
Aku tercengang sekali lagi. Sama sekali tidak menyangka orang yang berdiri berhadapan denganku, yang notabene merupakan bos perusahaan ini adalah Alan. Ya, benar-benar Cecunguk itu.
Ia terlihat tampan seperti biasanya. Namun penampilannya kali ini jauh sangat berbeda dengan yang kulihat setiap hari maupun sebelum aku datang kemari.
Pagi tadi aku masih melihatnya mengenakan celana jeans sobek-sobek yang di padukan kaos polos berwarna putih. Tak lupa anting kecil yang menghiasi telinga kirinya.
Namun, kali ini ...
Aku terus memperhatikannya dari ujung kaki hingga kepalanya. Rambutnya tertata dengan sangat rapi. Poninya ia naikan ke atas sehingga dahinya yang lebar nan mulus bak porselen itu terpampang nyata.
Tak ada anting atau pun kalung rantai yang menggantung di leher dan telinganya.
Setelan jas berwarna abu-abu itu melekat sempurna di tubuh jangkungnya. Sungguh, kali ini ia bukan hanya tampan, tapi tampak keren, anggun sekaligus berkarisma. Bisa di bilang penampilannya kali ini sempurna, seperti tokoh dalam novel-novel yang mengangkat tema CEO.
"Tutup mulutmu atau lalat akan masuk, Nona," ucap Alan dengan senyum mengejek.
Aku lekas mengatupkan bibir rapat-rapat. Tak bisa berkata-kata lagi, hanya bisa menundukkan kepala dan berusaha menyembunyikan wajahku, malu.
"Apa di bawah ada uang? Mengapa kau selalu menunduk, Nona?" ucapnya lagi. Beberapa pegawai lain terkekeh mendengar ucapannya itu.
Aku mengepalkan tangan, geram. Kurasa ia memang sengaja ingin mempermalukan aku. Aku kembali mengangkat kepala dan menatap wajahnya. "Maaf, Tuan Ars. Aku menunduk karena mataku silau. Sebab dahi Anda terlalu mulus, seperti lampu taman," balasku sambil memasang senyum palsu.
Alan terkekeh sebentar. "Benarkah?" tanyanya kemudian. "Kalau begitu, bisakah kau rapikan rambutku, agar tak membuatmu silau?" imbuhnya seraya mendekatkan wajahnya padaku.
Aku mundur ke belakang, menjauh darinya. "Maaf, Tuan, saya bekerja sebagai sekertaris Anda, bukan sebagai asisten pribadi," kataku, mengingatkan.
"Ah, begitukah?" ucap Alan seraya berbalik. Ia sedikit memiringkan kepalanya, menatap pria bernama Arman yang kurasa merupakan asisten pribadinya itu.
"Apa kau tidak memberitahunya tentang apa saja yang harus ia lakukan sebagai sekretarisku?"
"Saya baru selesai menyusun daftar tugasnya pagi tadi, Tuan Muda," sahut Arman.
"Kalau begitu segera berikan padanya agar dia mengerti apa saja tugasnya," perintah Alan.
"Baik, Tuan Muda."
Alan kembali berjalan. Disusul oleh Arman yang mengekor di belakangnya. Namun tak lama kemudian Alan kembali menghentikan langkahnya lagi. Otomatis asistennya itu pun ikut berhenti.
"Apa Anda membutuhkan sesuatu, Tuan Muda?" tanya Arman.
"Hm. Tolong katakan pada sekretarisku agar segera datang ke ruanganku secepatnya," ucap Alan dengan suara lantang. Kurasa ia sengaja agar aku bisa mendengarnya.
"Baik, Tuan Muda."
Setelah mengatakannya, Alan segera berbalik dan kembali melanjutkan langkah menuju ruangannya. Sementara Arman berjalan berlawanan, menuju ke arahku. "Nona Alea?" sapanya, sopan.
"Ya," jawabku singkat.
"Tuan Muda meminta Anda untuk segera datang ke ruangannya," perintahnya.
"Baik, Pak ... Eh, Tuan." Entah, aku bingung harus memanggilnya apa. Aku tidak tahu berapa usia Arman. Yang jelas ia terlihat masih sangat muda. Untuk wajahnya bisa di katakan cukup tampan. Hanya saja sikapnya terlalu kaku, dingin. Aku bahkan belum melihatnya tersenyum. Baik saat aku melamar ke sini maupun sejak ia datang bersama Alan tadi.
"Kau bisa memanggilku asisten Arman atau Arman saja," ucapnya dengan wajah datar.
Sudah kuduga. Asisten itu benar-benar tak memiliki ekspresi apapun selain memasang wajah datar. Padahal sejak tadi aku sudah memasang senyum paling manis. Bahkan gula pun kalah.
"Baik, asisten Arman." Huh, sulit sekali memanggilnya dengan sebutan asisten Arman. Lidahku hampir keseleo tadi. Memanggilnya Arman jauh lebih mudah, tapi itu terdengar sangat tidak sopan.
Arman lekas berbalik dan berlalu pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Aku menyusul di belakangnya.
Para pegawai lain juga mulai membubarkan diri dan berjalan menuju ke meja kerja masing-masing.
Aku mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan Alan dan bergegas masuk setelah di persilahkan.
Saat itu Alan sedang duduk di sofa. Menyandarkan punggungnya ke belakang sambil melipat salah satu kakinya di atas paha. Ia memandangku dengan wajah tersenyum.
"Silahkan duduk, Nona," ucap Alan seraya menepuk sofa di sebelahnya.
"Terima kasih, Tuan," kataku seraya menjatuhkan diri di sofa.
Alan menurunkan satu kakinya yang terlipat dan menegakkan tubuhnya. "Aku menyuruhmu duduk di sebelahku. Mengapa kau malah duduk di sana?"
Aku memang sengaja duduk di kursi yang letaknya paling jauh dengannya. "Disini terlihat lebih nyaman." Aku menepuk sofa yang kududuki dan sedikit mengguncangnya. Sofanya benar-benar empuk. Harganya pasti tidak murah.
Alan hanya tertawa. Kurasa ia tahu aku hanya beralasan. Satu tangannya terulur, meraih botol mineral yang ada di depannya. Kemudian meminumnya hingga tersisa separuh.
"Apa kau tahu? Kau satu-satunya pegawai yang berani membantah perintahku," ucapnya seraya menutup botol dan meletakan kembali ke tempat semula.
"Woah, sepertinya aku akan dapat rekor muri," kataku asal bicara.
Arman terlihat tidak senang saat aku mengatakannya. Ekspresinya sama sekali tidak ramah. Masih dengan wajah tak senangnya, ia berjalan mendekat.
"Ini berkas yang Anda minta, Tuan Muda," ucapnya seraya menyodorkan sebuah berkas dengan sampul berwarna biru pada Alan.
"Kau bisa menyerahkannya secara langsung kepada yang bersangkutan," sahut Alan.
Dengan wajah datar Arman memutar tubuhnya ke arahku dan menyerahkan berkas itu. "Silahkan, Nona Alea," ucapnya sopan.
Aku menerimanya dengan kedua tangan. "Apa ini?" tanyaku seraya melirik Alan.
"Kau akan tahu setelah membacanya," sahutnya.
Perlahan aku membuka berkas itu. Darahku seakan mendidih setelah membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sana.
Apa-apaan ini?
Bersambung ...