Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 63



"Apa Anda ingin menjamu seseorang?" tanyaku begitu pesanan Alan tiba. Aku mengeluarkannya dari kantong, lalu menatanya di meja.


"Hm," sahutnya singkat.


"Siapa?" tanyaku, penasaran. Seingatku hari ini tidak ada jadwal bertemu dengan klien.


"Kau," jawabnya, tersenyum.


"Aku bukan tamu, mengapa menjamuku," kataku. Kembali menatap makanan di meja. Banyak sekali makanan yang dia pesan. Benar-benar pemborosan.


"Tapi kau wanitaku, aku tidak akan membiarkan calon istriku kelaparan."


Aku terkekeh, mendengar leluconnya itu. Alan memandangku dengan dahi mengernyit. "Oke ... sudah cukup bercandanya. Kau mau makan yang mana dulu?" tanyaku. Kembali memandangnya.


Wajah Alan berubah serius. Tak ada senyum sedikitpun di sana. Ia terlihat sedikit menakutkan sekarang.


Aku bertanya-tanya dalam hati. Apa aku salah bicara? Mengapa ia memandangku dengan tatapan seperti itu?


Aku lekas memalingkan muka, mengakhiri adegan saling tatap itu. Namun, detik berikutnya Alan menarik tangan dan pinggangku. Membawaku ke dalam pelukannya. Aku terkesiap karenanya.


Wajah kami begitu dekat hingga bisa kurasakan hembusan nafasnya yang manis.


"A-Apa yang kau lakukan, Al?" tanyaku sedikit tergagap. Aku mendorong dadanya, berusaha melepaskan diri. Namun, Alan justru mempererat cengkeramannya.


"Ini di kantor, Al," kataku, mengingatkan. Aku takut seseorang masuk dan memergoki kami berdua dengan posisi yang tidak seharusnya mereka lihat.


Alan tak peduli. Ia justru semakin mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kepalanya di ceruk leherku. Tubuhku menegang ketika ia menyusuri bagian itu dengan bibirnya.


Ia berhenti sebentar. "Sampai kapan kau akan terus mengabaikanku, Alea?" ucapnya, lirih. Setelah mengajukan pertanyaan itu, ia kembali mendaratkan kecupan demi kecupan di leherku.


Disaat otakku berusaha keras ingin memberontak, tubuh sialan ini justru berkata lain. Tubuhku meliuk-liuk seolah-olah aku menikmati setiap sentuhannya. "Apa maksudmu, Al? Aku tidak ... mengerti." Sial, tubuhku terus saja bereaksi yang tidak seharusnya. Sensasi ini membuatku tak berdaya. Aku kalah. Otakku kini bahkan mulai selaras dengan tubuhku. Nafasku terengah-engah seolah telah berlari sepanjang puluhan kilometer.


Alan semakin tak terkendali. Tubuhku gemetar saat bibirnya menyentuh telingaku. Menyesapnya beberapa kali dan di akhiri dengan gigitan di ujungnya.


Aku menggigit bibir, membungkam mulutku agar tak mengeluarkan ******* yang mungkin saja lolos jika aku tidak menahannya. Jangan tanyakan seperti apa posisi kami sekarang. Sudah pasti itu tidak pantas jika dilihat orang lain. Aku bahkan tidak sadar kapan kami berganti posisi. Tahu-tahu aku sudah berbaring di sofa dengan Alan berada di atasnya.


Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Alan berhenti. Namun, tetap tak mengubah posisinya. Ia masih berada di atasku, menggunakan kedua lengan sebagai tumpuan. Nafasnya sudah kembali stabil setelah sempat memburu beberapa menit yang lalu. "Aku menyukaimu, Alea," ucapnya dengan wajah serius.


Waktu seolah berhenti berputar. Seiring dengan jantungku yang juga berhenti berdetak. Syok dengan pengakuannya.


Dia menyukaiku?


Aku memalingkan wajah, menghindari tatapannya. "Tidak mungkin," sangkalku seraya menggeleng pelan. Nafasku sudah kembali teratur, seperti biasanya.


"Berhenti bergurau, Al. Itu tidak lucu," imbuku seraya menatapnya lagi.


Aku kembali terdiam. Kupandangi wajahnya yang bak malaikat. Kulitnya seputih susu. Mulus bak porselen, tanpa cela.


Saat menatap kedua bola matanya yang hitam, aku tercengang. Sedikit pun aku tak menemukan adanya kebohongan di sana. Itu artinya ia serius dengan kata-katanya. Tapi ... Apa itu mungkin?


Aku masih saja tidak percaya. Dia tampan, kaya dan juga berkuasa. Bagaimana mungkin seseorang yang sempurna seperti dirinya bisa jatuh cinta dengan wanita biasa sepertiku?


"Jadilah wanitaku, Alea," pintanya dengan ekspresi memohon.


Aku menunduk, menatap kemejaku yang sedikit berantakan. "Aku tidak bisa, Al," sahutku, lirih.


Seketika wajah Alan berubah kecewa. "Kenapa? Apa aku tidak cukup baik untukmu?"


Aku menggeleng. "Tidak." Aku kembali menatapnya. "Kau lebih dari cukup baik, Al. Kau sangat baik," lanjutku.


"Jika menurutmu aku cukup baik, lalu kenapa kau menolakku, Alea?"


"Karena aku tidak cukup baik untukmu, Al. Aku tidak pantas menjadi pendampingmu." Aku kembali memalingkan wajah, memandang sembarang arah sekaligus menghindari tatapan tajamnya. "Kau dan aku berbeda. Kau terlalu sempurna untukku yang biasa saja, Al. Kau punya segalanya, Harta dan juga tahta, sementara aku ...." Aku kembali memandangnya lagi. Ekspresinya tampak tidak suka. "Aku tidak punya apapun." lanjutku seraya menggelengkan kepala. "Aku hanyalah gadis yatim piatu yang tak jelas asal usulnya. Di mata masyarakat aku seorang wanita hina yang merebut suami orang lain. Aku sangat buruk, Al. Tidak ada hal baik yang tersisa dalam diriku. Kau hanya akan menanggung malu jika kita bersama," imbuhku dengan wajah tertunduk.


Aku terkesiap saat Alan membungkam mulutku dengan bibirnya. Lembut dan juga sedikit lembab. Ia menyesapnya selama beberapa saat, sebelum akhirnya memberikan gigitan di sudut.


"Ugh," pekikku sesaat setelah ia melepasnya. Tanganku terulur, meraba ujung bibirku yang ia gigit tadi, sakit.


"Itu hukuman karena kau terus saja berbicara omong kosong." Aku memandangnya dengan kesal.


"Dengar--Aku mencintaimu tanpa syarat. Tidak peduli dari mana asal usulmu, miskin atau kaya, aku tetap menyukaimu, Alea. Selain itu aku lebih tahu dirimu di bandingkan dengan orang lain. Kau bukan wanita hina, kau bukan perebut suami orang ...." Alan berhenti sejenak. Jemarinya yang panjang dan ramping itu membelai wajahku dengan lembut. "Kau wanita penyayang dan baik hati. Wanita berhati lembut yang selalu menjaga kehormatan dan kesuciannya. Di mataku kau wanita yang seperti itu. Aku tidak peduli dengan anggapan orang lain di luar sana. Bahkan meski seluruh dunia menentang hubungan kita, aku tidak akan menyerah. Aku akan tetap berdiri di sampingmu, mencintai dan juga melindungimu dengan segenap jiwa dan ragaku."


Aku terdiam. Menyaksikan sekaligus mendengarkan kalimat panjangnya yang terdengar begitu lembut dan menyejukkan hati. Sungguh, itu kalimat terindah yang pernah kudengar seumur hidupku. Aku sangat terharu, hingga ingin metitikan air mata.


"Jadi ... Maukah kau menjadi pendampingku? Melangkah bersama dan membangun kerajaan cinta kita bersama-sama?" tanyanya, penuh harap. Ia diam, menunggu jawaban.


Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Terima kasih, Alea," ucapnya dengan senyum bahagia. Alan mendekap tubuhku. Memberikan kecupan di puncak kepalaku beberapa kali.


Sejujurnya aku sangat takut. Aku takut hubunganku kali ini akan berakhir sama seperti sebelumnya. Aku takut ia akan meninggalkanku di saat aku sudah jatuh cinta dan mulai bergantung padanya.


Namun, melihat ketulusan serta keseriusan dalam kata-katanya membuat hatiku sedikit tergerak. Kuharap kau tidak mengecewakanku, Al.


.


.


.