
Alan menghentikan langkahnya dan berbalik. Kembali memandangku yang masih mematung di sebelah mobilnya. "Sampai kapan kau akan berdiri di sana? Cepat kemari," ucapnya seraya melambaikan tangan, meminta agar aku mendekat.
"Oh," kataku, tersadar. Aku mulai melangkahkan kaki, mengekor di belakangnya dan ikut berhenti saat cecunguk itu menghentikan langkahnya. Kami berdiri di depan pintu yang masih tertutup rapat. "Rumah siapa ini, Al? Kenapa kita kesini?"
Alan tak menjawab. Jemarinya yang panjang dan ramping menekan angka-angka yang ada di sana untuk membuka pintu tersebut. Setelah terdengar bunyi tilulit, pintu terbuka.
"Mulai sekarang kita akan tinggal di sini," Ucapnya seraya mendorong pintu tersebut lebih lebar. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Aku tidak pendek. Akan tetapi saat bersama Alan yang tingginya seperti tiang listrik, aku harus mendongak untuk melihat wajahnya. "Kita?" tanyaku bingung.
"Iya, kita, kau dan aku." Alan menatapku saat mengatakannya. Tangannya terulur, meraih tanganku, membawanya masuk ke dalam.
Aku menepis tangannya dan berhenti melangkah. Alan ikut berhenti. Kembali menoleh ke arahku dengan tatapan tak suka. "Mengapa aku harus tinggal denganmu? Kita bukan suami istri, tidak boleh tinggal bersama, Al," kataku, memperingatkan.
"Kalau begitu menikahlah denganku, jadilah istriku, Alea."
Aku terdiam sejenak. Terkejut dengan perkataannya barusan. "Berhentilah membuat lelucon, Al," kataku kemudian. Benar, itu pasti hanya lelucon. Ia hanya ingin menggodaku saja. Ya, mana mungkin ada orang yang ingin menikah denganku. Aku memiliki reputasi yang buruk di mata masyarakat. Seorang pelakor dan wanita miskin yang tidak jelas asal usulnya sepertiku tak pantas menikah dengan siapapun. Aku tersenyum kecut menyadari siapa diriku yang sekarang. Sedih dan sakit itu pasti. Tapi mau bagaimana lagi, mungkin aku memang terlahir dengan nasib seperti ini. Suka atau tidak, mau tidak mau, itulah takdir yang harus kujalani.
Aku menghela nafas panjang, mengisi oksigen untuk mengisi paru-paruku yang entah mengapa terasa sesak. Setelah itu berbalik dan bergegas melangkah keluar.
Alan menarik tanganku lagi, menahanku. "Kau mau kemana?" tanyanya.
Aku menoleh ke belakang, menatap wajahnya yang tampan. Kulihat ada sedikit kerutan di dahinya.
"Pulang," kataku, tersenyum.
Alan maju selangkah, mendekatiku. Aroma mint kembali menyeruak, menyerang inderaku. Aku menghirupnya sedikit, wanginya menyegarkan.
Ia melepas tangannya dari lenganku dan beralih meraih rahangku. Tatapannya jatuh ke wajahku sepenuhnya. "Mengapa masih ingin pergi saat kau sudah berada di rumahmu sendiri?" tanyanya dengan suara pelan.
Tangannya terasa hangat saat ia membelai pipiku dengan lembut. Sejenak aku terlena oleh sentuhannya. Tanpa sadar tanganku ikut terulur ke atas, memegangi telapak tangannya yang masih bertengger di wajahku. Kulitnya sangat halus, seperti sutra. Aku mengelusnya sebentar. Setelah itu menggelengkan kepala. "Tidak, ini bukan rumahku. Aku tak bisa tinggal di sini, Al. Aku ingin pulang ke kostan." Mata kami saling bertemu saat aku mengatakannya.
Alan maju selangkah lagi, hingga tak tersisa lagi jarak di antara kami. Tubuh kami saling menempel satu sama lain. Hanya pakaian yang kami kenakan yang menjadi satu-satunya penghalang di antara kami. Satu tangannya yang lain terulur lagi dan mendarat di pipiku kananku. Kini ia menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya yang panjang dan besar. Kemudian ia menempelkan dahinya di keningku. Nafasnya yang hangat menerpa kulit wajahku. "Tidakkah kau ingat kalau sewamu sudah habis? Kau tidak bisa tinggal di sana lagi," ucapnya lirih.
Aku linglung lagi. Otakku seakan berhenti bekerja. Setiap sentuhannya membuat seluruh tubuhku membeku. Jantungku berpacu dengan cepat dan semakin cepat. Tidak, jantungku bisa meledak kalau begini terus. Dengan kedua tangan, aku mendorong dadanya menjauh. "Aku akan memperpanjangnya," kataku dengan wajah tertunduk. Kemudian kembali mendongak saat mendengarnya terkekeh. Ya, saat aku melihat wajahnya lagi ia sedang tertawa. "Apa?" tanyaku, bingung. Mengapa ia tertawa?
"Kau tidak punya uang," jawabnya dengan senyum mengejek.
Aku menepuk jidat. Ah, aku lupa. Sekarang aku sangat miskin. Alan membalikan badan dan kembali melangkahkan kakinya. Tawanya sudak berhenti beberapa detik yang lalu. "Di tempat ini kau tak perlu memikirkan biaya sewa. Kau bisa tinggal di sini sampai kapanpun, selama kau ingin tinggal."
"Tapi kita tak bisa tinggal bersama, Al. Itu tidak baik." Orang-orang pasti akan semakin membenciku saat mereka tahu aku tinggal seatap dengan seorang laki-laki yang bukan pasanganku.
Aku terdiam sejenak. Apa yang ia katakan ada benarnya juga. Tapi saat di kostan masih ada beberapa orang lain. Sementara di tempat ini sepertinya hanya ada kami berdua. Itu sedikit tidak nyaman. Di sisi lain aku juga tak punya pilihan lagi.
"Di mana kamarku?" Pada akhirnya aku menyerah dengan keadaan. Lebih baik tinggal di sini dari pada menjadi gelandangan. Persetan dengan omongan orang di luar sana. Aku tidak peduli. Toh semua orang juga sudah menganggapku bukan wanita baik-baik, jadi terjun sekalian saja.
Bibir Alan melengkung ke atas, tersenyum. "Di lantas atas. Barang-barangmu juga sudah kupindahkan ke dalam sana," sahut Alan. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Aku melirik ke atas sebentar. Setelah itu kembali menatap Alan. "Bagaimana denganmu?" tanyaku seraya berjalan mendekat.
"Aku tidur di sana." Alan menunjuk sebuah ruangan dengan sorot matanya.
"Kau curang sekali, Al. Kamarmu di bawah sementara aku di atas," protesku.
"Kalau begitu tinggalah, aku tak keberatan berbagi ruangan denganmu. Ranjangnya cukup besar, kita bisa olahraga bersama saat malam hari," ucapnya dengan senyum menyeringai.
"Dasar mesum gila!" Dengan langkah cepat aku berjalan melewatinya. Bergegas menuju kamarku sendiri.
Alan terkekeh lagi. "Hei ... Alea, kenapa kau naik? Bukankah kau lebih suka kamar yang di bawah? Kita bisa saling menghangatkan tubuh jika tidur bersama," teriaknya.
Aku menutup telinga, mengabaikan perkataannya yang tak tahu malu itu.
"Alea ... Ayo kita tidur bersama," teriaknya lagi. Suaranya masih terdengar nyaring meskipun aku sudah berada di dalam kamar.
"Hei ... Ale-ale, kenapa kau tak menjawab? Aku tahu kau mendengarnya."
Darahku terasa mendidih. Kuraih satu bantal yang teronggok di tempat tidur. Kemudian melangkah keluar. Kulemparkan bantal itu ke arahnya yang saat itu sedang berbaring di sofa. "Tutup mulutmu dan masuklah ke kamar!" teriakku kesal.
Alan berhasil menangkapnya sebelum benda itu menghantam wajahnya. Ia tertawa lagi, membuatku semakin kesal.
"Bagaimana? Apa kau setuju untuk tidur bersama?" Ia masih tersenyum lebar. Benar-benar tidak tahu malu.
"Tidak. Sampai mati pun aku tidak akan mau tidur denganmu," kataku seraya berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar. Mengabaikan Alan yang masih terus mengoceh tidak jelas.
.
.
.
.