NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 86 Perang Kecil



*Jakarta*


Siang itu pada pukul 02.00 Riyan dibawa menuju pintu yang langsung mengarah ke parkiran markas bawah tanah AII, dimana tempat itu sudah tersedia beberapa mobil dan motor.


"Pilihlah satu kendaraan untukmu!"


"Baiklah, aku akan membawa ini" tunjuk Riyan kepada sebuah mobil sedan hitam.


Mereka berdua mendekat ke mobil sedan hitam itu, Riyan duduk di depan kemudi sedang Maria pada kursi di sampingnya.


Riyan menjalankan mobilnya dengan lihai mengikuti jalur melingkar yang mengarah naik, mobil Riyanpun keluar di parkiran belakang minimarket.


Sampai di parkiran depan minimarket, Maria turun dari mobil sedan hitam yang dikemudikan Riyan.


"Ingatlah! Walau kau kuat, Segera hubungi kami jika menemukan markas mereka" ucap Maria


"Aku tidak bilang kalau akan mencari markas Kurassha" balas Riyan


"Kau membiarkan adikmu pulang terlebih dahulu, sedang kau tidak punya siapa-siapa disini. Kalau bukan menyelesaikan apa yang kau mulai, apa lagi" ucap Maria


"Agen intelegensi memang hebat" ucap Riyan melemparkan senyuman kepada Maria


Merekapun berpisah di sana, Riyan menginjak pedal gas mobilnya dengan cepat.


"Baiklah Alpha, sekarang hanya ada kita berdua. Tunjukkan lokasinya!"


Peta hologram muncul menunjukkan titik lokasi Afri. Namun Riyan merasa heran dengan posisi titik Afri yang berada di diskotik Xforu.


"Apa kau yakin dia disini?"


[Tentu tuan, walau sedikit membingungkan. Tapi dia memang kembali ke diskotik itu]


"Sebaiknya kita lihat saja langsung"


Riyan kemudian mengemudi mengikuti jalur dari peta hologram yang ditampilkan Alpha, jalur yang menuju Klub Xforu. Namun ketika di sana, sekitar situ tidak seperti apa yang ada dalam ingatan Riyan pada malam waktu itu.


Siang itu jalanan di sana sangat sepi, Bahkan toko dan ruko banyak yang tidak buka. Beberapa gang maupun jalan dipasangi pembatas polisi. Riyan sedikit memperlambat laju mobilnya dan menengok kanan kiri memperhatikan kejanggalan itu.


"Bruuk"


Tiba-tiba seorang yang berlari keluar dari sebuah gang menabrak pintu bagian samping kiri mobil Riyan saat Riyan menoleh ke kanan.


Suara hantaman pada pintu membuat Riyan menoleh kearah pria tersebut. Disana terlihat seorang pria mengenakan kemeja biru muda dengan noda darah sedang terengah-engah dengan nafas berat.


Riyan pun segera turun dari mobil untuk memastikan kondisi orang itu. Mobil tipe sendan itu membuat Kepala Riyan terlihat di atas kap mobil saat dia berdiri.


"Anda tidak apa-apa?" tanya Riyan khawatir dia melukai orang itu.


"Kita harus pergi dari sini, cepat!" ucap orang itu dengan cepat tanpa menghiraukan pertanyaan Riyan.


Pria itu terlihat sangat cemas untuk orang yang memegang sebuah pistol di tangannya. Dia membuka pintu mobil Riyan dan duduk pada kursi depan di sebelah pengemudi.


"Cepat masuk dan nyalakan mobilnya!" Teriak orang itu


Riyan yang sedikit bingung dan kaget tetap menuruti kata-katanya. Dia kembali masuk ke mobilnya dan menghidupkan mesin.


Dari kejauhan di dalam gang terlihat puluhan orang berlari mendekat kearah Riyan dengan membawa senjata api di tangan mereka.


Riyan segera menginjak gas dan menjalankan mobilnya sebelum orang-orang bersenjata mendekat dan menembaki mereka.


"Siapa anda?" tanya Riyan


"Namaku Priyatno, panggil saja pak pri. Aku dari kepolisian" jelas pria itu sambil menutup luka tembakan di perut luarnya dengan tangan kiri.


"Lalu siapa orang-orang itu?kenapa anda dikejar?"


"Ceritanya lumayan panjang"


"Aku bisa mendengarkannya"


"Baiklah, antarkan aku ke kantor polda!akan ku ceritakan di perjalanan"


Pak Pri menceritakan kepada Riyan kalau penyerangan itu bermula saat dia dan rekannya menyelidiki kasus di rumah Julia kemarin. Dia dan rekannya menyadari kejanggalan atas kejadian di sana, mereka pun kemudian mengambil kesimpulan yang sama yaitu harus menyelidiki tempat usaha Julia.


Saat berada di pabrik kertas, suasana di sana terlihat normal dengan kegiatan rutin pabrik. Namun berbeda dengan di Xforu, mereka tidak diijinkan masuk oleh beberapa penjaga di sana.


Pak Pri dan rekannya kemudian kembali untuk meminta surat ijin pemeriksaan tempat itu kepada atasan. Saat mereka kembali, mereka melihat para penjaga mengeluarkan mayat dari dalam diskotik melalui pintu samping.


Mereka turun dari mobil, dan Rekan Pak Pri berteriak meminta para penjaga itu untuk berhenti melakukan aktifitas mereka. Namun sayangnya, permintaan rekan pak Pri di balas dengan peluru yang keluar dari senjata mereka.


Pak priyatno dan Rekannya berlindung di balik mobil dan membalas tembakan para penjahat itu. Saat itu rekan dari pak Pri terkena tembak, untung lah mereka berhasil melarikan diri dari sana.


Tadi pagi pak Pri bersama 15 orang timnya mendatangi kembali diskotik Xforu, dan dimulailah adu tembak sejak pagi tadi hingga sekarang.


"Pantas saja sekitar tempat itu dipasang pembatas polisi" pikir Riyan


"Kenapa kalian bisa kalah?apa mereka sudah bersiap?" tanya Riyan semakin penasaran.


"Ya, tapi kami juga sudah menyiapkan segalanya. Pertempuran itu berlangsung lama dan seimbang, namun tiba-tiba bantuan dari pihak lawan datang dalam jumlah besar dan menyerang kami habis-habisan. Aku bisa melarikan diri juga dari pengorbanan rekan-rekan ku" jelas pak Pri


"Jadi sekarang bagaimana pak?" tanya Riyan lagi


"Dor...dor..dor"


Belum sempat pak Pri menjawab pertanyaan dari Riyan, mobil mereka diterjang timah panas yang berasal dari dua buah mobil yang mengejar muncul dibelakang mereka.


Tembakan dari para pengejar itu menyebabkan kaca bagian belakang mobil Riyan pecah hingga berkeping-keping. Riyan pun segera menambah kecepatan mobilnya, dan aksi kejar-kejaran pun terjadi saat itu.


"Astaga, apa mereka tidak bisa merelakan satu orang saja lolos" gumam pak Pri


Beliau kemudian mengarahkan pistol kebelakang untuk membalas tembakan dari para penjahat itu. Meski tembakan pak Pri mengenai mobil mereka, namun itu tidak menghentikan pengejaran para penjahat.


"Sial, jam segini kemungkinan jalan menuju Tol macet" ucap pak Pri


"Lalu bagaimana?" tanya Riyan


Pak pri terus menembaki mobil para penjahat, begitu juga sebaliknya.


"Apa aku harus menghabisi semua pengejar itu dihadapan pak Pri?" pikir Riyan


"Belok kanan di pertigaan depan,100 meter dari sana ada Polsek. Kita ke sana!"


Tanpa Ragu Riyan melakukan drift dengan mobil sedannya untuk berbelok ke kanan, disaat itu mobil Riyan hampir tertabrak sebuah Truk.


Walau cuma berjarak 10 cm, mobil Riyan berhasil lepas dari tabrakan yang akan dialaminya. Dan melaju meninggalkan dua mobil yang mengejar mereka karena terhalang oleh truk tersebut.


Pasukan kelompok Kurassha yang mengejar mobil Riyan mengacungkan senjata mereka kepada supir Truk agar meneruskan jalannya dengan cepat.


Begitu jalan terbuka, kedua mobil kelompok Kurassha kembali mengejar mobil Riyan. Namun mobil Riyan sudah parkir di kantor Polsek, kedua mobil milik Kurassha kemudian pergi.


"Ini akan jadi masalah jika atasan tahu" gumam orang itu.


Sementara itu, pak Pri berterima kasih kepada Riyan karena sudah membantu. Dia berjanji akan mengganti kerusakan mobil Riyan yang dipenuhi lubang akibat tembakan peluru, namun Riyan menolak permintaan itu.


Mobil itupun terpaksa Riyan bawa kebengkel mobil untuk mengganti kap dan kaca belakang yang pecah.


"Kupikir Mobil ini anti peluru, ternyata hanya mobil biasa" gumam Riyan


Di saat yang sama, pak Pri menghubungi atasannya dan menceritakan kejadian yang mereka hadapi. Tentu saja hal itu membuat pihak kepolisian geram, seketika perintah untuk menggempur diskotik itu diturunkan.


*Markas Utama Kurassha*


Sementara itu Rei bersama anak buahnya berada di markas utama kelompok Kurassha di Jakarta. Dia bersama dengan beberapa bawahan kepercayaannya sedang duduk di ruang tengah menunggu pertemuan diadakan.


Tidak berapa lama, seorang anak buahnya yang terus memantau keadaan di Jakarta memasuki menemui Rei. Informan itu menyampaikan berita peperangan yang terjadi pada Xforu hari ini kepada Rei.


Berita itu membuat beberapa anak buah kepercayaan Rei menjadi emosi.


"Kenapa bisa diketahui polisi?" teriak anak buah Rei


"Menurut yang saya ketahui, pemicu kejadian hari ini adalah saat orang-orang kita terlihat oleh anggota polisi saat mengeluarkan mayat dari Xforu kemarin. Kemudian penembakan terjadi menyebabkan satu polisi terluka"


"Dasar bodoh, kenapa bisa sampai polisi datang ke sana. Bukannya sudah ku perintahkan agar kejadian di diskotik itu jangan sampai bocor. Siapa yang bertanggung jawab di sana?" ucap Rei


"Afri, bos. Ketua kelompok lain memberikan masing-masing orang anak buah mereka untuk menangani kejadian itu"


"Berapa anggota yang dia punya sekarang?"


"Sekitar 150 orang"


"Dengan anggota sebanyak itu, seharusnya bisa cepat membereskan tempat itu sebelum polisi datang. Suruh dia datang ke pertemuan nanti"


"Baik bos"


Informan itu kemudian keluar dari ruang tengah meninggalkan Rei dan bawahannya.


"Bagaimana sekarang, apa kita lakukan rencana chaos lebih awal?"


"Tergantung, jika pihak polisi tau itu kelompok kita, maka tidak ada pilihan lain. Pada pertemuan nanti, kita minta seluruh daerah untuk memulai gerakan. Kurassha akan muncul ke permukaan" jelas Rei


"Bagaimana dengan Jakarta yang tidak memiliki pimpinan?"


"Kita yang akan mengurus Jakarta"


*Diskotik XForu*


Ditengah ruangan lantai 1 yang luas, para pengejar mobil Riyan berbaris rapi menghadap Afri. Mereka terlihat seperti peserta upacara yang menghadap pemimpin upacara.


Afri yang kesal mendapatkan berita kalau polisi itu lolos, melampiaskan amarahnya kepada anak buahnya yang gagal melakukan pengejaran. Dia memukul wajah anak buahnya itu satu persatu.


"Sekarang bagaimana aku harus menjelaskan kepada atasan" gumam Afri


Dering handphone Afri berbunyi, suara kecil itu sangat jelas terdengar diantara kesunyian anak buahnya yang terdiam.


Menerima panggilan itu, Afri hanya mengangguk kecil kemudian mengatakan setuju.


"Baik, saya akan ke sana" ucapnya


Telepon ditutup, wajah Afri terlihat cemas. Salah seorang pengawal Afri kemudian menanyakan apa yang mengganggu pikiran bosnya.


"Kau ikut aku! kita akan ke markas utama" ucap Afri


"Apa bos akan dijadikan pimpinan cabang Jakarta"


"Kalau seperti itu aku tidak akan cemas"


"Kalian bersiaplah, kemungkinan polisi itu akan kembali membawa bala bantuan. Siapkan sambutan untuk mereka" ucap Afri


"Kenapa tidak kita tinggalkan saja tempat ini bos?"


"Lalu kemana kita akan pergi?"


Semua anak buahnya terdiam dan Afri pun meninggalkan mereka keluar ruangan.


"Beritahu aku jika kalian mendapatkan tempat yang cocok" ucap Afri sebelum melangkah keluar bangunan itu.


Afri kemudian menaiki mobil Ford miliknya bersama dengan dua orang pengawalnya. Mereka pun berangkat menuju markas utama kelompok Kurassha yang berada di kediaman Bos besar mereka.


Pukul 04.00 sore, pihak kepolisian berangkat menuju diskotik Xforu untuk melakukan penangkapan. Kali ini empat buah unit mobil patroli panther beserta pasukan densus anti ******* yang berjumlah 30 orang juga ikut menyerang.


Disaat itu Riyan sudah mendekat ke bangunan Xforu, dia bersembunyi di sebuah ruko dan melihat banyak orang bersiaga dengan senjata api.


Riyan meminta Alpha memeriksa orang dan posisi anggota Kurassha yang ada di dalam bangunan diskotik Xforu.


Hampir di setiap lantai dari bangunan berlantai 4 itu, terlihat berisi paling tidak 30 orang yang bersiaga. Sedang di lantai dasar yang merupakan tempat dansa, terdapat lebih dari 50 orang.


"Wah, terlihat lebih banyak dari sebelumnya. Sepertinya akan memerlukan waktu sedikit lama menemukan orang bernama Afri itu"


Riyan kemudian mengambil sebuah pulpen pada kantong bajunya. Dengan menekan tombol yang ada di ujung pulpen itu, bukannya isi pulpen, tapi pulpen itu berubah menjadi sebuah katana.


Setelah Riyan mengaktifkan katana milik Seichi di tangan kanannya, dia kemudian mengaktifkan armor hitam. Namun suara informasi dari Alpha membuat Riyan sedikit terkejut.


[Tuan, Afri sudah tidak berada disini]


"Apa?" ucap Riyan kaget kemudian menghilangkan armor hitamnya.


"Lalu dimana dia sekarang?"


Peta hologram muncul di hadapan Riyan, menunjukkan titik merah yang sedang bergerak ke daerah Jakarta Selatan.


"Kemana lagi orang itu akan pergi, dan saat ini mobilku ada di bengkel untuk satu jam, sial sekali" gumam Riyan


[Bukankah anda bisa berlari dengan cepat untuk mengejarnya]


"Bisa saja, tapi di tengah kota besar begini...pasti akan menimbulkan kehebohan. Kau tetap lacak dia!aku akan mencari kendaraan" ucap Riyan mengembalikan katana milik Seichi menjadi pulpen.


[Baik tuan]


Sesaat ketika Riyan berpaling untuk pergi, suara decitan ban mobil akibat rem mendadak terdengar di tempat itu. Suara mobil itu berlanjut dengan rentetan senjata api yang berasal dari bangunan diskotik.


Riyan kembali mengarahkan pandangannya ke bangunan XForu, dimana penjaga yang tadi bersiaga sekarang menembakkan senjata api mereka kearah mobil kepolisian yang ada diseberang jalan.


"Eh, cepat sekali mereka datang" gumam Riyan


"Tretetet...tretet"


Perang kecil di tempat itu dimulai. Pihak kepolisian dan anggota Kurassha saling menembak berseberangan jalan. Pasukan Kurassha menembak dari pintu lantai satu dan jendela yang ada di tiap lantai.


Anggota kepolisian berlindung di balik mobil mereka, berlindung dari hujan peluru dari atas dan depan mereka. Mereka terlihat kembali terpojok oleh serangan para penjahat.


"Tim A sudah tiba, siap melakukan penyerangan"


Di tengah hujan peluru itu, suara dari alat komunikasi di tangan para tim anti ******* terdengar.


"Lakukan" sahut sang kapten


Tiba-tiba beberapa tali terjuntai dari atap bangunan itu. Anggota tim anti ******* kemudian turun dari atas bangunan Xforu menggunakan tali yang baru saja dilempar.


"praaank"


Pecahan jendela kaca samping gedung lantai atas yang di tembus oleh tubuh kekar pasukan anti *******, mengagetkan orang-orang yang berada di lantai itu. Dengan pakaian tempur hitam lengkap dengan senjata, mereka dengan cepat menghabisi pasukan penjahat dari belakang.


"Tretetet...tretetet"


Tembakan dari pasukan antiteroris yang baru saja menerobos masuk melalui jendela, dalam sekejap menghabisi para penjahat.


Riyan yang melihat tim anti ******* berhasil menerobos masuk ke atas, kembali ke bengkel untuk mengambil mobilnya karena merasa kepolisian akan memenangkan perang kecil itu.