
"A--Ayah," kataku, sedikit tergagap.
Ayah tak mengatakan apapun saat aku menyebut namanya. Jika dadanya tidak bergerak naik turun saat bernafas mungkin orang akan mengira ia patung karena sama sekali tak bergerak. Akan tetapi sorot matanya begitu tajam. Ia memandang kami berdua dengan tatapan membunuh.
Aku memalingkan wajah, kembali menatap Kevin. "Mas ... Turunkan aku," ucapku padanya.
Kevin menuruti permintaanku. Dengan hati-hati ia melepas gendongannya dan membantuku berdiri dengan tegak.
Begitu kembali menginjakan tanah, aku bergegas menghampiri ayah. Aku memasang wajah ceria, berusaha menutupi ketakutanku dan menganggap seolah semuanya baik-baik saja, tak ada yang terjadi sebelumnya. "Ayah ... Kapan kau datang? Apa sudah menunggu lama? Kenapa tak menghubungiku dulu," serbuku dengan beberapa pertanyaan sambil berjalan mendekat.
Kuraih tangannya yang mulai keriput, lalu mendekatkannya ke wajahku, hendak mencium punggung telapak tangannya sebagai penghormatan. Namun belum sempat aku melakukannya, Ayah menepis tanganku dengan kasar. Setelah itu mengayunkan tangannya ke wajahku.
Plak!
Tangan itu mendarat dengan sangat keras di pipi kananku. Hingga menghasilkan suara yang amat nyaring di telinga. Sakit, sakit sekali. Ku pegangi pipiku itu yang kini mati rasa.
"Wanita tidak tahu diri dan tidak tahu malu! Susah payah aku membesarkan mu, beginikah caramu membalasnya!" teriak ayah, murka. Ia kembali mengayunkan tangannya yang mendarat sempurna di pipiku yang satunya lagi. Kali ini tamparannya lebih keras lagi, hingga membuatku tumbang.
"Aakh," pekikku ketika tubuh ini tersungkur ke tanah. Kakiku yang memang belum sembuh kembali terasa berdenyut.
"Alea!" teriak Kevin. Bisa ku dengar langkah kakinya yang berlari ke arahku. Ia berjongkok di sisiku. Kedua tangannya memegangi bahuku dan berusaha mengangkat tubuhku agar kembali berdiri. Namun aku menahannya. Aku menunduk, menatap tanah yang basah akibat guyuran hujan beberapa jam yang lalu.
Aku tak ingin bangun, biarkan aku seperti ini saja.
Kevin mengerti, ia melepas tangannya dari bahuku. Lalu kembali berdiri, berhadapan dengan ayahku.
"Apa yang Ayah lakukan? Tidakkah kau ingat kalau Alea juga putrimu?" imbuhnya setengah berteriak.
Kevin sama bingungnya denganku. Ia menatap ayahku dengan kening berkerut.
"Putri kau bilang?" ucap ayahku beberapa saat kemudian. Dilihat dari suaranya, jelas sekali bukan sedang bertanya tapi sedang mengejek. "Aku sama sekali tak memiliki anak sepertinya. Dia bukan putriku," imbuhnya dengan penekanan di akhir kalimat.
Aku kembali mengangkat kepala. Sedikit mendongak agar bisa menatap wajah Ayahku. Saat itu ayah dan juga Kevin saling beradu pandang dengan tatapan tajam.
"Kuberitahu padamu, wanita ini ...." Ayah berhenti sejenak. Ia maju selangkah, mengikis jarak di antara mereka berdua. Hingga dahi keduanya hampir bersentuhan.
"Simpanan yang sangat kau cintai ini bukanlah putriku. Dia hanyalah anak liar yang kutemukan di tong sampah. Aku memungutnya karena istriku merasa kasihan padanya," ucap Ayah.
Mataku kembali terbelalak, syok. Apa? aku hanyalah anak pungut?
Tiba-tiba dadaku terasa sesak, seperti ada sebuah batu besar yang menindihku. Kenyataan ini amat menyiksaku. Ribuan belati seolah menusukku hingga ke tulang. Selain itu aku merasa sedih dan kecewa, mengingat kembali sikap ayah dan ibu yang memperlakukanku dengan tidak adil selama ini. Jadi, inikah alasannya? Karena aku bukan anak kandung mereka.
Sama sepertiku, Kevin juga sama terkejutnya. Ia sampai mundur kebelakang sangking kagetnya. "Apa?" ucapnya, tak percaya.
"Ya, dia hanyalah seorang anak pungut yang entah dari mana asal usulnya dan entah dari rahim mana ia dilahirkan. Mungkin saja ia terlahir dari seorang pelacur, sehingga darahnya itu mengalir ke anaknya yang juga menjadi pelacur."
Darahku seketika mendidih. Bukankah ayah sudah keterlaluan? Tidak cukup hanya menghinaku, beraninya dia menghina ibuku juga yang bahkan tak di kenalnya. Aku tidak tahan lagi. Selama ini aku tak pernah melawan karena aku menghormatinya sebagai orang tua. Tapi sekarang, dia sudah mengatakan sendiri aku bukanlah anaknya. Jadi, tak perlu berpura-pura lemah lembut lagi.
Ayah, biar kutunjukan seperti apa anak pungutmu ini. Mulai detik ini, aku tak akan kalah denganmu lagi dan tak akan pernah mengalah.
Aku menghela nafas panjang, mengisi paru-paruku dengan oksigen. Dengan sisa tenaga yang ku punya aku bangkit berdiri. Kuremas telapak tanganku dengan kuat. Kemudian menegakkan kepala dan menatap lelaki tua yang sombong itu.
Bersambung....