
Aku membacanya sekali lagi. Terutama pada bagian paling akhir. Sebuah kalimat yang membuat mataku memanas. Kalimat itu berbunyi 'Menyiapkan dan memenuhi segala sesuatu yang di butuhkan direktur baik tentang pekerjaan maupun urusan pribadi selama jam kerja berlaku'.
Jika mengenai pekerjaan seperti menyiapkan dokumen, mengatur agenda, menjadi penghubung dengan pihak eksternal maupun dengan bawahannya yang lain, aku sama sekali tidak masalah. Tapi untuk urusan pribadinya aku benar-benar keberatan. Bagaimana mungkin seorang sekretaris memberikan pijatan dan melayani atasannya saat sedang makan? Memangnya mereka pikir aku ini asisten pribadinya? Tidak, kurasa asisten pribadi pun tidak bertugas menyuapinya.
Aku yakin tadi sempat mendengar Alan terkikik. Namun, begitu aku menatapnya ia langsung menutup mulut dan berpura-pura tidak melihatku. Ia menatap sembarang arah sambil bersiul.
"Ada apa? Mengapa menatapku seperti itu? Bola matamu hampir keluar, tuh," ucap Alan.
Aku memandangnya dengan kesal. "Apa aku benar-benar harus mengerjakan semua tugas yang tertulis di sini?" kataku seraya mengangkat berkas di tanganku.
"Apa ada yang salah? Mengapa kau terlihat tidak terima?" tanya Alan.
"Bagaimana aku bisa menerimanya, Al. Ini tidak masuk akal."
Alan memalingkan wajah, menatap Arman yang sejak tadi berdiri di sebelahnya.
"Apa kau menuliskan sesuatu yang salah?" tanyanya.
"Tidak, Tuan Muda. Saya mencatat semuanya sesuai dengan apa yang Tuan Muda perintahkan," sahut Arman sambil menatap bosnya itu.
"Kalau begitu aku ingin mengundurkan diri." Aku menatap Alan dan juga Arman bergantian.
"Apa Anda serius, Nona?" tanya Arman seraya menatapku.
"Ya," kataku, yakin.
Arman beralih menatap Alan yang saat itu tengah memainkan pulpen. Menekan bagian belakangnya berulang kali, membuat ujung pena itu keluar masuk. "Tuan Muda ... " ucapnya.
"Turuti saja apa yang dia inginkan. Kita tidak bisa memaksa pegawai untuk tetap di perusahaan kalau mereka tidak menginginkannya. Jika mereka ingin mengundurkan diri maka biarkan saja, tidak perlu menahannya." Alan mengucapkannya tanpa ekspresi. Bahkan terkesan acuh tak acuh.
"Arman ...." ucap Alan seraya menoleh ke kiri, menatap asistennya itu.
"Ya, Tuan Muda."
"Antarkan Nona Alea ke ruangan Dani," titah Alan.
"Baik, Tuan Muda." Arman membungkukkan badannya sedikit, memberi hormat pada Alan. "Saya permisi, Tuan Muda," ucapnya. Alan mengibaskan tangan, menyuruhnya pergi.
Arman memutar tubuhnya, beralih menghadapku. "Silahkan ikuti saya, Nona Alea," ucapnya.
Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban. Aku bangkit berdiri, lalu membungkukkan badan di depan Alan. Sama seperti yang di lakukan Arman tadi. "Saya permisi, Tuan Ars," kataku sebelum beranjak pergi menyusul Arman.
Alan tetap bergeming di posisinya dan tak mengatakan apapun. Ia bahkan sama sekali tak melihat ke arahku maupun Arman saat kami pergi.
Aku bertanya-tanya dalam hati, Apa Alan marah? Mengapa dia diam saja? Itu tidak seperti dirinya.
Sepanjang jalan aku memikirkannya. Namun segera membuang pemikiran itu setelah berada di ruangan HRD.
"Apa aku boleh tahu alasannya? mengapa tiba-tiba ingin berhenti?" tanya salah satu staf HRD yang bernama Dani. Sama seperti sebelumnya ia cukup ramah padaku. Kami duduk saling berhadapan dengan meja sebagai pemisah.
"Aku merasa pekerjaan ini tidak cocok untukku," jawabku.
Dani tersenyum, membuat kedua lesung pipinya terlihat. Ia menunduk, menatap dokumen yang ada di tangannya. "Kau bahkan belum bekerja sampai satu hari, bagaimana bisa menyimpulkan secepat itu," ucapnya masih dengan wajah tertunduk. Namun tak lama kemudian ia mengangkat wajahnya dan menatapku.
"Apa kau tidak ingin mencobanya dulu?" tanyanya.
"Keputusanku sudah bulat," balasku.
Dani menghela nafas panjang. Setelah itu menghempasnya perlahan. "Baiklah, karena kau bersikeras ingin berhenti maka aku tidak akan menahanmu lagi." Ia meraih sebuah berkas kemudian menyerahkannya padaku.
"Anda sudah membaca perjanjian kontrak sebelumnya dan juga sudah menandatanganinya, kurasa aku tidak perlu menjelaskan lagi konsekuensinya jika melanggar kontrak," lanjut Dani.
"Kalau begitu, silahkan tanda tangan di sini," ucap Dani sambil menunjuk secarik kertas di meja.
Tanpa pikir panjang aku menyambar pulpen yang teronggok di tepi meja. Kemudian menarik berkas di hadapanku itu. Ingin mengakhiri proses tersebut sesegera mungkin.
"Apa kau tidak ingin membacanya lebih dulu?" tanya Dani ketika aku menandatangani berkas pengunduran diriku itu.
"Tidak perlu, aku sudah tahu apa isinya dan aku tahu apa yang harus kulakukan setelah ini."
Dani tersenyum lagi. Sepertinya ia sedang dalam mood yang bagus. Entah, hal baik apa yang membuatnya terlihat begitu senang. "Sepertinya kau punya banyak uang," ucapnya.
Aku berhenti sejenak, mencerna kalimatnya. Banyak uang? Apa maksud ucapannya itu? Mengapa ia berpikir aku banyak uang?
Bersambung ...
.
.
.
.
...❤ Bonus❤...
Setelah mengantar Alea ke ruangan HRD, Arman kembali ke ruang kerja Alan. Saat itu Tuan Mudanya sedang duduk sambil menyandarkan punggung dan kepalanya ke belakang.
Alan meliriknya sebentar, setelah itu kembali menatap langit-langit di atasnya.
"Kau mengantarnya ke ruangan Dani 'kan?" tanya Alan, memastikan.
"Ya, Tuan Muda. Seperti yang Anda perintahkan," sahut Arman.
"Bagus," ucap Alan dengan wajah tersenyum.
Sementara Arman justru tampak bingung. "Apa Tuan Muda yakin ingin membiarkan Nona Alea mengundurkan diri begitu saja?" tanyanya, penasaran. Arman satu satunya orang yang paling tahu bagaimana perjuangan Alan demi merekrut Alea. Tuan Mudanya itu sampai meminta bantuan pada beberapa koleganya dengan imbalan kerja sama.
Secara pribadi Alan menghubungi para pimpinan perusahaan dimana Alea mengajukan lamaran kerja. Ia meminta perusahaan tersebut untuk tidak menerima Alea sebagai karyawannya.
Alea wanita cerdas dan berpengalaman. Tentu saja banyak perusahaan yang mengincarnya. Bahkan perusahaan lama tempatnya bekerja dulu pun masih berusaha membawanya kembali denan iming-iming gaji yang lebih besar. Namun, Alea selalu menolak.
"Tenang saja, dia tidak akan keluar," sahut Alan.
Arman menyipitkan mata. Masih tidak mengerti dengan sikap bosnya yang terlihat begitu santai dan tampak sangat yakin kalau Alea tidak akan keluar. Padahal ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau wanita itu benar-benar bertekad ingin berhenti. Selain itu Dani juga sedang memproses pengunduran dirinya.
"Tunggu saja, sebentar lagi dia akan datang," ucap Alan lagi.
Arman tak mengatakan apapun lagi. Hanya duduk dan menunggu dengan tenang.
Tak lama kemudian Alan mulai menghitung mundur. Di mulai dari angka sepuluh. Kepalanya yang sejak tadi menengadah ke atas kini beralih menatap pintu. Arman mengikuti arah pandangan bosnya itu.
"Satu," gumam Alan. Disaat bersamaan pintu di hadapannya itu terbuka. Sesosok wanita muncul dari baliknya. Rambut wanita itu sedikit berantakan tapi tetap tak mengurangi kecantikannya yang paripurna. Matanya yang besar, hidung mancung bak perosotan serta bibir tebalnya yang menggoda.
Bentuk tubuh Alea memang tak seperti gitar spanyol. Tapi Alan begitu menyukainya. Lelaki itu bahkan sejak tadi tak berkedip. Terus memandangi Alea dengan mata berbinar.
"Kau lihat ... Dia kembali," ucap Alan, lirih. Hanya Arman dan dirinya sendiri yang bisa mendengarnya. Siapapun bisa melihat kalau Alan begitu memujanya. Ada cinta dalam tatapan matanya itu.
Namun, sayang, Alea justru tak melihatnya. Wanita itu masih di bayangi oleh masa lalunya yang menyakitkan. Kisah masa lalu yang membuatnya trauma dan kehilangan kepercayaan. Terlebih terhadap laki-laki.