
Tepuk tangan terdengar bergemuruh ketika Alan selesai menyanyikan lagu itu dengan sempurna. Suaranya memang patut di apresiasi. Alan turun dari panggung. Kini ia berjalan ke arahku.
Aku bertepuk tangan, ketika ia sampai. "Suaramu bagus, Al. Kenapa kau tidak jadi artis saja."
Alan mendudukkan tubuhnya di kursi. Bersebelahan denganku. "Kau suka, jika aku jadi artis?" tanyanya.
Aku menatapnya, bingung. "Mengapa kau tanya padaku?"
"Memangnya tidak boleh?" protesnya. Alan menunduk, menatap makanan yang sudah tersaji di meja. Ia mengulurkan tangan, mengambil sate kambing yang tadi kupesan. Kemudian menggulingkannya ke sambal. Setelah itu memasukan ke dalam mulut, mengunyahnya.
"Bukannya tidak boleh. Tapi itu kan bukan urusanku. Jadi kenapa kau malah bertanya padaku," kataku sambil ikut makan.
Aku ikut makan. Kali ini aku mencicipi sate ayam. Rasanya lumayan enak. Dagingnya empuk, bumbunya juga meresap. Sayang sambal kacangnya kurang pedas sedikit. Sebenarnya boleh minta tambah sambal lagi. Tapi aku malas jalan ke stand hanya untuk minta sambal.
"Tentu saja itu jadi urusanmu. Kan aku bertanya padamu. Kau suka tidak kalau aku jadi penyanyi?" Tanyanya lagi.
Aku berpikir sebentar. "Aku sih suka-suka saja. Apa pun yang kau lakukan, selagi itu positif aku pasti menyukainya," kataku.
Alan tak menjawab. Ia terlihat sibuk menikmati makanannya. Cara makannya membuatku ngiler. "Apa seenak itu?" tanyaku, penasaran.
Alan mengangkat wajah, menatapku. "Kenapa kau tak mencobanya sendiri," ucapnya. Ia menyodorkan sate yang ia pegang ke mulutku. "Cobalah ...," ucapnya.
Aku langsung memundurkan kepala, menghindar.
Alan mengernyitkan dahi. "Kenapa? kau jijik karena bekasku?" tanyanya. Ia tampak marah
Aku menggeleng, cepat. Tak ingin ia salah paham. "Bukan seperti itu. Aku tak suka sate kambing. Lebih tepatnya ke baunya. Hidungku cukup sensitif dengan bau-bauan," jelasku.
Tatapan Alan kembali melembut. "Jika kau tidak suka kenapa di pesan? Kan sudah kubilang pesan yang kau suka saja."
"Itu untukmu. Sepertinya kau juga suka."
"Lain kali pesan yang kau sukai saja, jangan pikirkan aku," ucapnya.
Tentu saja, Al. Lain kali pasti aku pesan yang kusukai saja. Kau ge'er sekali Al. Siapa juga yang mikirin kamu. Lagipula ini pertama dan terakhir kalinya kita makan bersama, batinku.
"Aku juga pesan makanan yang kusuka, kok," kataku menunjuk dua potong ayam bakar. Aku mengambilnya satu, bagian paha. Kemudian menggigit kecil ujungnya.
Alan mengubah posisi duduknya, menyerong ke arahku. Satu tangannya ia letakan di belakang sandaran kursi yang kududuki. Sementara satu tangannya yang lain bertumpu di meja. Ia menatapku. "Apa itu enak?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Enak. Kau mau coba?" tanyaku.
"Apa boleh?" tanyanya, masih menatapku.
"Tentu. Makan saja," kataku. Aku kembali menggigit ayam bakar yang kupegang. Mataku terbelalak saat Alan tiba-tiba menyambar ayam bakar yang ada di mulutku menggunakan mulutnya. Aku membeku. Jantungku berdetak tak karuan. Seakan ingin melompat keluar. Aku yakin orang yang melihat kami pasti mengira Alan menciumku.
"Kau benar. Ini enak," ucapnya.
Aku menoleh, menatapnya tak percaya. Mengapa laki-laki ini sangat santai, seolah tak terjadi apa-apa.
"Ada apa? Kenapa matamu seperti mau keluar begitu," tanya Alan saat mata kami kembali bertemu.
Aku menatapnya, sebal. "Kenapa kau merebut makanan di mulutku?"
"Kau bilang aku boleh mencobanya."
"Iya. Tapi maksudku yang di sana bukan yang sedang kumakan," kataku. Melirik sepotong ayam bakar yang masih utuh di meja.
Alan menyeringai. Matanya fokus menatap bibirku. "Yang di situ kelihatan lebih enak," ucapnya tak tahu malu.
Dasar sinting! Umpatku dalam hati. Aku segera berpaling dari laki-laki menyebalkan itu. Aku menengadah ke atas saat sesuatu menetes di dahiku. "Gerimis," gumamku. Aku mengangkat tangan, memastikan. Rintik air kembali menetes di telapak tanganku. Semakin lama-semakin banyak. Orang-orang tampak berhamburan. Mencari tempat berteduh. Sebagian berlarian keluar. Aku tertawa.
Alan menatapku, bingung. "Kenapa tertawa?" tanyanya.
"Kau tahu, Al. Kupikir tempat ini sempurna, tak ada cela sedikitpun. Ternyata aku salah. Lihat, saat hujan semuanya jadi bermasalah. Meskipun banyak pohon rimbun, tapi tetap saja. Orang-orang tak bisa berteduh di bawahnya. Akan sangat berbahaya jika ada petir. Dan ketika hujan bercampur angin semuanya akan basah kuyup," kataku menatap ke sekeliling.
Aku menoleh, menatap Alan yang terdiam. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Ia tampak serius mengamati sekelilingnya.
"Ayo kita ke tenda," ajak Alan ketika hujan makin deras. Ia menanggalkan jaket kulitnya. Menjadikannya payung untuk kami berdua. Kami terpaksa menerjang hujan, menuju tenda. Dari pada terus berteduh di bawah pohon beringin. Lama-lama bisa basah kuyup kalau masih tetap di tempat itu.
Alan menyewa satu tenda untuk kami berdua. Aku tak masalah meskipun satu kamar dengannya. Toh ini hanya sementara. Kami hanya ingin berteduh sebentar. Setelah hujan reda kami bisa pulang.
Aku terperangah saat masuk ke dalam glamping tent itu. Selain tempat tidur, di dalam tenda itu juga terdapat kamar mandi berukuran kecil. Ada dispenser dan televisi juga.
Aku mendudukkan tubuhku di ujung tempat tidur. Berhadapan dengan Alan, yang saat itu berdiri di depan sofa.
Alan melemparkan handuk padaku. "Keringkan tubuhmu," ucapnya.
Aku menurut. Mulai mengelap bagian tubuhku yang basah.
"Kau mau apa Al?" tanyaku saat melihat Alan mengangkat kaosnya. Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Bajuku basah," ucapnya.
"Apa kau tidak malu? Aku bahkan ada di sini, tepat di depanmu."
"Tidak usah tutup mata. Aku hanya buka baju, bukan bugil."
Perlahan kuturunkan kedua tangan yang menutupi wajahku. Sedikit terkejut saat melihat badan Alan yang tak berbalut kain. Kukira badannya akan terlihat kurus kerempeng. Ternyata berotot juga. Meskipun tak seseksi Kevin yang perutnya kotak-kotak. Alan mengeringkan badan dan juga rambutnya dengan handuk. Setelah itu mendudukkan tubuhnya di sofa.
Di luar hujan masih deras. Udara semakin terasa dingin. Aku menarik selimut, membalut tubuhku agar lebih hangat.
Alan menatapku. "Buka saja bajumu," perintahnya. Aku mendelik padanya.
"Aku tidak bermaksud apa-apa. Bajumu basah. Meski kau menutupi tubuhmu dengan selimut akan tetap terasa dingin. Kau bisa demam nanti," jelasnya.
"Lebih baik aku kedinginan dari pada harus telanjang di depanmu," kataku.
"Hei ... Aku tidak menyuruhmu telanjang di depanku. Aku hanya memintamu melepas pakaianmu yang basah itu. Kau kan bisa pakai selimut atau handuk sebagai gantinya."
Aku mengabaikan ucapannya. Tetap bergeming dengan pendirian dan posisiku.
Malam semakin larut. Bukannya reda, hujan justru semakin deras. Guntur pun terdengar menggelegar di luaran sana.
"Sepertinya kita tidak bisa pulang malam ini. Mau tidak mau kita harus menginap di sini," ucap Alan.
"Kalau begitu aku mau pesan kamar sendiri Al. Kita tidak mungkin tidur dalam satu kamar," kataku. Kusingkap selimut yang menutupi tubuhku. Bersiap mencari kamar lain. Namun, Alan menahanku.
"Aku saja yang pindah, kau tetap disini," ucapnya.
Alan berjalan menghampiri pesawat telepon yang ada di atas nakas. Menekan tombol untuk menghubungi resepsionis dan meminta di carikan satu kamar lagi. Aku menunggu sambil mendengarkan. Alan mendesah, nadanya berubah marah. Tak lama kemudian ia menutup telepon.
Alan berbalik, menatapku. Wajahnya tampak kecewa. "Maafkan aku, Lea. Sepertinya kita memang harus berbagi kamar. Semuanya tenda Full, tak ada yang kosong."
Aku mengerti, ini bukan salahnya. Aku bahkan sudah menduganya saat Alan menelpon tadi.
"Tapi aku tidak bisa berbagi ranjang denganmu," kataku.
"Tidak apa-apa, aku bisa tidur di sofa," ucap Alan. "Tidurlah ... Sudah malam," ucapnya, lagi.
Aku mengangguk. Sejak tadi memang sudah mengantuk. "Selamat malam, Al," kataku sebelum tidur.
"Selamat malam, Alea. Semoga mimpi indah," ucapnya. Alan mematikan lampu. Kemudian membaringkan tubuhnnya di sofa. Lebih tepatnya meringkuk. Karena sofa itu berukuran kecil. Sementara tubuhnya kelewat panjang.
Aku merebahkan diri di kasur. Menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhku.
.
.
.
.