
Kevin berbaring di sampingku. Tangan kirinya berada di bawah tengkukku. Sementara satu tangannya yang lain melingkar di pinggangku. Sesekali Ia mengelus rambut panjangku. Membuatku merasa sangat nyaman dan ingin terus tidur.
Aku merangsak ke dalam pelukannya. Membenamkan wajahku ke dadanya yang telanjang. Aku tersenyum dalam tidurku, saat ia mendaratkan kecupan di puncak kepalaku. Kemudian kembali mendekap tubuhku semakin erat.
Tubuh kami saling menyatu, dibalik selimut tebal yang menutupi tubuh kami berdua.
Beberapa menit telah berlalu. Aku mulai merasa aneh. Aku yakin sedang bermimpi. Tapi mengapa mimpi ini terasa begitu nyata. Bisa kurasakan hembusan nafasnya yang menerpa wajahku. Dan satu lagi yang membuatku bingung. Aku bisa mencium bau tubuh yang begitu menyengat. Bau yang begitu asing di indra penciumanku. Ini bukan bau tubuh Kevin.
Detik berikutnya keanehan kembali muncul. Aku mendengar dengkuran seseorang dengan sangat jelas. Apa ini bukan mimpi? Mengapa aku mendengar suara orang mendengkur. Kevin bahkan tak pernah mendengkur saat tidur.
Aku membuka mata, memutuskan mengakhiri mimpi aneh ini.
"Aaaaakkk," teriakku, langsung bangkit dari tempat tidur. Gerakanku yang tiba-tiba membuat Alan terguling ke kiri, lalu jatuh ke lantai. Aku mendengar ia mengaduh.
Aku merangkak ke tempat tidur. Kemudian melongoknya yang sudah terduduk. "Kau baik-baik saja," tanyaku, cemas. Ranjangnya cukup tinggi, pasti sangat sakit saat ia jatuh tadi.
Alan mendongak, menatapku dengan mata setengah terpejam. Rambutnya terlihat acak-acakan. "Kenapa kau menendangku?" ucapnya dengan suara parau.
"Aku tidak sengaja. Itu juga karena kesalahanmu," kataku, membela diri. Benar. Itu semua karena kesalahannya yang membuatku terkejut.
Alan mengernyitkan dahi, bingung. "Memangnya aku salah apa? Dari tadi aku tidur," ucapnya.
Aku memutar bola mata. Kemudian kembali menatapnya. "Kau tidur di ranjangku. Dan sekarang masih bertanya apa salahmu?" kataku kesal.
Alan bangkit dari duduknya. Ia kini berdiri tepat di depanku. "Maaf, semalam aku sangat kedinginan. Tempat itu juga sempit sekali, aku tidak bisa bergerak," ucapnya. Menunjuk sofa kecil berwarna coklat muda itu.
"Kau mau apa?" tanyaku saat ia mendekatkan tubuhnya ke arahku.
Alan tak menjawab. Ia terus merangsak maju. Aku bergerak mundur, menghindar. Namun posisinya salah. Aku justru terbaring di kasur. Sementara Alan berada di atasku. Bertumpu pada kedua tangan dan lututnya. Aku terkunci di bawah kungkungannya.
"Jangan macam-macam!" ucapku menggertak.
Alan menyeringai. Jantungku berdetak tak karuan kala Alan mendekatkan wajahnya padaku. Aku lekas memalingkan wajah.
Alan menarik tubuhnya. Kemudian tertawa kecil. "Apa yang kau pikirkan? Aku hanya ingin mengambil pakaianku," ucapnya. Ia kembali berdiri, lalu mengenakan kaosnya.
Aku tertunduk malu.
"Jangan-jangan kau berpikir aku mau menidurimu, ya?" tebak Alan.
Aku buru-buru mengangkat wajah, menatapnya. Lalu menggeleng cepat. "Tidak. Mana mungkin aku berpikir sekotor itu?" kataku mengelak.
"Benarkah?" tanyanya tak percaya.
Aku mengangguk cepat. "Tentu saja," kataku meyakinkan.
Alan kembali mendekatkan wajahnya padaku. "Lalu kenapa tadi wajahmu memerah?" tanyanya dengan senyum menyeringai.
Sial. Aku tertangkap basah.
"Lihat ... wajahmu memerah, lagi," ucapnya seraya menudingku dengan telunjuknya.
Aku menepis tangannya yang berada tepat di depan wajahku. "Wajahku memerah karena ruangan di sini panas, bukan karena memikirkan hal-hal seperti itu," bantahku. Aku turun dari tempat tidur. Kemudian beranjak ke kamar mandi. Alan tak mengatakan apapun. Tapi bisa kulihat senyumnya yang terkulum.
Saat keluar dari kamar mandi aku melihat Alan sudah berpakaian lengkap. Memakai jaket dan juga sepatunya. Rambutnya pun sudah tersisir rapi. Ia duduk di sofa.
"Kita pulang sekarang?" tanyaku sambil menyisir rambut.
"Hm. Setelah sarapan," sahutnya.
Kami berdua keluar kamar bersamaan. Kicauan burung liar terdengar saling bersautan, menyambut pagi yang cerah. Aku menatap ke sekeliling. Tempat ini jauh lebih indah dari yang kulihat semalam. "Ternyata di sini ada air terjunnya juga Al?" tanyaku saat melihat air terjun yang meluncur dari atas bukit.
Alan mengangguk. "Ada kolam pemandian air panasnya juga," ucapnya.
"Kalau begitu pulangnya nanti saja, Al," kataku. Sudah sampai di sini. Sayang sekali kalau melewatkan kesempatan ini. Jika pulang ke rumah pun aku tak akan melakukan apapun. Kevin sedang di luar negri. Paling-paling saat di rumah aku hanya tidur-tiduran di kamar.
"Memangnya kau tidak bekerja?"
"Ini hari munggu," kataku.
Aku dan Alan kini sudah berada di sebuah saung yang menyediakan aneka sarapan. Aku memilih bubur ayam untuk mengisi perut. Kemudian duduk di salah satu kursi kosong yang ada di sana. Alan duduk di sebelahku. Dihadapannya tersaji secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap.
"Kau tidak makan?" tanyaku di sela makan.
Alan menyeruput kopinya sedikit. Lalu meletakan kembali di atas meja. "Aku tidak terbiasa makan di pagi hari," ucapnya.
Aku mengangguk, mengerti. Kemudian kembali menyendok bubur ayam dan menjejalkan nya ke dalam mulut.
"Apa itu enak?" tanyanya. Ia menatapku penasaran.
Alan mencondongkan tubuhnya ke arahku. Kemudian membuka mulutnya.
Aku mengambil sesendok penuh bubur itu, kemudian menyuapkannya ke mulut Alan. Ia menarik tubuhnya menjauh. Kembali ke posisi semula.
"Enak 'kan?" tanyaku. Memperhatikan Alan yang sedang mengunyah makanan yang baru saja kujejalkan ke mulutnya.
"Tidak," jawabnya dengan wajah datar.
Cih. Padahal dia kelihatan sangat menikmatinya tapi bilang tidak enak.
Aku segera berpaling, kembali menatap mangkuk buburku yang tersisa separuh. Aku mengaduknya sebentar lalu kembali memakannya. Sedikit kaget kala Alan kembali mendekatkan wajahnya padaku.
"Apa?" tanyaku mendelik.
"Mau lagi," ucap Alan sambil membuka mulut.
"Bukankah katamu tidak enak? Kenapa minta lagi," tanyaku heran.
"Aku cuma bilang tidak enak bukan berarti tidak mau lagi. Cepat suapi aku, mulutku mulai lelah menunggu," protes Alan. Ia terus membuka mulutnya lebar.
"Kalau mau lagi ambil sendiri sana, yang ini milikku." Aku mengangkat mangkuk buburku. Kemudian memutar tubuh, membelakanginya. Melanjutkan makan.
"Kau pelit sekali," ucap Alan.
Bodo amat!
Aku memilih mengabaikannya dan menghabiskan buburku dengan tenang.
Usai sarapan Aku dan Alan menjelajahi seluruh tempat wisata itu. Kami berhenti di sebuah pemandian air panas.
"Coba aku bawa baju ganti," gumamku menyesal. Jika saja aku tahu Alan akan membawaku ke tempat ini, aku akan bawa baju renang dan berendam di tempat ini.
"Kau mau kemana Al?" tanyaku saat Alan melangkah pergi.
"Ke toilet sebentar, kau tunggu di sini saja," ucapnya.
Siapa juga yang mau ikut denganmu.
"Ya sudah sana." Alan melanjutkan langkahnya. Sementara aku duduk berjongkok di pinggir kolam. Aku mencelupkan tanganku ke air. Rasanya hangat. Pasti enak sekali kalau berendam di tempat ini, apalagi cuacanya sejuk begini.
"Mau lihat tempat lain tidak?" tanya Alan saat ia kembali.
Aku mendongak untuk melihat wajahnya. "Kemana?" tanyaku.
"Kau akan tahu saat sampai nanti. Ayo," sahutnya seraya menggandeng tanganku.
Aku bangkit berdiri dengan bantuannya. Ia membawaku menyusuri jalan setapak yang basah. Semakin jauh kami melangkah jalan setapak itu semakin sempit dan juga tak terawat. Kanan kiri jalan setapak itu di tumbuhi rerumputan liar yang tingginya hampir sepinggang orang dewasa.
Entah sudah seberapa jauh kami melangkah. Yang pasti kami memasuki hutan semakin dalam. Kakiku mulai terasa pegal.
"Stop, Al. Biarkan aku istirahat sebentar," kataku seraya menghentikan langkah.
Alan berbalik, menghadapku.
"Sebentar lagi sampai," ucapnya.
"Tapi aku sudah tidak sanggup berjalan lagi," kataku dengan nafas terengah-engah, kelelahan.
"Kalau begitu naiklah ke punggungku," ucap Alan. Ia membungkukkan badannya, menyodorkan punggungnya di depanku.
Aku memandangi Alan. Bahunya cukup lebar tapi tubuhnya kecil. Apa dia bercanda? Tubuhnya saja kurus kering seperti itu. Bagaimana mungkin dia mau menggendongku.
Alan menoleh ke arahku. "Kenapa malah bengong? Cepat naik," perintahnya, tak sabar.
"Aku berat," kataku.
"Memangnya siapa yang bilang kau ringan?"
Aku menatapnya kesal, kemudian membuang muka. Aku hampir lupa kalau dia begitu menyebalkan.
Aku terlonjak kaget saat Alan tiba-tiba membopongku dan mulai bergerak maju. Melanjutkan perjalanan dengan membopongku. "Apa yang kau lakukan? cepat turunkan aku," pintaku.
Alan tak menggubris ucapanku. Ia terus melangkah tanpa mengatakan apapun. Aku mengalungkan kedua tanganku di leher Alan, takut jatuh.
Bersambung ...