
Prof Gema yang melihat Brian meminum serum hijau itu dan melarikan diri, segera memberitahukan Riyan untuk mengejarnya.
"Riyan, kejar Brian dan ambil serum penyembuhan dari kantong jaket bagian dalamnya! Jika kau cepat, mungkin Cindy bisa diselamatkan" ucap Prof Gema
Mendengar perkataan dari prof Gema, Riyan tanpa pikir panjang menyerahkan Cindy kepada Lisa untuk menjaganya.
"sayang bertahanlah sebentar! " ucap Riyan
Armor hitam sekarang terpasang kembali menutupi kepala Riyan, dengan kecepatan maksimal dia mengejar Brian. Riyan melompati atap rumah biru itu dari halaman belakang, dan melihat Brian yang hampir sampai di pagar Rumah.
"beam attack"
Sekarang pedang oriental berubah warna menjadi merah pijar, Riyan menebaskan pedang itu ke arah Brian yang sedang berlari. Sebuah cahaya berbentuk sabit keluar dari pedang dan melaju kearah Brian, akan tetapi Brian yang merupakan petarung kelas atas menyadari hawa membunuh yang ditimbulkan Riyan. Dia segera berpaling dan menghindari serangan cahaya itu.
Hanya saja ledakan dari cahaya beam attack disampingnya, membuat Brian terpental dan berguling hingga tembok pagar. Tanpa membuang waktu, Riyan turun dari atap rumah tersebut.
"kenapa dia sudah berada disini ? bukankah seharusnya dia meratapi gadis itu ? aku sengaja tidak menembak bagian vital gadis itu agar tidak cepat mati sehingga dapat memberi waktu kabur ku lebih lama " pikir Brian
"oriental Sword" ucap Riyan
Pedang oriental pun kembali menjadi pedang normal biasa, Riyan dengan seluruh armor hitam di badannya berjalan cepat kearah Brian yang sudah berdiri.
"karena aku sudah pulih, aku akan meladeni mu lagi " ucap Brian yang sudah siap dengan kapaknya
"maaf, tapi aku tidak punya banyak waktu " balas Riyan membentuk sebuah katana pendek di tangan kirinya.
Brian begitu kaget melihat Riyan bisa dengan mudah membuat senjata muncul dari tangannya.
"alpha, dimana serumnya?"
[kantong jaket bagian dalam sebelah kiri dan ada serum lain pada saku celananya]
"prof bilang serumnya adalah yang ada di saku jaket, tahan tanganku menggunakan nano material jika seranganku akan mengenai bagian itu" ucap Riyan
[jadi anda akan mengamuk]
"ya" balas Riyan
Begitu mereka sudah berhadapan satu sama lain, Riyan langsung menyerang Brian dengan tusukan dan sayatan yang sangat cepat. Brian hanya bisa menangkis sebanyak 3 serangan Riyan, bahkan dengan bergerak mundur pun serangan 20 tusukan dan 15 sayatan dari Riyan hampir membuat tubuh Brian hancur.
"kenapa kau tidak menggunakan teknik ini dari awal kita bertarung ? " tanya Brian dengan suara lirih karena sekarat
"jurus ini tidak pantas dilihat oleh orang yang ku sayangi. Aku sendiri tidak ingin menggunakannya jika tidak terpaksa. Dengan melukai kekasihku, kau memaksaku menggunakan tehnik kejam ini " jawab Riyan
Riyan kemudian mengambil dua botol kecil berisi serum yang tersisa dari kantong jaket Brian. Tusukan terakhir ke jantung diberikan Riyan untuk mengantarkan nyawa orang asing bertubuh kekar itu.
Setelah mengembalikan pedang oriental menjadi sebuah kalung. Riyan bergegas menggunakan kecepatan penuh untuk memberikan serum penyembuh kepada Cindy. Saat itu Cindy yang berada di pangkuan Lisa sudah sangat lemah, cahaya matanya mulai redup dan dia tidak bisa membuka mulutnya.
"cepatlah !" ucap Prof Gema kepada Riyan
Seluruh armor hitam Riyan kembali diserap kedalam tubuhnya agar Cindy bisa melihat kehadirannya di sana. Karena Luka yang dialami Cindy cukup besar dan mengeluarkan banyak darah, Riyan dengan cepat menuangkan kedua botol kecil berisi serum itu secara bergantian ke mulut Cindy.
"bertahanlah Cin !" pinta Riyan cemas
Lisa dan Riyan gelisah menunggu efek dari serum itu, berharap dapat menyembuhkan luka Cindy. Sedang Prof Gema terdiam ketika melihat Riyan meminumkan serum yang pertama kepada Cindy, yaitu serum berwarna biru gelap.
"mungkin aku salah lihat karena efek cahaya matahari ini" pikir prof Gema
5 detik kemudian Luka diperut Cindy mulai menutup. Namun karena kehilangan banyak darah, Cindy akhirnya pingsan. Riyan yang tidak menyadari hal itu menangis dan berteriak memeluk tubuh Cindy, dia mengira kalau Cindy sudah berpindah alam.
"tenanglah Romeo, dia cuma pingsan" ucap prof Gema menepuk tubuh Riyan
"kau harus membuat serum pemulihan lagi prof ! lukaku juga lumayan parah" ucap Lisa
"tapi bagaimana cara kita membereskan kekacauan ini?" tanya Lisa lagi
Mereka melihat situasi yang ada disana, beberapa mayat bersenjata yang tergeletak dari pagar hingga belakang rumah, gazebo yang rusak, dan lapangan serta beberapa dinding yang hancur.
*Rumah Prof Gema*
Siang hari mereka tiba di rumah prof Gema, Riyan memutuskan untuk ikut merawat Cindy sementara dia masih belum sadar. Sebelumnya Riyan menghubungi Mila untuk mengatakan kalau Riyan pulang terlambat karena ada sedikit urusan. Barang bawaan serta oleh-oleh yang dibawa Riyan dari Amerika diantar oleh taksi ketika Riyan turun di markas kediaman Mike.
Selain Riyan, disitu juga ada Lisa dengan muka penuh luka serta perban terbalut di bahunya. Mereka menunggu kondisi Cindy yang sedang dirawat oleh prof Gema.
"apa kau tidak ingin pulang dulu?" tanya Lisa
"tidak apa, aku ingin menunggu Cindy" jawab Riyan
Beberapa saat kemudian prof Gema keluar dari kamar Lisa dimana Cindy sedang dirawat dan beristirahat di sana.
"tenanglah, aku sudah memberinya penambah darah dan memasang infus. Dia akan segera pulih" ucap Prof Gema kepada Riyan dan Lisa yang sedang duduk di ruang tamu.
Riyan senang mendengar hal itu karena dia khawatir akan kehilangan Cindy. Prof Gema kemudian mengubah topik pembicaraan mengenai jamur dan tumbuhan yang mereka dapatkan. Dengan adanya jamur itu, serum untuk mendapatkan kemampuan hewan bisa dibuat banyak.
"ah, aku baru sadar anda bisa berubah menjadi manusia besi saat melindungi Cindy. apa itu dari serum baru itu prof?" tanya Riyan
"ya, itu kemampuan serum baruku yang dicampurkan dengan genetik dari mimic octopus. Sayangnya itu tidak bisa di gabung dengan orang-orang yang sudah memiliki peningkatan permanen seperti Lisa" jelas prof Gema
"itu keren prof" ucap Riyan kagum
"tapi yan, kenapa wechas milikmu tidak punya tombol. Saat itu tiba-tiba aktif ketika kau berteriak sesuatu" tanya Lisa tiba-tiba
"owh ini? seperti yang kubilang, ini bukan wechas" jawab Riyan mengeluarkan liontin nya.
Karena merasa sudah dekat dan percaya dengan mereka. Riyan pun menceritakan bagaimana cara mengaktifkan senjata itu, serta bahan pedang oriental yang dibuat oleh Dr Rakesh Simra yang mempunyai beberapa karakteristik perubahan.
"Dr Rakesh memang seorang perancang senjata hebat, tidak heran pedang yang dibuatnya bisa seperti itu. Tapi bukannya dia sudah tewas" ucap prof Gema dalam hati.
"setahuku Dr Rakesh tidak dibuang kesini, dan dia sudah meninggal. Jadi kapan dia memberikan pedang itu kepadamu?" tanya prof Gema yang penasaran dengan hal itu.
"itu, aku hanya bertemu dengan hologramnya di reruntuhan laboratorium di hutan pedalaman Amerika bagian Nevada" jawab Riyan
Setelah berbincang beberapa saat, prof Gema merasakan kalau Riyan adalah orang yang tepat untuk diberikan serum belut listrik yang disimpannya di dalam kulkas pendingin. Prof Gema permisi untuk pergi kedapur mengambil serum itu supaya bisa diberikan kepada Riyan.
Begitu kulkas pendingin dibuka, wajah prof Gema tiba-tiba pucat. Botol berisi serum belut listrik tidak ada di tempatnya, hanya ada satu botol penyembuh di sana.
"Lisa" panggil prof Gema
Lisa pun pamit kepada Riyan untuk menghampiri prof Gema di dapur.
"ada apa prof?" tanya Lisa
"serum belut listrik yang ada disini kemana?" tanya prof Gema
"itu ada" ucap Lisa menunjuk sebuah serum yang ada didalam sana.
"mana?" tanya prof Gema penasaran
Lisa pun mengambil serum itu, dan dia juga sedikit kaget saat serum itu dikeluarkan. Serum yang harusnya berada disana adalah serum berwarna biru gelap, tapi ternyata yang ada adalah serum berwarna hijau yang artinya untuk penyembuhan.
"astaga, jadi yang kulihat saat itu benar-benar warna biru gelap" ucap prof Gema menepuk jidatnya
"maaf prof, sepertinya tadi pagi aku membawa serum yang salah" ucap Lisa
"untunglah bukan Mike yang meminumnya" ucap prof Gema
Dikamar Lisa, Cindy yang baru saja sadar perlahan membuka matanya. Melihat langit-langit rumah dan ruangan yang tidak dikenalnya membuatnya heran. Terakhir yang diingatnya adalah sebuah luka besar dan darah yang banyak diperutnya, kemudian Riyan memasukkan sesuatu ke mulutnya.
Melihat ditangannya terpasang sebuah infus, Cindy perlahan bangun dari tempat tidur berukuran sedang dikamar yang berwarna kuning itu.
Dari luar kamar tersebut, Riyan gelisah menunggu perkembangan kesehatan Cindy.
"klek"
Pintu kamar terbuka, Cindy muncul dari sana dengan memegang tiang infus. Riyan yang melihat Cindy muncul dari pintu kamar, segera bangkit dari duduknya. Dia menghampiri dan memegang lengan Cindy untuk membantunya.
"aku tidak apa-apa" ucap Cindy
"iya, aku tau kok kalau kamu kuat, aku hanya khawatir saja " balas Riyan
Riyan mengikuti Cindy berjalan kearah pintu masuk rumah prof Gema. Cindy yang berdiam di tengah pintu, melihat keluar rumah dimana dia merasa asing.
"ini tempat siapa?" tanya Cindy heran
"tempat Lisa" jawab Riyan
Riyan pun menceritakan kalau mereka lebih memilih membawa Cindy ke tempat itu daripada Rumah Sakit. Melihat Cindy dengan kondisi seperti itu, Riyan teringat kembali saat ketika hampir kehilangan Cindy. Dan Cindy juga melihat apa yang sudah Riyan lakukan kepada anak buah Mike.
"kau telah melihat diriku yang sebenarnya, apa kau takut bersama ku sekarang?" tanya Riyan
"maksudmu membunuh orang-orang itu?aku hanya melihat kalau kau begitu hebat" Cindy balas bertanya
"ya, tapi aku tetap seorang pembunuh" jawab Riyan
"aku memang sedikit terkejut waktu kau menghabisi orang-orang itu. Tapi melihatmu datang menyelamatkanku seperti itu, menurutku kau bukan pilihan yang salah. Membunuh mereka yang berusaha menyakitiku membuktikan kau mencintaiku" jelas Cindy
Kedua mata mereka saling memandang dan terbawa suasana. Seperti terdapat magnet yang berlawanan, kedua wajah mereka perlahan berdekatan. Didorong oleh perasaan rindu karena perpisahan sementara, ditambah kejadian yang baru saja terjadi. Kedua bibir mereka hampir menyentuh satu sama lain.
"sudah bangun Cin?" kalimat tanya yang tiba-tiba berasal dari Lisa seketika menghentikan mereka.
"ah..iya Lis baru saja" jawab Cindy
Cindy melihat jam dinding dibelakang Lisa yang menunjukkan pukul 14.00 siang, dia merasa harus memberitahu orang tuanya karena tidak pulang sejak kemarin.
Cindy meraba kantong pakaiannya untuk mencari handphonenya. Sesaat kemudian dia sadar, kalau handphone miliknya diambil oleh Brian untuk menghubungi Lisa saat itu.
Riyan yang mengerti Cindy mencari Handphone miliknya, segera mengeluarkan handphone itu dari kantong jaketnya.
"ini" ucap Riyan menyodorkan handphone Cindy
Cindy mengambil handphone yang disodorkan Riyan kepadanya dengan perasaan heran. Dia mengangkat handphone itu kearah Riyan sambil menunjukkan wajah yang seolah menanyakan asal dari benda itu.
"aku mengambilnya dari tempat kau diculik" ucap Riyan
"owh..terima kasih. Aku harus menghubungi orang tuaku" ucap Cindy mencari nomer ibunya
"kalau soal itu kau tidak usah khawatir, aku sudah menghubungi ibumu dan memberi tahu kalau kau menginap disini tadi malam" ucap Lisa
Mendengar penjelasan dari Lisa, Cindy pun menjadi tenang dan membatalkan untuk menghubungi ibunya.
"bagaimana keadaanmu?" tanya Lisa yang kemudian mendekati Cindy
"yah, lebih baik. bagaimana dengan mu?" balas Cindy
"seperti yang kau lihat, aku baik saja" jawab Lisa
Mereka bertiga duduk di kursi tamu dan berbincang di sana. Riyan melihat Lisa sudah tidak memakai perban pada bahunya, wajahnya pun sudah pulih dari luka.
"kapan prof Gema membuat serum penyembuh?" tanya Riyan heran
Lisa kemudian menceritakan kesalahannya dalam mengambil serum untuk menyelamatkan Cindy tadi pagi. Dengan serum penyembuh yang tersisa di dapur, Lisa meminum serum itu untuk menyembuhkan lukanya. Bahkan menceritakan serum belut listrik yang diminum oleh Cindy.
"lalu sekarang bagaimana?" tanya Riyan kaget
"tidak masalah, efeknya mungkin akan terjadi sebentar lagi. Bukankah lebih bagus kalau Cindy bergabung dengan kita" ucap Prof Gema yang muncul dari dapur
"bergabung?memangnya kapan kita membentuk tim?" ucap Riyan menyipitkan matanya
"Cindy akan menambah kekuatan kita untuk menghancurkan NOZ, ditambah jamur yang Lisa dan Cindy dapatkan, sepertinya mampu untuk membuat sekitar 10 serum lagi" balas prof Gema
"tentu saja tidak, aku tidak akan membiarkan Cindy terlibat dengan orang-orang Kurassha atau organisasi NOZ" ucap Riyan
"cepat atau lambat, kematian Brian akan sampai ke telinga petinggi. Saat itu tiba, mau tidak mau kau harus siap melawan NOZ yang datang kesini" ucap Prof Gema
"apa yang kalian bicarakan?efek apa?NOZ?" tanya Cindy bingung mendengar pembicaraan mereka.
"baiklah, aku akan menjelaskan secara umum" ucap prof Gema
Pertama prof Gema memberikan informasi seputar NOZ dan kaitannya dengan Kurassha dan mereka. Berikutnya adalah informasi mengenai serum belut yang diminum oleh Cindy dan kemungkinan efek apa yang akan ditimbulkan oleh serum itu.
"jadi sekarang aku manusia super seperti kalian?ini keren" ucap Cindy
"kau harus merahasiakan hal itu, atau sekumpulan orang-orang jahat itu akan mengejar mu" balas Lisa
Melihat Cindy yang sudah pulih sepenuhnya, Prof Gema kemudian mendekati Cindy dan melepas infus yang ada di tangannya. Setelah mengganti dengan pakaian bersih dan meninggalkan baju yang robek dan penuh darah, sore itu Lisa mengantarkan Cindy pulang kerumahnya. Sedang Riyan tinggal sejenak di rumah prof Gema karena ada hal yang ingin dibicarakan prof Gema.
"sebenarnya serum belut itu rencananya akan kuberikan kepadamu" ucap prof Gema
"eh aku bisa memakainya?" tanya Riyan kaget
"kalau kau mau, kau bisa memilih kemampuan hewan apa yang kau inginkan untuk dirimu" balas prof Gema
"baiklah, akan ku pikirkan" jawab Riyan