Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 92



"Sihir apa yang kau gunakan untuk memikatku, Alea? Mengapa aku tak berdaya di hadapanmu. Sebelumnya aku tak pernah bergantung pada orang lain. Aku terbiasa melakukan apapun sendiri, tapi sekarang aku bahkan tidak bisa tidur jika kau tak ada di sisiku. Aku agak pilih-pilih soal makanan, tapi semenjak bersamamu aku bisa menikmati apa saja yang tersaji di piringku. Bahkan makanan yang sebelumnya kubenci, aku bisa menelannya dan menghabiskannya tanpa ragu asal itu dibuat atau di ambilkan olehmu. Kau mengubahku menjadi orang aneh, Alea," ucapnya dengan alis berkerut.


Jemarinya meluncur ke bawah, menyusuri rahang, leher dan berhenti di tulang selangka. Jakunnya bergerak naik turun saat tatapannya tertuju pada dua kelinci milikku. Ia memejamkan matanya. Kemudian mendesah. "Kau membuatku gila, Alea," ucapnya dengan frustasi.


"Aku tahu akan selalu seperti ini setiap kali berdekatan denganmu, tapi aku juga tidak bisa menjauh darimu. Ini sangat menyiksa tapi aku masih terus melakukannya berulang kali, benar-benar bodoh!"


"Haruskah aku pergi saja?" tanyaku dengan bingung.


"Jika kau pergi maka aku mati, Alea."


"Bukankah katamu kau tersiksa jika terus berdekatan denganku? Aku tidak ingin menyakitimu, Al."


Alan menelan salivanya sekali lagi. Matanya kembali terbuka. "Tidak apa-apa, aku masih bisa menahannya. Lagipula hanya tersisa sebentar lagi. Setelah kita menikah tidak akan tersiksa lagi," ucapnya dengan wajah tersenyum.


"Sudah lewat tengah malam... Tidurlah," titahnya seraya memelukku lebih erat.


Aku memejamkan mata, tapi tidak tidur. Entah mengapa aku masih belum mengantuk, padahal hari sudah sangat larut. Saat itu sangat hening. Tidak ada suara apapun selain tarikan nafas kami yang saling bersautan. Aku sedikit mendongak untuk melihat wajahnya. Memandangi keindahan yang terpampang nyata di depan mataku dengan takjub.


Bagaimana bisa ada manusia yang begitu sempurna sepertinya? dilihat dari sudut manapun dan dalam kondisi apapun ia selalu terlihat tampan. Bahkan saat tertidur seperti sekarang, ia masih saja mempesona.


"Al... " panggilku, lirih.


"Hmm," gumamnya dengan mata terpejam.


Aku meraih ujung kaosnya. Meremas kain katun itu dan juga memilinnya. Aku ingin bertanya, tapi agak ragu. Takut mengganggunya. Sepertinya dia sudah mengantuk dan ingin tidur.


Namun, beberapa saat kemudian matanya kembali terbuka dan bertanya sambil menatapku.


"Ada apa? Mengapa tidak tidur?"


"Aku tidak bisa tidur," jawabku. Masih sambil memainkan kaosnya.


Alan bergerak dengan cepat. Merangkak ke atas tubuhku. Posisinya seperti sedang push up. Hanya saja kakinya sudah menimpa kakiku.


"Apa yang kau lakukan?" tanyaku, kaget.


"Karena kau tidak bisa tidur, bagaimana kalau aku menidurimu?" ucapnya dengan senyum lebar. "Olahraga malam bagus untuk tubuh," imbuhnya.


"Dasar mesum!" Aku mendorongnya dengan kedua tangan dan berguling ke samping. Mengubah posisi tidurku yang tadinya terlentang menjadi miring. Memunggungi Alan yang kembali terbaring di sampingku sambil tertawa keras. Setelah tawanya berhenti, ia kembali melingkarkan tangannya di pinggangku, memelukku dari belakang. Kemudian menyurukkan kepalanya di tengkukku. Menggosokkan ujung hidungnya ke kulitku.


"Al...." aku berkata lagi.


"Hmm," sahutnya dengan suara teredam.


"Kita akan menikah kan?" tanyaku ingin memastikan.


"Benar. Begitu kakek pulang, aku akan memberitahunya langsung dan akan menikahimu secepatnya."


Tanpa kusadari, kedua sudut mulutku terangkat ke atas, tersenyum. Aku merasa lega sekaligus bahagia.


"Sebelum itu... bisakah kau beritahu aku semua hal tentang dirimu?"


"Bukankah kau sudah tahu semua hal tentangku?" Alan bertanya balik. "Kau tahu aku orang yang tidak sabaran, suka memaksa dan juga bermulut pedas. Selain itu kau bahkan sudah tahu berapa ukuran sepatu dan pakaianku juga. Dan yang paling jelas, kau tahu aku sangat tampan, kaya dan juga jenius," imbuhnya dengan bangga.


"Belum semuanya. Aku tidak tahu siapa saja keluargamu dan seperti apa mereka. Selain itu aku bahkan masih belum tahu berapa usiamu sekarang?" Aku berbalik menghadapnya. "Kau pasti lebih muda dariku kan?" tebakku. "Katakan... Berapa umurmu sekarang? 25?"


Alan menggeleng. "Salah."


"Bukan 25?" aku mengulangnya. Sedikit terkejut karena tebakanku meleset. Tidak seperti biasanya yang selalu tepat.


"Bukan," sahutnya.


Aku menunduk sambil terus berpikir.


"Kalau begitu... apa 23?" kataku seraya mengangkat wajah dan menatapnya lagi.


Alan tertawa kecil. "Apa aku terlihat semuda itu?"


"Kau memang masih muda. Lebih muda dariku pastinya."


Alan menggeleng. "Tidak. Kau salah, Alea. Aku empat tahun lebih tua darimu."


Aku memandangnya dengan mata menyipit. "Empat tahun lebih tua dariku? Hei..." kataku seraya memalingkan muka.


"Kau tidak percaya padaku?" tanya Alan.


Omong kosong apa yang sedang dia bicarakan. Dengan wajah imutnya yang seperti itu mana mungkin dia berusia 32 tahun. Aku yakin siapapun juga tidak akan percaya.


"Aku serius, Alea. Aku lahir tahun 91, empat tahun lebih dulu sebelum kau dilahirkan."


"Benarkah?" Aku menatapnya lagi. Sementara Alan mengangguk.


"Kalau begitu tunjukan KTP-mu, biarkan aku melihatnya?" kataku seraya menodongkan telapak tangan padanya.


"Aku tidak membawanya. Itu ada di atas, di dompetku," ucapnya seraya menepuk telapak tanganku dan menggenggamnya. Mengaitkan jari-jari kami.


"Kalau begitu ambillah," titahku.


Alan terlihat agak kesal. Alisnya berkerut saat berkata, "Tidak bisakah besok saja? Apa kau tidak tahu sudah jam berapa sekarang? Ini sudah tengah malam, Alea. Kau harus tidur."


"Baiklah... santai saja ngomongnya, tidak perlu marah-marah, nanti cepat tua tahu," godaku. Alan mengerucutkan bibirnya, cemberut.


"Aku akan tidur sekarang, selamat malam, Al." Aku mendekatkan bibirku ke pipinya dan menanamkan kecupan singkat di sana.


Seketika bibir tipisnya merekah. Wajahnya berseri-seri karena senang. "Tidurlah yang nyenyak, istriku," ucapnya sebelum menghujani seluruh wajahku dengan ciuman. Setelah itu kami sama-sama memejamkan mata dan tertidur.


Keesokan harinya, Alan sudah tidak ada ketika aku bangun. Sambil meregangkan tubuh, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Terkejut saat mendapati jam digital di atas nakas yang menunjukan pukul setengah dua belas siang.


"Astaga... Aku tidur seperti orang mati. Pantas saja Alan sudah tidak ada."


Aku bergegas turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar kecil. Tidak ada waktu untuk mandi, jadi aku hanya mencuci muka dan juga menggosok gigi. Kemudian mengganti pakaian dan menyisir rambut dengan terburu-buru. Setelah itu barulah keluar kamar.


Dimana Alan sekarang? Apa dia sudah kembali ke kota lebih dulu?


Sial, apa aku di tinggal?