NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 38 Penyergapan



Disela kegembiraan Prof Gema yang sudah menemukan serum terbarunya, permasalahan lain muncul untuk dipecahkannya. Serum yang baru itu masih tetap belum bisa digabungkan dengan darah milik Lusi, yaitu gen yang sudah mengalami peningkatan dari serum sebelumnya. Hal itu seolah berperan sebagai antibody yang selalu menghalangi penyatuan untuk membangkitkan kemampuan baru.


Prof Gema terus melanjutkan mencari solusi agar serum tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan Lisa. Dua buah serum yang sudah dibuatnya sudah disiapkan untuk dicampur dengan darah hewan. Prof Gema berencana menggunakan hewan buas yang kuat untuk melengkapinya. Setengah jam kemudian karena tidak kuat menahan kantuk, akhirnya prof Gema tertidur didepan komputernya yang masih menyala.


*Gudang tempat pertarungan berlangsung*


Tiga dari para petarung sudah jatuh, tersisa 3 orang dalam kerangkeng besi. Peserta nomor 2, nomor 8 dan Tony sebagai peserta nomor 14. Pintu dibuka sementara dan beberapa orang masuk untuk mengambil tubuh 3 orang yang sudah terkapar di lantai arena.


Setelah pintu itu kembali di tutup, Tony dan petarung nomor 8 bersamaan menyerang nomor 2. Dengan tangkas orang itu berhasil menahan serangan keduanya, bahkan sempat melancarkan pukulan balasan kepada peserta nomor 8. Serangan balasan itu membuatnya terpaksa menghindar dengan melompat dan berpegang pada dinding kerangkeng besi, petarung no 8 menempel seperti seekor cicak.


Pertarungan berlanjut antara Tony dan peserta nomor 2, dan disaat yang tepat peserta nomor 8 melompat dari dinding kerangkeng melakukan tendangan dengan dua kakinya ke punggung peserta nomor 2. Tubuh nomor 8 yang terdorong akibat tendangan itu disambut pukulan telak dari Tony tepat diwajah, hingga membuat nomor 8 jatuh tidak sadarkan diri seketika.


Ditengah sorakan penonton yang riuh, tanpa membuang waktu petarung nomor delapan bergerak cepat seperti seekor monyet mendekat kepada Tony. Dengan memasang kuda - kudanya Tony bersiap menahan serangan yang akan datang dari hadapannya.


Namun Tony terkecoh dengan gerakan lincah orang itu. Begitu sudah dekat dengan Tony, dia melompat ke arah dinding kawat arena dan kemudian melakukan tendangan langsung dari samping dengan kedua kakinya. Tendangan yang cukup kuat untuk membuat Tony terlempar sampai sisi lainnya.


Penonton sangat gembira melihat pertarungan itu, termasuk bos Tirta dan dua orang asing dilantai dua. Tony bangun dan membersihkan debu dari pakaiannya, lawan yang dihadapinya kali ini berbeda dari semua yang pernah dia hadapi sebelumnya.


Meskipun tubuh lawannya tergolong kecil, namun gerakannya sangat lincah. Tony melompat lompat kecil untuk melemaskan otot -ototnya. Sedang petarung nomor 8 itu merangkak kesamping seperti seekor hewan yang bersiap menyerang mangsanya.


"sikecil itu menarik juga " kata Brian


"aku setuju, teknik bela dirinya unik, lebih mirip seperti parkour " tambah Thomas


Toni tersenyum, kemudian menggerakkan tiga jarinya untuk memorovokasi lawannya agar menyerang. Sama dengan gerakan sebelumnya, nomor 8 bergerak seperti seekor monyet dan kali ini melompat tinggi sambil melakukan ancang - ancang untuk memberikan sebuah pukulan keras.


Akan tetapi tinju nomor 8 tidak sampai mengenai wajah Tony, malah sekarang dia tertahan di udara dan terjatuh. Hal itu disebabkan salah satu kakinya di tangkap oleh petarung nomer 2 yang sudah siuman. Dengan kedua tangannya sebagai penopang, Petarung nomor 8 berusaha membebaskan kakinya dengan melakukan tendangan menggunakan satu kakinya yang masih bebas kearah perut.


Brian sangat terhibur melihat kelincahan petarung nomor 2 hingga dia berdiri dari tempat duduknya. Petarung nomor 2 terpaksa melepas pegangannya untuk menghindari tendangan kaki petarung kecil itu. Dengan Lincah petarung kecil itu berguling setelah berhasil lepas dari tangan nomor 2, akan tetapi dia melupakan satu hal bahwa mereka tidak hanya berdua didalam arena mematikan itu.


Tiba - tiba tendangan kuat dari tekhnik taekwondo Tony langsung mendarat di wajah petarung kecil itu. Seketika membuat petarung nomor 8 terhempas ke dinding kawat besi, kemudian petarung nomor 2 berlari kearah petarung nomor 8 dan memberikan serangan lutut kearah dadanya.


Petarung nomor 8 sekarang tersungkur diatas arena dengan memuntahkan darah. Sorak penonton semakin riuh melihat kejadian itu, pintu kembali dibuka untuk mengeluarkan petarung nomor 8.


"Sekarang tinggal kita berdua, kita akan bersenang - senang sampai akhir. Jadi sebutkan namamu " kata petarung nomor 8 sambil memutar - mutar bahunya.


"aku Tony " ucap Tony


"baiklah Tony, namaku Mak. Mari kita mulai " ucap Mak


Mak berlari dengan cepat kemudian melompat dan mengarahkan lututnya kepada Tony, sedikit menggerakkan tubuhnya kesamping membuat Tony berhasil menghindari lutut Mak kemudian bergerak menjauh.


"dari nama dan cara bertarung muay thai mu, apa kau asli Thailand ? " tanya Tony


"benar, aku baru 5 tahun disini " jawab Mak sambil berjalan menuju Tony


Kombo pukulan cepat dari Mak berhasil dihalau dan diimbangi oleh Tony. Pertarungan keduanya semakin memicu adrenalin penonton, dan Brian bahkan lebih bersemangat dari sebelumnya. Serangan Muay thai yang keras dan stabil dari Mak membuat Brian juga ingin bertarung melawannya.


Tony bahkan sekarang kewalahan menahan serangan dari Mak. Serangan dari siku dan pukulan kerasnya tidak bisa dianggap remeh, Tony memutuskan bertarung cerdik dengan cara menghindar sambil menyerang seperti gaya bertarung Riyan yang pernah dilihatnya sewaktu perkelahian dengan David dan lainnya.


Mak kembali menyerang Tony dengan siku nya, kali ini Tony mencoba menghindar sekaligus menyerang secara bersamaan. Tony mundur untuk menghindari serangan siku dari Mak, disaat bersamaan Tony melakukan tendangan tinggi yang cepat mengenai kewajah Mak membuat keningnya terluka mengeluarkan darah.


"wah, kau sangat hebat, aku tidak menduga akan serangan itu " ucap Mak sambil mengusap luka di keningnya.


"kau terlalu memujiku " balas Tony sedikit tersenyum


Sorakan penonton yang meneriakkan nama kedua petarung memenuhi ruangan bekas gudang disana. Teriakan itu membangkitkan semangat bertarung Mak dan Tony, keduanya melanjutkan pertarungan dengan saling menyerang.


Di tengah kerumunan penonton, seorang pemuda yang mengenakan kaos biru dan topi hitam terlihat sedang melakukan panggilan lewat telepon. Lima menit kemudian puluhan polisi menggunakan rompi antipeluru dilengkapi dengan senjata api menerobos masuk dan mengepung tempat itu. Meja taruhan diamankan dan semua yang hadir disana diperintahkan berkumpul di tengah ruangan tepat sekitar arena.


Penyergapan itu membuat pertarungan antara Mak dan Tony otomatis terhenti. Tony menoleh mencari - cari Rosa ditengah kerumunan disana, dan benar saja Rosa juga ikut berada dalam tawanan penonton anggota kepolisian yang menyerbu masuk tempat itu.


'kenapa Rosa tidak memberitahukan apapun kepadaku mengenai penyergapan ini ? ' pikir Tony


Beberapa dari penonton disana dipaksa untuk masuk kedalam arena hingga kandang besi itu menjadi penuh dengan manusia termasuk Rosa.


'Identitasku memang sangat dirahasiakan, tapi kenapa Rosa juga ikut jadi tawanan ? apa ini bagian dari rencana kepolisian atau rencana interpol ? ' begitu banyak pertanyaan yang ingin Tony ketahui jawabannya mengenai kejadian ini.


Para polisi menaiki tangga menuju lantai dua untuk menangkap orang - orang disana termasuk Brian dan Thomas yang dari tadi dengan santainya menyaksikan kejadian dilantai bawah.


"semuanya jangan bergerak " teriak para polisi


Masih duduk dengan santainya dikursi, Brian memalingkan wajahnya kearah para polisi dan senyum lebar pemangsa terlihat diwajahnya.


"kalian orang - orang bodoh, beraninya mengganggu acara kami " teriak bos Tirta dari lantai atas kemudian membalikkan jempolnya seperti raja - raja yunani yang memerintahkan pembunuhan kepada gladiator yang kalah di arena.


Teriakkan bos Tirta membuat para polisi yang berada di lantai bawah melihat kearahnya, seketika suara tembakan memenuhi gudang tersebut. Tembakan itu berasal dari senjata api jenis pistol milik anak buah bos Tirta yang berada di tengah kerumunan penonton. Seolah sudah dipersiapkan, banyak anak buah bos Tirta berada di kerumunan itu.


Masing - masing anak buah bos Tirta menembak satu orang polisi. Dengan hanya jarak 1 meter tentu saja tembakan kearah kepala tidak akan meleset, dan akibatnya para polisi yang berada dilantai bawah semuanya tewas seketika.


Polisi yang berada di atas segera melihat sumber tembakan dari lantai bawah dan seketika itu juga mereka dihujani tembakan dari anak buah bos Tirta dari lantai bawah maupun atas. Hanya saja dengan jarak yang cukup jauh menyebabkan tembakan itu mengenai rompi anti peluru.


Tembakan dari lantai atas dan bawah hanya bisa membuat mereka berlindung pada tangga yang menghubungkan dua lantai tersebut. Untunglah tangga itu bukan tangga terbuka yang terbuat dari besi, melainkan berbentuk dinding yang terbuat dari beton.


Para polisi sekarang terpojok dan hanya bisa membungkuk untuk melindungi diri dari hujan peluru, dengan sambil bersiaga apabila ada yang datang dari atas maupun bawah. Sesaat kemudian tembakan berhenti, dan tiba - tiba orang asing dengan kemeja hawai mendarat di ujung tangga bawah seperti habis melompat dari atas.


Ketujuh polisi menghujaninya dengan tembakan, namun orang itu dengan cepat melompat sangat tinggi untuk menghindari peluru. Sebelum mendarat Brian melemparkan 3 bola kecil seukuran kelereng kemudian meledak memancarkan cahaya yang sangat terang, itu adalah sebuah flashbang.


Setelah semua orang membuka matanya, di sana Brian sudah berdiri ditengah tangga dengan mayat ketujuh polisi dibawahnya.


*Kantor Polda Kal Teng *


Keesokan harinya pukul 09.00 pagi, diruangan kantor dimana sedang diadakan rapat tertutup mengenai penangkapan kriminal berskala besar. Kapolda, para Kapolres, dan 2 agen Interpol Indonesia bersama - sama membahas strategi untuk pembongkaran kedok beberapa penjahat terorganisasi seperti Kurassha.


Polres Palangka Raya angkat bicara dan mengatakan bahwa tadi malam dini hari, mereka melakukan penyergapan ke salah satu gudang tempat rahasia kelompok Tirta. Dimana tempat itu merupakan tempat taruhan pertarungan ilegal, dan indikasi beberapa kemungkinan terjadi transaksi narkoba di tempat itu.


'tadi malam adalah pertarungan Tony, apa dia dan Rosa juga ikut di tangkap ' pikir Kapolres Muriya


Belum selesai Kapolres Palangka Raya menceritakan semuanya, Kapolres Muriya memotong cerita yang disampaikan Kapolres Palangka Raya.


"Jadi bagaimana hasilnya, apa kalian sudah menangkap semuanya ? " tanya Kapolres Muriya


"itulah masalahnya, semua anggota kepolisian yang melakukan penyergapan terbunuh, kami menemukan mayatnya di dalam sebuak truk yang diparkir di depan kantor pukul 05.00 tadi pagi. Bahkan intel yang kami susupkan menjadi penonton disana juga kehilangan nyawanya " jelas Kapolres Palangka Raya


Kapolres Palangka kehilangan banyak anggota terbaiknya, kemudian meminta penambahan personil untuk melakukan serangan terbuka tempat itu. Namun pihak dari Interpol angkat bicara dan mengatakan bahwa menyerang tempat itu akan sia - sia karena orang - orang itu pasti sudah tidak ada disana.


Mendengar perkataan dari perwakilan Interpol, Kapolres Palangka sedikit kecewa sedang Kapolres Muriya menjadi khawatir terhadap Rosa dan Tomy.


Usai rapat Kapolres Muriya mengirimkan pesan singkat kepada Rosa dengan bahasa yang hanya dipahami mereka. Beliau kembali menuju kota Muriya diikuti dua orang dari Interpol. Dalam waktu 3 jam beliau sudah sampai di Polres Muriya.


"Agus, Ivan kenapa kalian mengikuti ku ?" tanya Kapolres kepada dua orang Interpol


"kau pasti sudah menghubungi anak buahmu untuk mendapat informasi, kami juga ingin mendengarkan " jawab Ivan


Mereka langsung menuju kantor Kapolres dan didalam sudah ada Rosa mengenakan gaun hitam panjang dengan rambut ekor kudanya seperti biasa.


"apa kau habis dari pesta ? " ledek Agus


"pesta kematian di gudang Tirta, iya " balas Rosa


"jadi kau berada di sana ? " tanya Agus terkejut


Kapolres kemudian duduk dan meminta Rosa menceritakan mengenai kejadian itu sekaligus kemajuan rencana mereka untuk memasukkan Tony kedalam kelompok itu.


Rosa menceritakan detail kejadiannya, dimana saat itu dia berada di kerumunan orang yang dikumpulkan di tengah gudang dalam arena yang dikurung kerangkeng kawat besi.


Rosa melihat pembantaian yang dilakukan anak buah bos Tirta di lantai bawah, dia menilai perlawanan dari anak buah bos Tirta seolah penyergapan itu sudah diketahui. Ditambah kemunculan senjata dari orang - orang bos Tirta yang misterius entah darimana.


"bisa saja rencana itu memang bocor, itulah sebabnya Kapolres Palangka Raya mengatakan bahkan intel yang menyamar disana juga ikut terbunuh " ucap Kapolres


Namun kemudian cerita Rosa fokus tertuju kepada seorang pria asing dengan kemeja hawai biru yang membunuh ketujuh polisi ditangga. Rosa memberitahukan detail orang asing itu, Pria dengan tinggi 185 cm berambut pendek pirang.


"apa dia mengenakan dua anting di telinga kirinya ? " tanya Ivan tertarik


"benar, dua anting panjang berbentuk pedang atau petir kurasa " jawab Rosa


Ivan dan Agus saling menatap seolah mengetahui siapa yang sedang dideskripsikan oleh Rosa. Melihat tingkah keduanya, Kapolres langsung menanyakan kepada dua orang agen Interpol itu.


"apakah kalian mengetahui orang itu ? " tanya Kapolres


"dari penjelasan Rosa, kemungkinan besar itu adalah Brian " jawan Ivan


Ivan kemudian menjelaskan kalau Brian adalah orang yang berbahaya, dia juga merupakan orang yang dicari oleh CIA karena telah membunuh banyak agen mereka. Informasi terakhir dari CIA adalah Brian merupakan salah satu anggota NOZ.


"orang itu seperti monster, kalau NOZ mempunyai banyak orang seperti itu.... entah bagaimana caranya kita menghadapinya " ucap Rosa


"Jika benar organisasi NOZ yang memberi dukungan dibelakang kelompok Kurassha ini, maka Indonesia dalam keadaan bahaya " kata Ivan


"kau benar, mereka selalu membuat kekacauan dalam negeri yang ditinggalinya, itulah sebabnya organisasi bernama NOZ ini menjadi masalah hampir di seluruh negara di dunia " kata Agus


"bagaimana dengan Tony ? " tanya Kapolres kepada Rosa


"Tony dan petarung lain bernama Mak dibawa oleh bos Tirta dan lainnya setelah menghabisi polisi disana, dan saya tidak bisa mengikuti mereka pak " jawab Rosa


"Kita hanya bisa berharap dari Tony sekarang " balas Kapolres


*Kediaman Prof Gema*


Prof Gema terbangun dan keluar ruangan, dengan kondisi setengah tidur dia mencari - cari lisa, tentu saja tidak ditemukan karena Lisa sudah berangkat ke sekolah. Setelah melihat jam menunjukkan jam 10, dia baru sadar kalau dirinya kesiangan. Dia berencana pergi untuk mencari darah hewan di pasar hewan pusat kota, beberapa hewan liar dan unik diperjual belikan disana.


Dipasar itu Prof Gema mencari darah harimau atau binatang buas lainnya namun tidak ditemukan disana. Setelah lelah berkeliling prof Gema melihat seekor gurita kemudian membelinya, dan pilihan kedua muncul dipikirannya untuk membeli belut listrik. Kedua darah hewan inilah yang akan digunakan sebagai pelengkap serum barunya dirumah.