
*Penjara Varmont*
Sebuah penjara di pinggiran Las Vegas dengan tingkat keamanan yang tergolong tinggi di negara Amerika Serikat. Penjara dengan luas 1000 meter persegi dikelilingi pagar kawat berduri, dimana terdapat 4 menara pengawas di setiap sudutnya yang diisi 3 orang prajurit bersenjata sniper.
Penjara ini dijaga ketat oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat dan merupakan fasilitas penahanan khusus para penjahat yang dianggap sebagai prioritas tertinggi oleh Amerika Serikat.
Sel-sel di penjara ini tidak memiliki akses langsung dengan dunia luar, bahkan jendela untuk melihat matahari pun tidak ada. Dengan sistem satu sel satu napi, para napi menempati sel dengan tempat tidur dan toilet dalam satu ruangan.
Siang itu Ken tiba di penjara Varmont untuk menemui Rinko yang di pindahkan ke penjara itu dari kantor polisi Las Vegas tadi malam. Di pintu masuk penjara, Ken harus melalui pos pemeriksaan dimana terdapat 4 orang prajurit yang bertugas di sana.
Di pos itu Ken harus meninggalkan semua barang bawaannya termasuk dompet. Hal itu sudah merupakan ketentuan dari sipir penjara untuk memastikan pengunjung tidak membawa benda apapun selain pakaian mereka.
Usai dari pos penjagaan, Ken dikawal oleh dua orang prajurit bersenjata untuk menuju kantor sipir. Ken harus berjalan melalui lorong tanpa atap yang terbentuk dari kawat berduri sejauh 100 meter dari pos pemeriksaan untuk sampai ke kantor sipir penjara.
"Tok..tok..tok" pintu kantor sipir diketuk
"Masuk " suara tebal dan garang terdengar dari dalam kantor sipir
Prajurit itu membuka pintu dan memberikan hormat kepada sipir penjara Varmont. Di ruangan itu, terlihat seorang pria besar dengan kumis dan brewok tipis mengenakan seragam prajurit. Pria itu sedang duduk dibelakang meja kerjanya sambil merapikan beberapa map.
"Ada apa ? " tanya orang itu yang merupakan sipir penjara
"Orang ini ingin melakukan kunjungan kepada napi " jawab Prajurit itu dengan tegas
Sipir penjara kemudian memerintahkan dua prajurit itu untuk kembali ke pos pemeriksaan. Ken dipersilahkan untuk duduk pada kursi di depan meja sipir. Ken mengatakan maksud kedatangannya untuk bertemu dengan Aida Rinko.
Pada awalnya sipir itu menolak permintaan Ken. Namun Ken memperkenalkan diri kepada sipir itu sebagai pengawal dari Luke Vargas, dan ingin mencari informasi mengenai kejadian tadi malam di wallin palace.
Dengan membawa nama Luke Vargas dan kejadian wallin palace, dia diijinkan untuk melakukan kunjungan kepada Rinko. Sipir penjara berdiri dari kursinya dan meminta Ken untuk mengikutinya menuju ruang kunjungan.
"Gadis ini, Aida Rinko. Aku tidak menyangka gadis imut cantik seperti dia adalah pembunuh tingkat atas yang terkenal, jadi untuk apa kau menemuinya ? " tanya sipir
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu " jawab Ken dengan santai
"Kalau kau ingin mencari informasi mengenai NOZ, itu akan sia-sia " ucap sipir
"Maksud anda ? " Tanya Ken yang tidak mengerti maksud perkataan sipir.
"Seperti yang kau tau, Rinko dibawa dari kantor polisi vegas kesini tadi malam. Orang yang membawanya adalah kepala CIA, Reihard Stone " jelas sipir itu
"Jadi maksud anda mereka telah mengintrogasinya " ucap Ken
"Ya " jawab sipir
Asik berbincang, tanpa terasa mereka sudah sampai di depan pintu masuk ruang kunjungan. Kemudian sipir membuka pintu ruangan itu.
"Kenapa disini tidak ada penjaga ? " tanya Ken
"Hampir tidak ada orang yang datang berkunjung kesini jadi ruangan itu tidak pernah dipakai, itulah sebabnya tidak perlu penjaga. Lagipula ada cctv disini " jawab sipir
"Menurutku itu wajar, napi yang ada disini adalah kriminal berbahaya tingkat atas. Tentu saja tidak ada yang akan datang berkunjung karena tidak mau dituduh memiliki kaitan dengan napi " balas Ken
"Kau tunggulah disini, aku akan menyuruh orang membawakan gadismu kesini " ucap sipir meninggalkan Ken di ruangan itu.
Sambil menunggu, Ken melihat-lihat ruangan pengunjung itu. Ruangan itu memiliki lebar 3 meter dan panjang 5 meter, dengan meja panjang sebagai pembatas. 5 buah sekat terpasang di atas meja panjang tersebut, tiap sekat dibatasi sebuah kaca tebal antara napi dan pengunjung.
Sebuah telpon terhubung antara napi dan pengunjung sebagai alat komunikasi. Pada bagian pojok atas ruangan, terdapat kamera cctv untuk mengawasi kejadian di dalam ruangan.
Lima belas menit kemudian dua orang prajurit masuk dari pintu dibelakang Ken. Tanpa bicara, kedua prajurit itu berdiri tepat di samping pintu masuk. Kemudian dari sisi napi, pintu masuk terbuka dan Rinko tiba dengan baju napi dan tangan terborgol ditemani dua prajurit dibelakangnya.
Sekarang mereka berdua duduk berhadapan, hanya dibatasi sebuah kaca tebal. Rinko dan Ken mengambil telpon yang menempel pada sekat pembatas untuk berbincang.
"Dari mana kau mempelajari racun mandara ? " tanya Ken
"Kenapa aku harus memberitahumu ? " balas Rinko dengan tatapan tajam kearah Ken
"Racun mandara, adalah warisan dari keluargaku. Apa kau membunuh keluarga Shiori untuk mendapatkan teknik racun itu " ucap Ken berbicara dengan bahasa jepang
"Memangnya siapa kau peduli dengan keluarga itu " ucap Rinko juga dalam bahasa jepang dengan nada sinis
Kemudian mereka berdua tiba-tiba berbicara dalam bahasa jepang, sehingga membuat para penjaga kebingungan dan saling memandang.
"namaku adalah Shiori Kenzo, salah satu keluarga itu " jawab Ken
"ka..kau...Shiori Kenzo " ucap Rinko kaget
****
Riyan yang sudah berada di hotel, menyiapkan barang-barang bawaannya dan bersiap pulang ke Indonesia. Jam 4 sore dia melakukan check out hotel Newton.
Riyan berencana berangkat ke bandara menggunakan taksi, tetapi tiba-tiba mobil Jeep merah berhenti di depannya. Itu adalah Nessie dan Nick yang mengendarai mobilnya untuk berangkat ke Denver.
"Hei Riyan, mau kemana dengan tas besar itu ? " tanya Nick melihat Riyan membawa ransel dan satu Tas besar di tangannya.
"Bandara, aku akan pulang ke Indonesia hari ini " jawab Riyan
"Naiklah, akan ku antar " ucap Nick
Riyan dengan senang hati menuruti Nick yang ingin mengantarkannya. Nick mengatakan perjalanan mereka searah, dia akan menuju Denver karena perkuliahan sebentar lagi akan dimulai.
"Ini seperti Dejavu " ucap Nessie teringat perjalanan mereka sebelumnya dari Nye Country ke Vegas.
Mereka berpisah dan meninggalkan Riyan di bandara. Pesawat menuju Indonesia akan berangkat setengah jam lagi, sebelum itu Riyan menukarkan dollar yang diberikan oleh tuan Luke sebagai honornya pada money changer yang ada di bandara.
"Aku akan tiba di Indonesia besok, tepat sekali besok hari Minggu. Apa ku ajak Cindy, Mila dan Tari liburan ke pantai ya ? " gumam Riyan sambil menunggu proses penukaran uangnya
"Kami sudah mengirimkan uangnya ke rekening Bank Indonesia anda, ini sebagai tanda bukti " ucap petugas money changer menyerahkan secarik kertas kepada Riyan
"Terima kasih " balas Riyan
*Hutan Kematian*
Sementara itu di luar hutan kematian, Thomas baru saja keluar dari hutan itu membawa seekor antelop. Di sana sudah ada sebuah mobil box yang menunggunya. Itu karena sebelum keluar dari hutan kematian, Thomas menghubungi seseorang untuk menjemputnya dengan mobil box.
Seorang dengan jas lab putih keluar dari dalam mobil untuk membuka pintu box belakang. Thomas mendekati mobil itu dan memasukkan antelop yang dibawanya ke dalam box, kemudian menambah isi mobil box dengan motornya.
Mobil pun dijalankan begitu Thomas sudah duduk di kursi depan mobil. Dalam tiga jam perjalanan mereka tiba di halaman laboratorium penelitian prof Ednewt, pegawai prof Ednewt menurunkan antelop yang ditangkap oleh Thomas dan membawanya masuk ke laboratorium.
"Thom, sebaiknya kau segera hubungi para petinggi ! Mereka sepertinya memerlukan salah satu dari kalian untuk mengatasi pembantaian anggota kita di Vegas " ucap prof Ednewt
"Pembantaian ? kelompok kita ? " tanya Thomas untuk meyakinkan
"Ya, kau lihat saja beritanya di internet. Kelompok kita dibantai di Wallin Palace " jelas prof Ednewt
Thomas kemudian menghubungi salah satu petinggi si kota New York, kemudian mendapatkan informasi bahwa pasukan mereka saat itu bertempur dengan CIA, Interpol dan beberapa bodyguard bayaran.
"Apa itu artinya wechas yang di tangan mereka sekarang berada pada CIA ? Kita perlu menghancurkan CIA sekarang " ucap Thomas
"Tidak, menurut mata-mata kita mereka tidak memiliki wechas. Lagi pula saat ini kekuatan kita berkurang lumayan banyak dengan pembantaian ini. Tunggu sampai proyek Assaulters prof Ednewt selesai kita akan mengguncang tiap negara di dunia secara serentak " jawab petinggi NOZ.
Panggilan pun di akhiri, namun Thomas yang merasa tidak puas pergi menuju Las Vegas untuk mencari tau siapa yang bisa membantai sejumlah anggota NOZ.
"Wechas anggota di hutan kematian juga hilang, untuk apa pembantai itu mengumpulkan senjata wechas sebanyak itu " pikir Thomas
Thomas menjalankan motornya kembali dengan kecepatan luar biasa menuju kota Las Vegas.
*Kota Muriya*
Jam setengah tiga setelah pulang sekolah dan berganti pakaian, Cindy bersama Lisa pergi menaiki gunung Sapathawung untuk mengambil jamur bahan serum prof Gema. Mereka sengaja tidak mengajak yang lain agar lokasi gua itu tidak diketahui orang banyak. Mereka berangkat menggunakan motor Lisa.
Keadaan sedikit berbeda ketika mereka tiba di pemukiman bawah gunung. Saat itu wisata menuju gunung sapathawung di tutup oleh penduduk lokal sehingga Cindy dan Lisa tidak bisa menaiki gunung sapathawung.
"bagaimana ini ? apa kita batalkan saja ? " tanya Cindy kepada Lisa
Lisa yang sangat memerlukan jamur itu bersikeras mencari jalan untuk memasuki gunung. Ketika melihat sungai yang mengalir dari hulu, Lisa memutuskan untuk berjalan di tepi sungai berlawanan dengan arah arus.
"Cin, ikuti aku ! " ajak Lisa
Mereka meninggalkan motor Lisa di balai warga. Setelah berjalan cukup jauh dari para penduduk, mereka turun menuju sungai untuk memulai perjalanan keatas gunung.
"kau cerdik juga Sa, dengan begini kita bisa masuk ke gunung " puji Cindy
"tentu saja, tapi aku heran kenapa gunung sapathawung ditutup. Bukannya malam Minggu biasanya ramai pengunjung " balas Lisa
"benar, apalagi penjagaannya sudah seperti mau perang saja " tambah Cindy
Selama menyusuri sungai, mereka berbincang untuk mengisi waktu. Tidak di sangka, jalur mengikuti sungai lebih pendek dari jalur biasa. Mereka tiba di air terjun dimana gua jamur berada sebelum sore hari.
"waaah akhirnya sampai, tidak disangka bisa secepat ini " ucap Cindy
"Cin, sudah sampai ? " tanya Lisa dengan wajah heran
"iya. Disini tempatnya " jawab Cindy
"tapi aku sudah menjelajahi tempat ini bersama prof Gema, dan tidak ada jamur sama sekali " pikir Lisa
Cindy melepaskan Jaket dan celana panjangnya, sekarang Cindy mengenakan kaos dan celana pendek hitam. Cindy memasukkan senter kedalam celana pendeknya dan satu buah plastik besar. Lisa yang melihat Cindy melepaskan pakaiannya merasa heran.
"Cin, ngapain ganti pakaian?" tanya Lisa
"byuur" Cindy terjun kebawah air terjun
"lah.. malah mandi dia" ucap Lisa
"mau jamurnya nggak? ayo lompat ! " balas Cindy
Lisa sedikit bingung, dia berpikir mungkin jamur itu berada di dalam air. Itulah sebabnya dia dan prof Gema tidak bisa menemukannya. Tapi karena tidak mengira akan berada di air, maka Lisa tidak membawa pakaian ganti.
"aku ga bawa baju ganti Cin " teriak Lisa
"yasudah bugil aja, ga ada orang juga kan tadi ditutup jalur masuk gunungnya " balas Cindy
" Nggak ah " ucap Lisa
"kalau begitu kamu tunggu disini aja, aku yang akan ambil tanamannya " ucap Cindy
"tunggu Cind " teriak Lisa
Lisa yang sangat ingin mengetahui tempat jamur itu, terpaksa melepaskan pakaian luarnya. Lisa menceburkan diri dengan hanya mengenakan bra dan CD.
"suiit..suuuit " Cindy bersiul melihat Lisa seperti itu
Cindy menyuruh Lisa mengikutinya kebawah air terjun, kemudian menaiki bebatuan dan menerobos ke balik air terjun. Sama seperti dengan Riyan sebelumnya, Cindy dan Lisa berada di mulut gua gelap.
Cindy mengeluarkan senter kecil anti air yang sudah dipersiapkannya di kantong celana. Meski kecil, cahaya dari senter itu sangat terang. Mereka berjalan lurus mengikuti jalur gua hingga akhirnya tiba di tempat yang dituju.
Bunga yang diinginkan Cindy masih tertanam bersinar disitu, begitu juga jamur yang diinginkan Lisa masih ada dengan jumlah banyak. Mereka mengambil dan memasukkan tumbuhan-tumbuhan itu kedalam plastik besar yang dibawa Cindy.
Sama seperti Cindy sebelumnya, Lisa juga terpesona dengan keindahan langit-langit gua yang memunculkan cahaya warna-warni.
"eh, waktu itu kamu cuman berdua dengan Riyan disini ? " tanya Lisa
"iya " jawab Cindy
"ngapain aja ? " tanya Lisa lagi meledek Cindy
"menurut kamu ngapain ? ngambil tanaman itu aja " jawab Cindy
"masa sih ? " ucap Lisa senyam-senyum
"udah kan, yuk keluar ! " ajak Cindy mengalihkan pembicaraan
Mereka berdua kembali membawa 10 jamur dan 2 tanaman bunga yang diinginkan Cindy. Keluar dari air terjun, plastik yang berisi tanaman dimasukkan kedalam ransel masing-masing. Cindy mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah disiapkannya dari rumah. Sedang Lisa terpaksa memakai Kaos dan celananya tanpa pakaian dalam.
"pakai nih ! biar agak ketutup dikit " ucap Cindy memberikan Jaketnya
"makasih Cin " balas Lisa
Mereka kembali melewati jalur sungai untuk turun. Jam 6 sore mereka sampai di hilir sungai, kemudian menuju balai untuk mengambil motor Lisa. Sialnya di sana Lisa dan Cindy malah bertemu dengan Brian dan Mike yang baru saja kembali dari ribut dengan penduduk Lokal.
"ah, ternyata malah bertemu buruanku disini. Hari ini aku sangat beruntung " ucap Brian
Lisa melihat didepannya saat ini terdapat 10 orang pria dan seorang anggota NOZ yang memiliki peningkatan. Tidak mungkin baginya untuk kabur dengan meninggalkan Cindy bersamanya. Cindy memegang tangan Lisa dan bertanya siapa mereka.
"mereka ingin menangkap ku, walau aku tidak yakin mereka akan melepaskanmu, tapi jika ada kesempatan kau lari lah " ucap Lisa
"perlu kau tau, aku juga bukan cewek lemah " ucap Cindy melepaskan tas ranselnya.
"akan ku bantu kau menghadapi mereka " tambah Cindy
Meski tidak tau kemampuan Cindy, Lisa yang mendapat dukungan seperti itu dari Cindy menjadi bersemangat untuk melawan.
"kau tipe teman yang suka mendukung ya" balas Lisa yang juga melepaskan ranselnya
"tangkap mereka" teriak Mike