NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 72 Penyerangan Kurassha III



Sementara itu di halaman luar rumah bos Tirta, anak buah bos Tirta yang diserang dua arah hanya tersisa sedikit. Hal itu karena pada halaman rumah itu tidak banyak yang bisa dijadikan perlindungan dari peluru, sedang Jonathan dan yang lainnya dapat berlindung di dalam pos jaga dan di belakang mobil baja mereka.


Setelah mereka menghabisi semua pasukan bos Tirta, Jonathan dan yang lainnya bergerak masuk ke dalam rumah besar bos Tirta. Seperti halnya Riyan, di ruang tengah rumah itu Jonathan juga melihat banyak mayat dan perabotan yang hancur.


Seseorang kemudian muncul dari ruang rapat, mereka langsung menodongkan senjata kepada orang tersebut yang mana adalah Riyan. Jonathan dan pengawal Riyan segera menurunkan senjatanya dan menyuruh yang lain melakukan hal yang sama.


"Turunkan senjata kalian! dia teman kita" ucap Jonathan


"kebetulan sekali, Lei dan yang lain berada di dalam sedang terluka. Bantulah mereka!" ucap Riyan


Jonathan meminta teman-temannya masuk merawat Lei dan yang lain. Sedangkan dia mengikuti Riyan menuju kamar belakang tempat tawanan.


Jauh di depan pintu masuk kamar belakang, tubuh bos Tirta sudah tergeletak tidak bernyawa di atas lantai rumahnya dengan luka tembak di tubuhnya.


"sial, aku terlambat" ucap Riyan kecewa


Jonathan segera berlari mendatangi Heru yang masih memegang senjata, duduk bersandar pada dinding dengan luka tembak di bagian bahu. Sedangkan Riyan menjemput Tari yang berada di dalam kamar.


"Apa kau menemukan Mila?" tanya Tari kepada Riyan dengan wajah gelisah


"Dia sudah dibawa pergi gadis bernama Julia ke Jakarta. Sekarang bos Tirta sudah tewas, tidak ada yang tau dimana wanita itu" ucap Riyan


Air mata Tari menetes keluar saat mendengar berita yang disampaikan oleh Riyan. Dia menangis dan memeluk Riyan, Tari sangat menghawatirkan Mila yang disayanginya.


"Tidak usah khawatir, aku akan menemukan Mila bagaimanapun caranya" ucap Riyan


"Apa secepat itu mereka ke Jakarta? Mila baru dibawa tadi siang, mungkin saja dia masih di kota ini" tanya Heru lagi


"Kalau begitu aku akan pergi mencarinya di Kota ini. Jika tidak ketemu, maka besok pagi aku akan berangkat ke Jakarta, bahkan jika harus mencari ke seluruh kota besar itu aku tidak peduli" ucap Riyan


"Kami akan membantu mu sebisa mungkin. Tapi aku tidak banyak tahu mengenai Kurassha di Jakarta" ucap Heru


Riyan teringat dengan Mak yang dikalahkannya. Mereka semua kembali menuju ruang rapat, namun ternyata orang-orang yang terluka sudah dipindahkan oleh anggota Thorn.


Merekapun menuju pintu depan rumah itu dimana semuanya sudah berkumpul. Anggota Thorn sangat gembira melihat bos mereka yaitu Heru dalam keadaan selamat.


"dimana orang dari Thailand itu?" tanya Riyan


"Dia di dalam mobil" jawab Lei


Riyan pun mendatangi Mak di dalam mobil lapis baja. Di dalam mobil itu, tangan dan kaki Mak sudah diperban dan di borgol. Riyan menanyakan kepada Mak mengenai Julia dan kelompok Kurassha yang ada di Jakarta.


Mak menceritakan kalau dia baru saja bergabung dengan bos Tirta, karena itu dia tidak tau sama sekali mengenai Kelompok Kurassha yang ada di daerah lain. Mak juga mengatakan kalau dia direkrut oleh bos Tirta dari pertarungan jalanan final.


"Kau bilang pertarungan jalanan?" tanya Riyan


"Benar" jawab Mak


"Kau pernah bertarung dengan Tony?"


"Tentu saja, dia lawan ku di final. Tapi pertandingan terhenti karena sergapan polisi dan kami di bawa pergi dari tempat itu" jawab Mak


"Lalu dimana dia sekarang?"


"Kalau kau mau membunuhnya, lupakan saja! Waktu itu dua orang asing menyerahkannya kepada seseorang, dan kalau aku tidak salah dengar, dia dibawa ke Rusia" jelas Mak


Riyan pun berdiam diri mendengar hal itu, dia khawatir kalau temannya menjadi tawanan NOZ. Setelah siap, Mereka pun akhirnya memutuskan untuk kembali dan membawa Mak bersama mereka.


"Sebelumnya kita harus membakar tempat ini untuk menghilangkan bekas keributan ini" ucap Riyan


Mereka pun memindahkan tubuh anak buah bos Tirta yang berada di halaman ke dalam rumah, kemudian membakar kediaman bos Tirta dari dalam.


Untunglah jarak dengan rumah tetangga lumayan jauh, Selain itu halaman yang luas membuat api tidak akan sampai kerumah penduduk lain.


Riyan bersama dengan Tari kemudian berjalan menuju mobil Riyan yang diparkir sedikit jauh dari kediaman bos Tirta. Mereka ingin mencari Mila di kota Palangkaraya, berharap Mila belum dibawa ke Jakarta.


Sedang Heru bersama anggotanya dan juga Yusni menaiki mobil lapis baja mereka untuk kembali ke Seruyan. Disaat Adrian menyalakan mobil lapis bajanya, Tiba-tiba sebuah mobil Van datang dan berhenti di depan pagar. Itu adalah kelompok yang bertugas mencari informasi kematian Mike, mereka baru saja kembali dari kota Muriya.


Adrian yang memegang kemudi dan Lei yang ada di sampingnya segera turun dari mobil. Dengan senjata api di tangan, mereka siap melawan orang-orang itu.


"Itu seperti mobil anak buah Tirta" ucap Tari


"Kalau begitu akan ku cari informasi dari mereka" ucap Riyan berlari ke arah mobil Van dengan masih memegang pedang oriental di tangannya dan memunculkan kembali armor di kepalanya.


Anak buah bos Tirta yang berada di dalam mobil ketakutan melihat mobil lapis baja dan kediaman bos Tirta yang terlihat ada api dari dalam. Mereka memundurkan mobil Van itu dan berencana kabur.


Namun Riyan berlari dengan cepat mengejar mereka dan mengubah pedang oriental menjadi bentuk Beam Attack.


"Apa yang dia lakukan?" ucap Adrian melihat Riyan berlari ke arah mobil Van


Orang dari dalam mobil Van menembaki Riyan melalui jendela mobil.


"Kling..kling..kling"


Riyan menangkis peluru dari anak buah bos Tirta dengan pedangnya, membuat peluru itu berjatuhan di kakinya. Kemudian Riyan menebaskan pedang oriental dengan kuat hingga mengeluarkan sebuah sabit merah besar yang menghantam mobil Van hingga terbalik.


Riyan mendekati mobil Van yang terbalik itu untuk memeriksa orang yang selamat. Adrian dan Lei kembali masuk kedalam mobil, mereka meminta Tari ikut masuk dan kemudian mendatangi Riyan dengan mobil lapis baja itu.


"Kau juga melihatnya kan?laser berbentuk sabit yang keluar dari pedang Riyan" tanya Adrian


"Ya, kau tidak sedang berhalusinasi" jawab Lei


Dari dalam mobil Van yang terbalik itu, tiga anak buah bos Tirta merangkak keluar dengan luka di badannya.


"Siapa yang mengetahui tentang markas kelompok kalian di Jakarta?" tanya Riyan


Mereka bertiga menggelengkan kepala, tidak ada yang mengetahui informasi tentang itu.


"kami hanya bawahan, tidak pernah keluar dari kota ini" ucap seorang dari mereka


"Sia-sia saja" ucap Riyan


Mobil Adrian tiba di belakang Riyan, Lei dan yang lainnya turun dari mobil dan menodongkan senjata kepada tiga anak buah bos Tirta yang ada di sana.


Riyan pun berjalan kearah mobilnya diikuti Tari. Mereka berdua menaiki mobil Riyan dan pergi ke pusat kota Palangkaraya untuk mencari Mila.


"Ternyata kau memang sosok hitam yang mengalahkan Joni waktu itu" ucap Tari


"Kemana kita harus mulai?" tanya Tari


"Hotel, orang seperti mereka pasti menginap di hotel" jawab Riyan


Waktu menunjukkan pukul 23.54 malam, sudah 7 hotel berbintang di kota Palangka raya dikunjungi Riyan namun tidak menemukan tamu atas nama Julia.


Pada Hotel ke delapan, di sana resepsionis memberitahukan terdapat tamu dengan nama Julia Indriani. Riyan menjadi bersemangat dan menanyakan kamar wanita itu kepada petugas resepsionis.


"Wanita itu sudah disini selama tiga hari dan baru tadi sore cek out"


ucap Resepsionis


"Apa dia bersama seorang gadis?" tanya Tari


"Iya, sebelumnya dia datang sendiri tapi tadi sore dia pergi bersama anaknya yang sakit" balas Resepsionis


"Sakit?" tanya Tari heran


"iya, wanita itu bilang anaknya sakit. Sejak tiba tadi siang sampai wanita itu check out sore tadi, anaknya masih belum bangun" jelas resepsionis


Tari kemudian mengambil Handphonenya untuk mencari foto Mila kemudian menunjukkannya kepada resepsionis hotel.


"Apa ini anaknya?" tanya Tari menunjukkan foto di Handphonenya


"Iya benar anak itu, dia masih berseragam sekolah" balas resepsionis


Riyan segera pergi dari hotel dengan bergegas, Tari pun mengejar Riyan setelah mengucapkan terima kasih kepada resepsionis. Riyan memasuki mobilnya dan juga Tari yang mengikutinya, kemudian menjalankan mobilnya menuju kota Muriya kembali kerumah.


"Wanita itu pasti membius Mila. Aku akan ke Jakarta besok pagi, kau tunggulah di rumah!" ucap Riyan kepada Tari


Melihat Riyan dengan tampang serius, Tari hanya menganggukkan kepalanya saja. Meskipun ingin membantu, Tari sadar kalau dirinya hanya akan memperlambat Riyan jika mengikutinya.


Riyan dan Mila hampir memasuki kota Muriya. Di tengah perjalanan dimana kanan dan kiri adalah semak hutan, Riyan melihat perkelahian seorang pria dengan penutup kepala di kelilingi tiga orang di bawah lampu jalan. Orang-orang itu meninggalkan kendaraan mereka di tengah jalan sehingga membuat mobil tidak bisa lewat.


Riyan pun turun dari mobil tanpa mematikan mesin dan meninggalkan Tari yang sedang tertidur. Riyan hanya turun untuk memindahkan motor yang menghalangi jalan mobilnya agar bisa melanjutkan perjalanan.


Riyan melihat kalau pria itu sanggup melawan ketiga orang yang mengeroyoknya. Dibawah lampu jalan yang redup, wajah orang-orang itu terlihat samar.


"Sepertinya aku kenal" ucap Riyan dalam hati melihat pria dengan penutup kepala.


Namun dia tidak memperdulikan perkelahian itu, pikiran Riyan hanya untuk mengantar Tari kembali pulang dan menyiapkan keberangkatan ke Jakarta mengejar adiknya. Dia pun memindahkan motor-motor yang menghalangi jalannya kemudian kembali menuju mobil.


Ketika Riyan hendak memasuki mobilnya, lampu terang yang berasal dari lima buah motor besar datang menyilaukan mata Riyan. Begitu motor dimatikan, terlihat orang-orang dari motor itu turun membawa pemukul dari kayu dan ikut menyerang orang dengan penutup kepala.


Menghadapi sepuluh orang dengan sebagian membawa pemukul, membuat pria itu kewalahan. Salah satu dari mereka menarik penutup kepala pria itu hingga terlepas.


Saat itu Riyan melihat kalau pria itu adalah Safri, mantan rekan David. Ketika sebuah pemukul kayu hampir mengenai kepala Safri, Riyan tiba-tiba melompat ketengah perkelahian itu dan menendang orang yang hendak memukul kepala Safri.


Orang-orang itu membentuk lingkaran mengelilingi Riyan dan Safri. Dibawah lampu jalan, Safri yang melihat Riyan di sampingnya menjadi tenang dan tersenyum.


"Hosh....hosh...aku tidak menyangka bertemu denganmu disini, sepertinya aku akan selamat malam ini" ucap Safri yang tengah kelelahan


"Setelah ku bereskan orang-orang ini, ada yang ingin ku bicarakan padamu" ucap Riyan dengan santai


"Baiklah, kuserahkan padamu" ucap Safri duduk dibawah lampu jalan


Kemudian orang yang mengelilingi mereka menyerang Riyan dan Safri. Riyan menahan semua serangan dari orang-orang itu dengan cepat, bahkan melindungi Safri yang sedang duduk dari serangan pemukul kayu dan tendangan.


Riyan menggunakan Jeet Kune Do nya melawan 10 orang itu, gerakan cepatnya sama sekali tidak bisa di tandingi oleh mereka. Dengan wajah dan tubuh memar, orang-orang itu pergi menaiki motor mereka dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Ayo!" ucap Riyan kepada Safri


Safri berdiri dan mendekati motornya. Dia melihat motornya yang saat ini rusak parah akibat serangan oleh orang-orang barusan.


"kenapa ?" tanya Riyan


"Motorku di hancurkan orang-orang brengsek itu" ucap Safri


"Sudahlah! kau mau kemana?akan ku antar" ajak Riyan


"Seruyan" ucap Safri


Safri mengikuti Riyan dan masuk kedalam mobilnya, di dalam mobil itu dia melihat Tari sedang tidur pada kursi depan di samping kemudi. Mobil pun kembali dijalankan oleh Riyan dengan cepat.


"Kau dari mana?sampai mengajak Tari" ucap Safri yang duduk di kursi belakang.


"lupakan itu, aku akan bertanya kepadamu. Apa kau kenal Julia?"


"Kalau yang kau maksud Julia Indriani dari Kurassha, aku tidak kenal. Tapi aku tau kalau dia sekretaris ketua Kurassha cabang Jakarta" jelas Safri


"Apa kau tau dimana markas mereka?" tanya Riyan lagi


"Ya, aku pernah dua kali ke tempat itu bersama David waktu mengawal bos Tirta dulu. Kenapa kau sangat ingin tau?" ucap Safri


Riyan menceritakan kepada Safri tentang kejadian penculikan Mila dan Tari, kejadian pembakaran rumah bos Tirta, hingga pencarian Julia yang membawa adiknya.


"Kenapa sekretaris ketua cabang datang kemari? pasti ada yang tidak beres disana" ucap Safri


"Kudengar dari pengawal baru Tirta, wanita itu sekarang menjadi ketua baru cabang Jakarta. Kudengar dia ingin menyerahkan adikku kepada bos besar Kurassha" balas Riyan


"Kalau begitu kau harus cepat! aku memang belum pernah bertemu bos besar Kurassha, tapi kudengar kalau orang itu seorang pedofil. Kalau Julia berniat menyerahkan adikmu kepadanya, itu sama sekali tidak bagus" jelas Safri


"Beritahu aku dimana alamat markas mereka!" ucap Riyan menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan mobilnya.


*Markas Kurassha Jakarta*


Setelah disuruh mandi dan berganti pakaian dengan yang sudah di sediakan, yaitu sebuah kaos polos warna biru muda dengan celana pendek. Mila diserahkan kepada anak buah Julia untuk dimasukkan kedalam kamar para tahanan.


"kau beruntung bos besar sedang keluar negeri dan baru kembali tiga hari lagi" ucap Julia


Mila dimasukkan ke dalam sebuah kamar bersama dengan tahanan lainnya. Di dalam kamar itu terdapat para gadis muda mulai dari remaja SMP sampai SMA. Mereka semua terlihat dalam keadaan ketakutan dan beberapa ada yang menangis.


Melihat situasi seperti itu membuat Mila juga ikut merasakan takut.


"Kakak tolong Mila" ucapnya meneteskan air mata