
Seperti yang kuduga, akibat pukulan Kevin kemarin, wajah Alan memar keesokan paginya. Meskipun katanya tidak sakit, tapi tetap saja, jejak kebiruan itu cukup mengganggu penampilannya.
Kami saling berhadapan. Alan duduk di tepi tempat tidur, sementara aku berdiri di hadapannya.
Pada awalnya ia memang mematuhi semua perintahku. Tetap diam di tempat dengan tenang, seperti patung. Tapi itu hanya berlaku sebentar. Sepuluh menit kemudian, tangannya mulai bergerak sedikit nakal. Menyusup ke dalam kemeja dan meraba pinggangku.
"Hentikan tanganmu!" kataku seraya memukul kepalanya dengan sisir. Aku tidak ingin bersikap kasar padanya, tapi kelakuannya selalu membuatku naik darah. Tenang saja, aku tidak memukulnya dengan keras. Alan juga tidak tampak kesakitan. Buktinya ia malah nyengir kuda sekarang.
"Kulitmu sangat lembut," ucapnya. Tangannya kembali membelai pinggangku dan mencubitnya dua kali. Cubitan gemas, tidak menyakitkan. Ia baru berhenti setelah aku memelototinya.
"Oke-oke, aku berhenti sekarang," ucapnya lagi. Ia memindahkan tangannya dari pinggangku ke pangkuannya.
"Apa yang kau lakukan? Aku laki-laki, mengapa kau mendandaniku?" Protes Alan saat aku mengaplikasikan concealer di sisi wajahnya yang lebam.
"Hanya sedikit, tidak akan membuatmu jadi cantik." Dengan spons, aku meratakan produk kecantikan tersebut di sekitar mata dan sudut mulutnya.
"Apa itu perlu?" Ekspresinya jelas sangat keberatan, tapi ia tak menolak.
"Tentu saja. Kau harus memberikan sambutan saat peluncuran produk baru siang nanti, tidak mungkin kan tampil di depan umum dengan wajah babak belur?"
"Memangnya kenapa? Laki-laki berkelahi itu hal yang wajar, tidak perlu di tutup-tutupi." Cecunguk itu tampaknya memang benar-benar tak peduli dengan penampilannya. Tapi aku peduli.
Selama ini yang orang lain tahu, Alan sosok yang bijaksana dan berkepala dingin. Ia ramah pada semua orang dan sangat sabar. Tidak heran sih, saat di kantor ia memang berperilaku baik seperti itu. Aku hampir tidak pernah melihatnya marah.
Ia masih bisa memaksakan senyum saat menghadapi partner bisnis yang tidak menyenangkan atau bawahan yang membuat kesalahan besar. Kemarahannya akan ia lampiaskan dengan cara memutus kerja sama dan pemecatan.
Dimata para wanita Alan merupakan sosok lelaki yang sempurna. Kaya, tampan, pintar, dan menyenangkan.
Yah, untuk ketiga kata di atas memang sangat cocok untuk menggambarkan sosok Alan. Entah bagaimana tubuh jangkungnya sangat serasi dengan wajah tampan serta kulit putihnya yang seperti porselen, mulus dan tanpa cela. Akan tetapi ia tidak semenyenangkan yang mereka bayangkan.
Selain aku dan Arman, tidak ada yang tahu betapa menyebalkannya lelaki itu dengan segala tingkah kekanakan dan ketidaksabarannya. Kepalaku mendadak sakit setiap kali mengingat kelakuannya yang suka memaksa dan sifat tidak tahu malunya itu.
Aku memperlebar jarak pandangan, memperhatikan wajahnya dari kejauhan untuk melihat hasil riasannya. "Kau harus memperhatikan citramu. Tidak baik jika orang lain tahu kau berkelahi hanya karena masalah sepele."
Alan berdecih. "Siapa yang peduli dengan image? aku bukan artis."
Aku mengangguk setuju. "Benar, kau memang bukan artis. Kau Tuan Ars, presdir Arkana Group," kataku mengingatkan. "Sebagai pimpinan perusahaan kau wajib mempertahankan image baik yang selama ini melekat padamu."
Dengan begitu Alan tak mengatakan apapun lagi. Ia pasti sadar sekarang, betapa pentingnya image itu. Wajahnya mewakili seluruh karyawan dan perusahaannya sendiri. Akan sulit bagi seseorang ataupun suatu perusahaan jika memiliki image yang buruk.
Salah satu contoh nyatanya adalah aku. Sebelum bergabung dengan perusahaan Alan, aku sempat mengajukan lamaran ke beberapa perusahaan lain. Namun, semuanya ditolak. Alasannya sama, mereka takut suatu saat aku mengkhianati perusahaan mereka.
Masih segar dalam ingatan perkataan para HRD yang menolakku waktu itu. Dengan tatapan sinis mereka berkata "Adik kandung yang memiliki ikatan darah denganmu saja kau khianati, apalagi hanya perusahaan."
Aku tidak mengerti, manusia memiliki hati tapi mengapa mereka begitu tak berperasaan? Kami tidak saling mengenal dan aku tidak berhutang apapun padanya, tapi mengapa mereka begitu kejam terhadapku?
Jika mereka memang membenciku, seharusnya tak usah repot-repot menyuruhku datang. Apakah begitu menyenangkan mempermainkan orang lain?
Aku lekas mengenyahkan kenangan buruk itu dan kembali fokus pada Alan. Aku cukup terkejut dengan hasil tanganku. Riasan itu menyatu dengan warna kulitnya yang seputih salju. Menutupi memarnya dengan sempurna. Sangat halus, seperti tidak memakai riasan apapun. Kecuali jika dipandang dari jarak yang sangat dekat. Aku baru saja membuka tutup pelembab bibir saat Alan tiba-tiba menjerit.
"Apa-apaan itu! Kau berniat mengubahku jadi banci? Singkirkan lipstik itu," ucapnya seraya menjauhkan wajahnya.
"Ini bukan lipstik," jelasku. Aku meraih dagunya dan bersiap mengoleskan lip balm itu ke bibirnya. Namun, lagi-lagi di tahan olehnya.
Ia mendorong tanganku menjauh, sejauh mungkin dari wajahnya.
"Kau pikir aku idiot?" ucapnya setengah berteriak. Mata sipitnya terbuka lebar, melotot padaku. "Meskipun aku tidak begitu tahu mengenai kosmetik, tapi aku tahu kalau itu lipstik."
Alan memandangku dengan tatapan tak percaya. Aku lantas mengaplikasikannya ke bibirku sendiri untuk menunjukan padanya kalau aku tidak berbohong. "Lihat... tidak merah kan?"
Setelah melihat hasilnya, ia tak menolak lagi. "Bibirmu kering, kau harus menggunakannya lebih sering," kataku seraya memakaikan lip balm itu ke bibirnya, atas dan bawah.
"Sudah selesai, kita bisa berangkat sekarang." kataku seraya berbalik dan meletakan benda itu ke tempat semula.
Seperti biasa, sebelum ke kantor kami mampir ke apartemennya lebih dulu. Menukar pakaian premannya dengan setelan jas.
"Haruskah kita pindahkan sebagian bajumu ke rumah? Ini merepotkan," kataku ketika kami memasuki apartemen.
"Aku sama sekali tidak repot." Alan berjalan menuju kamarnya. Pintunya berderit saat lelaki itu membuka lemari untuk mengambil setelan jasnya.
"Kau tidak repot, tapi aku iya," kataku seraya menjatuhkan diri di sofa.
"Aku tidak menyuruhmu membawa barang ataupun berjalan kaki saat menuju kesini, jadi apa yang kau merepotkan?" teriaknya dari dalam kamar. Ia sedang berganti baju sekarang, tapi pintunya dibiarkan terbuka begitu saja. Hampir saja aku melihat tubuh telanjangnya jika tidak segera memalingkan muka.
"Tapi aku jadi terlambat masuk kantor," keluhku.
"Aku heran denganmu, mengapa kau selalu memusingkan hal-hal yang tidak penting," ucapnya seraya melongok keluar. Celananya sudah terpasang dan tangannya sibuk mengancingkan kemejanya.
Aku bangkit berdiri dan berjalan menghampirinya. "Bos sepertimu tidak akan mengerti betapa sakitnya hatiku saat menerima gaji. Uang yang sedikit itu masih harus di potong akibat terlambat masuk kerja," kataku seraya menyambar dasi yang teronggok di kasur, bersebelahan dengan jas hitamnya.
"Uang yang kuberikan masih kurang?" tanyanya sambil menoleh ke arahku.
Yah, Alan memang sering memberiku uang yang sudah tak terhitung jumlahnya. Aku tidak tahu berapa saldo salah satu rekening yang atmnya kini menghiasi dompet lusuhku itu. Yang pasti itu terus bertambah karena setiap bulan Alan mentransfer uang ke dalamnya. Nominalnya tidak tentu. Seringnya dua digit, tapi beberapa kali sampai tiga digit dan itu tak pernah di bawah 50 juta.
Cecunguk itu sangat kaya bukan? Tidak heran banyak wanita di kantor yang tergila-gila padanya. Mereka siap melemparkan tubuhnya kapan saja dan akan melayaninya dengan senang hati jika Alan memintanya.
Sayangnya, Alan bukan tipe lelaki yang seperti itu. Bahkan katanya sempat ada rumor yang beredar kalau bos mereka mungkin tidak tertarik pada wanita.
Rumor itu akhirnya terbantahkan setelah Alan mendeklarasikan kalau aku wanitanya. Imbasnya wanita-wanita gila yang awalnya memang sudah tak suka padaku semakin membenciku. Itu sebabnya aku tak berteman dengan siapapun di kantor. Kecuali dengan cewek culun berkaca mata bulat itu. Meski tidak terlalu dekat tapi kadang-kadang kami ngobrol bareng saat makan siang.
Alan sedikit membungkuk saat aku memasangkan dasi dilehernya. Dengan begitu aku tidak perlu berjinjit. "Uangmu masih utuh, aku tidak pernah memakainya."
Kedua tangannya mendarat di pinggangku, meremasnya sebentar. "Kenapa? Itu untukmu." Ia mengecup pipiku dua kali.
"Aku belum membutuhkannya," kataku seraya merapikan kerahnya.
"Kalau begitu berhentilah mengeluh tentang aturan perusahaan. Kau tinggal pakai uang itu jika gajimu tidak cukup," ucapnya seraya membelai kepalaku.
Ya, aku memang sering mengeluh tentang aturan perusahaan yang kerap memotong gajiku karena datang terlambat. Menurutku itu tidak adil karena yang membuatku terlambat bos perusahaan itu juga, alias Alan.
Setelah berganti pakaian, kami bergegas menuju kantor. Dan seperti biasa, aku terlambat lagi. Kali ini lebih dari satu jam. Lama-lama gajiku bisa habis kalau begini terus dan Alan masih sama, tak peduli.
Acara peluncuran produk baru akan dimulai kurang dari sepuluh menit lagi. Beberapa rekan media tampak memenuhi seperempat ruangan dengan segala perlengkapan yang mereka bawa. Orang-orang penting yang terlibat mulai berdatangan dan menempati tempat duduk masing-masing.
Alan salah satu dari orang penting itu. Ia duduk di tengah, di deretan kursi paling depan. Diapit oleh dua wanita cantik yang merupakan brand ambassador dari produk yang akan segera launching itu.
Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah pengaturan tempat duduknya memang seperti itu? Sebagai duo bukankah seharusnya mereka duduk bersebelahan?
Entah mengapa aku merasa kesal melihat pemandangan itu. Orang bilang dua wanita itu sangat ramah, tapi menurutku mereka lebih dari sekedar ramah. Mereka terlalu ramah sehingga terkesan caper dan agak genit juga.
Semakin lama melihat tingkah keduanya membuatku semakin jengkel. Rasanya aku ingin mencukil kedua biji mata mereka dan mengikat kedua tangannya agar berhenti bergelayutan di lengan kekasihku itu.