Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Maukah kau menjadi kekasihku?



Setelah membayar taksi, aku melenggang masuk ke dalam Mall. Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Jam baru menunjukan pukul tujuh lewat empat puluh satu menit. Jika biasanya aku sering terlambat, kali ini aku justru sampai lebih cepat. Bahkan masih tersisa banyak waktu. Ada sekitar dua puluh menit. Itu pun kalau Jordi datang tepat waktu. Jika laki-laki itu molor dari jam yang sudah di tentukan, sudah pasti akan bertambah lama.


Malam ini Mall cukup ramai. Mungkin karna ini malam minggu. Sehingga banyak muda-mudi dan juga para keluarga pergi jalan-jalan sekedar untuk melepas penat. Setelah satu pekan disibukan dengan pekerjaan maupun aktifitas lainnya.


Sementara bagiku ini momen pertama kalinya aku kembali keluar di malam minggu. Setelah beberapa bulan tak pernah keluar malam. Selepas pernikahan Alia dan Kevin.


Meskipun aku dan Kevin kembali menjalin hubungan. Tapi kami berdua tak pernah bertemu di luar. Biasanya kami hanya menghabiskan waktu bersama di kamar kost milikku, atau di apartemennya. Alasan kami tak pernah bertemu di luar tentu saja untuk menghindari orang-orang yang mengenal kami, ataupun sebaliknya. Ya, aku dan Kevin kembali merajut kasih secara diam-diam. Sebisa mungkin sangat berhati-hati agar hubungan kami tak tercium oleh siapapun. Terutama Alia serta kedua orang tua kami.


Setelah melewati beberapa toko dan juga melihat-lihat pameran di lobi utama. Aku memutuskan untuk naik ke lantai empat. Mencari tempat duduk serta memesan minuman untuk mengisi tenggorokan yang mulai terasa kering. Sekaligus menunggu Jordi di sana. Dari pada harus berputar-putar mengelilingi Mall seorang diri.


Dengan bantuan lift, aku naik ke lantai empat. Bersama dengan beberapa pengunjung lain. Kemudian berjalan menuju salah satu kedai yang menjual aneka minuman serta jajanan kekinian. Seperti Waffle, Crepes, Churos dan lain-lain.


"Teh tariknya, Kak," ucap seorang waitress saat mengantarkan pesananku.


"Silahkan dinikmati," imbuhnya, ramah.


"Terima kasih," kataku, tersenyum. Waitress itu pun kembali ke tempat kerjanya. Melayani pengunjung lain yang juga memesan makanan ataupun minuman di kedainya.


Aku menyesap minuman itu sedikit demi sedikit. Rasa manisnya pas, sesuai seleraku. Tidak kemanisan dan juga tidak terlalu hambar. Campuran es batu didalamnya membuat teh khas melayu itu terasa begitu menyegarkan, saat menyentuh tenggorokanku yang kering. Aku menyesapnya sekali lagi. Menikmati minuman itu lagi. Di temani oleh iringan musik akustik yang mengalun indah.


Aku menoleh sebentar, menatap sang vokalis yang memiliki suara merdu mendayu-dayu itu. Wajahnya tak begitu tampan, tapi suaranya mampu membius puluhan pasang mata yang menonton aksi panggungnya itu.


Setelah puas melihatnya, aku kembali menatap ke sekeliling. Mengamati beberapa wajah yang tak kukenal. Hingga akhirnya aku berhenti memandang, kala mataku beradu pandang dengan sepasang mata yang memiliki manik berwarna hitam. Aku lekas menundukan wajah. Menggigit bibir bawahku, merasa malu.


Untuk mengalihkannya aku menyibukan diri dengan memainkan ponsel. Merasa masih di perhatikan, aku pun kembali menoleh ke kanan, melirik pria itu lagi. Saat aku menatapnya, pria itu balik menatapku. Kami kembali beradu pandang. Ia tersenyum, lalu mengerlingkan sebelah matanya padaku.


Aku segera berpaling, mengabaikan pria genit tadi. Dasar laki-laki ganjen, gerutuku dalam hati. Sekilas aku merasa familiar dengan wajahnya. Seperti pernah melihat pria itu sebelum ini. Namun aku tak begitu yakin.


"Alea ...," panggil seseorang. Aku memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri, bergantian. Mencari sumber suara yang memanggilku. Kemudian tersenyum saat melihat Jordi melambaikan tangan padaku.


Dengan langkah panjangnya, Jordi berjalan menghampiriku. "Maaf--aku sedikit terlambat," ucapnya saat ia sudah berada di dekatku.


"Tidak apa--aku juga baru sampai," kataku berbohong.


"Mau minum apa, Pak? Biar aku pesankan," tanyaku.


"Ini bukan kantor, Lea--kenapa formal sekali," celetuknya sambil mendudukan tubuhnya di kursi, berseberangan denganku.


Aku terkekeh "Maaf, maaf. Hanya bercanda."


"Mau minum atau makan apa, Di?"


"Nah, gitu dong manggilnya. Jangan Pak terus," sahutnya sumringah.


"Iya iya," kataku menyerah.


"Jadi--mau pesan apa?" tanyaku, lagi.


"Tidak usah, Le. Biar aku pesan sendiri saja," ucapnya.


"Kau mau apa, Le? Biar sekalian."


"Emm ... beef burger aja, deh, Di," kataku setelah beberapa saat berpikir.


"Ok. Tunggu di sini sebentar ya," ucapnya.


Aku mengangguk, mengiyakan. Sepeninggalan Jordi, aku kembali memeriksa sekeliling. Sebagian pengunjung tampak berkurang. Dan orang-orang di sisiku terlihat datang dan pergi, silih berganti.


Lima menit kemudian Jordi datang dengan membawa nampan berisi beberapa makanan dan minuman. Ia meletakan nampan tersebut di atas meja. Kemudian kembali duduk di kursinya. "Silahkan di makan, Lea," ucapnya.


"Terima kasih," kataku. Aku mengulurkan tangan, mengambil burgerku yang tersaji di nampan. Kemudian menggigit kecil ujungnya.


"Enak tidak, Le? Burgernya," tanya Jordi di sela makannya.


"Lumayan," sahutku, memberi penilaian. "Dagingnya enak--juicy. Tapi sayang, rotinya agak kering. Kurang lembut," imbuhku.


"Kalau punyaku lebih enak, Le. Daging sama rotinya sama-sama lembut. Semuanya pas. Kau mau coba punyaku?"


Aku menggeleng. "Tidak usah, Di. Punyaku juga nggak terlalu buruk, kok, rasanya," jelasku.


"Oh, ok."


"Oh ya, Di. Setelah makan kita pindah tempat ya?"


"Kenapa memangnya, Le? Di sini lumayan enak kok tempatnya buat nongkrong."


"Aku merasa sedikit tidak nyaman." Aku mencondongkan tubuh ke depan. Mendekatkan diri pada Jordi. "Kau tengoklah ke kiri sebentar, lihat pria yang memakai kaos hitam, yang pakai kalung rantai kecil dan juga anting di telinganya," bisikku, pelan.


Jordi menuruti instruksiku. Ia menoleh, menatap pria yang kumaksud, sebentar. Setelah itu kembali menatapku.


"Maksudmu Cecunguk itu?" tanyanya.


"Cecunguk?"


"Iya. Cecunguk yang minggu lalu membuat keributan di restoran, saat kita makan siang," jelas Jordi.


"Ah--pantas saja aku agak familiar dengan wajahnya. Tapi lupa pernah liat dimana," kataku.


"Sejak tadi cecunguk itu menatapku terus, aku jadi risih kalau terus-terusan diperhatikan," ungkapku.


Jordi kembali menoleh ke kiri, menatap Cecunguk itu sekilas. Jordi sempat memergoki Cecunguk itu tengah memandangi Alea. Akan tetapi Berandal itu segera berpaling saat ia dan Jordi saling beradu pandang.


Jordi kembali menatap Alea. "Kau benar. Dia masih menatapmu.


"Kalau begitu setelah selesai makan kita pindah, ya?"


Aku mengangguk setuju. "Oh ya--katanya ada yang ingin kau katakan padaku? apa itu, Di?" kataku saat ingat tujuan kami bertemu malam ini.


Jordi terlihat sedikit gugup. "Emm--itu ... Itu ...."


"Itu apa, Di?" tanyaku bingung.


"Aku akan mengatakananya nanti, saat kita pulang," ucap Jordi pada akhirnya.


Memangnya apa, sih yang mau dia katakan? Membuat penasaran, saja.


"Ok, deh kalau gitu."


Beberapa saat kemudian. Setelah selesai makan, aku dan Jordi berjalan mengelilingi Mall, melihat-lihat beberapa toko baju maupun sepatu. Berulang kali Jordi menawariku agar membeli baju ataupun tas, ia yang akan membayarnya. Namun aku terus menolak. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk menonton film.


Kami menonton film horor yang sedang ramai di perbincangkan di sosial media. Filmnya cukup bagus, menurutku. Alurnya cepat dan tidak membosankan. Sampai-sampai tidak terasa dua jam telah berlalu dan film pun berakhir.


"Sekarang kita mau kemana lagi, Le?" tanya Jordi setelah kami keluar dari bioskop.


Aku melirik jam di tanganku sebentar. Kemudian menatap pria yang berjalan beriringan denganku itu. "Sudah malam ... boleh aku pulang sekarang?" tanyaku hati-hati.


"Tentu," sahut Jordi, tersenyum.


"Aku akan mengantarmu," imbuhnya.


"Tidak usah, Di. Aku bisa pulang sendiri," kataku.


"Seperti katamu, Lea. Ini sudah malam--tidak baik seorang wanita pulang seorang diri. Kalau nanti ada yang mengikutimu, bagaimana?"


"Tapi nanti merepotkanmu, Di. Kalau kau harus mengantarku dulu."


"Aku sama sekali tidak merasa di repotkan, kok, Le. Tenang saja."


"Ya sudah, kalau begitu. Terserah kau saja."


Kami berdua berjalan menuju basement, tempat dimana mobil Jordi parkir. Jordi membukakan pintu untukku. Kemudian menutup kembali pintu tersebut setelah aku masuk dan mendudukan tubuhku di jok depan. Setelah itu ia berjalan mengitari mobil bagian depan dan ikut masuk ke mobil. Ia duduk bersebelahan denganku, tepatnya di depan stir. Ia memasang sabuk pengamannya lebih dulu. Setelah itu menyalakan mesin dan mejalankan kendaraanya. Meninggalkan area Mall dengan kecepatan sedang.


Sepanjang perjalanan kami membahas banyak hal. Sebagian membahas tentang film yang kami tonton tadi. Sementara sisanya tentang pekerjaan dan juga obrolan yang tidak penting.


Kami berkendara tak begitu lama. Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit. Karna letak Mall dengan tempat tinggalku memang tak terlalu jauh.


Jordi menepikan mobilnya di depan gang kecil yang biasa kulewati. Kemudian mematikan mesin mobilnya karna sudah sampai. Aku melepas sabuk pengaman yang melingkar di depan tubuhku. "Terima kasih untuk semuanya, Di," ucapku karna sudah di traktir makan dan juga nonton.


"Sama-sama, Lea," sahutnya, tersenyum.


"Oh ya, katanya ada yang mau kau katakan?" tanyaku sebelum turun dari mobil.


"Apa itu?" imbuhku.


Wajah Jordi berubah tegang. Ia mengubah posisi duduknya, menyerong ke sisi kiri, menghadapku.


"Alea ...," panggilnya dengan suara lembut.


"Ya," sahutku, makin penasaran.


Aku sedikit kaget saat tangan Jordi meraih kedua telapak tanganku. Aku menatapnya dan Jordi pun balas menatapku.


"Sudah sejak lama aku menyimpan rasa padamu, Le. Bahkan saat kau masih bersama mantan kekasihmu," ucapnya.


Aku terdiam. Kali ini aku sudah tau apa maksudnya. Meskipun ia belum menyelesaikan kalimatnya.


"Aku menyukaimu, Alea," ucapnya kemudian. Sesuai dugaanku.


"Maukah kau menjadi kekasihku? Aku berjanji tidak akan menyakiti ataupun menghianatimu."


Bersambung....


.


.


.


Bagaimanakah reaksi Alea? Akankah ia menerima cinta Jordi dan move on dari Kevin? Tunggu jawabannya di bab selanjutnya ya.


...****************...


Minta dukungannya dengan cara vote dan likenya. Biar author makin semangat lanjutin ceritanya. Jangan lupa tap ❤ nya biar ga ketinggalan update terbaru. Terima kasih. Saranghae buat semua yang baca 😙😚