Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 64



Jam istirahat telah usai. Setelah mengisi perut dan beristirahat sejenak, Arman kembali ke kantor. Seperti biasa, langkahnya panjang dan cepat. Pandangannya lurus ke depan. Sama sekali tidak melirik ke kanan ataupun kiri jika memang tidak di perlukan. Sesekali ia mengangguk saat seseorang menyapanya. Namun, ekspresinya tetap tak berubah, dingin.


Langkahnya terhenti sejenak ketika berada di ruangan presdir yang tak lain adalah Alan, bos yang selalu ia panggil dengan sebutan Tuan Muda itu.


Seperti biasa, ia mengetuk pintu ruangan itu terlebih dulu, sebanyak tiga kali. Kemudian memegang handle, mendorong daun pintu itu dan melenggang masuk.


Seketika matanya terbelalak, syok dengan pemandangan di hadapannya. Ia sempat mematung selama beberapa detik. Kemudian segera berbalik dan kembali keluar setelah tersadar.


Arman masih berdiri di sana, di depan pintu.


Haruskah aku pergi saja? Tapi, bagaimana jika orang lain datang?


Arman bergelut dengan pikirannya sendiri sambil mondar-mandir dengan gelisah. Ia menoleh ke belakang sebentar. Mengintip ke dalam ruangan itu lagi. Ia terkejut sekali lagi, melihat tuan mudanya yang semakin agresif.


Tuan Muda, tidak bisakah anda menutup tirainya terlebih dulu?


Arman masih di sana, menjaga pintu. Berusaha keras agar tidak membayangkan apa yang telah ia lihat sebelumnya. Namun, pikiran itu terus melintas di benaknya. Terlebih saat telinganya menangkap suara-suara aneh dari dalam ruangan itu yang membuat dahinya berkeringat.


"Arman," ucap seseorang dari kejauhan.


Arman mengangkat wajahnya yang tertunduk. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mencari sumber suara yang menyebut namanya tadi.


"Apa yang kau lakukan? apa kau sedang cosplay menjadi bodyguard?" tanya seorang pria yang sedang berjalan mendekat. Pria itu bernama Reyhan. Seorang pengusaha yang juga merupakan teman dekat Alan.


"Tuan, Rey," sapa Arman seraya membungkukkan badan.


"Apa kau sedang sakit?" tanya Reyhan.


Arman mengerutkan dahi, bingung. Mengapa teman bosnya bertanya seperti itu? "Saya baik-baik saja, Tuan," jawabnya.


Kini giliran Reyhan yang terlihat bingung. "Tapi kau berkeringat banyak sekali," ucapnya seraya menuding dahi Arman dengan telunjuknya.


Reflek Arman mengulurkan tangan ke atas, mengusap dahinya. Telapak tangannya basah, di penuhi keringat.


"I-itu karena ruangan ini terlalu panas," jawab Arman sedikit tergagap.


Reyhan mengangkat alis, heran. Sebab ia merasa sebaliknya. Kulitnya bahkan terasa kering karena terlalu dingin. Meski demikian Reyhan memilih untuk tak mempedulikannya lagi. "Alan di dalam 'kan?" tanyanya seraya melirik ruangan di depannya. Tanpa menunggu jawaban ia melangkah maju. Akan tetapi Arman menghadangnya.


"Maaf, Tuan Rey, Anda tidak bisa masuk sekarang."


Reyhan mengernyitkan dahi. Merasa bingung dengan sikap Arman. Biasanya ketika ia datang Arman akan bersikap acuh. Tidak mempersilahkan masuk tapi juga tidak melarang. "Kenapa?" tanyanya.


"Karena ...." Arman tak melanjutkan kalimatnya. Entah mengapa otaknya seketika menjadi kosong. Ia tidak tahu harus memberikan alasan apa.


"Karena apa, Man?" tanya Reyhan lagi. Ia semakin bingung melihat Arman yang lagi-lagi bersikap tak seperti biasanya.


"Itu ... Itu karena Tuan Muda sedang sibuk," sahut Arman gelagapan. Ia bahkan mengulanginya kalimat itu sekali lagi. Namun, intonasinya sangat rendah sehingga Reyhan tak mendengarnya.


"Oh, kukira sedang menerima tamu," ucap Reyhan. "Aku hanya ingin menyapanya sebentar, tidak akan mengganggu," lanjutnya. Reyhan melangkahkan kakinya lagi. Namun, lagi-lagi Arman menghentikannya. Kali ini Arman bahkan membentangkan kedua tangan, menghalangi Reyhan yang ingin menerobos masuk.


"Anda tidak boleh masuk, Tuan," ucapnya.


Melihat reaksi Arman yang sedikit berlebihan, Reyhan menjadi penasaran. Ia tersenyum licik. "Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu? Kau bohong padaku ya?" tebaknya.


Arman mengelak. "Aku tidak menyembunyikan apapun, Tuan," ucapnya.


Reyhan tersenyum lagi. Ia melihat pupil mata Arman membesar saat pria itu menyangkal. Itu menjadi indikasi bahwa seseorang sedang berbohong.


"Hei ... Ayolah, katakan saja yang sejujurnya. Kau melarangku masuk pasti karena ada sesuatu yang tak boleh ku lihat atau kuketahui. Katakan, apa yang sedang Alan lakukan di dalam sana? Apa dia sedang bersama wanita?" tebaknya lagi.


Arman terdiam. Ia tak menyangka Reyhan bisa menebaknya dengan tepat.


Dari ekspresi Arman yang tampak terkejut, Reyhan bisa menyimpulkan dengan mudah. "Ternyata memang benar," ucapnya, senang.


Reyhan berusaha menerobos masuk. Namun, Arman terus menghalanginya dengan sekuat tenaga.


Bagaikan pegulat yang sedang bertanding. Keduanya saling menyerang. Menarik dan menjegal satu sama lain. Satunya berusaha menjangkau pintu dan ingin segera membukanya. Sementara yang satunya lagi berusaha keras menahan orang yang ingin membuka pintu tersebut. Hingga akhirnya keduanya jatuh ke lantai, bersamaan.


Reyhan menoleh ke samping, menatap Arman yang terbaring di sampingnya. Nafasnya terengah-engah, kelelahan. "Apa yang kau makan? Tubuhmu sangat kurus tapi kenapa tenagamu kuat sekali," ucapnya.


Arman tak menjawab. Ia sedang mengatur nafas. Pandangannya lurus ke depan. Menatap langit-langit.


Tiba-tiba pintu terbuka, keduanya mendongak bersamaan. Baik Arman maupun Reyhan sama-sama bisa melihat sosok Alan yang menjulang tinggi di atas mereka.


"Apa lantainya begitu nyaman? Sampai kalian tidur-tiduran di situ?" tanya Alan.


Arman langsung berdiri, lalu membungkuk. "Tuan Muda," sapanya.


"Mengapa kau masih di sini? Bukankah rapatnya segera di mulai?" Alan terlihat galak saat mengatakannya.


"Maaf, Tuan Muda. Saya akan segera ke sana." Arman kembali membungkuk lalu melangkah pergi menuju ruang rapat.


Alan menatap punggung Arman yang bergerak kian menjauh. Setelah Arman hilang dari pandangan matanya, Alan beralih menatap Reyhan yang sedang mengamatinya.


"Apa yang kau lakukan di kantorku? Apa kau tidak punya pekerjaan?" tanyanya pada sahabatnya itu.


Reyhan tak menjawab. Ia hanya cengar-cengir sambil terus memandangi Alan.


Alan mengerutkan alis, heran. "Apa perusahaanmu bangkrut? Hingga membuatmu jadi gila?"


"Kau sudah tidur dengannya?" Bukannya menjawab, Reyhan justru mengajukan pertanyaan pada Alan.


Alan tertawa. "Apa kau mabuk?" tanyanya.


"Jujur saja, kau baru saja tidur dengan wanita itu kan?" cecar Reyhan.


Alan memiringkan kepala, menatap Reyhan dengan bingung. "Apa kepalamu membentur sesuatu? Pertanyaanmu sangat konyol."


"Kemeja kusut, rambut berantakan dan noda lipstik di bibir. Bukankah itu karena kau baru saja bercinta dengan wanita itu?" ucap Reyhan setelah menganalisis penampilan sahabatnya itu.


"Berhenti bicara omong kosong dan kembalilah ke kantormu sendiri." Alan merangkul pundaknya. Lalu menyeretnya menjauhi ruangannya. Dimana masih ada Alea yang sedang makan di dalamnya.


"Hei ... Lepas, biarkan aku melihat wanitamu dulu." Reyhan terus berusaha memberontak. Akan tetapi tenaganya tidak lebih besar dari Alan. Pada akhirnya ia terusir keluar dan tak di izinkan masuk lagi. Bukan Reyhan namanya kalau ia menyerah begitu saja. Laki-laki itu sudah bertekad untuk mencari tahu wanita yang ia curigai telah tidur dengan Alan. "Tunggu saja, Al. Sebentar lagi aku pasti akan mengetahui siapa wanita itu tanpa diberitahu olehmu," gumamnya sebelum beranjak pergi.


Sementara itu, di ruang rapat yang terletak di lantai 7, beberapa pegawai termasuk Arman tampak sudah berkumpul. Suasana yang tadinya berisik seketika langsung kondusif begitu Alan memasuki ruangan itu. Setelah menyapa sekaligus memberi hormat, mereka kembali duduk di kursinya masing-masing.


Rapat di mulai. Semua orang tampak serius memperhatikan dan mendengarkan penjelasan Arman.


Akan tetapi tidak dengan Alan. Laki-laki itu justru tampak sibuk dengan ponselnya. Selain itu ia terus tersenyum.


Beberapa pegawai yang melihatnya tampak saling berbisik. Bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi dengan bos mereka.


Begitu pula dengan Arman. Ia memandang tuan mudanya dengan terheran-heran. Apa semua orang yang sedang jatuh cinta bertingkah seperti itu? Itu sedikit menggelikan, pikirnya.


Tuan Muda, kumohon kondisikan dirimu dan perhatikan sekitar, orang-orang akan mengira kau gila jika terus tersenyum sendirian seperti itu.


.


.


.


.