
"Ayo pulang," ajak Kevin. Aku mengangguk setuju. Tidak peduli dengan pekerjaan. Meski aku membutuhkannya tapi lingkungan di tempat ini tak lagi mendukungku. Jika aku tetap bertahan di perusahaan ini, itu sama saja menjerumuskan diri sendiri ke lubang neraka. Dengan langkah pincang aku berjalan beriringan dengan Kevin. Kakiku belum sembuh total jadi belum bisa berjalan dengan normal, masih pincang sedikit.
"Ada apa dengan kakimu?" tanya Kevin begitu menyadari ada yang salah dengan cara berjalanku. Ia memandang ke bawah, memperhatikan pergelangan kaki kiri ku yang di balut perban elastis berwarna coklat muda. Setelah itu kembali menatap wajahku.
"Kakimu terluka tapi tetap memaksakan diri datang ke kantor dan bekerja?" ucapnya dengan suara meninggi.
"Aku baru tahu kau suka sekali memperkaya perusahaan orang lain," sindirnya dengan wajah kesal.
Aku nyengir. Kemudian menundukkan kepala saat ia mendelik padaku. "Itu sudah tidak sakit lagi," kataku, bohong.
"Kau berjalan dengan pincang tapi masih berani mengatakan tidak sakit?"
Tatapannya yang tajam dan juga suaranya lantang, keduanya langsung membuat nyaliku ciut. Aku tak berani mendebatnya lagi.
"Masih sakit sedikit," kataku, mengakui.
Aku mengalungkan kedua tangan di lehernya saat Kevin mengangkat tubuhku. Kevin mulai berjalan sambil membopongku. "Meskipun hanya sakit sedikit, kau tetap tidak boleh memaksakan diri, Ly. Apa lagi hanya untuk bekerja, sama sekali bukan urusan yang penting," ucapnya dengan nada lebih lembut.
Hah? Bagaimana bisa dia menyebut pekerjaanku tidak penting? Ini satu-satunya sumber penghasilanku, jika aku tidak bekerja maka aku tak bisa makan. Sebenarnya jika tidak bekerja pun tetap bisa makan. Ada Kevin yang selalu siap menjamin hidupku, memenuhi kebutuhan dan juga keinginanku. Berapapun nominal yang ku minta, mau itu puluhan hingga ratusan juta pun pasti akan ia berikan padaku, dengan senang hati. Hanya saja aku bukan tipe orang yang seperti itu. Aku tidak ingin di cap wanita matre atau gila harta. Selagi aku mampu, maka aku akan membiayai hidupku sendiri.
Puluhan pasang mata menatap kami berdua, baik saat masih di kantorku maupun ketika kami keluar gedung.
"Jangan takut, ada aku di sisimu," ujar Kevin ketika aku menyembunyikan wajah di dadanya.
"Angkat wajahmu dan tegakkan kepala, jangan biarkan kau kalah dengan mereka," imbuhnya, tegas.
Aku menurut, kutegakkan kepalaku. Menatap balik siapa saja yang memandangi kami. Sama seperti yang dilakukan Kevin. Orang-orang itu memalingkan wajah begitu bersitatap denganku, atau dengan Kevin lebih tepatnya. Aku tertawa jahat dalam hati. Bahkan semua orang tidak berkutik ketika berhadapan langsung dengan Kevin. Sama sekali tak ada yang berani beradu pandang dengannya, apalagi sampai mengolok-oloknya. Maklum saja perawakan lelakiku ini tinggi besar. Meski saat ini mengenakan jas tebal tapi masih terlihat jelas bentuk tubuhnya yang kekar. Selain itu beberapa orang juga tau kalau Kevin bukan orang biasa. Ia cukup terkenal di dunia bisnis, sebagai pengusaha muda sekaligus pewaris tunggal AJ group. Aku berani bertaruh tidak akan ada yang berani menyinggungnya. Kecuali jika orang itu cari mati.
Supir pribadi Kevin langsung membukakan pintu begitu kami datang.
"Di depan saja," seru Kevin. Supir itu pun kembali menutup pintu belakang dan beralih membuka pintu mobil bagian depan. Kevin mendudukkan aku di sana.
"Kau pulanglah naik taksi, aku akan mengemudi sendiri," ucap Kevin pada supirnya.
"Baik, Pak." Supir itu pun berlalu pergi meninggalkan kami berdua. Kevin ikut masuk ke mobil. Ia duduk di belakang kemudi, bersebelahan denganku.
"Bagaimana keadaan Alia? Dia baik-baik saja 'kan?" tanyaku. Kemarin, Alia sangat emosional, setelah memukuliku ia bahkan tak sadarkan diri. Aku takut itu akan berpengaruh pada bayi dalam kandungannya.
Kevin tampak tidak senang. "Wanita itu sudah memperlakukanmu dengan sangat buruk, tapi kenapa kau masih saja memperdulikannya, Ly?" ucapnya dengan tawa sinis.
"Kau terlalu baik, Sayang," imbuhnya.
"Bagaimana pun dia tetap adikku," kataku seraya menundukkan kepala. Aku juga tidak tahu, mengapa aku tetap tidak bisa membencinya. Padahal apa yang ia lakukan padaku sudah sangat keterlaluan.
"Bagaiman dengan kandungannya? Baik-baik saja 'kan?" tanyaku, lagi. Aku kembali menatap wajahnya.
"Aku tidak tahu. Aku tidak peduli dengan itu semua. Setelah mengantarnya ke rumah sakit, aku langsung pulang lagi dan mencarimu, tapi kau sudah tidak ada di rumah," sahutnya.
Jadi Kevin sempat mencariku? Kupikir saat itu ia sama sekali tak peduli padaku. Jika saja saat itu Alan tak membawaku, pasti Kevin yang menjadi penyelamatku, gumamku dalam hati. Diam-diam aku tersenyum senang karenanya. Kemudian berhenti sebelum Kevin menyadarinya.
"Bagaimana bisa kau tidak peduli dengan itu? dia sedang mengandung anakmu, apa Mas Kevin tak mengkhawatirkan anak dalam kandungannya?" tanyaku, heran. Tidak peduli dengan Alia tidak masalah. Tapi kalau Kevin tak peduli dengan anaknya itu tidak benar. Bagaimana pun anak itu adalah darah dagingnya, meskipun ia tak menyukai ibunya.
"Tidak," sahutnya tanpa ragu sedikit pun. "Aku tidak peduli dengan siapapun kecuali dirimu, Ly."
Aku menatapnya. Sementara Kevin memandang lurus ke depan, fokus mengemudi. "Itu tidak benar, Mas. Anak itu darah dagingmu, kau tidak boleh mengabaikannya," kataku, mengingatkan.
Aku memandangnya tak percaya. Bagaimana bisa Kevin sekejam itu, tak mau mengakui anaknya. "Jika Mas Kevin terus bersikap seperti ini, suatu saat nanti setelah kalian bercerai maka kau akan kehilangan hak asuh atas anak itu, Mas."
"Biarkan saja, Ly. Aku memang tidak menginginkannya."
Aku menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan jalan pikiran Kevin yang tak menginginkan anaknya sendiri.
"Kenapa, Mas? Kau tak suka anak-anak?" tanyaku. Ia tak menyukai anak itu, mungkinkah karena ia tak menyukai anak-anak? Apa jangan-jangan ia memang tak berniat memiliki anak?
"Bukan begitu," bantahnya.
"Lalu kenapa?" tanyaku, penasaran.
Kevin menepikan mobilnya. Kemudian berhenti di bahu jalan. Ia memutar tubuhnya ke kiri tanpa menggeser pinggulnya. Kini ia menghadap ke arahku. Mencondongkan tubuhnya dan menatap lekat wajahku. "Aku tak ingin anak dari wanita lain, aku hanya menginginkan anak yang lahir dari rahimmu, Ly," gumamnya, lirih.
Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan wajahnya padaku. Aku memejamkan mata saat ia mengecup bibirku.
"Ayo turun," ajak Kevin beberapa saat kemudian.
Aku kembali membuka mata. Merasa malu karena terlalu hanyut dalam cumbuannya. Hingga tak sadar kalau ternyata kami sudah sampai.
Kevin membukakan pintu untukku. Kemudian kembali membopongku dan berjalan menyusuri gang, menuju tempat tinggalku.
"Mas ...," panggilku.
"Hm," sahutnya singkat.
"Aku pengangguran sekarang, apa kau tidak berniat merekrutku? aku bisa di tempatkan di posisi manapun, sebagai office girl juga tidak apa-apa," kataku tanpa menatapnya.
Kevin menghentikan langkahnya. Aku kembali menatapnya. Penasaran apa yang membuatnya berhenti. Ia juga menatapku, tatapan yang tajam.
"Kerja kerja kerja! Apa otakmu itu hanya di penuhi dengan pekerjaan?" bentaknya, kesal.
"Begitu saja marah," kataku, menunduk.
"Bagaimana aku tidak marah, kau terus saja keras kepala. Sedang terluka tapi yang kau pikirkan pekerjaan terus. Tak bisakah kau istirahat di rumah saja? duduk dengan tenang sambil menungguku pulang," ucapnya sambil kembali melangkah.
"Jika tidak bekerja bagaimana aku bisa makan? Aku miskin, tidak punya uang. Yang ada aku akan mati kelaparan," kataku dengan wajah memelas.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu mati kelaparan?" tantangnya.
"Nanti akan kubelikan restoran untukmu. Setiap hari kau bisa makan gratis di sana, jadi tidak perlu bekerja," imbuhnya.
"Kalau begitu belikan aku restoran jepang, Sayang. Aku menyukai sushi, aku akan memakannya setiap hari," kataku, tertawa.
"Baiklah, aku akan segera mengurusnya," sahut Kevin.
Heh, dia tidak serius dengan ucapannya 'kan? membeli restoran untukku, itu terlalu berlebihan, dia pasti cuma bercanda.
Kevin kembali menghentikan langkah. Tubuhnya seketika menegang, bibirnya terkatup rapat dan rahangnya tampak mengeras. Aku penasaran, apa yang dilihatnya sampai-sampai membuatnya kaget seperti itu. Aku mengikuti arah pandangannya. Ikut terkejut saat mendapati seorang pria paruh baya yang berdiri tegak tak jauh dari kami. Lelaki tua itu memandang kami berdua dengan tatapan galak.
Bersambung....