Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 58



Aku menoleh ke kanan saat terdengar suara tilulit dari luar. Tak lama kemudian Alan muncul dari balik pintu. Masih dengan pakaian yang sama ketika ia pergi pagi tadi. Setelah melepaskan sepatu dan menggantinya dengan sepasang sandal khusus saat di dalam rumah, kakinya yang jenjang itu mulai melangkah maju, mendekat ke arahku.


"Sedang apa?" tanya Alan. Tahu-tahu Ia sudah berdiri di sebelahku. Melepas jaket kulit yang ia kenakan dan melemparnya ke sofa.


Bukankah kau sudah lihat aku sedang apa? Mengapa masih bertanya? Gumamku dalam hati.


"Tidur," jawabku tanpa berpaling dari layar laptop.


Alan tertawa kecil. "Apa kau tidur dengan mata terbuka?" ucapnya seraya menjatuhkan tubuhnya di sebelahku dan menyandarkan punggungnya ke belakang.


"Sudah makan?" tanyaku seraya menoleh ke belakang, menatapnya.


"Sudah," sahutnya seraya menganggukkan kepala. "Bagaimana denganmu? Sudah makan?" ucapnya bertanya balik. Satu tangannya terulur memainkan ujung rambutku.


Entah apa yang menarik dari rambutku itu. Mengapa Alan suka sekali memainkannya. Menggulung-gulung dengan telunjuknya. Kemudian melepasnya sebentar. Setelah itu menggulungnya lagi. Terus seperti itu hingga berulang kali.


"Aku baru saja menghabiskan semangkuk mie."


"Mie instan lagi?" Ia melotot padaku.


Aku mengangguk, mengiyakan.


"Bukankah sudah kuperingatkan agar berhenti memakannya! Itu tidak baik untuk tubuhmu," ucapnya sedikit kesal.


Aku nyengir. "Tapi mereka sangat enak."


"Mulai besok akan kubawakan makanan yang lebih enak untukmu. Berhentilah mengkonsumsi mie instan, mengerti!"


"Oke, Bos." Lebih baik mengiyakan saja dari pada berdebat dengannya, pikirku.


"Anak baik," ucapnya seraya mengacak rambutku.


"Kau ingin bekerja lagi?" tanyanya setelah melihat surat lamaran kerja di layar laptopku.


"Hm," sahutku singkat.


"Kenapa?" Ia menatap lekat wajahku.


Aku mengerutkan alis, bingung. Mengapa ekspresinya demikian. Seolah ia tak suka.


"Apanya yang kenapa?" kataku, bertanya balik.


"Kenapa kau ingin bekerja?"


Aku menatapnya lagi. "Apa masih perlu bertanya?" kataku dengan tawa kecil. Aku memalingkan wajah, menatap sembarang arah. "Aku perlu menghidupi diriku sendiri. Kau kan tahu, aku tak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Aku tak punya orang tua, keluarga atau pun saudara. Jika bukan diri sendiri siapa lagi," imbuhku dengan senyum getir.


"Selama ini kau menganggapku apa Alea?" tanyanya. Aku menoleh, menatap wajahnya yang tampak kesal.


"Sudah berulang kali ku katakan, Kau punya aku. Aku yang akan bertanggung jawab atas hidupmu. Aku akan menafkahimu, memenuhi segala kebutuhanmu dan juga menjagamu."


Aku memandang wajah tampannya yang tanpa cela itu. Menatap ke dalam matanya yang agak sipit tapi tajam.


Alan menangkup wajahku. Lalu mengusap kedua pipiku dengan jemarinya yang panjang dan ramping. "Berhentilah berpikir kalau kau sendirian. Kau punya aku. Bersandarlah padaku, Alea," ucapnya lirih. Ia mendekatkan wajahnya padaku. Membuat kening kami saling beradu. Nafasnya yang hangat dengan sedikit beraroma mint menyerang inderaku.


Bagaimana mungkin aku bisa bersandar padamu, Al. Kita belum lama saling mengenal. Aku tidak tahu seperti apa dirimu yang sebenarnya. Aku tidak tahu sikap yang selalu kau tunjukan padaku selama ini asli atau palsu. Aku takut kau sama seperti lelaki lain yang yang pernah ku kenal. Lelaki yang pernah menjadi sandaran hidupku. Lelaki yang memberiku janji dan juga harapan. Namun, pada akhirnya yang kuterima hanyalah kekecewaan dan penderitaan yang tak pernah usai.


Aku mundur ke belakang. Menjauhkan tubuhku darinya saat kurasakan tangannya mulai merayap, meraih pinggangku. Selain itu wajahnya terus bergerak turun. Hingga bibir kami kini saling berhadapan dan hampir bersentuhan. Di saat bersamaan kudengar Alan menelan Saliva nya dengan mata terpejam. Setelah itu ikut menarik tubuhnya dan kembali menyandarkan punggungnya ke belakang.


"Aku tetap ingin bekerja," kataku, kemudian.


Matanya kembali terbuka. Ia kembali memandangku. "Tak bisakah kau di rumah saja? bersantai sambil menungguku pulang dan menyambutku."


"Kau bukan suamiku, mengapa aku harus menunggu dan menyambutmu pulang?" kataku dengan tawa kecil.


"Lagipula aku tidak betah terus berdiam diri di dalam rumah, aku bosan."


Alan membuang nafas kasar. Sepertinya ia sudah menyerah dengan kemauannya yang ingin terus mengurungku di dalam sangkarnya.


"Pekerjaan seperti apa yang kau inginkan?" tanyanya tanpa memandangku. Ia menatap sembarang arah sambil memainkan kunci di tangannya.


"Apa saja, yang penting bisa menghasilkan uang."


"Kalau begitu jadi pengasuhku saja, bagaimana?"


Aku tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Tak habis pikir dengan pemikirannya yang menginginkan pengasuh di usianya yang sekarang.


"Apa itu lucu? Mengapa kau tertawa?" tanyanya dengan alis berkerut.


"Apa kau masih bayi? Atau jompo?" ejekku. "Mengapa kau butuh pengasuh di usiamu yang sekarang?" imbuhku seraya memalingkan wajah.


"Aku butuh seseorang untuk membantuku mandi, mengeringkan rambut, mengancingkan baju dan juga menemaniku tidur," ucapnya dengan seringai di wajahnya.


"Dasar cabul. Pergi cari istri saja sana."


"Kau mau jadi istriku?"


"Tidak!" kataku seraya bangkit berdiri dan berlalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


"Kenapa? Bukankah aku tampan?" ucapnya sambil tersenyum ke arahku.


Tak bisa di pungkiri. Kuakui Cecunguk itu memang tampan. "Kau menyebalkan," balasku.


Alan hanya tertawa mendengar jawabanku.


.


.


.


.