
Aku tidak mengerti mengapa aku bisa bertindak sampai sejauh ini. Wanita ini biasa saja, tak terlalu spesial. Wajahnya memang cantik tapi biasanya aku tak terlalu peduli dengan penampilan seseorang. Bagiku yang terpenting adalah akhlaknya. Bagaimana dia memperlakukanku dan juga menghargai aku. Wanita yang pengertian, lemah lembut dalam bertutur kata serta penuh kasih sayang.
Sedangkan wanita ini, setiap saat berkata ketus dan kasar padaku. Akan tetapi aku tetap menyukainya, aku bahkan tak ingin berpisah darinya. Melihatnya terduduk lemah dan di permalukan di depan banyak orang seperti saat ini membuatku dadaku sesak. Alan
Dengan langkah panjangnya Alan berjalan mendekati Alea. Kemudian berhenti melangkah tepat di hadapan wanita yang terduduk lemah di lantai dengan penampilan berantakan itu. Alan mengedarkan pandangannya. Menatap satu persatu wajah orang-orang yang berdiri mengelilinginya dan juga Alea. Rahangnya terkatup rapat. Kedua telapak tangannya tampak mengepal kuat. Ia menatap tajam orang-orang tak berguna itu. Orang-orang dungu yang hanya diam dan menonton insiden penganiayaan yang terjadi di depan mata mereka tanpa berniat membantu sedikit pun. Terlebih seseorang yang merekam dan mengambil gambar Alea yang kacau. Ingin sekali Alan merampas ponselnya. Kemudian membantingnya ke lantai dan menginjaknya hingga hancur berkeping-keping. Namun, saat mengingat kondisi Alea saat ini ia mengurungkan niatnya dan memilih membereskan masalah itu nanti.
Usai mengingat beberapa wajah di hadapannya itu, Alan segera berpaling dan beralih menatap Alea. Rahangnya yang mengeras serta tangannya yang terkepal mulai mengendur. Wajahnya yang tadinya di penuhi amarah berubah sendu. "Apa kau suka sekali duduk di lantai?" tanyanya. Nada suaranya yang tinggi menggema di ruangan besar itu. Ia tak bermaksud membentak Alea. Hanya saja ia masih kesal pada orang-orang di sekitarnya.
Alea sama sekali tak bergeming. Seolah tak mendengar ucapan Alan. Wanita itu masih terduduk di lantai dengan wajah tertunduk.
"Bangunlah Ale-Ale, lantainya dingin," ucap Alan, lagi. Kali ini suaranya terdengar lebih lembut.
"Apa kau tuli? Aku menyuruhmu bangun tapi kenapa kau masih duduk di situ seperti orang bodoh." Alan mulai kesal karena Alea tak bergeming. Selama ini wanita di hadapannya itu terlihat kuat. Wanita itu selama ini selalu menyalak padanya tapi kenapa sekarang ia begitu lemah.
Alan menatap nanar Alea saat wanita itu mengangkat wajahnya. Kedua pipinya tampak memerah dan sudut bibirnya bahkan mengeluarkan darah. Marah bercampur sedih tergambar jelas di wajah Alan.
"Al ... kau kah itu?" ucap Alea dengan mata berkaca-kaca.
"Hm, ini aku," sahut Alan. Laki-laki itu duduk berjongkok di depan Alea. Menekuk salah satu lututnya sebagai tumpuan.
Alan mengulurkan kedua tangannya. Merapikan rambut Alea dengan jemarinya. Setelah itu membelai kedua pipi Alea dengan lembut. "Jangan menangis," ucap Alan ketika air mata Alea luruh. Ia lekas menyeka air mata itu.
"Al, Aku ingin pulang," ucap Alea dengan suara bergetar. Air matanya mengucur semakin deras.
"Iya, ayo kita pulang," sahut Alan. Ia mengangkat tubuh Alea. Kemudian bangkit berdiri dan berjalan keluar. Beberapa orang berbisik-bisik. Mempertanyakan siapa Alan dan apa hubungannya dengan Alea.
Alan sama sekali tak menggubrisnya. Ia melewati kerumunan orang itu yang menatapnya penasaran.
"Kembali ke hotel," perintah Alan pada asisten yang merangkap sebagai supirnya itu.
Mobil pun mulai melaju, meninggalkan kediaman keluarga Sanjaya.
Sepanjang perjalanan Alea hanya diam dengan tatapan kosong. Air matanya sudah berhenti mengalir. Akan tetapi wajahnya masih di selimuti kesedihan.
Alan melepas tuksedonya dan menggunakannya untuk menutupi tubuh Alea. "Udaranya dingin," ucapnya.
"Terima kasih," ucap Alea. Ia menatap Alan sebentar. Setelah itu kembali memalingkan wajah. Menatap keluar jendela.Tak lama kemudian mereka sudah sampai hotel.
"Aku bisa jalan sendiri, Al," ucap Alea saat Alan hendak membopongnya lagi. "Jasmu," imbuhnya seraya mengembalikan pada Alan.
"Pakai saja, bajumu kotor," sahut Alan, mengingatkan. Alan kembali menyampirkan tuksedonya di bahu Alea. Kemudian menggandeng tangannya dan membawanya menuju ke lantai sepuluh. Keduanya masuk ke dalam kamar suite itu.
"Ahh ...," gumam Alea. Ia tampak meringis menahan sakit.
"Tahan sebentar, nanti tidak akan sakit lagi," sahut Alan.
"Ahh, pelan sedikit, Al."
Lenguhan demi lenguhan terus lolos dari mulut Alea. Membuat pikiran Alan semakin tak terkendali. Laki-laki itu tak mengatakan apapun lagi. Mencoba tetap fokus dengan apa yang sedang di lakukan terhadap wanita cantik di depannya itu.
Bersambung...