
Usai berurusan dengan Kevin dan menenangkan diri di luar, aku kembali masuk dan menuju ke lantai atas. Aku berencana menunggu Alan di ruang kerjaku. Namun, begitu sampai di sana, aku di kejutkan dengan suara keributan yang berasal dari ruangan presdir, yang juga menandakan kalau pemiliknya sudah kembali.
"Ada apa ini?" tanyaku pada Arman yang berdiri di depan pintu. Tidak seperti biasanya yang selalu tenang dan tanpa ekspresi, kali ini Arman tampak gelisah. Jari-jarinya terus bergerak dan kerutan di dahinya semakin dalam saat memandangi ruangan di belakangnya.
Aku mengikuti arah pandangannya. Mengintip ruang kerja Alan yang memiliki jendela kaca berukuran besar dari lantai hingga langit-langit. Kondisi di dalamnya sangat kacau. Berkas-berkas yang biasanya tersusun rapi di meja, kini berserakan di lantai. Kursi kerjanya yang dilapisi kulit asli teronggok dibawah dengan posisi terbalik.
"Tuan muda sangat marah dan dia mengamuk sekarang," jawabnya seraya menoleh ke arahku.
Aku ikut berpaling dari ruangan itu dan membalas tatapannya. "Apa terjadi sesuatu saat acara tadi? Siapa yang membuatnya marah?" tanyaku, ingin tahu.
Alan baik-baik saja sebelumnya. Sepanjang acara ia bahkan terus tersenyum, tidak ada tanda-tanda kalau ia tidak senang. Memang sih, sebelum meninggalkan aula itu, aku sempat melihatnya bersedih karena ia menganggap aku tak menyukainya, tapi aku yakin itu bukan sesuatu yang akan memicu amarahnya.
Setelah aku pergi, seseorang mungkin tak sengaja telah menyinggungnya dan itu sebabnya ia jadi kesal, pikirku. Namun, jawaban Arman kembali mengejutkanku.
Ia menggelengkan kepala dan berkata, "Itu karena Anda, Nona," ucapnya.
Aku mengernyit, menatapnya dengan bingung. "Aku?" kataku seraya menunjuk diri sendiri. "Memangnya apa yang kulakukan?"
"Tuan Muda melihatmu bersama laki-laki lain di lobi tadi."
Apa!
Aku kembali terkejut untuk kesekian kalinya. Seketika aku menjadi panik sekaligus merasa bersalah. "Bagaimana bisa? Bukankah Alan masih wawancara saat aku bertemu dengan Kevin?"
"Tuan Muda segera mengakhiri wawancaranya begitu menyadari Anda tak ada di ruangan itu. Ia buru-buru keluar, tidak sabar ingin bertemu denganmu. Awalnya ia tidak begitu kesal saat mendapati Anda bersama laki-laki lain. Akan tetapi, kemudian ia melihat lelaki itu menggenggam tanganmu dan Anda diam saja. Anda sama sekali tak terlihat keberatan dan tidak menolaknya juga. Itu yang membuatnya marah. Tuan Muda mengira Anda akan kembali pada lelaki itu dan meninggalkannya, " jelas Arman.
Pyarr!
sebuah ledakan keras kembali terdengar dari dalam ruangan itu.
Aku dan Arman sama-sama menoleh. Menyaksikan Alan yang sedang menghancurkan meja kaca dengan tinjunya. Meja dihadapannya itu sudah tak berbentuk lagi. Berubah menjadi kepingan-kepingan besar yang tak beraturan. Seolah masih belum cukup, Alan melayangkan tinjunya sekali lagi. Meremukkan kepingan itu menjadi remahan kecil. Darah segar mengalir disekitar buku-buku jarinya. Meski begitu ia tak peduli dan terus memukul, lagi dan lagi.
Aku menyaksikannya dengan mata terbelalak sekaligus ngeri. Setelah itu aku tak bisa melihatnya lagi. Ia merosot ke bawah, menyembunyikan tubuhnya di balik sofa. Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukannya sekarang. Aku hendak masuk untuk memeriksanya, tapi Arman menahannya.
"Jangan, Nona. Tuan Muda melarang siapapun masuk. Selain itu dia sangat berbahaya sekarang. Dia sedang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, takutnya nanti tak sengaja menyakitimu, itu akan membuatnya menyesal."
Sambil memasang wajah tersenyum, aku menepuk tangannya yang menghalangiku. "Tenang saja, Alan tidak akan menyakitiku," kataku dengan yakin.
Arman mengabaikan ucapanku. Ia masih berdiri di depan pintu, memblokir jalan dengan membentangkan kedua tangannya.
"Apa kau akan membiarkan Tuan Mudamu terus melukai dirinya sendiri?"
Tatapan matanya goyah. Aku tahu ia juga sangat mengkhawatirkan bosnya.
"Percaya padaku, Arman. Aku akan baik-baik saja," kataku, meyakinkan.
Meski enggan, Arman akhirnya menurunkan lengannya dan bergeser ke samping untuk mempersilahkan aku masuk. "Hati-hati, Nona."
Aku menganggukkan kepala. Setelah itu mendorong pintu kaca dan melenggang ke dalam ruangan itu.
Kedatanganku disambut oleh teriakan Alan. "Keluar!" ucapnya tanpa menoleh. Ia masih bersembunyi di balik sofa.
Tanpa diduga, Alan tiba-tiba berdiri dan berbalik sambil melemparkan vas bunga ke arahku.
Reflek, aku menunduk dan memejamkan mata saat benda itu melayang di atas kepalaku. Vas bunga itu membentur dinding sebelum akhirnya jatuh berserakan di lantai dengan suara menggelegar.
Detik berikutnya aku mendengar langkah kaki mendekat. Aku membuka mata saat tangannya menyentuh kepalaku. Memeriksa apakah aku terluka atau tidak. "Kau tidak apa-apa?" tanya Alan dengan suara serak. Wajahnya tampak cemas.
"Aku baik-baik saja," kataku seraya menyentuh lengannya.
Tangannya turun ke bawah, meraih rahang dan membelai pipiku dengan lembut. "Maaf, aku tidak tahu itu kau. Sungguh, aku tidak bermaksud menyakitimu." Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
"Aku tahu," kataku, tersenyum. "Tanganmu terluka."
Alan segera menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik punggung. "Aku baik-baik saja."
"Itu berdarah, bagaimana bisa baik-baik saja," protesku.
Alan tak menolak saat aku menarik tangannya dan membawanya ke ruang istirahat. Aku mendudukkannya di tepi tempat tidur yang terbengkalai. Ya, itu memang terbengkalai sejak lama. Aku tak pernah melihat siapapun tidur di sana. Alan lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk di kursi kerjanya sambil menandatangani setumpuk berkas di hadapannya. Jika lelah ia akan pindah ke sofa dan berselonjor di sana.
"Tunggu di sini, aku ambil obatnya dulu sekaligus memanggil petugas kebersihan."
"Jangan pergi," pintanya seraya meraih pinggangku dan memeluknya. Nada bicaranya seperti anak kecil, sangat manja.
"Sebentar saja, tidak akan lama," kataku seraya membelai kepalanya.
Alan masih memelukku dan wajahnya di benamkan di perutku. "Telpon saja, suruh seseorang untuk membawakan kemari," ucapnya dengan suara teredam.
"Teleponnya hancur dan aku tidak memiliki nomor siapapun selain dirimu."
Alan merogoh saku celananya. Mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Suaranya tegas saat ia berkata, "Bawakan kotak P3K kemari dan suruh orang membersihkan ruanganku."
"Baik, Tuan Muda," sahut Arman di seberang telepon.
Tak berselang lama Arman masuk ke dalam bersama petugas kebersihan. Setelah menyerahkan kotak itu padaku, Arman lekas meninggalkan kami. Ia menghampiri petugas kebersihan dan menyuruhnya membereskan ruangan itu dengan cepat.
Sementara mereka bekerja, aku mulai membersihkan luka di tangan Alan. "Lain kali, saat kau marah pukul kasur atau sofa saja. Itu tidak akan melukai tanganmu."
Alan tak mengatakan apapun. Mulutnya terkunci rapat dan matanya terus memandangi wajahku.
Aku mendongak, membalas tatapannya. "Jangan menyakiti diri sendiri lagi, itu membuatku sakit."
"Mengapa itu membuatmu sakit? Kau tidak merasakan apa yang kurasakan," balasnya, dingin.
"Siapa bilang?" kataku seraya berpaling dari wajahnya dan kembali menunduk saat aku membalut tangannya dengan perban. "Jika kau sakit maka aku merasa sakit juga."
"Kenapa begitu?" tanyanya.
"Karena aku orang yang seperti itu," kataku seraya mengangkat kepala, menatap wajahnya lagi. "Aku akan merasakan apapun yang dirasakan oleh orang yang kucintai. Baik saat sedih, senang maupun ketika orang itu sedang sakit. Seperti sekarang, hatiku sakit saat melihatmu terluka."
Alan terdiam sejenak, seolah sedang mencerna kalimat yang kukatakan barusan. Mata sipitnya melebar saat menyadari sesuatu. "Jadi, maksudmu kau mencintaiku?"