
Saat itu masih tengah malam. Alan yang nyaris menghabiskan sepanjang hari dengan tidur itu akhirnya membuka mata.
Alisnya berkerut saat menyadari sesuatu menempel di keningnya. Rasanya dingin dan basah. Membuatnya sedikit tidak nyaman. Ia lantas mengulurkan tangan ke atas, meraih handuk kecil yang Alea gunakan untuk mengompresnya.
Alan memandangi handuk basah itu sebentar. Setelah itu melemparnya ke dalam baskom kecil yang ada di atas nakas, dekat tempat tidur.
Ia menoleh ke kanan, menatap sofa panjang yang berseberangan dengan tempat tidur. Kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. Lelaki itu tersenyum, mendapati Alea yang terlelap di sana.
Alan segera turun dari tempat tidur. Kemudian berjalan mendekati sofa dimana Alea tertidur. Dengan sangat hati-hati ia mengangkat tubuh wanita itu dan memindahkannya ke ranjangnya. Setelah itu ia ikut berbaring di sampingnya.
Keduanya tidur saling berhadapan. Tidak, hanya Alea yang tidur. Sementara Alan hanya berbaring sambil memandangi wajah wanita di hadapannya itu.
"Sihir apa yang kau gunakan untuk memikatku, Alea?" gumam Alan, masih memandangi wajahnya.
Bulu mata panjang dan juga lentik. Hidung mancung bak perosotan di taman kanak-kanak. Jemarinya yang ramping mulai membelai pipi Alea yang yang terasa lembut seperti beludru.
"Kau wanita naif, galak dan juga keras kepala. Seharusnya aku membencimu, tapi mengapa aku justru semakin tergila-gila padamu."
Tiba-tiba Alea bergerak. Masih dengan mata terpejam ia merangsak mendekati Alan. Meraih pinggang lelaki itu dan menyerukan wajahnya di dada bidang Alan.
"Kau yang memulainya, Alea. Jangan salahkan aku saat bangun nanti," ucap Alan dengan seringai di wajahnya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Alan balas memeluknya dengan erat. Merapatkan tubuh mereka hingga tak ada celah sedikit pun. Sejak tadi senyum di wajahnya tak pernah pudar. Ia tampak sangat bahagia.
"Aku berharap, setiap hari kita bisa terus seperti ini, Alea. Tidur di ranjang yang sama. Saling berpelukan dan menghangatkan tubuh satu sama lain."
Alan mengecup kening Alea sebentar. Setelah itu kembali memejamkan mata dan tertidur.
...****************...
"Sudah bangun?" tanya Alan ketika Alea mengerjapkan mata. Ia berbaring dengan posisi miring, menghadap ke arah wanita yang ada di hadapannya itu. Tangan kanannya ia letakan di atas bantal, menopang kepalanya. Sementara satu tangannya yang lain tampak melingkar di pinggang ramping Alea.
Alea masih sedikit mengantuk. Sehingga Ia tidak sadar kalau tangan dan kakinya melingkar di tubuh Alan. Mendekap lelaki itu dengan sangat erat. Begitu tersadar ia buru-buru menariknya.
Alan tersenyum melihat wajah Alea yang tampak memerah. "Apa kau malu?" godanya.
Alea pura-pura tak mendengar. "Mengapa aku di sini?" tanya Alea mengalihkan perhatian. Sejujurnya ia memang sangat malu. Bagaimana bisa ia mendekap tubuh Alan seerat itu. Seperti saat ia sedang memeluk guling.
Alea memalingkan muka, menghindari tatapan Alan yang memandangnya dengan sorot mata tajam. Wajahnya kembali memerah seperti udang rebus. Dalam hati ia bertanya-tanya mengapa tiba-tiba bisa berada di ranjang yang sama dengan Alan. Padahal seingatnya semalam ia tidur di sofa.
"Apa kau memiliki kebiasaan berjalan saat tidur?" tanya Alan. Wajahnya sangat polos. Seolah ia benar-benar tidak tahu apa-apa. Padahal dalam hatinya ia sangat senang karena berhasil mengerjai Alea.
Alea terdiam. Seingatnya ia tak memiliki kebiasaan buruk seperti itu. Satu-satunya kemungkinan adalah ada orang yang dengan sengaja memindahkannya ketika ia tidur. Tetapi siapa yang melakukannya? Mungkinkah itu Alan?
Alea melirik Alan sebentar. Saat ia melihatnya Alan sudah kembali berbaring seperti orang yang sedang sakit.
Tidak! Alan masih sakit. Bagaimana mungkin ia memindahkan tubuhku. Tubuhnya saja masih sangat lemah.
"Ada apa, Alea? Apa kau merasa pusing?" tanya Alan saat melihat Alea menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali.
"Tidak, aku baik-baik saja," sahut Alea seraya kembali menatap Alan.
"Bagaimana keadaanmu?" Alea bertanya balik. Ia menyentuh dahi Alan dengan punggung telapak tangannya. "Syukurlah demamnya sudah turun," ucapnya seraya menghembuskan nafas lega.
Alan mengulurkan tangan. Meraih telapak tangan Alea dan menggenggamnya. "Itu semua berkat dirimu, Alea. Kau merawatku dengan sangat baik. Terima kasih," ucap Alan, tulus.
Keduanya beradu pandang dengan tangan saling bertaut selama beberapa detik. Sebelum akhirnya Alea mengakhiri adegan saling tatap itu sambil menarik tangannya.
"Aku akan membuat sarapan," ucapnya seraya turun dari tempat tidur dan berlalu pergi dengan langkah cepat.
Alan terkekeh melihatnya. "Mengapa ia imut sekali saat sedang malu," gumamnya.
.
.
.
.