
Pandanganku menjadi buram, seiring dengan munculnya cairan bening yang menggenang di pelupuk mata. Aku begitu terharu dengan setiap kalimat yang Alan ucapkan tentangku. Dalam hati aku mengutuk diriku sendiri. Betapa bodohnya aku yang masih saja meragukan cintanya, padahal jelas-jelas dia mencintaiku dengan tulus. Aku sadar sekarang.
Andai saja tidak ada orang lain di ruangan ini, jika saja hanya ada kami berdua, aku dan dia. Aku akan berlari dan menghambur ke dalam pelukannya sekarang juga. Takkan kubiarkan ia menunggu lebih lama lagi. Akan kuberikan jawaban yang selama ini dia tunggu dan ingin di dengar. 'Ya, aku mau menjadi istrimu, ayo kita menikah' akan kukatakan kalimat itu padanya nanti, setelah acara ini berakhir.
Aku mengusap air mata yang mengalir tanpa permisi. Kemudian melangkah keluar sebelum ada yang menyadari kalau aku menangis.
Langkahku terhenti saat hampir menabrak seseorang. Aku bergeser ke kiri untuk menghindarinya, tapi orang itu ikut bergeser ke kiri juga. Ketika aku bergeser ke kanan ia juga melakukan hal yang sama dan ketika aku diam ia ikut diam.
Sebenarnya apa yang sedang dilakukan orang ini? mengapa terus mengikuti gerakanku?
Dengan kesal aku mendongak, ingin melihat siapa yang yang menghalangi jalanku itu. Aku terkesiap ketika melihat wajahnya. Kevin! Apa yang ia lakukan disini?
"Akhirnya aku menemukanmu, Ly," ucapnya dengan wajah tersenyum.
"Apa yang kau lakukan disini, Mas?" tanyaku, dingin.
"Tentu saja untuk menemuimu, Ly." Ia menyodorkan buket bunga lily yang ada di tangannya padaku. "Untukmu..."
"Aku tidak membutuhkannya," kataku seraya mendorong tangannya, menolak pemberiannya itu. "Selain itu, aku tidak ingin bertemu denganmu, jadi tolong pergilah," kataku seraya memalingkan muka dan bersiap untuk pergi.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau menerimanya, Ly."
Dengan begitu aku berhenti melangkah dan berbalik, kembali menghadapnya. Kedua sudut mulutnya terangkat ke atas saat aku menerima bunga itu. Namun, senyumnya langsung memudar begitu aku menjatuhkan bunga itu dan menginjaknya tepat di depan matanya.
Pandangan Kevin jatuh kebawah, menatap bunganya yang kelopaknya berceceran di lantai dan tampak layu. "Maafkan aku, Ly. Aku menyesal..." Ia berhenti sejenak. Kelopak matanya terangkat, ia menatapku lagi. "Kumohon berikan aku kesempatan, Ly," pintanya dengan penuh harap.
"Kesempatan?" cibirku. Aku menatapnya dengan marah. "Berapa kali lagi aku harus memberimu kesempatan, Mas? Aku sudah memberimu kesempatan berkali-kali tapi kau terus mengecewakanku, lagi dan lagi!"
Kevin maju selangkah, lalu meraih kedua telapak tanganku. "Aku berjanji, kali ini tidak akan mengecewakanmu lagi. Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi, ya?" ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Aku menunduk, menatap telapak tangannya yang menggenggam tanganku. Rasanya hangat, sama seperti dulu. "Kau juga sudah berjanji saat terakhir kali, tapi kau mengingkarinya," kataku, lirih. Aku mengangkat wajah dan menatapnya lagi. "Waktu itu kau berjanji akan menikahiku setelah kau menceraikan Alia saat bayinya sudah lahir. Tapi apa yang kau lakukan, kau mengingkarinya, Mas. Kau meninggalkan aku disaat aku benar-benar membutuhkanmu."
Kevin membisu. Matanya redup dan wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
"Waktu itu aku terus mengemis padamu, memintamu kembali, tapi kau tak pernah datang. Kau tak peduli meski tahu aku sendirian dan kesakitan, kau terus mengabaikan aku. Apa kau lupa itu, Mas!" Genggaman tangan kami terlepas setelah aku menyentaknya dengan keras. Jantungku berdetak lebih cepat karena marah.
"Aku punya alasan mengapa melakukan semua itu, Ly. Aku juga sama tersiksanya seperti dirimu."
"Simpan alasanmu untuk dirimu sendiri, Mas. Aku tidak ingin mendengarnya."
"Tapi, Ly..."
Ia masih ingin berbicara tapi aku sudah melangkahkan kaki, meninggalkannya.