Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 67



Dasar cabul! Mesum gila!


Aku meninggalkan kamarnya dengan perasaan kesal. Aku menutup telinga, tak ingin mendengar celotehan Alan yang semakin ngawur. Menggoda apanya? Aku bahkan tidak melakukan apapun. Miliknya bangun karena otaknya terlalu kotor, bukan karena kesalahanku.


Aish, kenapa otakku terus mengingat benda itu. Benar-benar menyebalkan. Aku kembali ke kamar. Melepas pakaian dan bergegas ke kamar mandi. Guyuran air membuat pikiranku kembali jernih. Setelah sempat ternoda dengan sesuatu yang terus terngiang di kepalaku.


Selepas membersihkan diri, aku lekas berpakaian dan juga sedikit berdandan. Setelah itu kembali ke bawah. Saat aku turun, pintu kamar Alan masih tertutup. Mungkin Cecunguk itu masih mandi, pikirku.


Aku menunggunya di ruang tamu. Duduk di sofa sambil memeriksa jadwalnya hari ini. Syukurlah, kali ini tidak banyak kegiatan. Hanya ada rapat di kantor jam dua siang nanti. Setelah itu tidak ada pertemuan lain. Diam-diam aku bersorak dalam hati, senang. Akhirnya bisa sedikit bersantai.


Aku melirik jam di dinding. Sudah jam delapan lewat lima belas menit, tapi Cecunguk itu tak kunjung menampakan batang hidungnya. Jangan bilang kalau ia tidur lagi?


Aku bangkit berdiri. Berjalan menuju kamarnya dan mengetuk pintunya tiga kali.


"Al, apa kau masih lama? Sudah jam delapan lewat, aku bisa terlambat ke kantor kalau terus menunggu."


"Tunggu sebentar, aku sedang berpakaian," Sahutnya.


"Jangan lama-lama," kataku, mengingatkan.


"Siap, Nyonya Ars," seru Alan.


Aku hanya bisa berdecih setiap kali Alan memanggilku dengan sebutan seperti itu. Aku kembali duduk di sofa, menunggunya lagi.


"Ayo berangkat," ajak Alan beberapa saat kemudian.


Aku segera bangkit berdiri. Memasukan ponsel ke dalam tas dan bersiap untuk pergi. "Apa yang kau pakai?" tanyaku, terkejut.


"Mengapa kaget begitu? ini bukan pertama kalinya kau melihatku berpakaian seperti ini," ucapnya, santai.


Benar. aku memang sudah terbiasa melihatnya berpakaian seperti seorang berandal.


"Bukankah kita mau ke kantor?" tanyaku sekaligus mengingatkan.


Alan mengangguk, mengiyakan. "Ayo berangkat," ajaknya lagi.


"Ke kantor? Dengan pakaianmu yang seperti ini?" Aku menatapnya sekali lagi. Dari ujung kaki hingga ujung rambutnya yang acak-acakan. Celana sobek-sobek, kalung rantai dan anting-anting di telinganya. Apa dia berencana membuat gempar seisi kantor?


"Tidak ada baju lain, apa aku harus telanjang?" sahutnya.


"Bagaimana bisa tidak ada? Dimana kemeja dan jas yang biasa kau pakai? Terkadang kau bahkan ganti pakaian dua kali dalan sehari, kemana perginya mereka semua?" kataku, kesal.


"Nyonya Ars cerewet sekali," ucapnya seraya mengangkat tubuhku. Ia membopongku keluar dan memasukan ke dalam mobilnya.


Aku tak bisa berkata-kata lagi. Rasanya percuma berbicara panjang lebar padanya. Cecunguk itu sama sekali tak mendengarkan perkataanku. Ia bahkan mengancam akan menggigit bibirku jika aku berbicara lagi. Alhasil aku memilih mengunci mulutku rapat-rapat.


"Ayo turun," titahnya setelah mematikan mesin.


Aku tidak mengerti apa yang ada dalam pikirannya sekarang. Bukannya ke kantor ia malah mengajakku ke sebuah apartemen yang letaknya bersebelahan dengan gedung perusahaannya. Tanpa mengatakan apapun, aku ikut turun dan berjalan di belakangnya. Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu menunjukan pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Hanya tersisa lima belas menit lagi sebelum jam kantor di mulai. Sementara aku masih terjebak bersamanya di sini.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan, Al? mengapa kita malah ke sini?" Kataku, tak tahan lagi.


"Bukankah katamu pakaianku tidak cocok untuk ke kantor?"


"Memang. Tapi apa hubungannya dengan kita ke sini?" tanyaku, bingung.


"Bajuku ada di sini," jawabnya seraya membuka pintu. Saat itu aku tidak memperhatikan sekitar. Tahu-tahu kami sudah berada di lantai paling atas apartemen ini.


"Ayo masuk," ajaknya kemudian.


Aku melenggang ke dalam penthouse itu. "Tempat siapa ini, Al?" tanyaku. Memandang takjub setiap detail ruangan serta desain interiornya yang mewah.


"Calon suamimu," jawab Alan seraya melepas jaketnya. Lalu melemparnya ke sofa.


Aku terperanjat saat Alan tiba-tiba menyambar bibirku. Kemudian memekik saat ia menggigit keras sebelum melepas ciumannya.


"Sakit ...," kataku seraya meraba bekas gigitannya.


"Itu hukuman karena kau tidak mengenali calon suamimu sendiri," ujarnya.


Aku masih linglung. "Aku benar-benar tidak tahu, memangnya siapa calon suamiku?"


"Sepertinya kau minta di gigit lagi," ujarnya, kembali mendekat.


"Tidak mau," kataku seraya mendorongnya menjauh.


"Kalau begitu apa sekarang kau sudah tahu siapa calon suamimu, NYONYA ARS?" Alan menekan dua kata terakhir dalam kalimatnya, membuatku tersadar.


"Jadi ... calon suamiku yang kau maksud itu dirimu sendiri?" tanyaku, memastikan.


"Tentu saja. Memangnya kau berkencan dengan siapa lagi selain denganku?" akunya percaya diri.


"Cih, aku saja belum tentu mau menjadi istrimu, tapi kau sudah mengaku-ngaku sebagai calon suamiku."


"Kau sudah menyetujuinya waktu itu, apa kau lupa?"


"Kapan? Aku tidak ingat pernah mengatakan seperti itu?"


"Kalau begitu biar aku ingatkan."


Aku mundur ke belakang saat ia mendekat. "Kau mau apa?" tanyaku. Berusaha menahan berat badannya yang hampir menindihku.


"Posisinya sama seperti sekarang. Kau berbaring di sofa dan aku berada di atasnya. Saat itu kita melakukannya di kantor, apa kau ingat?" bisiknya.


Aku merasa dejavu. Gambaran itu tiba-tiba berkelebat di benakku. Aku ingat sekarang. "Itu berbeda," kataku sambil terkekeh.


Alan menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Membuatku menggeliat, menahan geli.


"Apanya yang berbeda?" ucapnya seraya mendaratkan kecupan ringan di sana. Setelah itu kembali mengangkat wajahnya, menatapku lagi.


Kami saling beradu pandang. "Saat itu aku setuju untuk menjadi wanitamu bukan menjadi istrimu," jelasku.


"Bagiku tak ada bedanya. Kau bersedia menjadi wanitaku, itu artinya kau juga bersedia menjadi istriku," balas Alan. Laki-laki itu mengangkat tubuhnya, menjauh dariku. Setelah itu berjalan menuju kamar.


Aku ikut bangun. "Dasar pemaksa," kataku setelah kembali terduduk.


Alan menoleh ke belakang, menatapku lagi. "Tepat sekali. Aku memang orang yang seperti itu," sahutnya, mengakui. Setelah mengatakan itu ia masuk ke dalam kamar.


"Jangan lama-lama, Al," teriakku saat Alan sedang berganti pakaian.


"Kemarilah, akan lebih cepat selesai jika kau membantuku memakaikan ****** ***** dan juga ikat pinggang," sahutnya ikut berteriak. Benar-benar tidak tahu malu.


Bersambung...


.


.


.


.


.