NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 87 Markas Utama



Sepanjang jalan gang menuju jalan raya, Riyan masih berfikir cara untuk mengejar Afri.


"Masih 29 menit lagi baru mobil itu bisa kuambil, apa ku ambil sekarang saja ya" gumam Riyan.


Begitu keluar sampai jalan Raya, sebuah mobil keluarga berhenti tepat di depan Riyan. Itu adalah mobil yang dinaiki oleh Julian dan Maria.


"Kebetulan sekali, karena itu mereka. Kupikir tidak apa mengajak mereka sekalian" gumam Riyan


Kaca mobil diturunkan, terlihat Julian yang berada di kursi samping Maria yang mengemudikan mobil.


"Apa kau baru saja dari Xforu?kami dengar di sana terjadi pertempuran antara polisi dan penjahat" ucap Julian


"Jangan khawatir, mereka itu hebat. Lebih penting sekarang biarkan aku mengemudi" ucap Riyan memutari mobil dan membuka pintu agar Maria turun dari kemudi.


"Kita akan mengejar anggota Kurassha yang memegang diskotik Xforu" ucap Riyan


Mendengar hal itu Maria turun dan berpindah ke kursi belakang, Riyan pun mengambil alih kemudi mobil itu dan menjalankannya. Sebelum masuk mobil, Riyan meminta Alpha menunjukkan jalan agar terhindar dari kemacetan.


"Kemana mobilmu?" tanya Julian


"Bengkel, baru saja kaca belakangnya pecah dan beberapa bagian rusak terkena peluru dari anggota Kurassha saat aku menyelamatkan seorang polisi" jelas Riyan sambil menyetir dengan cepat.


"Lalu kemana kita akan pergi?" tanya Julian


"Jakarta Selatan, aku juga tidak tau nama tempatnya" jawab Riyan


Riyan terus melaju mengikuti petunjuk arah di peta hologram dari Alpha, melewati jalan tikus dan memasuki Tol untuk menghindari kemacetan hingga memasuki daerah Jakarta Selatan.


"Untuk orang yang baru pertama kali ke Jakarta dan bisa tahu jalan sedetail ini, dia memang tidak biasa" pikir Maria


*Markas utama Kurassha*


Sore itu hampir semua ketua Kurassha hadir di sana, Sejumlah orang mengenakan setelan resmi berkumpul didalam sebuah ruangan, duduk pada sebuah kursi mewah yang mengelilingi satu buah meja besar berbentuk persegi panjang.


Kursi didalam berjumlah 25 buah dengan posisi berhadapan yaitu 12 disisi kiri meja dan 12 di sebelah kanan,dan satu lainnya mengisi di sisi lainnya dari meja besar itu. Setiap ketua pimpinan daerah provinsi duduk di kursi masing-masing.


Terdapat 5 kursi kosong di sana, yang artinya 5 ketua daerah tidak ikut menghadiri pertemuan itu. Rei memimpin pertemuan itu dengan menduduki satu kursi yang berada di sisi lainnya.


Setelah sedikit salam pembukaan dan basa basi, Rei mengutarakan maksud pertemuan yang mungkin sudah diketahui sebagian ketua yang hadir di sana.


"Selain mengenai kekosongan ketua di Jakarta, ada satu hal lagi yang lebih genting" ucap Rei


Para ketua yang hadir di sana mulai penasaran apa maksud perkataan Rei. Tidak lama kemudian Rei meminta Afri yang dari tadi bersandar di dinding untuk berdiri di samping kursinya.


"Afri, ceritakan kepada kami mengenai Julia dan semua yang kau tahu!"


"Baiklah, semuanya berawal ketika Julia membawa seorang gadis dari luar kota....."


Afri kemudian menceritakan kejadian dari awal hingga perang dengan pihak kepolisian hari ini.


****


Sementara itu Riyan dan yang lainnya sudah berada di seberang jalan markas utama Kurassha. Rumah yang sangat besar dan terlihat sangat normal dari luar pagar putihnya, namu juga terdapat pos penjaga seperti kediaman Julia namun pada bagian dalam pagar.


"Disini?" tanya Marian kepada Riyan


"Ya"


Maria mengambil sebuah koper kecil berwarna hitam dari belakang kursi mobilnya, kemudian menyerahkannya kepada Julian yang berada di samping Riyan.


Sebuah keyboard dilengkapi touchpad dan monitor terlihat ketika koper itu dibuka, seperti sebuah laptop. Pada bagian kiri terdapat sekat dimana robot berbentuk lebah kecil beserta alat kendali tertanam di sana.


Julian mengambil robot lebah itu beserta alat pengendalinya, kemudian meletakkan robot kecil itu pada dashboard mobil.


"Apa ini Drone?" tanya Riyan mengamati robot yang sangat mirip dengan lebah asli itu.


"Benar,kita akan memeriksa rumah itu" ucap Julian menyalakan robotnya.


"Ngiiiiiing" sayap robot kecil itu mengepak dengan sangat cepat.


Robot lebah itu bergerak melayang, kemudian terbang keluar jendela mobil menuju markas utama Kurassha.


"Wah keren sekali" ucap Riyan kagum melihat hal itu


"Dasar bocah anak baru" ucap Maria


"Hei, aku kan masih SMA. Lagipula tidak ada hal seperti itu di tempatku, hehe" balas Riyan


"Sudah!sekarang kita perhatikan saja situasi di sana" ucap Julian


Setelah mendaratkan lebah mereka di atas tembok pagar markas Kurassha, Julian menyalakan komputer berbentuk koper itu.


"Kenapa aku tidak melihat benda itu di markas?" tanya Riyan


"Itu karena kau tidak mau masuk ruang perlengkapan dan senjata" balas Maria


"Owh"


"Lain kali aku akan memilih peralatan keren di sana" ucap Riyan dalam hati


Beberapa detik kemudian layar monitor di koper menampilkan hal yang sama dengan apa yang tertuju oleh mata lebah robot itu.


Dibalik tembok dan pagar putih itu terlihat halaman yang sangat luas dan berjarak sekitar 100 meter dari pagar menuju pintu masuk. seorang penjaga bersetelan hitam berdiri menjaga pagar masuk, Sedang di dalam pos penjagaan terdapat 4 orang penjaga lagi.


Julian melakukan zoom yang diarahkan kedalam pos masuk, di dalam tempat itu terlihat sebuah tombol yang digunakan untuk membuka dan menutup pagar.


"Pagar itu cuma bisa dibuka dari dalam dengan menekan tombol itu" ucap Julian


Selain itu terlihat begitu banyak mobil mewah yang parkir di halaman itu.


"Mobilnya banyak sekali, apa sedang ada acara?" ucap Maria


"Entahlah, coba kita intip kedalam" sahut Julian


Robot lebah kecil kemudian terbang melintasi halaman luas itu. Dengan bentuk seperti lebah kecil asli, tidak ada seorangpun yang curiga kalau benda itu adalah sebuah drone pengintai.


"Halaman itu luas sekali, apa baterai drone itu cukup?" ucap Riyan


"Memangnya kau pikir ini drone di pasaran" sahut Julian mengendalikan robot lebah itu dari dalam mobil.


Di depan pintu masuk markas utama itu, terdapat 4 penjaga berdiri di posisi masing-masing sambil memperhatikan sekitar.


Dengan pintu yang memang terbuka, lebah kecil itu terbang hingga langit-langit rumah kemudian masuk kedalam. Hanya berjarak 4 meter, mereka mendapati sebuah ruang tamu dengan pilar besar yang berada di tengah ruangan. Bahkan diruang tamu juga terlihat banyak penjaga yang sedang duduk santai di kursi.


"Astaga, ini sudah seperti markas militer saja" ucap Riyan


Sepanjang jalan masuk terdapat penjaga di setiap sudut ruangan hingga sampai di ruang tengah, terlihat 3 jalur masuk lain dan 2 buah pintu. Tentu saja di ruangan ini juga banyak penjaga dengan senjata api terkalung di leher mereka.


"Sekarang jalur mana yang harus kita masuki?atau langsung melewati salah satu pintu itu?" kata Julian sedikit bingung


"Coba jalur yang kanan!" ucap Riyan


Julian menuruti perkataan Riyan dengan menggerakkan robot kecilnya ke jalur masuk sebelah kanan. Di ujung jalur terdapat sebuah pintu besar dengan ukiran etnik, bersama dengan puluhan penjaga di depannya.


"Di depan pintu itu banyak sekali penjaganya, sepertinya ada acara penting" ucap Maria di kursi belakang.


"Kalau begitu kita lihat saja" sahut Julian


"Tapi bagaimana caranya masuk?bahkan tidak ada ventilasi di atas pintu itu" ucap Riyan


"Hehe, kau perhatikan saja anak baru" ucap Julian dengan nada mengejek


Raut muka Riyan berubah menjadi serius, dengan rasa penasaran dia menunggu maksud dari perkataan Julian.


Robot lebah itu bergerak dan hinggap kebagian atas pintu, kemudian Julian menekan sebuah tombol warna biru yang ada pada remote pengendali robot lebah.


Seperti lebah asli, sekarang pada bagian pantat robot lebah itu muncul sebuah jarum yang kemudian membesar menjadi sebuah bor kecil.


Bor pun bergerak, menembus bagian atas pintu kayu hingga membuat lubang seukuran tubuh robot kecil itu. Serpihan kayu dari pintu besar itu berjatuhan ke lantai, seorang penjaga yang melihat hal itu mengalihkan pandangannya ke atas pintu untuk mencari asal serpihan.


"Apa mungkin ada rayap di rumah seperti ini?" ucap penjaga


Saat itu robot lebah sudah berhasil berpindah ke dalam ruang rapat para pimpinan kelompok Kurassha. Dari dalam mobil, Julian berserta yang lainnya melihat kearah monitor.


Dari situ mereka menyaksikan sejumlah orang dengan setelan hitam duduk mengelilingi meja besar.


"Mereka itu pemimpin Kurassha dari beberapa daerah" ucap Julian


"Bahkan orang itu juga ada di sana" ucap Maria yang mengarah kepada seorang yang berdiri di belakang Rei.


"Tidak salah lagi, ini markas utama Kurassha" sahut Julian


Satu persatu Julian mengarahkan kamera ke wajah para pemimpin yang kemudian disimpan menjadi sebuah video.


Disaat Julian dan Maria mencoba mengenali orang-orang yang hadir dalam ruangan itu, Riyan melihat kearah Afri yang sedang berbicara di sisi meja dimana Rei duduk.


"Sekarang bagaimana?apa langsung di terobos?" tanya Riyan


"Kita tunggu dulu, kita dengarkan pembicaraan mereka" ucap Julian


Robot kecil itu kemudian dikendalikan turun hingga 10 cm dari lantai, dengan mengambil resiko robot mereka akan dihancurkan jika terlihat.


Untungnya tidak ada yang menyadari robot kecil itu karena fokus dengan cerita dan penjelasan dari Afri yang sudah hampir selesai.


Robot kecil itu kemudian masuk kebawah meja pertemuan para pemimpin Kurassha. Dari sana Julian dan lainnya bisa mendengar percakapan yang terjadi di tempat itu.


Setelah beberapa lama, akhirnya mereka mengetahui bahwa rencana sebenarnya Kurassha memang untuk mengambil alih pemerintahan negara. Mereka berniat mempercepat membuat kerusuhan sebelum aksi kejahatan mereka di ketahui publik.


"Sepertinya waktu kita semakin sedikit, jika para pemimpin ini kembali ke daerah masing-masing dan membuat keributan, selesai sudah" ucap Maria


"Kita serang sekarang?" sahut Riyan


"Apa kau gila?jumlah mereka si dalam sangat banyak. Kita harus meminta bantuan menghadapi orang sebanyak ini" ucap Julian


Maria kemudian mengetuk bahu Julian dua kali dan menolehkan kepalanya dengan cepat kearah Riyan.


"Astaga aku lupa siapa yang sedang bicara" ucap Julian tersenyum


"Tapi kalau seperti di kediaman Julia sebelumnya, beberapa dari mereka pasti melarikan diri ketika mengetahui terjadi penyerangan" balas Maria


"Kalau begitu kita lakukan dengan senyap dan perlahan, jangan sampai terdengar penjaga di dalam rumah itu" ucap Julian


"Bagaimana caranya?" tanya Riyan


"Jangan biarkan mereka menembak, jangan beri target" jawab Maria


"Jadi kita akan menyerang seperti itu ya? mudah" ucap Riyan


"Kendalanya adalah penjaga di depan pintu masuk. Jika kita menghabisi orang-orang di pos masuk, maka mereka akan melihat dan segera menembaki kita" ucap Julian


"Kalau begitu aku akan mengatasi yang di pintu masuk" sahut Riyan


"Kau bisa?"


"Tentu saja" ucap Riyan kemudian keluar dari mobil.


"Tunggu!" ucap Julian mencegah Riyan


Kemudian Julian mengambil sebuah benda kecil dari laci dashboard mobil dan menyerahkannya kepada Riyan.


"Letakkan di telingamu, ini alat komunikasi dengan jarak 1km"


"Baiklah, bersiaplah menerima kabar dariku dan kalian bisa ikut bergerak nanti" ucap Riyan


Riyan, Julian dan Maria kemudian mengenakan alat komunikasi mereka dan berjalan sedikit menjauh dari gerbang dan menyeberang jalan. Menyisir tembok putih besar markas Kurassha itu, mencari lokasi yang tepat untuk menerobos masuk.


Akhirnya dia sampai pada lokasi dimana tidak terdapat titik merah didekatnya, yang artinya tidak ada penjaga di sekitar sana.


Riyan mengaktifkan armor hitamnya, melompat salto di udara hingga melewati tembok dan mendarat diatas rumput tanah bagian samping markas utama Kurassha itu.


Dari sana Riyan menggunakan teknik penyusupan Sundang angin, dimana gerakan langkahnya tidak terdengar. Riyan kembali menuju halaman depan, dimana banyak penjaga yang sedang siaga.


Untuk serangan pertama, Riyan menuju pintu masuk dimana dijaga oleh 4 orang.


"Aku akan melumpuhkan penjaga di depan pintu masuk" ucap Riyan kepada Julian dan Maria melalui alat komunikasi mereka.


"Baiklah, kami juga sudah bersiap" ucap Maria sedang memakai rompi anti peluru dan menyiapkan senjata dan beberapa peralatan bersama dengan Julian.


"Kita mulai!" ucap Julian


Riyan menciptakan empat kunai dengan ukuran lebih kecil, kemudian berjalan perlahan dekat pada dinding markas utama itu untuk mendekati keempat penjaga di depan pintu masuk.


Tiba-tiba serangan kunai yang cepat dan tepat menancap diantara dua mata mereka sehingga membuat para penjaga dalam sekejap terjatuh dan tewas. Riyan pun menuju pagar depan dimana terdapat beberapa penjaga lainnya di pos masuk.


Tiba di sana Riyan sedikit kagum, seluruh penjaga di sana juga sudah tumbang akibat dari tembakan Julian dan Maria. Peluru yang keluar dari senjata api yang sudah dipasangi peredam suara, membuat kematian para penjaga tidak diketahui.


"Kalian memang hebat" ucap Riyan memasuki pos dan menekan tombol untuk membuka pagar.


Julian dan Maria pun melewati pagar masuk yang sudah terbuka oleh Riyan. Mereka terlihat mantap dengan rompi anti peluru dan berbagai peralatan yang mereka bawa.


Disisi lain, Julian dan Maria sedikit bingung dengan Riyan yang tiba-tiba mengenakan pakaian hitamnya. Pakaian yang sama yang terlihat pada rekaman cctc di kediaman Julia.


Namun mereka tidak mempertanyakan hal itu kepada Riyan karena fokus untuk menangkap para penjahat di dalam markas utama mereka.


"Sekarang saatnya menghajar penjahat" ucap Julian.