
Cuaca hari ini sangat terik. Kulitku seperti terbakar saat berjalan di bawah sinar matahari tanpa pelindung apapun. Aku mempercepat langkah agar cepat sampai.
Sejuk, itulah yang kurasakan setelah berada di dalam rumah. Aku berjalan ke belakang, menghampiri meja makan yang berada di dekat dapur. Kuletakan kantong belanjaan yang sejak tadi menggantung di telapak tanganku ke meja tersebut.
Dahiku mengernyit saat melihat sepiring nasi goreng dan secangkir kopi yang sudah dingin. Keduanya teronggok begitu saja. Masih utuh, sama sekali tak tersentuh.
Aku melirik ke kanan, menatap kamar Alan yang pintunya tertutup rapat.
"Apa dia belum bangun? Tumben sekali" gumamku seraya memalingkan wajah.
Aku meraih sebotol air mineral dari dalam kulkas. Membuka tutupnya, lalu menuangkan isinya ke dalam mulut. Rasanya menyejukkan saat cairan tersebut mengalir di tenggorokanku yang kering. Setelah menghabiskan setengah dari isinya, ku letakan kembali botol air mineral tersebut di atas meja. Setelah itu mulai membongkar barang belanjaan yang kubeli di mini market terdekat.
Kumasukan buah-buahan dan beberapa minuman kaleng kesukaan Alan itu ke dalam lemari pendingin. Aku membuang nafas kasar setelah selesai menatanya. Selesai sudah pekerjaanku hari ini. Rumah sudah bersih dan rapi.
"Sekarang waktunya bersantai," gumamku seraya berjalan menuju ruang tamu. Kurebahkan tubuhku di sofa abu-abu yang ada di sana. Setelah itu mengeluarkan hp dan memainkan benda pipih itu.
Beberapa menit telah berlalu. Suasana begitu sunyi. Aku mulai merasa bosan. Sekali lagi kulirik kamar Alan. Tak ada perubahan. Pintunya masih tertutup rapat dan tak terdengar suara apapun dari dalam sana. Sudah sesiang ini tapi mengapa cecunguk itu tak kunjung bangun?
Aku berjalan mendekati kamarnya yang berada di sebelah kiri tangga. Setelah itu berhenti tepat di depan pintu yanv terbuat dari kayu jati itu. Aku mengetuk pintu tersebut tiga kali.
"Al ... Sudah jam sebelas, apa kau tak ingin bangun?"
Aku diam sebentar, menunggu jawaban. Aku mengetuk pintu itu lagi dan kembali memanggilnya beberapa kali saat tak kunjung mendapat jawaban. Namun hasilnya tetap sama. Hening, tak ada sahutan.
Gelombang cemas mulai menyelimutiku. Tak biasanya Alan seperti ini. Biasanya ia langsung bangun dan menyahut ketika aku mengetuk pintu maupun memanggil namanya.
"Al ... apa kau baik-baik saja?" tanyaku. Masih berdiri di depan pintu. Lagi-lagi tak ada jawaban.
"Al ... Aku masuk, ya?" Tanpa menunggu jawaban, kuputar kenop pintu tersebut. Tak di kunci. Begitu pintu terbuka aku melenggang masuk ke dalam. Saat itu kulihat Alan sedang meringkuk di tempat tidur. Seluruh tubuhnya tertutupi selimut hingga leher.
Aku mengernyit begitu menatap wajahnya. Kulitnya memang putih pucat tapi biasanya tak sepucat sekarang. Kalu ini bibirnya juga tampak ikut memutih. Dahinya berkerut seolah sedang menahan sakit dalam tidurnya.
Jangan-jangan dia sakit. Aku bergegas menghampirinya. Mengulurkan tangan untuk menyentuh dahinya yang tertutup poni.
Aku tersentak kaget saat menyentuh kulitnya yang sangat panas. Bukan hanya wajahnya saja, seluruh tubuhnya juga sangat panas. Benar, Ia memang sakit, demam tinggi.
Kutepuk pelan pipinya beberapa kali, mencoba membangunkannya. "Al, bangun ...."
Alan tetap tak merespon. Mungkinkah ia pingsan?
Kusingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya itu. Kemudian berlari ke belakang untuk merebus air dan mengambil handuk kecil. Tak perlu menunggu sampai mendidih, saat sudah ada gelembung-gelembung kecil di dasar panci itu sudah berarti sudah cukup panas. Aku lekas mematikan kompor. Kemudian memindahkan air dalam panci kecil itu ke dalam wadah plastik. Setelah itu membawanya ke kamar Alan.
Ia terkulai lemah saat aku membalik tubuhnya. Mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. Kuletakan handuk kecil yang sebelumnya kucelupkan ke dalam air hangat tadi di keningnya, mengompresnya. Saat handuk itu menjadi dingin aku mengangkatnya dan kembali mencelupkan lagi ke air hangat, lalu meletakan di keningnya lagi. Aku melakukannya berulang ulang.
Setelah beberapa jam berlalu, suhu tubuhnya berangsur turun. Namun ia masih demam. Aku menghela nafas lega saat matanya yang kecil namun tajam perlahan mulai terbuka. Ia menatapku yang duduk di tepi tempat tidur, di sampingnya.
"Alea," ucapnya dengan suara lemah.
"Hm, aku di sini," kataku, tersenyum.
"Apa aku sakit?" tanyanya.
Aku mengangguk, mengiyakan. "Kau demam tinggi. Tapi sekarang sudah mulai turun setelah ku kompres," jelasku.
"Terima kasih, Alea. Maaf, merepotkanmu."
"Hei ... Apa yang kau katakan, sama sekali tidak merepotkan." Ya, bagiku ini sama sekali tak merepotkan. Aku justru merasa senang bisa membantunya. Hitung-hitung balas budi karena ia sudah banyak membantuku.
Aku mengulurkan tangan, mengusap dahinya sekaligus mengukur suhu tubuhnya lagi. Masih panas, tapi tak sepanas sebelumnya.
"Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan?" tanyaku seraya membelai dahinya. Menyibak poninya ke atas. Ia tampak lebih dewasa jika tak berponi.
"Kepalaku sedikit pusing," sahutnya.
"Tunggu sebentar aku ambilkan obat dulu," kataku seraya bangkit berdiri dan berjalan keluar. Saat aku kembali Alan sudah terduduk. Punggungnya bersandar ke belakang.
"Tubuhmu lemah, mengapa tidak berbaring saja?"
Aku meletakan nampan berisi bubur serta segelas air putih dan juga beberapa obat-obatan itu di atas meja. Kemudian kembali duduk di tepi tempat tidur dengan posisi menghadap ke arahnya.
"Sebelum minum obat kau harus makan dulu," kataku seraya mengambil semangkuk bubur yang baru saja kubuat tadi. Bubur itu masih mengepulkan asap. Aku meniupnya sebentar sebelum menjejalkan ke dalam mulutnya.
Dengan malas Alan menelan bubur dengan potongan daging serta taburan bawang goreng itu. Dahinya mengernyit setiap kali sendok itu masuk ke dalam mulutnya. Terlihat dengan sangat jelas kalau ia tak menyukainya.
"sudah Alea, aku sudah kenyang," tolaknya saat aku hendak menyuapinya lagi.
"Baru juga berapa suap, bagaimana bisa kenyang? Ayo makan sedikit lagi," kataku, memaksa.
Alan mundur ke belakang tanpa menggeser pinggulnya. Menjauhkan sendok yang ada di depannya. "Aku akan muntah kalau makan lagi," ucapnya seraya membungkam mulut dengan telapak tangannya.
"Baiklah," kataku, menyerah. Kutarik kembali sendok yang sempat mengambang di udara selama beberapa detik dan meletakan bubur itu ke nampan. Lalu berganti meraih segelas air putih dan kembali menyodorkannya ke Alan.
"Minum dulu," perintahku.
Alan kembali membuka mulutnya. Meminum air yang kusuguhkan itu.
"Lagi," perintahku saat Alan hanya meminumnya sedikit.
Cecunguk itu tak membantah. Ia meminumnya lagi hingga tersisa separuh.
"Sekarang minum obatnya," kataku seraya menyerahkan parasetamol kepadanya.
"Aku tidak suka minum obat."
Aku meraih tangannya dan meletakan obat tersebut di telapak tangannya. "Kau tetap harus minum meskipun tak menyukainya."
Aku tak bisa menahan tawa saat ia menelan obat tersebut dengan terpaksa. Wajahnya terlihat aneh sekaligus lucu. Ia juga hampir memuntahkannya kembali.
"Mau kemana? Jangan pergi." Alan memegangi tanganku saat mengatakannya. Suaranya masih terdengar lemah dan juga sedikit manja. Ia memasang wajah memelas. Seperti seorang anak kecil yang tak mau di tinggal pergi oleh ibunya.
Aku tersenyum. Bagaimana bisa seorang pria dewasa sepertinya tapi memiliki wajah yang sangat imut. Ingin sekali aku mencubit kedua pipinya yang sehalus sutra itu hingga memerah.
"Tenang saja, aku akan tetap di sini, tidak akan pergi kemana pun," kataku sambil membelai kepalanya dengan lembut.
.
.
.
.