Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 49



Kupikir aku mati, tapi saat aku membuka mata baru tersadar kalau ternyata aku masih hidup di dunia.


Aku terbangun dengan kebingungan. Seingatku terakhir kali aku berada di dalam kamar dan tak sadarkan diri setelah menyayat tanganku. Tapi saat ini aku justru terbaring di tempat yang asing. Ruangan yang luas dan juga mewah. Jika saja tak ada selang infus yang menancap di lenganku, kukira aku sedang di hotel bukan di rumah sakit.


Ya, sepertinya aku sedang di rawat sekarang. Entah, siapa yang membawaku ke sini. Mungkinkah itu Kevin? kuharap itu memang dia.


Tak lama kemudian terdengar langkah kaki yang berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depan pintu.


Apa itu Kevin? Dia datang menenemuiku?


Aku menatap pintu itu dengan tak sabar.


Sreeek


Pintu terbuka dan munculah sesosok laki-laki dengan kulit putihnya yang pucat. Aku tertunduk, sedih. Ternyata bukan dia. Senyum yang sempat mengembang dibibirku, perlahan memudar.


"Alea ... Kau sudah sadar?" ucap Alan, terkejut.


Ya, yang datang bukan Kevin. Melainkan Alan, Cecunguk yang menyebalkan itu. Matanya hitam kecoklatan tampak berbinar. Ia berjalan mendekat dan berhenti tepat disisiku.


Aku tersentak kaget saat tiba-tiba tubuhnya mendekat dan memelukku.


"Syukurlah, akhirnya kau bangun juga," ucapnya, lega. "Kau tahu ... Aku sangat menkhawatirkanmu. Kukira kau tidak akan bangun lagi, Alea."


Alan terus mendekap ku. Tidak, bukan hanya mendekap, lebih tepatnya menindih tubuhku. Hingga membuat dadaku sesak. Ingin kudorong dadanya menjauh, tapi aku bahkan tak mampu menggerakkan tanganku. Entah, apa yang terjadi dengan tubuhku. Aku merasa sangat lemah, tak bertenaga.


"Al ... Kau memelukku terlalu kuat, Aku tak bisa bernafas," kataku dengan suara lemah.


"Oh, maaf," ucapnya ketika tersadar. Ia segera menjauhkan tubuhnya dan kembali berdiri di sampingku.


"Bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang sakit?" tanyanya dengan nada sangat lembut. Mendadak wajahnya berubah cemas. Sedetikpun ia tak pernah berpaling dariku. Ia terus menatapku dengan wajah cemas.


Aku menggeleng. "Aku baik-baik saja," kataku.


"Apa yang terjadi, Al? Mengapa aku ada di sini? Siapa yang membawaku kemari?"


Alan mengernyitkan dahi. "Kau masih bertanya apa yang terjadi?" ucap Alan dengan intonasi meninggi. Wajahnya yang putih pucat, seketika memerah. Ia memandangku dengan tatapan tajamnya.


Ada apa dengannya? Mengapa menatapku seperti itu? Aku hanya bertanya, mengapa dia sepertinya sangat marah?


Aku terdiam. Perkataannya seolah menusukku. Aku sadar diri. Selama hidup, aku bukanlah orang yang taat agama, aku juga bukan orang yang bersih. Aku berlumur dosa. Namun, setidaknya aku tak pernah berbuat jahat pada orang lain, kurasa.


"Tidakkah kau menyadari kalau kau banyak dosa? Kau akan masuk neraka dan disiksa di dalam sana, Alea!"


"Lalu aku harus bagaimana, Al?" tanyaku seraya memalingkan wajah, menatap dinding kaca yang menembus ke luar. Memandangi awan putih bertebaran di langit yang cerah.


"Kevin mencampakkan aku. Dia pergi meninggalkanku seperti yang lainnya. Tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku tidak memiliki apapun dan siapapun. Aku tidak punya pekerjaan, juga tidak punya keluarga ataupun teman."


Aku tak ingin menangis, tapi air mata ini tiba-tiba mengalir begitu saja. Kuusap air mata itu sebelum Alan menyadarinya. Setelah itu kembali menoleh, menatap Alan. Saat itu ia juga masih memandangku dengan wajah sendu. Melihat wajahnya yang seperti itu membuatku ingin menangis lagi. Ia pasti sedang mengasihaniku. Ya, aku memang menyedihkan.


"Kau tahu, hidup atau pun mati bagiku tak ada bedanya. Meski aku hidup di dunia tapi rasanya seperti di neraka. Rasa sakit yang kurasakan begitu menyiksa. Aku tidak sanggup, Al. Aku tidak mau menanggungnya lagi. Aku lelah," kataku dengan mulut bergetar.


Alan mengulurkan tangan, menyeka air mataku yang keluar tanpa kusadari. "Apa yang kau katakan? tidakkah kau melihatku? Apa aku tak berarti apapun di hidupmu?" ucapnya, lembut.


Kutatap kedua matanya yang berair. Ia tampak berkaca-kaca, membuatku bingung. Aku juga tidak mengerti dengan apa yang di ucapkannya. Tentu saja aku melihatnya. Tapi kalau ditanya apa arti dirinya dalam hidupku, aku tidak tahu. Dia bukan temanku, apalagi keluarga. Kami tak memiliki hubungan apapun, hanya bertetangga saja. Ya, benar. Aku dan Alan hanya sebatas tetangga yang saling menyapa dan ada kalanya saling membantu satu sama lain.


Alan meraih telapak tanganku, lalu menggenggamnya. "Jangan pernah berpikir kalau kau tak memiliki siapapun, Alea. Kau tidak sendiri, kau punya aku yang akan selalu menemanimu sampai kapanpun. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan tetap disini bersamamu dan akan terus menjagamu."


Aku tak bisa berkata-kata. Hanya bisa menangis mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibirnya. Kalimat-kalimat yang terdengar begitu indah dan menyejukkan. Aku seperti menemukan sebuah harapan.


"Terima kasih, Al," kataku, lirih.


Alan kembali menyeka air mataku. "Jangan menangis lagi. Kau sangat jelek saat menangis," ledeknya.


Biasanya aku marah saat ia mengataiku jelek tapi kali ini aku justru merasa bahagia.


.


.


.


.


.