
Aku terbujur kaku di tempat tidur. Diam tak bergerak layaknya batang kayu. Sangking takutnya, aku bahkan tak bisa merasakan tubuhku sendiri, seolah lumpuh.
Aku tak berdaya. Hanya bisa memejamkan mata saat hantu itu berbaring di sebelahku. Sekujur tubuhku merinding dan bergetar hebat saat tangan pucatnya yang sedingin es melingkar di pinggang dan perutku, memelukku dari belakang.
Aku kembali menjerit. Lebih keras dari sebelumnya hingga tenggorokanku sakit. Entah darimana datangnya kekuatan itu, aku kembali bisa merasakan tubuhku dengan tiba-tiba. Aku meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri. Namun, pelukannya justru semakin erat.
"Hei... Tenanglah, ini aku," Hantu itu berkata setengah berbisik.
"Aku tidak peduli siapa kau, pergi! Jangan ganggu aku. Pergi!" kataku dengan mulut gemetar. Aku terus mengusirnya tapi hantu itu sangat bandel, tidak mau pergi juga.
"Kumohon... Pergilah, hantu--jangan ganggu aku." Saat itu aku mulai frustasi dan akhirnya menangis.
Di tengah ketakutan dan frustasi itu, hantu itu tiba-tiba terkikik. Suaranya terdengar familiar. Sama seperti ketika Alan tertawa.
"Ini aku, Alea, suamimu."
"S-suamiku?" Aku mengulangnya dengan sedikit terbata. "Alan?"
"Ya, ini aku, bukan hantu."
Aku berbalik menghadapnya. Membuka mata secara perlahan untuk memeriksanya. Dimulai dari kaki panjangnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus hingga ke wajahnya yang rupawan. Setelah memastikan kalau itu benar Alan dan bukan hantu, aku langsung menghambur ke arahnya, memeluknya dengan erat dan kembali menangis, lega.
Alan balas memelukku. Tangan kirinya terulur, membelai kepala bagian belakang dan juga punggungku. "Berhentilah... Apa yang kau tangisi, hm?" Alan menambahkan kalimat berikutnya dengan nada mengejek. "Lihat, kau sangat jelek sekarang."
"Aku sangat takut, Al. Kukira kau hantu."
Alan tertawa lagi. Seolah tangisan dan ketakutanku sebuah lelucon yang menyenangkan baginya. "Mengapa bisa berpikir begitu? memangnya ada hantu setampan aku?"
Alan tak berubah. Ia masih sama seperti dulu, narsis.
"Aku bisa."
"Itu sebabnya aku mengira kau hantu. Kau mungkin satu-satunya orang yang bisa melakukannya. Orang normal lainnya tidak."
"Jadi... menurutmu aku tidak normal?"
"Untuk yang satu ini, iya."
Tangan kananya yang sejak tadi membelai kepalaku terhenti. Ia menggeser kepalanya ke belakang dan sedikit menunduk untuk melihat wajahku. Keningnya berkerut saat bertanya, "Kenapa aku tidak normal?"
"Orang normal akan menimbulkan suara ketika mereka berjalan, tapi kau tidak. Selain itu kulitmu terlalu pucat, seperti vampir."
"Yah, warna kulitku memang sedikit tidak normal," Alan mengakui. Ia memalingkan muka, memandang sembarang arah dengan tatapan kosong, seolah sedang memikirkan sesuatu. "Kata nenek, ibu selalu memanggilku pangsit rebus karena aku terlalu putih dan agak transparan saat masih bayi." Matanya memancarkan kerinduan yang mendalam ketika menyebutkan kata ibu.
Aku mengusap-usap punggungnya. Barangkali itu bisa menghiburnya kalau-kalau ia sedih lagi saat mengenang mendiang ibunya. "Kalau boleh tahu... Ibumu seperti apa, Al?" tanyaku, hati-hati.
Kedua sudut mulut Alan terangkat ke atas, membentuk senyuman. Layaknya anak kecil, Alan terlihat sangat antusias ketika menggambarkan seperti apa sosok ibunya itu. Betapa bangganya ia terhadap sang ibu terlukis di wajahnya.
"Ibuku sangat sempurna. Wajahnya secantik bidadari dan hatinya sangat lembut, seperti malaikat. Dia suka menolong orang lain. Membantu orang-orang kecil yang sedang kesulitan. Ibuku juga sangat pintar, sama sepertiku."
Aku setuju dengannya, ibunya memang sangat cantik. Alisnya tebal dan rapi. Bulu matanya lebat dan lentik. Hidungnya juga sangat mancung, lebih mancung dari Alan. Bibir tipisnya sangat cocok dengan bentuk mukanya yang kecil, dagunya lancip. Beliau terlihat seperti Alan versi cewek dengan mata lebih besar.
Tunggu, aku tidak mengerti mengapa Alan suka sekali memuji dirinya sendiri. Tidak salah sih, dia memang pintar, jenius malah. Akan tetapi itu agak menyebalkan, menurutku.
Aku jadi penasaran, apakah semua laki-laki pintar, kaya dan tampan memang seperti itu?
Bersambung...