Oh My Cecunguk

Oh My Cecunguk
Episode 43



Siang itu Alan dan beberapa pegawainya berkumpul di ruang rapat. Semuanya tampak sangat serius, membahas proyek yang sedang mereka kerjakan.


Meskipun saat di luar sikap dan penampilan Alan terlihat urakan, tapi saat di kantor ia merupakan sosok yang tegas dan juga serius.


Tidak seperti tokoh dalam sebuah novel yang bersikap dingin dan galak. Alan merupakan CEO yang ramah dan baik. Ia merangkul seluruh pegawainya. Sehingga para karyawannya itu pun bekerja dengan nyaman. Kendati demikian mereka semua tetap di tuntut disiplin dan kerja keras. Ia tak membiarkan pegawainya bermalas-malasan apalagi makan gaji buta dan juga tidak mentolerir kesalahan besar.


Alan bangkit dari duduknya sambil bertepuk tangan, mencuri perhatian semua orang. "Baiklah, kali ini sampai sini dulu. Segera selesaikan tugas kalian dan serahkan hasilnya ke meja saya secepatnya," ucap Alan mengakhiri rapat tersebut.


Seluruh pegawai yang ada di ruangan itu membungkukkan badan, memberi hormat pada bos mereka. Alan pun keluar dari ruangan itu dan bergegas kembali ke ruangannya.


Saat sedang berjalan menuju lift, sayup-sayup terdengar seseorang menyebut nama Alea yang di sertai sumpah serapahnya. Alan berbelok ke kanan, menghampiri dua wanita yang sedang mengobrol itu.


"Tuan Ars," ucap keduanya, bersamaan. Kedua wanita itu juga membungkukkan badan sambil tersenyum manis. Bahkan yang satunya terkesan di buat-buat.


"Siapa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Alan, penasaran.


"Itu--itu ...." Gadis pemalu yang bernama Tika itu tampak tergagap. Jantungnya berdegup kencang saat ia dan bos nya itu berdiri dengan jarak yang sangat dekat.


Wanita yang berdiri di samping Tika menyodorkan ponselnya. "Ini loh Tuan Ars, video pelakor yang sedang viral di medsos. Namanya Alea. Orangnya sih cantik, tapi kelakuannya kaya ******. Dia merebut suami adiknya sendiri. Benar-benar memalukan!" serobotnya.


Alan merampas ponsel karyawannya itu. Menonton video tersebut selama beberapa detik.


Prakk!


Tiga orang yang berada di samping Alan tersentak kaget. Terutama si pemilik ponsel yang baru saja di banting Alan. Wanita itu menatap nanar ke lantai, dimana benda kesayangannya yang masih ia cicil itu tergeletak dengan kondisi layar retak dan juga casing terlepas. "Hpku ...," gumamnya, sedih. Meskipun ia kesal tapi tak berani protes. Jangankan protes, melihat wajah bosnya saja ia sudah ketakutan.


Ya, saat itu wajah Alan yang biasanya terlihat ramah, kali ini justru sangat mengerikan. Sorot matanya sangat tajam. Kulitnya yang seputih salju tampak memerah dan kedua telapak tangannya tampak mengepal. Ia menoleh kebelakang, menatap asisten pribadinya. "Man ..." panggilnya.


"Ya, Tuan Muda," sahut Arman.


"Belikan hp baru untuknya. Selain itu perintahkan seluruh karyawan untuk berhenti bergosip. Jika ada yang berani melanggar perintahku pecat saja!" sahut Alan tegas.


Seketika dua wanita yang ada di depan Alan mengunci mulutnya dengan rapat. Keduanya tampak mengulum bibir masing-masing sambil menundukkan wajahnya.


"Baik, Tuan Muda."


Tika dan temannya itu menghela nafas panjang. Merasa lega setelah bosnya itu pergi.


"Tiga tahun aku bekerja di tempat ini, baru kali ini aku melihat Tuan Ars semarah itu," ucap wanita yang berdiri di sisi Tika.


Tika menganggukkan kepala. "Benar," ucapnya setuju.


"Kau lihat tadi, wajah Tuan Ars sangat menakutkan," imbuhnya sambil bergidik ngeri.


"Tapi aku masih tidak mengerti, mengapa ia tiba-tiba marah? Padahal sebelumnya masih sangat ramah."


Sementara itu di dalam ruangannya, Alan duduk dengan gusar. Sesekali ia berdiri, berjalan mondar-mandir ke kanan dan ke kiri. Kemudian duduk lagi.


"Belum selesai juga?" tanyanya. Memandang pria kurus yang tengah sibuk dengan laptopnya.


"Sebentar lagi, Tuan. Tinggal sedikit lagi," sahut pria kurus yang merupakan seorang hacker handal itu.


Alan tak mengatakan apapun lagi. Ia menunggu sambil mengetuk-ngetukan jemarinya di meja, tak sabar. Ia memperhatikan tangan hacker yang bergerak dengan cepat, berusaha membajak setiap akun yang mengunggah video Alea yang viral itu.


"Selesai," ucap hacker itu tak lama kemudian. Setelah hampir tiga jam berkutat dengan laptopnya, akhirnya pekerjaannya selesai juga. Ia berhasil menghapus seluruh video tersebut berikut akun yang mengunggahnya yang tersebar di setiap jejaring sosial.


Alan membuka semua media sosialnya. Mengeceknya satu-persatu. Wajahnya gusarnya berangsur memudar. Di gantikan dengan senyum tipis yang mengembang di kedua sudut bibirnya. "Kerja bagus," ucapnya.


"Terima kasih atas pujiannya Tuan Ars," sahut Hacker dengan senyum bangga.


"Arman ...."


Asisten Alan yang sejak tadi berdiri tegak seperti patung itu segera mendekat. "Ya, Tuan Muda," sahutnya dengan suara tegas.


"Urus sisanya. Berikan upah yang sepadan dengan kerja kerasnya. Aku pergi dulu," ucap Alan seraya bangkit berdiri.


"Baik, Tuan Muda." Arman membungkukkan badan saat Alan berjalan melewatinya. Usai bosnya itu pergi ia kembali menghampiri hacker yang masih duduk di sofa.


Ia mengeluarkan amplop tebal dari dalam saku jasnya. "Kurasa bayaran ini cukup untuk mengganti waktu luang yang kau habiskan selama tiga jam tadi," ucapnya seraya menyerahkan amplop tersebut.


Hacker tersebut menerimanya dengan senang hati. Matanya berbinar saat mengintip isi dari amplop coklat itu. Ia tidak tahu persis berapa jumlahnya. Tapi yang pasti itu berkali-kali lipat lebih besar dari penghasilan yang pernah ia terima sebelumnya. "Tentu saja, Tuan," sahut hacker itu. Malah ini lebih dari cukup.


"Senang bisa bekerja sama dengan Anda dan juga Tuan Ars," imbuhnya, tersenyum puas.


Arman hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.


"Kalau begitu saya permisi," pamit hacker itu.


Arman mempersilahkan dan mengantar kepergian hacker itu hingga ke depan gedung. Setelah itu kembali masuk ke dalam dan melanjutkan pekerjaannya.


.


.


.


.