
Usai makan malam aku kembali duduk di sofa sambil menonton tv. Sementara Alan masuk ke ruang kerja. Entah apa yang sedang ia lakukan di dalam sana. Huh, aku hampir mati karena bosan. Acara tv juga sama sekali tidak ada yang menarik. Aku menoleh ke belakang saat mendengar derit pintu yang di buka. Setelah sekian lama akhirnya Alan keluar juga.
"Mengapa belum tidur?" tanyanya. Alan berjalan mendekat dan duduk di sampingku.
"Belum mengantuk," balasku. "Kupikir kau sudah tidur di dalam sana, Al. Sudah lama sekali kau baru keluar. Aku juga tidak mendengar suara apapun."
"Apa kau merindukanku karena aku tak kunjung keluar?" tanyanya.
Aku memutar bola mata, bosan dengan kenarsisannya. Alan tertawa melihat ekspresi ku itu.
"Bagaimana dengan kakimu? Apa masih sakit?" Alan memperhatikan pergelangan kakiku yang terkilir.
"Sudah lebih baik. Al, boleh aku pinjam ponselmu sebentar?"
Alan merogoh saku celana, mengambil gawainya. "Untuk apa?" tanyanya seraya menyerahkan benda pipih itu padaku.
"Menghubungi Kevin," jawabku seraya menerima ponsel tersebut.
Alan tampak tak suka. "Dia sudah mengabaikanmu, tapi kau masih saja peduli padanya. Kau ini terlalu baik, Alea," ucapnya dengan senyum mengejek.
"Ponsel, tas dan juga dompetku, semuanya tertinggal di rumah orang tuanya. Aku tak berani kembali ke sana. Jadi aku ingin minta tolong padanya agar membawakan barang-barangku itu," kataku, menjelaskan.
"Kenapa tidak beli yang baru saja?" ucapnya, menyarankan.
Huh, dia pikir membeli semua itu tidak pakai uang 'kah? Enteng sekali dia menyuruhku membeli yang baru. Belum lagi kartu identitas, ATM dan kartu kredit. Malas sekali aku mengurus ulang.
"Kau mau membelikannya untukku?" tantangku.
"Baiklah, nanti aku belikan," ucap Alan.
Eh, dia tidak serius 'kan mau membelikanku barang-barang itu. Tapi dia kelihatan serius sekali. Ah, apa yang kupikirkan, Alan kan tidak punya uang, paling dia cuma bercanda. Lupakan sajalah.
Alan mengambil remo tivi, mengganti chanel yang menayangkan film action dan menontonnya dengan tenang. Sementara aku fokus pada benda pipih yang kini ada dalam genggamanku. Seketika layarnya berubah menjadi terang saat aku menekan tombol power. "Password-nya, Al," kataku, menyodorkan ponsel padanya.
"My love 0409," jawabnya tanpa menoleh.
Tut ... Tut...
Aku terdiam, menunggu dengan tak sabar. Panggilan itu tersambung, tapi hingga dering ketiga tak kunjung di angkat. Setelah satu menit aku menghubunginya lagi. Namun, hasilnya sama seperti sebelumnya, tak di angkat. Aku memutuskan untuk mengirim pesan saja. Usai mengetik beberapa kalimat aku pun mengirimkannya.
"Sudah?" tanya Alan ketika aku mengembalikan ponselnya.
Aku mengangguk, mengiyakan. "Terima kasih," kataku.
"Sudah malam, kau tidak pergi tidur?" tanya Alan.
"Baiklah aku akan tidur sekarang." Aku bangkit berdiri dan bersiap masuk ke kamar. Namun belum sempat aku melangkah, Alan sudah menyambar tubuhku.
"Biar kubantu," ucapnya seraya membopongku.
Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya. "Sebenarnya ini tidak perlu, Al. Tapi, terima kasih," kataku, tulus. Dengan begini aku tak perlu susah payah berjalan dengan pincang, kakiku aman.
Alan tersenyum, kemudian mulai melangkah menuju salah satu kamar yang tadi kutempati. Dengan hati-hati ia membaringkan tubuhku di tempat tidur. Setelah itu menutup tubuhku dengan selimut hingga dada. "Tidurlah," perintahnya.
"Hm, kau juga," balasku.
"Selamat malam, Alea," ucapnya seraya membelai kepalaku. Kemudian berlalu pergi setelah mematikan lampu.
Aku menatap punggungnya yang bergerak menjauh dan menghilang di balik pintu. Setelah Alan pergi aku beralih memandang langit-langit. Kalau di pikir-pikir Alan sepertinya tidak terlalu buruk, dia juga sangat tampan. Meskipun kadang menyebalkan tapi dia pengertian, cukup romantis juga. Entah wanita beruntung mana yang akan menjadi istrinya nanti. Ngomong-ngomong dia punya pacar tidak ya? Apa jangan-jangan password hp-nya itu tanggal lahir pacarnya?
Bicara tentang password, tanggal itu sama seperti tanggal lahirku. Eh, kenapa aku jadi memikirkan Cecunguk itu. Sudahlah, tidur saja, besok harus bangun pagi. Aku menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku hingga kepala. Kemudian memejamkan mata, tidur.
.
.
.
.