Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 85



Rumah itu... tidak, itu lebih cocok di bilang istana dari pada rumah. Sebuah istana megah dengan halaman yang sangat luas. Ada kolam berukuran besar dengan air mancur di tengahnya.


Bagian depannya terdapat delapan pilar berukuran raksasa yang menjulang tinggi, menopang bangunan tiga lantai itu. Sebagian dindingnya dipenuhi ukiran yang menambah kesan klasik.


"Ayo turun," titah Alan padaku. Aku meraih tangannya yang terulur saat turun dari mobil. Kemudian berjalan menuju pintu masuk sambil bergandengan tangan.


Kedatangan kami atau Alan lebih tepatnya, mendapatkan sambutan hangat dari seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan hitam putih seperti pelayan restoran. "Selamat datang kembali, Tuan Muda," Ucapnya sambil membungkukkan badan, memberi hormat. Setelah itu kembali menegakkan tubuhnya dan mendapati aku dengan sedikit terkejut.


"Tuan Muda, ini..."


Alan sontak menoleh ke arahku. Tatapannya penuh cinta. Tangannya kirinya merangkul pinggangku dan memberikan belaian lembut dengan jari-jari panjangnya yang ramping itu. "Ini Alea, calon istriku," ucapnya sambil tersenyum. Setelah itu kembali menatap pria paruh paya itu dan berkata, "Dia cantik kan, Paman?"


Seketika kerutan di dahi orang tua itu sirna. Meskipun tidak benar-benar hilang sepenuhnya. Masih ada sedikit kerutan, sangat tipis. Itu wajar, mengingat usianya yang sudah tak lagi muda. Orang itu berkata dengan bibir melengkung ke atas. "Tentu, Tuan Muda."


"Sayang, ini paman Sam, kepala pelayan di rumah ini. Paman Sam sudah ada di sini sejak aku masih kecil." Alan memperkenalkannya sambil menoleh ke arahku lagi.


Sambil memasang senyum aku menyapa orang tua yang usianya mungkin seumuran dengan ayahku, maksudku ayah angkatku. "Halo, Paman Sam," kataku seraya mengulurkan tangan.


"Selamat datang di kediaman kami, Nona Alea." Tangan paman Sam yang sedikit berkeriput itu terulur, hendak menjabat tanganku. Namun, saat tangan kami hampir bersentuhan Alan tiba-tiba meraih tanganku dan menjauhkannya dari pelayan itu.


"Maaf, Paman. Selain aku, tidak ada orang lain yang boleh menyentuhnya," kata Alan dengan wajah serius. Tatapannya penuh peringatan.


"Mohon maaf atas kelancangan saya, Tuan Muda. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ucap paman Sam sambil membungkukkan badan.


"Katakan pada yang lainnya juga. Aku tidak mengizinkan siapapun menyentuh wanitaku. Pria maupun wanita," ucap Alan dengan lantang.


Seorang pelayan wanita yang tak sengaja lewat tersentak kaget. Ia melirik ke arah kami sebentar, tapi buru-buru berpaling dan masuk ke ruangan lain saat Alan menatapnya.


"Baik, Tuan Muda. Aku akan memberitahu yang lainnya agar tidak mengganggu Nona Alea."


Setelah mengatakan itu, aku dibawa pergi olehnya. Melewati paman Sam begitu saja, tanpa mengatakan sepatah katapun pada lelaki tua yang berdiri dengan wajah tertunduk itu.


"Kau tidak serius kan, Al?" tanyaku saat kami menaiki tangga yang menghubungkan ke lantai dua.


"Apa?" tanya Alan tanpa memandangku. Tatapannya jatuh ke bawah, menatap anak tangga.


Kami terus melangkah, menaiki anak tangga satu demi satu. "Tentang bersentuhan dengan orang lain. Menurutku itu tidak masuk akal."


Alan tiba-tiba berhenti. Sorot matanya tajam. "Mengapa itu tidak masuk akal? Kau wanitaku, Alea. Bagaimana mungkin aku membiarkan orang lain menyentuh istriku?" Kedua tangan Alan mencengkram bahuku. Sangat kuat hingga terasa menyakitkan. Ia sedikit membungkuk saat mendaratkan bibirnya di mulutku.


Tidak seperti biasanya, ciumannya kali ini sedikit kasar. Itu berlangsung singkat tapi cukup membuatku kewalahan. Nafas hangatnya terciprat ke seluruh wajahku saat kening kami saling beradu.


"Kau milikku, Alea, hanya milikku. Hanya aku yang berhak atas jiwa maupun ragamu. Tidak ada orang lain yang boleh menyentuhmu, kecuali aku. Apa kau mengerti!"


Alan memang posesif, aku tahu itu. Tapi aku tidak menyangka sikap posesifnya akan separah ini. Aku bisa memaklumi kalau ia tidak ingin aku bersentuhan dengan laki-laki. Siapa sih atau laki-laki mana yang mau wanitanya di sentuh pria lain, kurasa tidak ada. Akan tetapi, aku belum pernah dengar seorang pria melarang wanitanya atau istrinya bersentuhan dengan wanita lain. Sepertinya hanya Alan yang begitu.


Aku ingin protes, tapi takut membuatnya semakin kesal. Jadi hanya bisa menurutinya saja. Lagipula tidak ada orang lain lagi di sisiku. Orang yang memiliki peluang bersentuhan denganku ya Cecunguk itu sendiri dan juga Arman. Satu-satunya pria selain Alan yang paling sering kutemui.


"Aku mengerti. Sekarang bisakah kau lepaskan tanganmu? Kau menyakitiku."


Dengan begitu Alan segera melepas cengkeramannya. "Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu," ucapnya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah. "Maafkan aku, Alea," ucapnya sekali lagi.


Sambil memasang senyum, aku mengulurkan tangan untuk membelai wajahnya. "Aku tahu. Kau tidak perlu minta maaf."


"Terima kasih, Alea," ucapnya dengan lembut. Ia mengecup keningku sebentar, setelah itu kembali melangkahkan kakinya, mengajakku menuju ke kamarnya.