
Sesuai janjinya, Kevin mengajakku ke daerah pegunungan. Setelah satu jam mendaki, kami pun berhenti setelah menemukan padang rumput di kaki bukit. Tanah lapang yang tidak terlalu luas tapi cukup untuk mendirikan beberapa tenda.
Aku dan Kevin bekerja sama mempersiapkan segala hal. Seperti mendirikan tenda, merakit meja dan kursi lipat, serta menyiapkan alat untuk memasak.
"Akhirnya selesai juga," gumamku setelah merapikan tenda. Menata bantal dan selimut di sudut. Setelah itu kembali keluar untuk melihat pemandangan di luar. Saat itu Kevin tampak sibuk dengan kompor portable yang tak kunjung menyala.
"Apa ada masalah?" tanyaku ketika sudah berada di sisinya.
"Kurasa kompornya rusak," ucap Kevin tanpa mengalihkan pandangan. Tangannya masih mengotak-atik kompor berukuran kecil itu. Mencoba menyalakannya berulang kali. Ia baru beralih menatapku saat aku terkekeh.
"Ada apa? Kenapa tiba-tiba tertawa?" tanyanya dengan dahi berkerut.
"Sampai lebaran monyet pun kompor itu tidak akan menyala," kataku. Masih tak berhenti tertawa.
Kevin tak mengatakan apapun. Alisnya terangkat ke atas, heran. Aku berjalan ke samping, meraih kaleng berisi gas yang ada di atas meja, dekat penyimpanan makanan. Kemudian kembali ke sisi Kevin. "Gasnya belum di pasang," kataku seraya menggoyangkan kaleng itu.
Kevin tertawa kecil. "Pantas saja dari tadi tidak mau menyala." Kevin langsung memasangnya begitu benda itu sampai di tangannya. Taraaaa, seketika kompor pun akhirnya menyala.
Selagi menunggu air mendidih, aku menyiapkan cangkir dan menuang bubuk kopi dan gula ke dalamnya. Sementara Kevin masuk ke dalam tenda. Entah apa yang sedang ia lakukan di dalam sana. Sudah beberapa menit berlalu tapi tak kunjung keluar.
"Sayang ... Kopinya keburu dingin," teriakku seraya menoleh ke belakang. Menatap tenda yang sedikit bergoyang di terpa angin.
"Ya, sebentar lagi aku ke situ," sahut Kevin dari dalam sana.
Aku kembali memandang lurus ke depan, menatap pepohonan yang menjulang tinggi, sambil menikmati secangkir coklat hangat. Kupejamkan kedua mataku seraya menghela nafas panjang. Menikmati udara yang sejuk dan juga bersih. Di tempat ini suasananya begitu tenang, hanya terdengar kicauan burung dan juga suara dedaunan maupun ranting yang saling bergesek. Tidak seperti saat di tengah-tengah kota yang sangat berisik dengan segala hiruk pikuknya. Di tempat seperti ini aku merasakan kedamaian. Semua beban pikiran seakan terlepas begitu saja.
Aku sedikit tersentak saat Kevin menyentuh pundakku. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya seraya mengecup puncak kepalaku. Ku pegang kedua lengannya yang melingkar di dadaku. Tubuhku yang tadinya sedikit kedinginan seketika mulai menghangat akibat dekapannya.
"Tidak ada," kataku sambil mendongakkan kepala untuk melihat wajahnya.
"Kau minum apa? Sampai belepotan begini." Kevin menyapu sudut mulutku dengan bibirnya. Kupikir itu hanya alasan agar ia bisa menciumku. Selama ini aku tak pernah belepotan saat makan ataupun minum.
Benar saja, setelah Kevin mengubah posisi dengan duduk di sebelahku, ia kembali menyambar bibirku, ********** dengan rakus hingga membuatku hampir kehabisan nafas. Kevin tersenyum, melihatku terengah-engah.
"Kenapa kau masih saja seperti itu, Ly. Sudah berulang kali kuperingatkan, jangan lupa bernafas saat kita berciuman," godanya.
"Bagaimana aku bisa bernafas, kau menyumpal mulutku lama sekali," gerutuku.
"Mulut itu untuk makan, bukan untuk berciuman," protesku, tak setuju.
"Itu fungsi yang lainnya," ucap Kevin seraya menyeruput kopinya yang hampir dingin.
Usai menghabiskan minuman masing-masing kami berjalan-jalan dekat sekitar. Menghabiskan sore hari dengan canda tawa. Mengenang kembali kenangan-kenangan indah kami selama lima tahun terakhir.
"Ly," panggil Kevin.
"Ya," sahutku seraya menoleh ke arahnya. Aku menatap matanya yang sedang memandangiku. Tangannya membelai rambutku dengan lembut.
"Kau cantik, Ly."
"Apa sih, Mas," kataku sambil tertawa. Aku memalingkan wajah, malu.
Kevin meraih wajahku, memaksaku agar kembali menatapnya. "Jangan berpaling dariku, Ly. Aku ingin terus menatap wajahmu," ucapnya.
"Apa Mas Kevin tidak bosan terus memandang wajahku seperti ini?" tanyaku setelah beberapa menit beradu pandang dengannya.
Kevin menggeleng. "Sama sekali tidak, Ly. Aku ingin terus memandangmu seperti ini, sebelum tidur dan juga saat bangun tidur."
"Kalau begitu cepat nikahi aku. Jika kita sudah menikah, Mas Kevin bisa terus melihat wajah jelekku ini. Bukan hanya sebelum atau sesudah tidur. Tapi setiap hari dan setiap saat, sampai Mas Kevin bosan."
"Apa kau lapar? Aku akan memasak untukmu," tanya Kevin seraya berjalan meninggalkanku. Ia menghampiri box penyimpanan makanan. Mengeluarkan bahan makanan dan juga bumbu dari dalam sana.
Aku masih berdiam diri di tempat. Merasa heran dengan perubahan sikapnya.
Ada apa dengannya? Tak biasanya ia mengalihkan pembicaraan seperti tadi.
.
.
.
.