Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Kepulangan Kevin



Beberapa hari telah berlalu. Aku kesulitan menghubungi Kevin. Kekasihku itu tak memberi kabar sama sekali. Terakhir kali saat malam pertama kami berpisah. Itu pun hanya memberitahu kalau dirinya baru tiba di bandara. Setelah itu tak ada kabar lagi. Panggilanku tak pernah di angkat dan puluhan pesanku tak pernah di balas. Aku terus menunggunya dengan cemas. Beberapa pertanyaan terus berkecamuk dalam pikiranku. Apa dia sangat sibuk? Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kalau dia sakit? Sementara di sana tak ada yang mengurusnya. Asisten tua yang mendampinginya hanya tau tentang pekerjaan. Jadi mana mungkin bisa merawatnya.


Selama Kevin pergi aku merasa sangat kesepian. Terutama saat malam hari. Rasanya aku hampir mati karena rindu dan juga bosan. Untung saja masih ada Alan. Meskipun laki-laki itu menyebalkan tapi cukup membuatku terhibur. Dan bisa sedikit mengurangi kegalauanku yang di tinggal dinas oleh Kevin.


Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku malam itu. "Siapa," teriakku. Tak beranjak dari tempat tidur. Aku diam, menunggu jawaban. Namun tak kunjung mendapat jawaban dari luar. Hanya suara ketukan yang berulang-ulang.


"Siapa sih yang mengganggu malam-malam begini," gerutuku. Aku terpaksa turun dari tempat tidur. Kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit.


"Hallo, Ale-ale," ucap Alan begitu melihatku. Cecunguk itu nyengir padaku.


Aku menatapnya jengkel. "Ada apa?"


"Nada bicara wanita cantik ini kasar sekali kalau menyambut tamu," sindirnya. Aku menatapnya tak peduli.


"Bagaimana kalau tamunya tersinggung dan tak jadi berkunjung?" imbuhnya.


"Kalau begitu aku akan mengusirnya dengan senang hati," balasku.


"Sungguh wanita kejam," ucapnya.


Aku tersenyum sinis. "Kau baru tahu!"


Bukannya kesal Alan justru tersenyum lebar. Aku tidak mengerti mengapa laki-laki ini suka sekali mengajakku bicara. Padahal aku sering mengacuhkan dan berbicara kasar padanya. Tapi ia tak pernah kapok.


"Boleh aku masuk," tanyanya.


Aku ingin menjawab tidak tapi seperti biasa belum sempat aku mengatakannya, laki-laki itu sudah menyelonong begitu saja. Sungguh menyebalkan. Aku penasaran bagaimana orang tuanya menghadapi Alan. Mungkin mereka sangat kewalahan hingga akhirnya memutuskan untuk membuangnya seperti sekarang. Selain minus tata krama Alan juga minus akhlak. Ia suka sekali mencuri kesempatan padaku. Kelebihannya hanya ada satu yaitu wajahnya yang sangat tampan. Kalau yang lainnya sepertinya semuanya minus.


Aku berjalan mengikutinya. Alan menjatuhkan tubuhnya di tepian tempat tidurku kemudian merebahkan tubuhnya di sana. Kakinya di biarkan menggantung begitu saja.


Aku mendelik, melihat kelakuannya yang semena-mena. Tidur di ranjang orang lain tanpa merasa malu sedikit pun. "Apa ranjangmu terbakar? Mengapa kau tidur di kasurku?" tanyaku kesal. Aku berdiri di hadapannya. Melipat kedua tangan di dada.


"Mengapa kau berdiri di situ? Kemarilah--tidur di sampingku," ucapnya sambil menepuk sisi di sebelahnya. "Kasurmu empuk sekali. Aku sangat menyukainya," imbuhnya. Ia menggoyangkan tubuhnya hingga membuat ranjangku berderit.


"Kalau begitu belilah sendiri. Kau bisa memakai sepuasnya," kataku.


Alan bangun dari tidurnya. Kini ia duduk dan memandangku dengan wajah tersenyum. "Kalau kau memberiku uang aku akan langsung membelinya."


"Kau pikir aku ibumu? Mengapa aku harus memberimu uang."


"Kau 'kan memang ibu. Ibu dari anak-anakku nanti," ucapnya dengan senyum lebar.


Aku menatapnya sambil menggelengkan kepala, tak percaya. Kok bisa ya, ada orang senarsis Alan. Percaya diri memang bagus. Tapi jangan kebablasan juga. Itu namanya tak tahu malu.


Aku berjalan menuju lemari pakaian. Membuka pintunya dan mengedarkan pandangan mencari sweater kesayanganku.


Ketika bunga tak bermekar lagi dan dunia tak mungkin berputar lagi saat cinta tlah membakar hati ini kau kan tahu betapa aku mencintaimu betapa aku menginginkan kamu. Nada dering ponsel milikku.


"Ada yang menelpon," ucap Alan, memberitahu.


Aku juga dengar, memangnya aku tuli.


"Aku tahu," kataku. Aku menarik sweater yang baru kutemukan. Kemudian membalikan badan dan berjalan menuju tempat tidur untuk mengambil hp yang teronggok di atas nakas.


Aku mengerutkan dahi saat melihat layar ponsel itu. Ayah? tumben sekali ayah menghubungiku.


Aku lekas menggeser ikon gagang telepon itu ke atas, mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo, ada apa, Yah?" tanyaku begitu tersambung.


"Pulanglah ke rumah, Nak. Ada yang ingin ayah bicarakan denganmu," ucap ayahku di seberang sana.


"Tidak usah banyak tanya, menurut saja. Kau akan tahu ketika sampai."


"Tapi ...." Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku ayah sudah mematikan sambungan telepon.


Aku menjauhkan hp dari telinga dengan perasaan sedih dan kecewa. Aku merasa ayah tak pernah menyayangiku. Padahal aku sudah keluar dari rumah tiga bulan lebih tapi ayah tak pernah mencari ataupun menanyakan kabarku. Aku seperti terbuang dan tak di anggap lagi. Tanpa kusadari air mataku meluncur begitu saja. Membasahi kedua pipiku.


"Ada apa, Alea? mengapa kau menangis?" tanya Alan. Nada bicaranya terdengar khawatir.


Aku lupa saat ini aku tak sendiri. Alan masih ada di sebelahku. Aku segara menyeka air mataku. Kemudian menoleh ke arah Alan sambil tersenyum "Siapa yang nangis? aku tidak menangis, tadi cuma kelilipan saja," kataku, berbohong. Aku tak ingin menunjukan sisi lemahku di hadapan orang lain.


"Aku harus pergi. Kau mau keluar atau mau aku kurung disini?" tanyaku mengalihkan perhatian.


"Kau mau kemana?" tanya Alan.


"Mau kemana pun itu bukan urusanmu, Al. Kau tidak perlu tahu." Aku memakai sweater yang baru saja kuambil. Menyambar tas yang tergantung di kapstok dekat lemari pakaian. Kemudian melangkahkan kaki untuk keluar. Alan berjalan mengekor di belakangku.


Setelah Alan keluar aku lantas mengunci pintu.


"Tunggu sebentar. Biar aku mengantarmu, Alea," ucap Alan seraya menahanku yang hendak melangkah.


"Aku ambil kunci motor dulu," imbuhnya.


"Kalau begitu aku tunggu di bawah," jawabku.


Alan bergegas menuju kamarnya. Sementara aku berjalan menuruni anak tangga dan menunggunya di depan gerbang.


Tak berselang lama Alan terlihat menuruni anak tangga. Kemudian berjalan menghampiri motornya dan menuju ke arahku. Setelah aku naik, Alan segera memacu kuda besinya itu.


Satu jam kemudian kami sudah sudah sampai tujuan. Alan menurunkan aku tepat di depan gerbang rumah orang tuaku.


"Beritahu aku kalau kau sudah mau pulang, aku akan menjemputmu," ucap Alan.


"Tidak perlu, Al. Sudah malam, sepertinya malam ini aku akan menginap di rumah," kataku.


"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu," pamit Alan.


"Hm. Hati-hati di jalan," kataku. Alan kembali memakai helmnya kemudian berlalu pergi menggunakan motornya.


Aku memutar badan. Kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


"Aku pulang Ay ...." Begitu membuka pintu aku di kejutkan dengan pemandangan yang tak mengenakan. Hingga membuatku tak mampu menyelesaikan kalimatku.


Dia sudah pulang? Kapan? Mengapa tak mengabariku? Apa aku sedang bermimpi?


"Kau sudah datang, Nak." Sebuah suara menyadarkanku kalau ini bukan mimpi.


Aku menoleh ke kanan dimana sumber suara itu berasal. Saat itu kulihat ibu sedang berjalan ke arahku. Begitu sampai ia langsung memelukku. "Kenapa tak pernah mampir ke rumah? Ibu merindukanmu," ucapnya.


"Maafkan, Lea, Bu. Akhir-akhir ini Alea sangat sibuk, pekerjaan di kantor sangat banyak jadi tak sempat mampir ke rumah," kataku, menjelaskan.


"Kau sudah makan?" tanya Ibu setelah melepas pelukannya.


Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Ayo kita makan sama-sama," ajak ibu seraya menggandeng tanganku. Kami berdua berjalan menuju meja makan. Saat berjalan aku tak henti-hentinya menatap Kevin yang sedang duduk di sofa, bersebelahan dengan Alia yang bergelayutan manja di lengannya. Hatiku mencelos ketika Kevin membuang muka saat mata kami bertemu. Ekspresinya saat melihatku juga seakan penuh kebencian.


Ada apa denganmu, Mas? Mengapa kau menatapku seperti itu? Aku sangat merindukanmu.


Bersambung....