Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
salah paham



Alan berjalan mendekat. Tatapannya tajam, menusukku. "Oh ya ... Apa yang kau tahu tentangku?"


Aku balik menatapnya tajam. Kali ini tak ingin kalah dengannya. Sedikitpun aku tak merasa takut padanya. Langit semakin terang. Sebentar lagi orang-orang pasti keluar rumah. Memulai rutinitas masing-masing. Laki-laki dihadapanku ini tak mungkin macam-macam denganku jika banyak pasang mata yang melihat.


"Kau dan teman-temanmu adalah orang-orang berengsek. Suka mengganggu orang lain, merampas milik orang lain, makan di kedai orang lain tanpa membayar!" Dadaku bergemuruh seiring emosiku yang meluap-luap. Mengingat kembali setiap kejahatan yang dilakukan Alan dan beberapa temannya yang terjadi di depan mataku.


"Sekarang kau tidak bisa mengelak lagi. Apa yang kuucapkan barusan benar, kan" tanyaku ketika Alan terdiam.


Laki-laki di hadapanku menggeleng pelan. Tatapannya melembut. "Tidak. Itu sama sekali tidak benar, Alea. Kau salah paham terhadapku dan juga teman-temanku. Kami tak seburuk yang kau kira," bantahnya.


"Salah paham katamu?" Aku tersenyum mengejek.


"Jelas-jelas aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Al. Bagaimana perlakuan teman-temanmu yang mengeroyok dan menghajar orang lain hingga babak belur. Kemudian merampas dompetnya setelah


Orang tersebut tak berdaya. Kau masih bilang itu salah paham?"


Alan terbahak, membuat bahunya berguncang-guncang. Kenapa dia malah tertawa? Apa laki-laki di depanku ini gangguan jiwa? Batinku di tengah kebingungan atas reaksinya.


"Apa kau tahu--kau ini seperti netizen," ucapnya masih dengan tawa kecil.


Aku terdiam, tak mengerti maksudnya.


"Kau dan netizen sama-sama selalu menyimpulkan seorang diri ketika melihat ataupun mendengar sesuatu. Kalian tak menelaah terlebih dahulu kejadian yang sebenarnya. Kau harus tahu, apa yang kau lihat dan apa yang kau dengar belum tentu sesuai dengan apa yang kau pikirkan."


Aku bengong mendengar penuturannya. Aku paham dengan apa yang ia ucapkan. Tapi mengapa dia menyamakanku dengan netizen? Bukankah tak ada hubungannya dengan situasi saat ini?


Alan merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. Kemudian menekan tombol untuk menghidupkannya. Setelah itu mengusap serta menggeser layar hp tersebut beberapa kali. "Lihat ini," ucapnya memerintah.


"Pria yang kau maksud ini, kan?" tanyanya seraya menyodorkan sebuah foto dari ponselnya.


Aku sedikit memiringkan kepala, menatap foto yang di perlihatkan Alan. Foto seorang pria bertubuh kurus yang wajahnya babak belur dengan background seperti sebuah kantor polisi.


"Bukankah itu kantor polisi? Apa dia mengadukan perbuatan kalian ke polisi?" tanyaku.


"Kau salah lagi. Bukan dia yang mengadu ke polisi. Tapi kami yang melaporkannya."


Aku mendongak, menatap wajah Alan. "Kenapa kalian melaporkannya? Bukankah yang salah kalian?"


"Sudah kukatakan kami tidak seburuk yang kau kira. Kami tidak melakukan kesalahan apapun. Kau harus tahu, pria yang ada di foto ini adalah seorang pencuri dan pencopet. Sudah banyak korbannya. Dan aku salah satu dari korban itu. Pria itu mengambil dompetku. Namun sialnya ketahuan oleh salah satu temanku. Keempat temanku itu mengejarnya dan berhasil menangkapnya. Saat di tangkap copet itu sempat melawan dan berusaha kabur. Makanya semalam terjadi baku hantam," jelasnya.


Aku membeku. Tak ada alasan lagi untuk membantah ucapannya. Karna Alan mempunyai bukti.


"Lalu bagaimana dengan kejadian di warung dekat kantorku. Bukankah saat itu kau dan teman-temanmu langsung pergi tanpa membayar makanan kalian terlebih dulu?"


Alan terdiam beberapa saat, tampak mengingat sesuatu.


"Ah yang itu ... Aku dan pemilik warung tersebut saling mengenal. Kami sudah seperti kakak beradik. Jadi saat aku makan di tempatnya tak perlu membayar," tutur Alan.


"Jika kau tidak percaya aku bisa mengenalkanmu pada owner warung tersebut. Kau bisa menanyakan langsung padanya," imbuhnya.


Aku menunduk, malu sekali. Ternyata semuanya hanya salah paham. Aku merutuki kebodohanku sendiri. Hingga tanpa sadar tanganku mengetuk-mengetukannya di dahiku sendiri. Bodoh, bodoh, bodoh.


"Akhh," pekikku saat tanpa sadar aku mengetukkan tulang jemariku di dahiku sendiri dengan cukup keras.


"Kau baik-baik saja?" tanya Alan. Suaranya tampak cemas.


Aku mengusap-usap dahiku. "Aku tidak apa-apa," sahutku. Aku memberanikan diri mengangkat wajah. Sedikit mendongak untuk menatapnya.


"Apa kau serius?"


"Apanya?" tanyaku bingung.


"Meminta maaf."


"Apa aku terlihat bercanda?" Meskipun Alan tak seburuk yang kukira tapi dia tetaplah laki-laki yang menyebalkan.


"Mengapa kau selalu marah saat berbicara denganku?"


"Siapa yang marah? Aku tidak marah."


"Lihat, Kau meninggikan suaramu lagi. Bukankah itu tandanya kau marah padaku?"


"Itu bukan marah tapi kesal," kataku menjelaskan.


"Kenapa kau kesal padaku?"


Karena kau menyebalkan!


"Apa kau sudah selesai bicara? Aku masih mengantuk, ingin tidur," kataku. Memilih mengabaikan pertanyaannya.


"Mengapa masih mengantuk ini sudah pagi. Apa semalam kau tidak tidur?"


Belum sempat aku menjawab pria di hadapanku itu sudah kembali bicara. "Ah aku hampir lupa, semalam kau dan pacarmu tidur bersama," ucapnya sambil senyam senyum tak jelas. Seperti orang gila.


"Berapa ronde yang kalian lakukan?" tanyanya lagi dengan senyum menggoda. "Ahhh pasti lebih dari sekali karna ia tak membiarkanmu tidur semalaman."


Dasar laki-laki mesum, gila!


"Hentikan otak mesummu itu, Al. Aku tak seperti yang kau pikirkan. Meskipun Aku dan Kevin tidur bersama tapi kami tak melakukan apapun," kataku, menjelaskan. Mencoba menghentikan pikiran liarnya.


Alan mengangguk-anggukan kepalanya. "Baiklah. Aku percaya padamu, kalian hanya tidur bersama," sahutnya setuju. Namun ekspresinya tampak tak sejalan dengan ucapannya. Laki-laki itu mengulum bibirnya, menahan tawa. Kemudian berjalan menaiki tangga.


Aku ikut melangkah mengikutinya, menaiki tangga menuju ke lantai dua.


"Kau tak percaya padaku?" tanyaku saat melihatnya masih mengulum senyum, seolah mengejekku.


"Bukankah tadi sudah ku jawab. Mengapa kau menayakan pertanyaan yang sama dua kali, Alea."


"Tapi kenapa kau masih masih senyam senyum seperti itu?"


"Memangnya kenapa kalau aku tersenyum seperti ini? Apa aku tak boleh melakukannya?" tanyanya sambil menoleh ke belakang, menatapku.


Aku menghela nafas. "Terserahlah apa katamu Al. Lakukan saja apapun yang kau inginkan," kataku menyerah. Masa bodo dengan apa yang ia pikirkan tentangku. Ku tepis tubuhnya yang berdiri menghalangiku. Kemudian berjalan mendahuluinya. Setelah itu bergegas masuk ke dalam kamar dan menjatuhkan tubuhku ke kasur.


.


.


.


.


.