
Hari ke empat liga olimpiade, perwakilan dari kota Muriya hanya tinggal pelajaran Fisika yang diwakilkan oleh Riyan.
Sesuai jadwal yang sudah disampaikan untuk pertandingan Fisika yaitu setelah matematika dan Akuntansi, artinya sekitar jam 1 siang.
10 menit sebelum Lomba Fisika dimulai, Riyan dan peserta lain menunggu didalam aula. Seperti biasa aula penuh dengan siswa lain yang ingin menonton.
Di sana juga ada Aldo dan teman- temannya tersenyum sinis kearah Riyan dan cindy. Riyan pun mendekati Aldo, seketika teman -temannya berdiri.
"kalian lebih beruntung dari teman-teman kalian ya" kata Aldo
"tentu saja. Kudengar kau ikut liga silat, apa kau sudah kalah hingga punya waktu luang kesini?" ejek Riyan ke Aldo
"Hari ini bukan giliran silat. Lagipula aku tau hari ini giliran mu tampil, jadi aku khusus kesini untuk melihatmu kalah" balas Aldo
"jangan terlalu berharap, mungkin saja kau akan kecewa" kata Riyan
"owh, itu masih belum bisa dipastikan" kata Aldo
Riyan melanjutkan langkahnya menuju panggung sambil menunggu panggilan.
Perlombaan dimulai, Riyan dan 6 orang peserta dari kota lain sudah mengisi podium masing-masing menandakan siap menerima pertanyaan dari panitia.
Selain Riyan, ada 2 orang lain yang bisa menjawab semua pertanyaan yang diberikan. Berikutnya dibabak rebutan, sama seperti waktu menghadapi Indra waktu perlombaan tingkat kota. Riyan hanya menjawab 7 dari 10 pertanyaan rebutan untuk menjadikannya juara.
Begitu turun dari panggung dia melihat di ruangan tersebut Cindy sudah tidak ada di kursinya. Tidak berapa lama Aldo menghampiri Riyan
"ternyata kau hebat juga" kata Aldo bertepuk tangan
"sudah kubilang kau mungkin akan kecewa" Kata Riyan
"ya, aku tidak mengira kalau kau sangat pintar" kata Aldo
"tidak usah basa basi, dimana teman wanitaku" tanya Riyan
"kenapa kau menuduhku? gadis itu memang cantik jadi mungkin saja banyak yang menginginkannya" kata Aldo
"kau tidak perlu akting didepan ku" kata Riyan
"kau ini tidak ada selera humor sama sekali, ikuti aku" kata Aldo
Riyan mengikuti Aldo dengan motor yang disewanya kesebuah rumah mewah yang besar dengan halaman yang luas, mereka masuk kedalam ruangan yang juga cukup luas. Di sana terdapat beberapa samsak tinju seperti tempat latihan beladiri.
Di sana Cindy terikat pada sebuah kursi dengan mulut tertutup lakban yang dijaga oleh teman-teman Aldo dan para preman yang menghadang mereka kemarin.
Aldo berjalan mendekati teman -temannya meninggalkan Riyan ditengah tempat latihan itu.
"Kalian menculiknya?" tanya Riyan
"benar...aku cukup kesal dengan tamparan gadis ini, tapi sedikit memalukan jika harus melawan cewek" kata Aldo
"Lalu?" tanya Riyan
"sederhana saja, gantikan dia bertarung, kau bisa membawanya jika kau menang" kata Aldo melepas seragam sekolahnya.
"baiklah, tapi kau harus menepati janjimu" kata Riyan
"ini akan mudah" pikir Riyan
Aldo memulai menggerakkan tangannya dengan gerakan silatnya, dan Riyan mengambil posisi kuda-kuda jeet kune do dengan metode garis tengahnya.
"Dengan melihatmu babak belur, itu sudah cukup untuk memberi pelajaran gadis itu" kata Aldo
"kau cukup kuat bisa mengalahkan para preman yang menghadang mu, tapi aku berbeda dengan mereka jadi kau sebaiknya hati-hati" lanjut Aldo sambil terus menggerakkan tangannya.
"Kau ingin bertarung atau ngobrol?" kata Riyan
Mendengar itu Aldo kesal dan memakai jurus silatnya menyerang Riyan.
"Woosh" tendangan menyamping dari kaki kanan dikerahkan Aldo,
"Taakk...Bukk" tendangan Aldo ditahan dengan tangan kiri Riyan yang bersamaan dengan tinju lurus tangan kanannya ke wajah Aldo membuat hidungnya berdarah
"Kurang ajar" kata Aldo menyapuh darah yang keluar dari hidungnya
Aldo menyerang kembali dengan pukulan cepat akan tetapi semuanya berhasil di tangkis dan dihalau Riyan.
"Dengan kemampuanmu ini, aku ragu kau akan menang melawan gadis itu jika berduel dengannya" kata Riyan sambil terus menangkis pukulan dari Aldo.
Riyan menggenggam tangannya, seluruh ototnya mengencang kemudian pukulan lurus dilancarkan kearah Aldo.
"Bukk...duk...duk" tubuh Aldo masih tetap terpental hingga berada dibawah kursi tempat Cindy diikat. Bahkan setelah menyilangkan tangannya untuk menghalau tinju kuat Riyan, itu masih belum mampu menahannya.
"Apa sekarang aku boleh membawa gadis itu?" tanya Riyan mendekat
"aku tidak menyangka dia sekuat ini"
pikir Aldo.
Aldo kesulitan menggunakan kedua tangannya sekarang, kemungkinan lengan yang digunakan menahan pukulan Riyan mengalami keretakan tulang dan membuatnya terlihat memar dan bengkak.
"berhenti" teriak salah satu preman menodongkan pisau ke leher Cindy
"apa ini? kau ingin mengingkari janji?" tanya Riyan kepada Aldo
Jarak mereka sekarang hanya 2 meter, tidak jadi masalah bagi Riyan untuk menyerang preman itu dengan cepat untuk menyelamatkan Cindy.
"bukankah sudah kubilang kau menggantikannya bertarung, tentu saja maksudnya bukan hanya denganku" kata Aldo
Riyan memandangi mereka 4 orang murid biasa dan 4 preman kemarin malam.
"tidak masalah, ini masih jauh lebih mudah dari pada menghadapi David dan anak buahnya dulu" pikir Riyan
Aldo mundur mendekati dinding, 7 orang mengelilingi Riyan sedang di hadapannya seorang preman masih menodongkan pisau keleher Cindy.
Begitu yang lain bergerak menyerang, Riyan dengan gerakan cepat menangkap tangan preman yg memegang pisau dan meremasnya hingga pisau itu terlepas, dilanjutkan dengan tinju kuat membuat preman itu terpental.
Mereka yang hendak menyerang Riyan terhenti ketika melihat Riyan mengambil pisau itu dan mengarahkan kepada 6 orang yang sekarang berada didepannya dan Cindy.
"aku sarankan kalian mundur atau akan terluka" kata Riyan
Mereka yang berniat mengeroyok Riyan menyerang bersamaan.
"dasar bodoh" kata Riyan bergerak maju
Perkelahian terjadi dengan cepat, tinju salah seorang preman melewati pipi Riyan dan "Jleb" tusukan cepat ke pergelangan tangan sekaligus tendangan ke perut membuat orang itu terjatuh.
Riyan menundukkan badannya menghindari tendangan yang datang dari arah samping sekaligus mengangkat satu kaki lawannya yang tersisa membuatnya jatuh ke lantai.
kemudian beberapa dari mereka mendapat tusukkan pisau ke tangan, paha dan kaki, sehingga tidak dapat bergerak. Hanya teriakan kesakitan yang keluar dari mulut mereka.
Aldo yang berada di dekat dinding terdiam melihat pemandangan itu. Riyan kemudian menggunakan pisau untuk memotong tali pengikat Cindy dan melepaskan penutup mulutnya.
"kau tidak apa?" tanya Riyan
"iya, aku baik saja" jawab Cindy kemudian berjalan mendekati Aldo
Pukulan cepat ke perut dan wajah membuat Aldo tersungkur,Aldo tidak bisa menangkis serangan itu dengan tangan yang terluka. kemudian "buuk" sebuah tendangan dari kaki mulus Cindy telak ke pipi Aldo.
"aaaaarrrrgh" teriak Cindy kesal
"hah...hah..hah..sudah, ayo pergi" kata Cindy
Mereka meninggalkan tempat itu untuk kembali ke penginapan. bersamaan dengan mereka keluar, didepan pintu rumah mewah itu datang mobil sedan mewah berwarna silver.
Pintu mobil dibukakan oleh penjaga yang mengenakan setelan hitam dan turunlah seorang laki-laki gendut besar dari mobil itu. Beliau adalah pak Tirta, ayah dari Aldo.
Pak Tirta berjalan memasuki rumahnya dengan diikuti tiga pengawalnya. Riyan memberikan jalan kepada Pak Tirta dan pengawalnya untuk lewat.
melewati Riyan, pak Tirta menatapnya sambil terus berjalan.
"sepertinya Aldo mengajak teman - temannya lagi ke rumah" gumam Pak Tirta
Riyan menaiki motornya dengan Cindy dan meninggalkan rumah mewah milik pak Tirta.
"kenapa kau bisa tertangkap mereka?" tanya Riyan
"Mereka bilang memasukkan obat bius ke minumanku dengan suntikan, sehabis babak pertama perlombaan mu itu, aku tidak sadarkan diri" kata Cindy
"pantas saja mereka bisa membawamu dengan mudah" kata Riyan
"aku kesal sekali, tapi bagaimana jika mereka melaporkanmu ke polisi? walau aku mengaku diculik, mereka para orang kaya pasti bisa memutar balikkan fakta" kata Cindy
"kau tidak usah khawatir tentang itu, aku akan mengatasinya" jawab Riyan
Riyan mengantarkan Cindy ke penginapan sampai kamarnya kemudian mengembalikan motor sewaannya dan berjalan kembali ke penginapan sambil mengasah kemampuan mengendalikan material nano.
"untuk berjaga jaga, kau sudah melakukannya kan Alpha?" kata Riyan
[ Iya Tuan ]
\=Alpha menunjukkan sebuah rekaman video kepada Riyan\=
"Bagus, dengan ini mereka tidak akan bisa bertindak sembarangan" kata Riyan
*dirumah Pak Tirta*
Aldo keluar dari ruang latihan beladiri dengan wajah berdarah serta tangan kaku dan memar. Pak Tirta terkejut melihat kondisi orang-orang itu terutama anak tunggalnya.
"apa yang terjadi padamu nak?" tanya Pak Tirta
"apa ayah tidak melihat anak laki-laki dan seorang gadis keluar dari sini?dia yang menghajarku dan teman-teman" jelas Aldo
"laki-laki, maksudmu anak SMA dengan rambut acak itu?" kata Pak Tirta
"benar, dia ayah" kata Aldo
"Riki, Tedi bawa anak ini berobat" perintah pak Tirta kepada pengawalnya
"Tolong teman-temanku dulu di dalam" Tambah Aldo
Riki dan Tedi bergegas masuk ruangan berlatih dan mendapati beberapa anak terluka kemudian membawa mereka keluar.
"sekarang aku tidak bisa meneruskan perlombaan silatku" kata Aldo kesal
"kau obati dulu luka-lukamu itu, ikuti Riki" kata Pak Tirta kepada anaknya
Aldo dan teman-temannya dibawa pergi menuju Rumah Sakit untuk mengobati luka yang ada di tubuhnya.
"berani bermain api dengan anakku, anak itu harus menerima balasannya" kata pak Tirta
Hari kelima perlombaan liga olimpiade pelajar, merupakan acara final dimana akan disiarkan ke seluruh provinsi melalui stasiun TV lokal.
Riyan menchat adiknya sebelum gilirannya maju.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Riyan :
Kakak akan tampil 15 menit lagi..kau bisa melihatnya di TV
Mila :
Iya aku tau,,sekarang aku lagi bersama nenek didepan TV
Riyan :
Eh..kau tidak sekolah?
Mila :
Hari ini dipulangkan lebih cepat,katanya pelajaran tambahan untuk kelas 3
Riyan :
Owh begitu ya..yasudah sebentar lagi kakak maju,doakan berhasil ya
Mila :
Sip...kakak yang pasti jadi juara👍
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Giliran olimpiade pelajaran Fisika, Riyan dan ketiga orang lainnya yang memenangkan kelompoknya naik ke atas panggung mengisi mimbar masing-masing.
Pertandingan berjalan dengan sengit, semua peserta menjawab keseluruhan soal yang diberikan. Dan seperti biasa berlanjut ke babak rebutan.
Dibabak rebutan lebih sengit lagi,10 soal rebutan sudah habis dan point antara tiga peserta sama termasuk Riyan, hal ini membuat juri memutuskan untuk memberikan 5 soal tambahan kepada 3 peserta yang memiliki nilai sama.
"pertandingan final memang hebat, semuanya cerdas" kata salah seorang penonton
*dirumah Riyan*
"wah kakak ayo berusaha" kata Mila dengan semangat
nenek hanya tersenyum melihat tingkah cucu didepannya, dan berharap Riyan yang di sana bisa menang.
*di ruang kantor pak Tirta*
Pak Tirta berdiri menghadap dinding kaca kantornya memandang jalan raya sambil menerima telpon dari Aldo
"apa ayah melihat di TV lokal" kata Aldo berada di sofa rumahnya
"kenapa?" tanya pak Tirta
"si brengsek itu ada di sana" kata Aldo
Pak Tirta menurunkan telponnya dan mengambil remote menyalakan TV yang ada di kantornya membuka Chanel TV Lokal. Dia melihat Riyan di sana sedang bertanding dengan sekolah lain.
"kau bisa berpartisipasi disitu, sedang anakku harus mengundurkan diri gara-gara kau" kata Pak Tirta
Pak Tirta mengangkat telponnya lagi berbicara dengan Aldo
"ayah melihatnya, kau jangan khawatir ayah akan mengurusnya" kata Pak Tirta kemudian menutup telponnya.
"Jadi kau perwakilan kota Muriya ya, apa sekolah dia yang dihadapi oleh David" gumam Pak Tirta