
Salah seorang senior dengan wajah tengil senyam seyum mendekat kearah Cindy dan memegang bahunya. Cindy menangkap pergelangan tangan orang itu kemudian memelintirnya hingga membuat tubuh orang itu kesakitan dan membelakangi Cindy. Dengan menggunakan sedikit tenaganya, Cindy mendorong orang itu kembali kearah teman-temannya sampai hampir jatuh.
Senior tengil itu menegakkan badannya setelah hampir jatuh, bersama empat orang lainnya dia kembali berjalan mendekat ke arah Cindy. Saat itu dengan badan yang masih sakit karena dipukuli, Benny yang berada dibelakang mereka bangun dan memukul punggung salah seorang dari para senior yang mendekati Cindy hingga memberikan sedikit rasa nyeri pada punggung senior itu.
“kalian ingin mengeroyok wanita?bahkan aku dahulu tidak sebejat itu” ucap Benny
Melihat temannya terdorong kedepan karena tinju Benny, empat senior lain berpaling menatap Benny dan menyerangnya. Walau bisa menahan pukulan dari beberapa senior, tetap saja pukulan para senior ada yang berhasil mengenai tubuhnya kembali.
Bahkan sekarang senior yang baru saja dipukul Benny pun segera ikut melancarkan pukulannya, sedang senior lainnya yang berbadan lebih besar mengunci leher Benny dari belakang, membuat dirinya tidak bisa bergerak dan terpaksa akan menjadi samsak tinju kembali.
Disaat itu Cindy dengan tubuh mungilnya mendekat dengan cepat ke arah para senior untuk menyelamatkan Benny. Tiga orang senior yang melihat Cindy mendekat, bersiap untuk menyambut Cindy dengan pukulan. Perkelahian pun seketika terjadi, Cindy bergerak ke samping kanan, kiri dan menunduk dengan sigap menghindari semua serangan dari ketiga orang itu.
“Cindy mengelak dengan sangat bagus menghadapi tiga orang itu, sepertinya dia lebih hebat dari yang aku perkirakan” pikir Riyan yang memperhatikan dari balik pintu
Disaat yang sama, seorang senior di depan Benny terlihat sedang menelpon temannya. Melihat kesempatan itu, Benny mengerahkan segenap tenaganya untuk melompat dan menendang senior yang sedang menelpon di depannya.
Dengan menggunakan kedua kakinya untuk menedang, Benny membuat senior itu terjatuh dan handphone terlepas dari tangannya. Tendangan itu sekaligus membuat orang yang menguncinya dari belakang ikut terdorong mundur bersama tubuh Benny. Akan tetapi dia masih belum bisa membebaskan diri dari kuncian orang besar itu.
Senior yang terkena tendangan dari Benny bangun dan mengambil handphone yang sempat terlepas dari tangannya, kemudian mendekati Benny untuk melampiaskan amarahnya.
Saat itu Riyan yang melihat Benny berusaha keras berontak untuk melepaskan diri dari kuncian orang besar itu, berusaha untuk membantunya. Riyan mencari-cari sesuatu benda kecil disekitar tempat dia berdiri, dia pun menemukan sebuah pecahan kecil seperti batu dari tembok yang retak.
Dari belakang pintu di atap sekolah, Riyan melemparkan pecahan tembok itu kepada lengan murid senior yang memegang Benny dari belakang. Dengan menggunakan akurasi beladiri pisau apache, pecahan kecil itu tertancap pada lengan murid senior itu hingga mengeluarkan darah dan teriakan dari mulutnya yang membuat semua orang yang ada di atap tertegun.
“ah, apa aku sedikit berlebihan?kupikir karena badannya besar, dia bisa menahan lemparan itu” gumam Riyan
Hal itu otomatis membuat kunciannya kepada Benny terlepas, namun tinju dari senior yang sudah menyimpan handphonenya dan mendekati Benny kembali mendarat pada tubuhnya. Benny bertahan dengan pukulan diperutnya, kemudian dia mengangkat tinjunya tinggi dan mendaratkan pukulan kewajah senior itu.
Hanya saja pukulan dari Benny tidak cukup membuat senior itu jatuh, sehingga terjadilah perkelahian sengit antara keduanya.
Disisi lain, ketiga senior yang melawan Cindy terkena pukulan dari jurus tinju naga petir saat perhatian mereka teralihkan karena teriakan teman mereka. Tinju itu dialiri sedikit sengatan listrik oleh Cindy sehingga menyebabkan mereka pingsan.
Sekarang yang masih sadar adalah senior yang bertarung dengan Benny dan senior berbadan besar yang masih histeris sambil memegang luka di tangannya karena lemparan Riyan.
"Sepertinya hampir selesai, senior besar itu sampai kapan mau merengek " gumam Riyan
Cindy berjalan mendekati senior yang sedang memegang tangannya, kemudian memegang bahu senior itu dan memberikan kejutan 200Volt untuk membuatnya pingsan.
"Pacarku memang hebat" ucap Riyan senang
Senior yang sedang memukul Benny hingga jatuh, sekarang terkejut melihat teman-temannya sudah kalah dari seorang gadis.
"Maju lah cantik, sekarang giliranmu" ucap senior itu
"Tidak, lawanmu bukan aku" ucap Cindy menunjuk ke arah Benny yang bangkit lagi setelah di pukuli.
"Cih, kau seperti kecoak saja" ucap senior itu kesal kepada Benny
Di saat itu tangga menuju atap sekolah ramai terdengar suara orang bergumam. Itu adalah 7 orang senior kelas tiga sedang menaiki tangga menuju atap sekolah.
Begitu sampai di depan pintu keluar, suara langkah dan perbincangan mereka terhenti melihat Riyan berada disana.
"Siapa kau?" tanya senior yang berada paling depan
"Dia Riyan, orang yang dikenal paling pintar di sekolah" jawab senior lain di sampingnya
"Jadi kau seorang kutu buku ya, sebaiknya kau menyingkir kalau tidak mau terluka !" ucap senior itu
"Maaf senior, atap sekolah saat ini sedang dibersihkan" jawab Riyan
Senior itu kemudian menaiki tiga anak tangga dan sampai kehadapan Riyan. Dia mencengkram kerah baju Riyan dan menatap mata Riyan seperti seekor elang pemangsa.
"Pergilah! atau kau ingin jadi mainan kami selama satu semester?" ucap senior itu
Mata Riyan kemudian berbinar, senyum terlihat dari mulutnya. Namun hawa dingin kematian yang dirasakan oleh senior itu.
Sementara itu diatap sekolah, perkelahian Benny masih berlangsung. Meski dengan kondisi tubuh dan muka yang sudah babak belur, Benny masih melawan senior itu dan bahkan sudah membuat orang itu kehabisan tenaga.
Akhirnya serangan tendangan terakhir dari Benny menumbangkan senior itu hingga terkapar di lantai.
"Kalian tidak akan bisa selamat dari sini, ketua dan teman-teman ku akan kesini karena aku sudah menghubungi mereka" ucap senior dengan wajah babak belur dan mulut berdarah.
"Buuk" Benny kembali meninju wajah senior itu hingga pingsan
"kau pergilah! aku hampir tidak bisa bergerak saat ini" ucap Benny kepada Cindy
Ketika itu pintu menuju atap sekolah terbuka, Cindy dan Benny sedikit panik. Mereka khawatir bantuan dari senior kelas tiga itu telah datang. Namun kekhawatiran itu seketika hilang berganti ketenangan ketika Riyan muncul dari sana.
"Riyan" ucap kedua orang itu bersamaan
Riyan mendekati Cindy dan mengajaknya masuk kelas karena jam istirahat hampir selesai.
"Kau bisa bergerak?" tanya Riyan kepada Benny
"ya, kalian duluan saja" ucap Benny
Riyan dan Cindy kemudian lebih dulu meninggalkan atap sekolah. Benny sekarang gelisah dan pasrah jika teman-teman senior itu datang. Dua menit kemudian Benny berusaha berdiri dan pergi dari tempat itu dengan sisa tenaganya.
"sepertinya aku tidak masuk kelas lagi hari ini" ucap Benny
Begitu melewati pintu, tubuhnya terdiam, Matanya melebar melihat 7 orang senior kelas tiga yang biasa membuli dirinya terkapar di tangga.
"Apa ini ulah Riyan?" pikir Benny dipenuhi rasa heran
***
Sepulang sekolah, sesuai janji Riyan membawa Cindy ke tengah hutan untuk berlatih jurus hukuman petir naga. Riyan menyembunyikan motornya ditempat yang sama seperti hari-hari sebelumnya, yaitu tepat dibawah pohon rindang yang agak masuk kedalam semak hutan.
Setibanya di tanah lapang tempat yang sama dengan yang mereka datangi kemarin, Cindy dan Riyan meletakkan tas sekolahnya dibawah pohon besar. Sebelum memulai latihannya, Cindy menarik nafas panjang menikmati udara lembab yang segar di sana.
"Kau tau tidak?aku tau tempat ini gara-gara orang yang kamu selamatkan di atap sekolah tadi siang" ucap Riyan
"Bukannya dia orang yang dikatakan membuli dirimu waktu kelas 1 ?"
Riyan pun menceritakan kejadian hari dimana dia disuruh oleh Benny dan kawan-kawannya untuk pergi kedalam hutan, dan bertemu dengan Dr Albert yang sedang terluka parah. Cindy mendengarkan cerita dari Riyan, bahkan ikut tersedu dan hampir menangis. Melihat itu Riyan segera mengganti topik pembicaraan.
"Apa kamu ingin langsung latih tanding?" tanya Riyan setelah selesai bercerita
"Boleh" sahut Cindy seketika menyerang Riyan yang ada disampingnya
Serangan yang digunakan Cindy dari tahap langkah naga. Cindy mengarahkan tangannya yang berbentuk cakar ke dada Riyan, serangan itu ditahan oleh Riyan dengan pergelangan tangannya.
"Hap"
"Tak"
"Tak"
Selama lima belas menit mereka latih tanding, keringat keduanya mengucur deras. Cindy mengeluarkan air minum dari tasnya, begitu juga dengan Riyan. Mereka duduk beralaskan rumput di bawah pohon besar yang teduh sambil meminum air putih dari botol.
"saat menangkis tarian petir naga, gerakan Jeet Kune Do kamu agak berbeda "ucap Cindy
"Itu sedikit gerakan improvisasi dariku saja sih" jawab Riyan
"Meski begitu, aku tidak bisa mengenaimu sekalipun" ucap Cindy
"Kemarin kecepatan seranganmu bisa meningkat drastis dan mengenaiku dengan kemampuan impuls listrik, apa kamu masih belum bisa mengendalikan kemampuan listrik mu?" Tanya Riyan lagi
"Benar, melakukan itu lebih susah dari pada mengeluarkan listrik lewat jari" jawab Cindy
Setelah beristirahat, Cindy kembali berdiri.
"Sudah mau latih tanding lagi?" Tanya Riyan
"Tunggu sebentar, aku mau memperlancar gerakan dulu" jawab Cindy
Kemudian Cindy menirukan gerakan jurus hukuman petir naga. Riyan memperhatikan gerakan Cindy dari tahap I hingga III sangat lancar, namun ketika memasuki gerakan tahap nafas petir naga terlihat ada yang kurang dimata Riyan.
Gerakan nafas petir naga tergolong pelan dan lebih mirip *** chi, sangat kontras dengan gerakan tahap I sampai III yang memerlukan kecepatan.
"tunggu Cin, kamu itu sedang pendinginan?" tanya Riyan
"ini tahap IV, namanya tahap nafas petir naga" jawab Cindy sambil terus menggerakkan tangannya.
"Kenapa sangat berbeda dengan gerakan tahap sebelumnya yang cepat?" tanya Riyan lagi penasaran
Cindy selesai mengulang gerakan sampai tahap nafas petir naga dan menghampiri Riyan sambil menjawab pertanyaan Riyan.
"aku juga tidak mengerti, soalnya penjelasan jurusnya ditulis pakai bahasa sansakerta kuno. Bahkan kucari di internet juga tidak mendapatkan hasil"
Riyan penasaran dengan tulisan kuno yang dimaksud Cindy, kemudian dia menanyakan kepada Cindy seperti apa bentuk tulisan yang ada di dalam penjelasan jurus tahap IV itu.
Cindy kemudian mengambil handphone miliknya yang sebelumnya di letakkan kedalam tas, kemudian Cindy membuka foto galeri yang ada di handphonenya.
"ini, aku sudah memfotonya" ucap Cindy menunjukkan gambar gerakan tahap IV dan penjelasannya dalam bahasa sansakerta kuno.
Riyan memandangi tulisan sansakerta yang ada disana. Tiba-tiba suara Alpha terdengar di telinganya.
[Itu hanya penjelasan mengenai aliran tenaga yang dibuka melalui pernapasan dan selanjutnya adalah kemampuan metafisika]
"Jadi begitu?" gumam Riyan
"Kamu mengerti?" tanya Cindy dengan semangat
"Sedikit sih" balas Riyan
Cindy kemudian menunjukkan kepada Riyan tulisan lain yang ada di tahap V. Karena di tahap V semuanya hanya berisi tulisan sebanyak 5 halaman, Riyan meminta Cindy untuk mengirimkan foto itu kepada Riyan melalui ponselnya. Cindy dengan senang mengirimkan foto tahap 5 kepada Riyan.
"kalau begitu beritahu aku tahap nafas petir naga!" pinta Cindy
"Oke sayang" sahut Riyan
Riyan kemudian meminta Cindy mengulangi gerakan tahap IV itu, kemudian menyuruh Cindy berhenti ketika sampai pada posisi kedua telapak tangan diangkat lurus diatas kepala mengarah ke langit.
"kenapa berhenti?" tanya Cindy
"Karena sebenarnya tahap IV terdiri dari dua bagian, melatih pernafasan dan energi metafisika. Gerakan dari awal sampai itu untuk melatih pernafasan, sedang selajutnya untuk melatih energi metafisika" jelas Riyan
"Jadi begitu?kupikir awalnya ini untuk tenaga dalam" sahut Cindy
"Menurut penjelasannya memang seperti itu, namun kemungkinan memunculkan energi seperti itu sangat kecil" balas Riyan
Karena sudah terlanjur, Cindy meminta Riyan melanjutkan arahan sesuai petunjuk dari tulisan yang ada di gambar.
"Kamu kan belajar silat, apa tidak diajari paman cara pernafasan yang benar?" tanya Riyan
"Masih belum, kata paman pernafasan akan diajarkan saat aku sudah lulus SMA" jawab Cindy
Riyan kembali mengarahkan Cindy untuk mengatur nafasnya pada setiap gerakannya. Riyan mengatur tempo penarikan dan penghembusan nafas Cindy sesuai petunjuk buku, serta meminta Cindy untuk terus mengulang hingga Cindy terbiasa.
Dalam tiap gerakan yang ada pada tahap IV, masing-masing gerakan terbagi untuk melatih nafas perut, nafas dada, nafas diafragma dan nafas gabungan. Gerakan yang dilakukan paman Cindy malam itu adalah gerakan untuk melatih nafas dada.
Teknik pengaturan pernafasan ini sebenarnya untuk merangsang seluruh sel-sel tubuh agar meningkatkan kualitas metabolisme, pembentukan energi serta memaksimalkan kinerja sel secara keseluruhan sehingga serangan pada tahap I sampai III menjadi lebih cepat dan maksimal.
Akan tetapi berbeda dengan Cindy yang didalam tubuhnya terdapat sel khusus electrocytes akibat serum belut listrik. Latihan pernafasan itu justru membuat Cindy bisa merasakan dan menggunakan listrik dalam tubuhnya.
Cindy melakukan latihan hingga sore hari. Setelah merasa ada perubahan dalan tubuhnya, Cindy tersenyum kearah Riyan.
"Wush"
Tiba-tiba Cindy sudah berada di depan Riyan, kecepatan Cindy membuat Riyan kaget.
"Wow, cepat sekali" ucap Riyan
"sepertinya cara yang kamu ajarkan berhasil" ucap Cindy
"Aku hanya mengikuti petunjuk dari tulisan itu" sahut Riyan
Karena sudah sore, merekapun memutuskan untuk melanjutkan latihan Cindy besok hari. Pukul 17.20 mereka keluar dari hutan dan pergi setelah mengambil motor Riyan.
Riyan mengantarkan Cindy sampai kedepan gerbang rumahnya. Riyan langsung pamit karena saat itu sudah hampir malam.
Cindy melihat pamannya sedang berlatih gerakan tarian petir naga ketika hendak memasuki rumah.
"Paman mengulang gerakan tahap III, apa paman sudah bisa nafas petir naga" pikir Cindy
Disaat sedang memperhatikan pamannya, kakek menepuk punggung Cindy hingga membuatnya kaget.
"Kakek" ucap Cindy
"Kenapa?apa ada yang kau pikirkan?" tanya kakek
"Itu kek, apa paman sudah bisa belajar tahap IV?" ucap Cindy
"Tahap IV itu gerakan pernafasan, hanya saja itu seperti yang biasa kami dilakukan. Kakek dan paman masih belum tau rahasia dari gerakan pernafasan tahap IV itu" jawab Kakek
"semoga berhasil ya kek" ucap Cindy kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan kakeknya.