
*Delhi, India*
Saat itu di laboratorium, tim prof Gema akhirnya berhasil membuat alat ekstraksi setelah 24 jam bekerja tanpa tidur dan beratus kali percobaan. Kesenangan dan kegembiraan menggantikan rasa lelah yang mereka rasakan.
Prof Gema dan yang lain terus memandangi hasil kerja mereka itu dengan bangga, sebuah alat yang berada dengan mantap di atas meja. Alat berukuran panjang 1 meter dan tinggi 50 cm dengan berat 10 kg itu kini bisa digunakan untuk menolong orang.
"Kini kita bisa merayakan keberhasilan ini " ucap Rahul
Kedua teman ilmuwannya setuju dan mereka kemudian meninggalkan ruang penelitian, pulang kerumah dan berganti pakaian.
Setelah kedua ilmuwan itu meninggalkan ruangan, Prof Gema mendekati Rahul yang sedang merapikan beberapa dokumen.
"Apa benda ini bisa diperkecil ? "
"Apa maksud anda ? " tanya Rahul
"Kau tahu, membuatnya bisa dipakai di tangan, mungkin seperti gelang " balas Prof Gema
"Itu bisa saja dengan mengecilkan komponen di dalamnya, hanya saja kita harus membuat semua komponen itu sendiri. Kalau ayah, mungkin bisa melakukannya " ucap Rahul sedikit teringat ayahnya
"Aku berencana membuatnya menjadi alat untuk melawan organisasi NOZ "
Aktifitas Rahul terhenti mendengar organisasi NOZ disebut, tubuhnya terpaku. Rahul memang menyimpan dendam dengan organisasi yang menculik ayahnya itu, namun dia tidak berani melakukan tindakan karena khawatir dengan keselamatan anak dan istrinya.
"Sayangnya aku bukan ahli membuat senjata pembunuh seperti ayah, aku hanya bisa membuat alat untuk menyelamatkan orang seperti ini " ucap Rahul menolak permintaan prof Gema
"Semua penemuan dasarnya adalah netral, namun bisa digunakan untuk membangun atau merusak. Menolong atau menyakiti, Itu bukan salah ilmu pengetahuan " ucap Prof Gema
"perkataan Arthur Galston " ucap Rahul
"Benar, aku mendapat sebuah ide dengan sedikit memodifikasi alat ini "
Prof Gema mengambil beberapa lembar kertas berukuran A3 dari atas meja beliau. Kertas yang kemudian diserahkan kepada Rahul, dimana didalam kertas itu sudah terisi rancangan alat yang akan prof Gema buat.
" Alat ini bisa membantu melawan NOZ dan menolong dunia, banyak orang akan selamat sesuai keinginanmu kan " ucap Prof Gema
Rahul memperhatikan lembar demi lembar isi kertas itu hingga habis. Dia tersenyum kecil seolah memberi penilaian bahwa rancangan prof Gema tidak mungkin dilakukan.
"Alat ini memang menjanjikan. Hanya saja meskipun bisa dibuat, alat ini tidak akan bekerja. Bahan seperti ini tidak ada prof, kita hidup di dunia nyata dimana tidak ada kekuatan super disini " ucap Rahul menyodorkan kembali kertas yang ada ditangannya kepada prof Gema.
Akan tetapi Rahul kaget dan tersandar di kursinya, tanpa sengaja dia melepaskan kertas yang ada di tangannya. Itu dikarenakan saat itu dia melihat wujud prof Gema yang sepenuhnya berubah menjadi besi.
"Prof ? " ucap Rahul
Prof Gema kemudian menghilangkan kulit besinya dan mengembalikan wujudnya menjadi manusia biasa.
"Bagaimana ?ada banyak kemampuan yang belum kau ketahui di dunia ini " ucap Prof Gema
Rahul masih tetap terpaku dengan apa yang terjadi di hadapannya.
"Kita harus membicarakan ini dengan yang lain " ucap Rahul dengan tiba-tiba
"Tunggu ! sebaiknya jangan, semakin sedikit yang tahu maka semakin baik " balas prof Gema
"Tapi kita membutuhkan mereka jika ingin membuat komponen sendiri "
Prof Gema kemudian termenung, dia tidak setuju rancangannya di beritahukan kepada yang lain. Namun disisi lain perkataan Rahul ada benarnya, mereka tidak bisa membuatnya tanpa bantuan kedua orang yang lain.
"Kau percaya dengan mereka ?" tanya prof Gema
"Ya "
"Baiklah, kita bicarakan dengan mereka nanti malam " ucap
Rahul dan prof Gema kemudian meninggalkan ruangan penelitian dan bersiap pergi keluar untuk merayakan keberhasilan mereka.
*Jakarta Selatan, Markas utama Kurassha*
Julian mengambil sebuah kantung kecil berwarna hitam yang menggantung di belakang pinggangnya. Kemudian membagikan isi di dalam kantung itu yang merupakan sebuah peledak kecil yang terpasang perekat kepada Riyan dan Maria.
"Ayo!"
Julian mengajak dua rekannya itu menempelkan peledak itu di bagian bawah pada semua mobil yang ada di halaman markas tersebut.
Kemudian mereka melanjutkan untuk memasuki markas itu. Disaat itu Riyan melihat sebuah jendela yang terbuka pada bagian samping rumah itu. Diapun memilih untuk naik melalui kamar yang ada di lantai dua tersebut.
"Kalian lewat depan, aku akan naik ke sana dan menyerang dari belakang" ucap Riyan menunjuk jendela yang terbuka.
"Itu sangat tinggi, bagaimana kau naik ke sana?" tanya Maria
"Itu mudah" ucap Riyan kemudian berjalan tepat dibawah jendela yang terbuka.
Dengan kemampuannya, tidak sulit untuk melompat dari tanah hingga menuju jendela kamar yang ada di lantai dua dengan ketinggian 6 meter itu.
Julian dan Maria tertegun seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Seorang pemuda dengan mudah melompat dengan ketinggian 6 meter, mereka pun menduga itu disebabkan pakaian hitam yang dipakai Riyan.
"Apa bagian riset peralatan bisa membuat sepatu untuk melompat seperti itu?" gumam Julian yang kagum melihat Riyan melompat dengan mudah ke lantai dua.
"Coba saja nanti kau tanyakan nanti" balas Maria
Kedua orang itu melewati pintu depan yang terdapat 4 mayat penjaga. Dengan senjata api berperedam ditangan mereka, Julian dan Maria mengendap masuk kedalam markas tersebut.
Disisi lain Riyan sudah berada di kamar lantai dua, sebuah kamar tidur yang luas lengkap dengan TV dan perabotan lain.
"Apa ini kamar tuan rumah?besar sekali"
Tidak disangka, disaat Riyan baru keluar dari kamar tersebut, tanpa sengaja bertatapan dengan petugas yang ingin membuka sebuah pintu ruangan lain yang berjarak 6 meter dari Riyan.
Penjaga itu bergerak cepat mengambil pistol yang terpasang di pinggangnya dan mengarahkan kepada Riyan. Namun kunai yang dilempar Riyan lebih dahulu menancap di kepala petugas itu dan membuatnya jatuh ke lantai.
"Fiuuh..Hampir saja" gumam Riyan
Lantai dua dimana Riyan berdiri sekarang, merupakan lantai yang berbentuk huruf L . Lebar Lantai dari pintu kamar hanya sebatas 2 meter yang kemudian di halangi oleh pagar beton. Dari sana, semua kegiatan dilantai bawah bisa terlihat.
Dari atas situ Riyan melihat sangat banyak penjaga yang berdiri maupun duduk santai.
"Wah banyak sekali penjaganya"
Riyan kemudian mendekati mayat penjaga yang ingin membuka sebuah pintu. Tiba di dekat mayat penjaga, Riyan membuka telapak tangannya dan membuat kunai yang tertancap di kepala penjaga melesat kembali ke tangannya.
Dengan penasaran Riyan membuka pintu yang tidak jadi dimasuki penjaga yang tergeletak tewas. Begitu pintu dibuka, banyak monitor terlihat di dalam ruangan itu.
"Ini ruang cctv, sepertinya penjaga tadi sedang keluar ruangan ini saat kami melakukan serangan di halaman" pikir Riyan
Dari monitor cctv ruang tamu, Riyan melihat Julian dan Maria sedang menembaki penjaga yang ada di sana dengan peredam, sehingga satu persatu tumbang tanpa sempat menembak.
"Kalian memang terlihat hebat, seperti agen dalam film" ucap Riyan
"Kau dimana?" tanya Maria
"Ruang cctv, tepat di atas ruang tengah" jawab Riyan
Sesaat sebelum keluar untuk bergabung dengan rekan-rekannya, dari monitor lain Riyan melihat pintu ruang pertemuan terbuka. Dari sana terlihat para pimpinan Kurassha keluar dari ruangan tersebut kecuali Rei dan pengawalnya.
Para pemimpin Kurassha berjalan menuju ruang tengah diikuti dengan para penjaga masing-masing yang berada di depan pintu. Bersamaan dengan itu, Julian dan Maria sudah memasuki ruang tengah.
"Gawat" ucap Riyan
"Ada apa?" tanya Julian
"Mereka telah selesai mengadakan pertemuan, dan sekarang menuju ruang tengah" balas Riyan
"Sial" ucap Julian
Tiba-tiba suara tembakan terdengar sangat ribut di ruang tengah markas itu. Julian yang sempat terlihat oleh para penjaga, sontak dihujani tembakan hingga menghancurkan perabotan yang ada di sana.
Suara tembakan tersebut membuat semua penjaga dan pemimpin yang tengah menuju ke ruang tengah menjadi bergegas.
Julian yang sempat berpindah pada sebuah pilar di ruangan itu malah membuatnya terpojok. Sedang Maria berusaha membalas tembakan para penjaga dari dinding arah masuk ruang tengah.
Namun jumlah lawan yang terlalu banyak membuat Maria dan Julia kesulitan. Disaat itu Riyan melompat dari atas, tubuhnya melayang dan mendarat dengan mulus di antara para penjaga yang tengah menembaki Julian dan Maria di ruang tengah.
"Tap"
Penjaga yang kaget dengan kehadiran sosok hitam secara tiba-tiba di tengah mereka, mengarahkan senjatanya kepada Riyan.
"Trrrrrt...trrrttt"
Tembakan jarak dekat yang dilakukan para penjaga tidak berguna sama sekali menghadapi armor hitam Riyan.
"Sreeet...sreeet"
Dengan pedang oriental di tangan kanan dan katana milik Seichi di tangan kiri, Riyan dengan cepat memainkan kedua pedang itu untuk menghabisi para penjaga.
Maria yang sempat mengintip untuk membalas tembakan, tertegun melihat Riyan yang menghadapi para penjaga dari jarak dekat.
Ketika itu penjaga lain yang baru tiba di sana dari jalur ruang pertemuan, mengeluarkan senjata mereka.
"Trrrrt....trrrrt" tembakan dari Maria dan Julian menghalau masuknya para penjaga itu.
Sementara itu di ruang pertemuan, Rei tengah mengangkat Afri dengan mencekik lehernya. Matanya tajam menatap kearah Afri, wajahnya terlihat sangat kesal.
"Kau biarkan adikku mati" ucap Rei
Saat itu dia mendengar suara keributan yang sangat keras, Rei kemudian memerintahkan salah seorang anak buahnya untuk pergi memeriksanya.
Seorang pengawal pun pergi dari ruang pertemuan, meninggalkan Rei yang tengah dan dua orang lainnya.
"Aaa....mpun bos" ucap Afri terbata karena leher yang tercekik oleh tangan Rei.
Sesaat kemudian orang yang diperintahkan untuk memeriksa asal keributan di tempat itu kembali ke ruang pertemuan.
"Bos, ada 3 orang penyusup masuk kesini"
"Hanya 3?kenapa seribut itu?" tanya Rei
"Meski bertiga, namun penjaga kita telah banyak dikalahkan. Terutama oleh orang yang mengenakan pakaian hitam seperti ninja dengan dua pedang" jelas pengawal itu
"Iii..tu dia bos, dd...ia yang membunuh tuan Seichi" ucap Afri
Mendengar itu, Rei kemudian melemparkan tubuh Afri ke lantai.
"Kau selamat kali ini" ucap Rei
Rei mengayunkan tangannya sebagai pertanda untuk mengajak dua pengawal yang bersamanya agar mengikutinya.
Dengan langkah cepat, ketiga orang itu menuju ruang tengah yang merupakan sumber keributan tembak menembak.
Di ujung jalur menuju ruang tengah, para pimpinan tengah berdiri menyaksikan ketiga orang yang telah kehabisan peluru sedang berdiri di tengah ruangan itu.