Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Pergi dengan Alan



Beberapa orang menganggap hidupku sangat beruntung. Kata mereka aku bukan hanya memiliki wajah yang cantik, tapi juga memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Sehingga bisa mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan besar. Ketika bekerja pun tak akan merasa kepanasan apalagi kehujanan. Seharian kerjanya paling cuma duduk di depan komputer. Pendapatannya juga jauh lebih besar jika dibandingkan dengan buruh pabrik.


Anggapan itu tidak salah. Pekerjaan yang kujalani memang lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer. Ketika bekerja pun tidak pernah merasa kepanasan karena selalu berada di dalam ruangan berAC. Akan tetapi pekerjaan ini tak seindah dan seenak yang dibayangkan. Gaji yang kudapatkan memang cukup besar. Tapi percayalah, pekerjaan yang saat ini kugeluti tak seindah dan tak seenak yang dibayangkan. Aku beserta teman sekantor selalu bekerja di bawah tekanan dan juga tuntutan.


Kami diwajibkan selalu memuaskan serta menuruti kemauan klien yang terkadang keinginannya berubah-ubah. Dipaksa tetap tersenyum meskipun klien tersebut bersikap menyebalkan.


Kami tak bisa langsung pulang meskipun jam kerja sudah berakhir. Tak jarang kami membawa pulang tugas kantor ke rumah dan harus menyelesaikannya dalam waktu semalam, agar semuanya selesai tepat waktu.


Seperti yang terjadi hari ini. Jam kerja telah berakhir satu jam yang lalu. Akan tetapi baru bisa pulang sekarang.


"Jam berapa sekarang, Nai?" tanyaku sambil merenggangkan tubuh.


Naira menatap jam yang melingkar di telapak tangannya. "Jam tujuh," ucapnya.


"Hah. Sudah jam tujuh?" kataku, terkejut.


"Iya. Lewat lima belas menit malah."


"Astaga." Aku lekas merapikan berkas-berkas. Memasukannya ke dalam laci dengan terburu-buru.


"Kenapa Le? Kok kamu kaget sama buru-buru gitu."


"Aku lupa, sore ini aku ada janji." "Aku duluan ya Nai," kataku sambil menyambar tas dan juga hp yang teronggok di meja. Kemudian melangkah pergi, meninggalkan temanku yang tampak menggeleng-gelengkan kepala.


"Ya, hati-hati," teriak Naira.


Aku mengacungkan jari, membentuk kata ok sebagai jawaban.


Aku terus berjalan, menuju lift yang pintunya baru saja terbuka. Kemudian segera berlari ketika pintu lift itu hendak tertutup lagi. Salah satu penumpang di dalam lift itu tampak mengulurkan tangan mencegah pintu itu menutup. Sepertinya ia melihatku berlari. "Terima kasih," kataku pada orang yang menghalangi pintu tadi. Aku buru-buru masuk, sebelum pintu lift kembali menutup.


Detik berikutnya elevator itu mulai bergerak turun ke bawah.


Saat sudah berada di lantai dasar, aku segera keluar begitu pintu lift terbuka. Bergegas menemui Alan yang mungkin sudah lama menungguku. Namun belum sempat aku keluar gedung. Jordi mencegatku. Aku pun terpaksa menghentikan langkah.


"Mau pulang, Lea?" tanya Jordi.


"Iya. Kau juga, kan?" kataku balik bertanya.


Laki-laki itu mengangguk. "Oh iya, hari ini nggak ada ojek, kan? Kau ikut denganku saja, Le. Aku akan mengantarmu."


"Nggak usah repot-repot, Di. Aku bisa pulang sendiri," kataku, menolak.


Jordi tampak kecewa "Kenapa, Le? Apa kau masih marah padaku?" tanyanya dengan suara lirih. "Maafkan aku Le, kalau ucapanku waktu itu sangat menyakitimu," imbuhnya


Aku menatapnya. "Aku sudah memaafkanmu, Di. Berhentilah merasa bersalah dan menganggapku masih marah denganmu. Sekarang aku merasa baik-baik saja. Aku bahkan sudah melupakan kejadian waktu itu, " kataku, menjelaskan.


"Jika kau sudah tak marah padaku, kenapa tak mau kuantar pulang, Le? Bukankah kita juga searah?"


"Sungguh aku sudah tak marah padamu, Di. Aku tidak menerima tawaranmu karena sebenarnya sudah ada janji dengan seseorang."


"Siapa, Le? Apa pacar barumu?" tebak Jordi.


Aku menggeleng. "Bukan. Aku hanya berteman dengannya."


"Oh, kukira kau sudah punya pacar lagi, Le."


Memangnya kenapa kalau aku punya pacar lagi. Itu sama sekali bukan urusanmu, Di. Kau tak perlu tahu urusan pribadiku.


"Iya, Le. Hati-hati," ucap jordi mempersilahkan.


Aku kembali melangkah menuju tempat dimana Alan menunggu. Sesampainya di sana aku mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Cecunguk itu.


"Ternyata kau ingat pulang juga," ucap seseorang di belakangku. Meskipun tanpa melihat wajahnya, aku langsung bisa mengenali suara yang sudah tak asing di telingaku itu. Kurasa pemilik suara tersebut adalah Alan. Dan dugaanku itu benar. Saat aku membalikan badan, aku melihat Alan tengah duduk di antara dua pot bunga besar, tak jauh dari tempatku berdiri. Wajahnya terlihat sangat kesal. Aku kembali melangkah, menghampirinya.


"Kapan kau datang? Apa sudah lama?" tanyaku saat sudah berada di sisinya.


"Apa kau tidak lihat? Aku hampir lumutan karena terlalu lama menunggumu."


Aku terkekeh, mendengar ucapan serta ekspresinya yang tampak masih sangat kesal. "Maaf. Tadi aku lembur."


"Seharusnya kau memberitahuku lebih dulu, kalau kau lembur. Jadi aku tak terlalu lama menunggu."


"Aku saja tidak tahu kalau hari ini lembur. Bagaimana mungkin aku memberitahumu kalau aku lembur?"


"Kau kan bisa menelponku."


"Bagaimana caranya aku menelponmu? Nomormu saja saja aku tidak tahu."


"Kalau begitu sekarang berikan nomormu padaku?" Alan mengeluarkan gawai dari dalam saku jaketnya. Kemudian menyerahkan benda pipih itu padaku.


Aku menerimanya, lalu mulai mengetik dua belas angka yang merupakan nomor teleponku di sana. "Sudah," kataku. Ketika sudah selesai. Setelah itu kembali menyerahkan gawai tersebut pada pemiliknya.


Alan tampak mengetikan sesuatu. Mungkin menulis namaku dan menyimpan nomorku di kontaknya. Setelah itu menekan ikon gagang telpon, meneleponku.


Ponselku yang berada di tas pun berdering. Namun beberapa detik kemudian berhenti.


"Itu nomorku," ucap Alan. Setelah memutus sambungan teleponnya.


"Ok," balasku singkat.


"Kau tidak mau menyimpan nomorku?" tanya Alan sambil memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jaket


"Nanti saja."


"Ya sudah, ayo pergi sekarang," ajaknya seraya melangkahkan kaki. Aku mengikuti di belakangnya. Kami berjalan beberapa meter. Menghampiri kendaraan Alan yang di parkir di parkiran khusus sepeda motor.


"Aku bisa pakai sendiri," kataku. Saat kami sudah sampai di parkiran dan berdiri di samping motornya. Laki-laki di hadapanku ini tak menggubris ucapanku. Ia tetap membantuku memakaikan helm di kepalaku. Setelah itu baru memakai helmnya sendiri.


Kalau dipikir-pikir Cecunguk ini romantis juga, seperti laki-laki di film-film atau drama. Tapi sepertinya kalau dia romantisnya cuma sedikit, lebih banyak menyebalkannya. Ah apa sih aku ini kenapa malah jadi muji cecunguk ini. Kalau dia dengar pasti udelnya langsung menggelinding.


"Cepat naik," perintah Alan.


Aku pun menuruti ucapannya. Memegang pundak Alan terlebih dulu saat akan menaiki motornya. Aku duduk sedikit mundur ke belakang. Memberi jarak agar tubuh kami tak saling bersentuhan. Namun, yang kulakukan itu sia-sia. Pada kenyataannya ketika motor itu jalan tubuhku selalu terhuyung ke depan. Beberapa kali aku kembali mengubah posisi dudukku, mundur ke belakang. Berkali-kali juga aku menubruk punggungnya, membuat bagian dadaku sedikit nyeri. Akhirnya aku pun menyerah dan membiarkan tubuh kami saling bersentuhan. Toh Alan tidak akan menyadari kalau milikku menyentuh punggungnya. Karena yang ku tahu salah satu bagian tubuh laki-laki yang tidak sensitif adalah punggungnya.


Selama perjalanan kami lebih banyak diam. Karena bicara pun tak terlalu kedengaran. Akibat deru kendaraan serta suara klakson dari kendaraan lain yang lalu lalang. Entah kemana tujuan kami Alan tak memberitahuku. Jadi aku hanya diam dan menunggu saja.


.


.


.


.