
Malam hari mereka tiba di kota asalnya yaitu Muriya. Mila sedikit bingung ketika pulang dari Palangkaraya, dia dibawa Riyan ke rumah kontrakan mereka. Sebuah Rumah berpagar besi setinggi 1 meter dengan tipe perumahan standar luas 16 meter persegi.
Didalamnya terdapat dapur, dua kamar tidur di ruang tengah dan satu ruang tamu. Riyan menjelaskan semuanya kepada Mila, mulai dari rumah yang perlu waktu 3 bulan untuk membangun rumah barunya sampai informasi mengenai kematian neneknya.
Informasi mengenai kematian neneknya membuat Mila terpukul dan sedih, Mila terlihat merenung di kamarnya. Riyan mencoba menyemangatinya dan menasehati kalau mereka harus menjalani hidup dengan baik untuk nenek.
Tidak berapa lama telpon Riyan berdering karena panggilan dari nomer Tony.
"Nomermu tidak aktif dari kemarin, kau tidak apa - apa?" tanya Tony
"Iya...ini baru kunyalakan, aku tidak mengisi dayanya sejak pulang dari liga kemarin, tapi kau tenang saja, aku tidak apa - apa" jawab Riyan
"Kau harus hati-hati! aku melihat diberita lokal kalau Alex dan David kabur dari penjara, Aku khawatir Alex dan bosnya itu akan membuat masalah lagi denganmu" kata Tony
"Baiklah aku akan berhati - hati dari sekarang, aku juga sudah menemukan adikku" kata Riyan
"Sebaiknya dia tidak perlu tau yang sebenarnya" pikir Riyan
"Baguslah kalau begitu, kapan kau akan ke sekolah?" tanya Tony
"Aku sudah minta tolong temanku membuatkan surat ijin selama 3 hari, jadi mungkin lusa, soalnya besok aku harus ke pasar membelikan buku dan seragam baru buat adikku" kata Riyan
"Oke..kalau begitu sampai nanti lusa disekolah ya" kata Tony menutup telpon
Keesokan harinya Riyan dan Mila membeli perlengkapan sekolah untuk mengganti yang sudah habis terbakar. Saat itu Cindy juga menghubungi Riyan untuk menanyakan kapan dia masuk sekolah, dan jawaban Riyan sama seperti jawaban dengan Tony.
Setelah sampai di rumah, Riyan mencek saldo rekeningnya. Dikurangi dengan biaya pembuatan rumah barunya, sekarang saldo yang tersisa hanya sekitar 3 juta Rupiah di tabungannya.
"Untuk sementara ini cukup untuk hidup, tapi nanti harus beli peralatan untuk rumah baru dan tagihan bulanan, sebaiknya aku segera melaksanakan permintaan dari Pak Rudy" pikir Riyan
Keesokan harinya, Riyan dan adiknya masuk sekolah seperti biasa. Disekolah dia mendapatkan sumbangan atas kejadian yang menimpanya dari teman - teman sekelasnya, kelompok Andre dan pihak Sekolah. Walau nilainya tidak terlalu besar namun Riyan menghargai niat mereka untuk membantunya.
Terlebih Fikri yang merasa tidak enak karena belum bisa mengganti uang yang dikeluarkan Riyan untuk mengganti HP Aldo tempo hari.
"Maaf yan, aku belum bisa mengembalikan uangmu disaat kau perlu seperti ini" kata Fikri
"Tidak apa, itu bukan masalah, kau tidak perlu menjadikannya beban pikiranmu" kata Riyan
Jam istirahat Riyan menuju kantin bersama Cindy untuk makan siang di sana.
"Sekarang kau tinggal dimana?" tanya Cindy
"Di rumah kontrakan dekat rumah lamaku "jawab Riyan
"Sekarang hidupnya pasti berat, dia mungkin bisa dapat beasiswa dengan kepintarannya, tapi tetap saja harus membayar kontrakan rumah dan biaya adiknya" dalam pikiran Cindy sambil menatap Riyan
"Hei...malah melamun aja" kata Riyan melambaikan tangannya di depan wajah Cindy
"Tidak apa,,,eh kau lihat berita di TV tadi malam?" tanya Cindy
"Berita apa?" tanya Riyan
"Kau ingat rumah tempat aku di culik Aldo?disana terjadi pembantaian masal terhadap bawahan Pak Tirta yang jumlahnya hampir 40 orang, beritanya saat ini sangat heboh" kata Cindy
"Terus pelakunya ketauan?" tanya Riyan
"Itu dia, menurut polisi motif pelaku belum jelas, karena CCTV disana tidak berfungsi maka Polisi akan memerlukan waktu lama untuk memeriksa semua sidik jari yang ada disana, sehingga rumah itu disegel polisi untuk sementara" jelas Cindy
"wah,,,serius juga ya" kata Riyan
Mereka menghabiskan waktu istirahatnya dengan ngobrol sambil makan di sana tanpa berpindah kemana mana. Sepulang sekolah Riyan menjemput adiknya terlebih dahulu sebelum menuju kontrakan.
Didepan pintu pagar kontrakan mereka terlihat dari kejauhan seorang wanita berbaju merah dengan rambut panjang terurai membawa tas besar ditangannya. Begitu sampai barulah terlihat jelas kalau itu adalah Tari yang sudah siap untuk tinggal bersama Mila. Kedatangan Tari membuat Mila sangat senang dan antusias dalam menyambut kehadirannya.
"asiiik...sekarang Mila punya teman di rumah" kata Mila memeluk Tari
"Tante sudah ada disini?cepat sekali" kata Riyan
"Di sana tidak ada alasan lagi untuk tinggal, sedang disini tante bisa bertemu Mila setiap hari" kata Tari
Melihat Riyan dan Mila yang masih mengenakan seragam sekolah, Tari terdiam dan memikirkan suatu hal yang janggal baginya.
"Waktu itu sewaktu dia pulang dari membeli bahan makanan untuk membuatkan makan siang Mila, dia melihat mayat para pengawal diluar pintu dan bergegas masuk. Di sana hanya ada Riyan dan Mila yang menutup mata, kalau bukan Riyan yang mengalahkan para pengawal itu, siapa lagi" Tari mengingat kembali kejadian di rumah Bos Tirta
Riyan membuka pagar dan mempersilahkan Tari masuk kerumahnya memecah lamunan Tari. Mila selalu bersama Tari hingga sore hari, Tari mendengar seluruh cerita mengenai orang tua dan nenek mereka dari Mila.
Untuk seterusnya Tari akan tidur sekamar dengan Mila, malam itu didalam kamar, Tari kembali memikirkan kejadian di rumah bosnya.
"Apa mungkin Riyan itu yang melakukannya?tapi bahkan jika seorang tentara sekalipun tidak mungkin sanggup menghadapi pengawal yang terlatih sebanyak itu, apalagi cuma seorang anak SMA" gumam Tari
Melihat Mila tidur disebelahnya, Tari keluar kamar untuk mengambil air minum. Diruang tengah Riyan sedang menonton TV dimana kejadian di rumah pak Tirta kembali diberitakan.
"Kau belum tidur?" tanya Tari mendekati Riyan
"iya, saya masih belum ngantuk tante" kata Riyan
Tari kemudian pergi ke dapur dan kembali ke ruang tengah dengan membawa sebotol air mineral dingin kemudian duduk menemani Riyan di depan TV.
"Kejadian itu...apa kau yang melakukannya?" tanya Tari
"Menurut tante bagaimana?" tanya Riyan kembali
"Aku juga tidak yakin, bukti dan logikaku bertentangan. Setelah kalian pergi, besok sorenya polisi mendatangiku, mereka bertanya mengenai peristiwa itu" kata Tari
"Lalu apa yang anda katakan?" tanya Riyan
"Jadi begitu, terima kasih" kata Riyan
"Polisi bilang semua CCTV pada saat itu rusak, juga rekaman selama 2 hari sebelumnya. Bukankah itu aneh karena bersamaan dengan kedatangan Mila, melihat dari semua kemungkinan dan kau yang berada di sana, itu seharusnya dirimu" kata Tari
"Jadi itu menurut logika tante? lalu apa yang membuat tante tidak yakin?" tanya Riyan kembali
"Bukan, itu menurut bukti yang kulihat sendiri kau berada di sana sendirian ditengah mayat para pengawal , sedang menurut logika Karena kau yang anak SMA melawan mereka para pengawal yang terlatih, itu mustahil. Tapi sudah lah yang penting aku bisa bersama Mila" jawab Tari
"Sepertinya anda sangat menyukai Mila" kata Riyan
"Tentu saja, dia seperti anakku. Kau sebaiknya tidur, besok kau harus sekolah" kata Tari kemudian berdiri menuju kamarnya
"iya, sekarang kau seperti ibuku" kata Riyan
"Itu karena aku akan mengurus kalian mulai sekarang, hehehe" kata Tari sambil tersenyum
"Tidak buruk juga, cepat atau lambat anda akan mengetahuinya" kata Riyan pelan mematikan TV dan menuju kamarnya
Malam itu Tari termenung diatas tempat tidurnya membayangkan situasinya dimana dia akan tinggal dengan dua anak sekolah yatim piatu. Tari memutuskan mencari kerja dikota ini karena sudah berniat untuk mengurusi mereka berdua.
Pagi hari, dengan bahan makanan yang ada di dapur, walau sedikit Tari memasak sarapan untuk Riyan dan Mila. Itu karena Riyan hanya membeli telur dan sayur seadanya untuk makan.
Mila dan Riyan senang ada yang memasakkan makanan untuk mereka. Sebelum berangkat sekolah Tari memberikan uang saku kepada mereka namun Riyan dan Mila menolaknya dengan halus. Setelah mereka pergi sekolah, Tari membersihkan kontrakan mereka kemudian mengenakan blazer hitam bersiap pergi untuk mencari pekerjaan.
Dia pergi ke beberapa tempat di kota ini yang memerlukan karyawan dimana informasinya dia dapat dari informasi online.
Tidak sulit bagi seorang wanita yang lumayan cantik untuk bisa diterima bekerja, apalagi dengan latar belakang pendidikannya seorang sarjana. Tari diterima bekerja sebagai resepsionis disebuah hotel di pusat kota Muriya.
Untungnya Tari mendapatkan shift pagi sampai sore sehingga bisa menyiapkan sarapan dan makan malam Riyan dan Mila. Setelah mendapatkan berita gembira ini dia pergi ke sekolah Mila untuk menjemputnya.
*Diatap sekolah*
Langit cerah berwarna biru yang tertutup awan putih terlihat jelas dilangit saat ini. Diatap sekolah Riyan dan Tony sedang berbaring menatap langit sambil mengobrol berdua di sana. Riyan menceritakan tentang Tari yang ada dirumahnya kepada Tony.
"Jadi sekarang ada wanita cantik dan seksi di rumahmu?" tanya Tony dengan keras
"Kau ini, kalau soal wanita semangat sekali, aku saja masih belum mengenalnya dengan baik" kata Riyan
"Tentu saja, pria memang harus mengagumi wanita, nanti kapan - kapan aku mampir ke tempatmu ya" kata Tony
"Untuk apa?" tanya Tony
"Aku ini ahli dalam menilai wanita, jadi aku akan memberikan penilaiannya menggantikanmu, bagaimana?" kata Tony
"Terserah kau saja, kau hanya ingin melihatnya kan" kata Riyan
"Hahahaha jangan begitu" tawa Tony
Mereka terus mengobrol sampai mengenai tujuan Tony dan Andre yang sebentar lagi lulus akan melanjutkan untuk mendaftar menjadi polisi dan Andre ingin menjadi seorang Kopasus. Bell masuk berbunyi, Tony dan Riyan kembali ke kelas masing - masing.
Sebelum sampai di kelas, Riyan ditelpon oleh pak Surya meminta untuk dikirim rusa karena stock mereka sudah habis, sekaligus menanyakan mengenai kapan kesiapan Riyan memenuhi permintaan dari temannya Rudy untuk berangkat ke hutan Amerika menangkap rusa yang mereka inginkan.
Riyan memberitahukan bahwa untuk sementara dia hanya bisa menyediakan rusa kepada pak Rudy, untuk keberangkatannya menangkap rusa langka di hutan Amerika dia meminta waktu saat liburan semester kenaikan kelas agar waktunya lebih lama. Pak Surya akan segera menginformasikan hal itu kepada temannya Rudy yang ada di malang.
Siang itu diparkiran sekolah diatas motornya, seperti biasa Riyan hendak menjemput adiknya. Tiba - tiba Mila menelponnya, dia mengatakan untuk tidak usah menjemputnya karena Tari sudah lebih dulu datang kesekolahnya.
"Wanita itu sepertinya serius dengan ucapannya, kebetulan sekali aku ingin berburu rusa dulu untuk menambah depositku" gumam Riyan mengenakan helmnya kemudian pergi menuju hutan.
Hari sudah Senja saat Riyan baru tiba di kontrakkannya setelah mengantar rusa ke restoran Natural Food milik pak Surya. Setelah mandi dan berganti pakaian, dia bergabung dengan Tari dan Mila di meja makan.
Saat makan malam Tari menceritakan tentang pekerjaan yang dia dapat untuk memenuhi keinginannya merawat Riyan dan Mila. Riyan hanya mendengarkan dan tidak bisa memaksanya untuk tidak bekerja karena takut mencampuri kehidupan Tari.
*Di Bandung*
Didalam sebuah kamar hotel, bos Tirta terlihat sangat marah mengenai berita tentang pembantaian dirumahnya, dia tidak mengira akan jadi seperti ini. Pak Tirta memerintahkan Mike menghubungi Joni.
"Tidak ada jawaban dari Joni, bos" kata Mike
"Kenapa dia? aku tidak bisa pulang saat ini, 2 hari lagi rapat dengan anggota NOZ akan diadakan lagi. Mike, coba kau terus hubungi Joni, kalau besok belum ada jawaban, kau kembali saja duluan untuk membereskan masalah di sana" perintah bos Tirta
"Baik bos" sahut Mike kemudian meninggalkan kamar bos Tirta
Bos Tirta tidak mengerti bagaimana seluruh pengawalnya di rumah itu bisa tewas. Bahkan polisi kesulitan mengidentifikasi kejadian itu karena seluruh CCTV yang ada dirumahnya semuanya mati pada saat kejadian, dan termasuk rekaman 2 hari sebelumnya yang hilang.
Beberapa saat kemudian Mike mengetuk pintu, kemudian masuk setelah diberikan ijin oleh pak Tirta. Dia datang untuk menyampaikan informasi bahwa Joni dan semua orang yang ada di rumah David sudah tewas dibunuh tanpa jejak seperti kejadian dirumah bos Tirta.
"Kenapa baru saja diketahui" teriak bos Tirta
"Itu karena beritanya baru saja tersebar bos, awalnya tetangga yang ada di sana penasaran dengan rumah david yang selalu ramai namun tiba - tiba sepi, mereka menengok melalui celah pagar dan melihat 3 mayat di depan pagar itu kemudian memanggil polisi. Polisi sudah mengidentifikasi mayat yang ada di rumah David dan salah satunya adalah Joni" jelas Mike
"Apa di sana juga tidak ada jejak sama sekali?" tanya bos Tirta
"Benar, menurut polisi seperti itu bos" kata Mike
Kedua hal ini menjadi pikiran bos Tirta seolah - olah mereka dibunuh oleh hantu. Selain itu karena masalah ini termuat di berita publik membuatnya tidak leluasa bergerak. Namun satu hal yang diyakini bos Tirta, itu adalah perbuatan Riyan.
"Mike, kau pulanglah besok pagi, cari orang untuk menggantikan posisi Joni dan Ricky. Bisnis kita tidak boleh terhenti karena hal ini. Tunggu sampai situasi mereda lalu bereskan semua itu dengan cara apapun" perintah bos Tirta
"Siap Bos" kata Mike
"Kemungkinan itu perbuatan Riyan dan teman - temannya yang ingin mendapatkan adiknya kembali" tambah bos Tirta
"Mengalahkan anak buahku sebanyak itu dan menghapus rekaman CCTV sampai dua hari kebelakang tanpa masuk keruang server, pasti ada jenius diantara mereka, aku akan membalas kalian" pikir pak Tirta dengan wajah marahnya