entah kapan Alan berjalan kemari. Aku sama sekali tak menyadarinya. Saat aku menoleh tahu-tahu ia sudah ada di sana. Berdiri di sampingku dengan wajah tersenyum sambil memegang jus stroberi di tangannya.


"Minumlah," ucapnya seraya menyodorkan jus itu padaku.


"Kau membelinya?" Aku meraih jus kesukaanku itu. Menancapkan sedotan dan menyesap isinya. Manis dan sedikit asam, sangat menyegarkan.


"Dia yang beli."


Aku menyesapnya sekali lagi. Setelah itu mengikuti arah pandangan Alan. Arman ada di sana berdiri dengan tegap di depan pintu ruangan CEO. Seperti biasa wajahnya tanpa ekspresi.


"Apa hidupnya sangat pahit? aku tak pernah melihatnya tersenyum," kataku seraya berpaling dari manusia patung itu. Kembali menatap Alan yang kini duduk di ujung meja kerjaku.


Alan terkekeh. Tangannya terulur, mengusap kepala dan menyelipkan helai rambutku ke belakang telinga. "Mungkin karena aku terlalu sering menyiksanya," sahut Alan, masih tertawa.


"Bos kejam."


Alan mengangguk setuju. "Benar. Aku memang kejam," akunya.


Aku menatapnya dengan heran. "Kau bangga?"


"Tentu saja." Alan menjawab tanpa ragu.


Aku lekas berpaling dari wajahnya. Kembali menatap layar laptop dan melanjutkan pekerjaanku.


"Apa kau tidak punya pekerjaan?" Aku meliriknya sebentar. Alan masih duduk di sana. Memainkan ujung rambutku dengan telunjuknya. Sorot matanya tak pernah lepas dari wajahku. "Aku bosan," jawabnya.


"Ayo keluar, temani aku bermain," imbuhnya seraya meraih tanganku.


"Aku sibuk," kataku seraya menepis tangannya. Jemariku kembali meluncur di papan keyboard.


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku saat Alan menutup laptop yang sedang kugunakan dengan paksa. Saat aku melihatnya ia memasang wajah tidak senang. Alan tidak terbiasa dengan penolakan. Tentu saja ucapanku barusan membuatnya marah. Wajahnya yang seputih salju itu mulai memerah.


"Sebentar lagi, biarkan aku menyelesaikan ini dulu," kataku dengan suara selembut mungkin. Aku tak bisa membiarkan amarahnya terus berlanjut. Kalau tidak semua orang akan terkena imbasnya.


"Tinggalkan saja. Biarkan Arman yang menyelesaikan tugasmu."


Aku tak bisa berbuat apapun lagi selain menurutinya. Aku mengalungkan kedua tangan di lehernya saat ia membopongku dan berjalan keluar gedung.


"Tak bisakah kau membiarkanku berjalan sendiri?" Aku bukan bayi tapi Alan suka sekali menggendongku. Ia tak peduli meskipun orang-orang menatapnya dengan heran.


"Aku tak akan membiarkan wanitaku kelelahan," jawabnya sambil terus melangkah. Nafasnya tetap stabil meskipun sedang membawa beban di tangannya. Seolah aku hanya kardus kosong yang sangat ringan.


"Tapi aku malu." Aku membenamkan wajahku di dadanya. Menyembunyikannya dari tatapan orang-orang yang terus memandang ke arah kami.


"Apa kau mencuri? Atau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain?" Alan berhenti sebentar saat aku menggelengkan kepala.


"Jika kau tak melakukan keduanya maka tidak perlu malu," lanjutnya. Ia kembali melanjutkan langkahnya, memasuki apartemen.


"Tapi orang-orang terus melihat ke arah kita."


"Biarkan saja. Mereka hanya melihat, tidak akan menggigitmu."


Aku membungkam mulutku. Tak berani mendebatnya lagi. Lagipula aku tidak akan pernah menang melawannya.


Alan baru menurunkanku setelah kami sampai di penthousenya. Ia mendudukkan ku di tepi tempat tidur. Setelah itu berjalan menuju lemari pakaian sambil melepas jasnya dan melemparnya ke keranjang yang ada di sudut kamar.


"Al ..."


Aku merebahkan diri di kasur. Merasai betapa empuknya spring bed itu. Seprai biru dongkernya juga sangat halus. Aku mengusapnya beberapa kali.


"Apa kau sangat kaya?" Aku menatap punggungnya yang terbuka. Dari luar ia terlihat kurus dan lemah. Tapi siapa sangka kalau ternyata Cecunguk itu memiliki badan yang bagus, menurutku.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba bertanya?" Alan menoleh sebentar. Namun tak mengubah posisi tubuhnya. Ia masih menghadap lemari, memunggungiku.


"Tidak ada apa-apa. Hanya penasaran saja." Cecunguk itu punya rumah, penthouse, motor dan mobil. Itu semua jenis yang mewah yang jarang dimiliki oleh orang lain. Di negara ini mungkin hanya beberapa saja yang memakainya. Masih dalam hitungan jari.


Mereka semua yang memiliki kendaraan seperti itu merupakan konglomerat di negeri ini yang hartanya tak akan habis hingga tujuh turunan.


Aku membalikan badan. Menenggelamkan wajahku di antara tumpukan bantal. Ranjangnya bergetar saat Alan ikut naik ke atas kasur. Meskipun aku tak melihatnya tapi bisa kurasakan kalau lelaki itu sudah merangkak di atasku. Nafasnya yang hangat menerpa telingaku saat ia berbicara. "Kau ingin tahu?" bisiknya.


"Tidak terlalu." Ya, meskipun aku memang sedikit penasaran tapi kalau dia tak ingin memberitahuku juga tidak masalah.


"Aku tidak tahu apakah aku sangat kaya atau biasa-biasa saja. Tapi aku bisa menjamin kau dan anak-anak kita nanti tidak akan kelaparan."


Aku menggeliat saat bibirnya menyentuh ujung telingaku. Rasanya sangat geli. Sekujur tubuhku bergetar hebat ketika ia terus bermain-main di sana.


Tidak bisa, aku harus menghentikannya. Terlalu berbahaya jika terus begini. Aku lekas berbalik dan mendorongnya. Namun, laki-laki itu tak bergeser sedikit pun. Ia masih di sana. Mengunci tubuhku dengan kedua lengannya yang entah sejak kapan menjadi lebih berotot. Aku tertegun menatap tubuh atasnya yang telanjang.


Tanpa sadar tanganku terulur. Menyentuh dadanya yang bidang. Alan tersenyum saat aku meraba perutnya yang rata dengan enam tonjolan di tengahnya.


"Kau suka?" tanyanya dengan senyum jahil.


"Kapan kau mendapatkannya?" Aku kembali mendorongnya menjauh.


Entah karena aku mendorongnya terlalu kuat atau karena ia sengaja menurunkan kekuatannya, aku tidak yakin. Yang pasti kali ini aku berhasil menyingkirkannya. Ia terbaring di sampingku. Menghadap ke atas, menatap langit-langit. "Sudah lama," jawabnya.


Aku menoleh, menatap wajahnya yang persis di sebelahku. "Waktu itu tidak ada." Aku masih ingat ketika kami terpaksa menginap dalam satu kamar saat mengunjungi taman hutan. Saat itu Alan memang memiliki otot di beberapa bagian tubuhnya. Akan tetapi tidak sekekar sekarang. Perutnya juga rata, tidak sixpack seperti sekarang.


Alan mengernyitkan dahi. "Waktu itu? kapan?" tanyanya seraya menoleh ke arahku.


"Saat di taman hutan."


"Ah ...." Alan mengangguk mengerti.


"Apa kau akan terus telanjang seperti itu? Cepat pakai bajumu," titahku, tak sabar.


"Kenapa? Apa kau tergoda saat melihatku telanjang? Kau ingin meniduriku?"


Aku terbahak mendengar ucapan konyolnya. "Mana ada perempuan yang meniduri laki-laki, yang ada sebaliknya."


"Kalau begitu apa aku boleh menidurimu?" Alan memiringkan tubuhnya. Menghadap ke arahku dengan satu tangan terlipat, menopang kepalanya. Kedua sudut mulutnya terangkat ke atas, menyeringai.


Aku mendelik saat jemarinya mulai bergerak dengan liar. "Kau mau mati? Cepat singkirkan tanganmu!"


Alan bergerak secepat kilat. Meraih kedua telapak tanganku dan mengangkatnya ke atas kepala. Matanya menjadi gelap. Ia menatapku sangat dalam. "Bagaimana kalau aku tidak mau?" ucapnya dengan suara berat.


Belum sempat aku menjawab. Alan sudah membungkam mulutku dengan bibirnya. Meskipun caranya sedikit memaksa tapi ia melakukannya dengan sangat lembut. Membuatku terhanyut dalam cumbuannya. Perlahan cengkraman tangannya mulai mengendur. Seiring dengan reaksiku yang kian tak terkendali. Tubuhku meliuk-liuk menikmati setiap sentuhannya.


Aku tidak tahu mengapa aku menjadi seperti ini. Dulu saat bersama Kevin aku selalu bisa mengontrol diriku sendiri. Aku bisa menolaknya dengan tegas. Namun saat bersama Alan, semuanya terasa berbeda. Aku takluk di hadapan lelaki ini. Aku tidak hanya tidak bisa menolak. Tapi juga mulai menginginkannya.


Bersambung...