
"Anda sudah bangun, Nona," seru seorang pelayan yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
Aku tersenyum dan mengangguk padanya yang berjalan menghampiriku.
"Apa Nona Alea ingin sarapan? Aku segera menyiapkannya."
Masih menawarkan sarapan di tengah hari begini? Apa dia sedang mengejekku yang bangun kesiangan?
"Terima kasih, tapi itu tidak perlu--aku tidak biasa sarapan," kataku, bohong.
Pelayan itu mengernyit. "Tapi Tuan Muda bilang Nona tidak pernah melewatkan sarapan. Tuan Muda juga mengatakan kalau Nona selalu kelaparan saat bangun tidur, jadi menyuruh kami membuat sarapan sejak pagi dan menyajikannya ketika Nona bangun."
"Itu pasti orang lain, bukan aku. Dia mungkin lupa," kataku dengan senyum canggung.
"Ahh..." Pelayan mengangguk-anggukan kepala, seolah percaya dengan ucapanku. Namun, keraguan justru tergambar jelas di wajahnya.
Yah, seperti yang pernah Alan bilang, aku pembohong yang buruk. Orang lain pasti bisa melihat kebohonganku. Sejujurnya aku agak malu sekarang. Hingga tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku dengan wajah tertunduk. Akan tetapi itu tidak lama. Beberapa detik kemudian, aku kembali mengangkat wajah dan menatap pelayan itu lagi.
"Oh ya, apa kau tahu dimana Alan sekarang? Apa dia sudah pergi?" tanyaku, kemudian.
"Alan?" Pelayan itu mengulangnya dengan kening berkerut.
"Iya Alan, Tuan Muda-mu," jelasku.
"Oh Maksud Nona, Tuan Ars?" Pelayan itu akhirnya mengerti.
Aku lupa, Cecunguk itu memiliki nama panggilan lain selain Alan. Dan panggilan Ars lebih populer di bandingkan yang satunya. Sepertinya hanya aku yang memanggilnya Alan.
"Iya, itu dia yang aku maksud. Dimana dia? apa sudah kembali ke kota A?" Aku bertanya lagi.
Pelayan itu menggeleng. "Tidak. Tuan Muda masih di sini--belum pergi."
Aku menghela nafas lega. Syukurlah... Kukira aku ditinggal sendiri.
"Kalau begitu, dimana dia sekarang? Aku tidak melihatnya dimana pun?"
Sebelumnya aku sudah mengecek kamarnya, ruang tamu dan juga ruang keluarga. Namun, Alan tidak ada di ketiga tempat tersebut.
"Terakhir kali, kulihat Tuan berada di ruang kerjanya," sahut pelayan itu.
"Dimana itu? Bisakah kau tunjukan ruangannya padaku?"
"Tentu, Nona. Mari... saya antar ke sana."
Aku mengikuti pelayan itu. Menaiki anak tangga yang menghubungkan ke lantai dua dan melewati beberapa kamar yang ada di sana. Sampai akhirnya ia berhenti di depan sebuah ruangan yang dinding depannya terbuat dari kaca tebal. Bagian bawahnya, setinggi satu setengah meter, kaca itu dilapisi semacam stiker atau entah apa itu namanya, aku tidak tahu. Yang pasti itu membuatnya tampak buram. Sehingga bagian dalam ruangan itu tidak terlihat dari luar.
"Di sini, Nona. Sepertinya Tuan masih ada di dalam," kata pelayan itu sambil menunjuk ruangan di sampingnya.
"Baiklah, terima kasih sudah mengantarku," kataku dengan senyum tipis.
Pelayan itu ikut tersenyum. Gigi gingsulnya membuatnya tampak lebih manis. "Sama-sama, Nona," balasnya. "Apa ada hal lain bisa aku bantu, Nona?" tanyanya kemudian.
Aku menggeleng. "Tidak ada."
"Kalau begitu saya permisi dulu, Nona."
"Ya, silahkan."
Setelah pelayan itu pergi, aku berbalik menghadap pintu kaca dan mengetuknya tiga kali.
"Siapa?" sahut Alan dari dalam ruangan itu.
"Ini aku, Al."
"Oh, kau sudah bangun? Masuklah..."
Aku mendorong pintu itu hingga terbuka dan melenggang masuk. Saat itu, kulihat Alan sedang duduk di kursi dengan sebuah laptop yang ia letakan di atas meja, di hadapannya.
"Kau sedang apa, Al?" tanyaku seraya menutup pintu.
"Rapat," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
Seketika aku berhenti melangkah. Tadinya aku berencana menghampirinya, tapi karena ia sedang sibuk, aku lantas mengurungkan niat itu. Aku berbalik dan kembali melangkah, bersiap meninggalkan ruangan itu. Namun, saat aku hendak membuka pintu, Alan tiba-tiba berkata dengan suara lantang.
Aku menoleh ke belakang. Menatap Alan yang sedang memandang ke arahku. "Kau bicara padaku?" kataku seraya menunjuk diri sendiri.
"Ya. Kau baru saja datang, sekarang mau pergi?" tanyanya dengan alis berkerut.
"Kau sedang rapat, aku tidak ingin mengganggu," kataku dengan suara pelan.
"Aku sama sekali tak merasa terganggu dengan kehadiranmu. Kemarilah... sapa teman-temanmu yang lain."
Teman-teman? Siapa yang dia maksud?
"Mengapa masih diam di sana? cepat kemari, jangan biarkan teman-temanmu menunggu terlalu lama?" ucapnya lagi.
Aku melangkah dengan penasaran. Siapa sih yang dia maksud?
Begitu sampai di sisinya aku di sambut oleh beberapa orang yang sedang terhubung dalam konferensi video itu.
"Selamat siang, sekretaris Lea," ucap mereka bersamaan.
"Selamat siang semuanya," balasku dengan senyum canggung.
"Duduk dan dengarkanlah, kita sedang membahas produk baru," titah Alan.
"Baik, Tuan."
Alan selalu profesional jika menyangkut pekerjaan. Dalam situasi sekarang, status kami hanyalah atasan dan bawahan. Jadi aku tidak bisa memanggil Alan seperti biasanya. Aku harus memanggilnya Tuan Ars, sama seperti yang lainnya.
Aku sudah setengah duduk saat Alan tiba-tiba bertanya, "Apa yang kau lakukan?"
Aku memandangnya dengan bingung. "Bukankah tadi Anda menyuruhku duduk?"
"Yang lainnya tidak bisa melihatmu jika kau duduk di situ."
Hanya ada satu kursi di sana dan hanya muat untuk satu orang. Kalau begitu aku harus duduk dimana? di pangkuannya?
"Kemari... Duduk di pangkuanku."
Aku hampir mati tersedak sangking terkejutnya.
Apa dia gila! Bagaimana bisa memintaku duduk di pangkuannya sementara orang-orang melihat?
"Tidak mau ke sini juga?" tanya Akan, tak sabar.
Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Baiklah... Karena sekretaris Lea tidak mau duduk, maka rapat kali ini tidak perlu dilanjutkan. Semuanya boleh kembali ke ruangan masing-masing."
Para pegawai yang mengikuti rapat tampak senang dengan keputusan Alan. Dengan senyum mengembang di wajah, para pegawai itu mengepak berkas-berkasnya dan bersiap-siap meninggalkan ruang meeting itu.
Sayangnya kesenangan itu tidak bertahan lama. Seketika semuanya kembali lesu ketika Alan menambahkan kalimat berikutnya.
"Hari ini tidak ada yang boleh pulang sebelum aku menerima laporan hasil dari rapat kali ini, semuanya lembur!"
Tidak jauh berbeda dengan para pegawai lain, aku pun sama terkejutnya seperti mereka. Apa-apaan sih ini! Bagaimana kami semua membuat laporan jika rapatnya saja tidak dilanjutkan? Apa sih maunya dia? Gerutuku dalam hati.
Arman terbatuk sebelum berbicara. "Nona Alea, tidak bisakah Anda menuruti perintah tuan Muda? Kami semua sudah sangat lelah sejak kemarin, apa Anda tega melihat kami harus lembur lagi?" ucapnya dengan lantang. Suaranya setenang biasanya.
"Lagipula itu hanya duduk, tidak akan membuatmu lelah," imbuhnya.
"Benar, Alea. Cepatlah duduk di pangkuan Tuan Ars supaya pekerjaan kami cepat selesai." Seseorang menambahkan.
"Kumohon... Duduklah, sekertaris Lea. Jangan menambah masalah. Beban kami sudah banyak," timpal kepala tim pemasaran.
Perkataan mereka menyudutkanku. Dengan berat hati, aku mendekati Alan dan duduk di pangkuannya. Sungguh, aku benar-benar sangat malu, tapi tidak punya pilihan.
"Anak baik," bisik Alan. Wajahnya berseri-seri saat ia tersenyum.
"Baiklah... Rapatnya sampai mana tadi?"
Dengan begitu rapat kembali dilanjutkan. Semuanya tampak fokus saat mengikuti rapat itu, kecuali aku. Duduk di pangkuannya benar-benar tidak nyaman. Terlebih saat merasakan sesuatu yang bergerak di bawahku.
Apa ini? Ini... Apa ini itunya?