NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 34 Hutan dan Gunung



Setelah beberapa menit masih belum menemukan Cindy dan Yanti, teman - temannya menyusun rencana untuk menyisir sekitaran sungai dan memasuki hutan untuk menemukan mereka. Jumlah orang yang ada sebanyak 10 orang, mereka membagi dalam kelompok 2 orang untuk berpencar mencari Cindy dan Yanti.


Baru saja mereka akan melakukan pencarian, Cindy dan Yanti muncul dari sebuah semak belukar tidak jauh dari jalan masuk menuju hutan dikaki gunung.


"dari mana saja kalian ? " tanya salah satu teman mereka


"maaf, tadi kami tersesat ketika mencari tempat untuk buang air kecil " kata Yanti


Yanti adalah teman sekelas Cindy waktu kelas satu, sekarang dia terpisah kelasnya dengan Cindy. Yanti seorang gadis berdarah jawa timur, berambut panjang dan mengenakan kacamata bulat besar.


"untung kami melihat sorotan lampu senter kalian " tambah Cindy


Mereka akhirnya bisa lega karena Cindy dan Yanti tidak apa - apa. Mereka adalah sekumpulan anak SMA Fajar Harapan kelas dua yang berjumlah 12 orang, dengan terdiri dari 7 orang laki - laki termasuk Fikri teman sewaktu perlombaan liga antar pelajar tahun lalu dan 5 orang perempuan, mereka memutuskan hiking di gunung sapathawung untuk menikmati liburan.


Saat ini mereka berada di kaki gunung dan mendirikan tenda untuk istirahat. Mereka berencana memulai pendakian besok pagi karena sudah cukup lelah berjalan dari pemukiman sejak senja hari.


Gunung sapathawung merupakan gunung dengan ketinggian 1.906m disertai dengan pepohonan dan hutan yang rimbun menuju puncaknya. Tempat ini biasa dikunjungi para pecinta alam, ataupun masyarakat umum yang ingin menikmati pemandangan indah di puncak gunung.


Para Pria bergantian berjaga didepan api unggun untuk beberapa saat, dan para wanita tidur di tenda.


*********


Minggu pagi mereka semua membereskan tenda masing - masing dan menyiapkan perlengkapan untuk mendaki. Para lelaki menggendong ransel berukuran besar dan para wanita hanya membawa ransel kecil.


jam 9 pagi mereka memasuki hutan melewati jalan setapak yang mengarah ke puncak gunung. Para pendaki biasa melewati rute yang mereka lalui, berbeda dengan masyarakat umum yang melewati jalur lebih landai.


'Riyan belum datang juga? mungkin dia nanti lewat jalur orang umum ' pikir Cindy menengok ke belakang sebelum memasuki jalur hutan.


"Ayo Cin " seru temannya yang ada di belakang


"Riyan jadi datang Cin ? " tanya Fikri yang berada didepan Cindy


"katanya kemarin sih mau nyusul kesini, tapi belum keliatan tuh orang " jawab Cindy


"mungkin lewat jalur biasa " kata Yanti


*dirumah Riyan *


Sementara itu dikamar Riyan, karena tadi malam dia pulang larut malam sekali, menyebabkan Riyan masih belum bangun dari tidurnya. Karena sudah hampir siang, Mila memanggil kakaknya dari luar kamar.


Riyan terbangun dengan teriakan adiknya, kemudian melihat jam dinding yang terpasang di atas pintu kamarnya. Dia kaget ketika melihat angka di jam dinding itu menunjukkan waktu setengah sebelas.


"sial kesiangan " gumam Riyan


Riyan bergegas mengambil handuk dan mandi. Kemudian dia menuju meja makan untuk mengisi perutnya.


"tergesa sekali, kau mau kemana? " tanya Tari


"hari ini saya mau menyusul teman - teman ke gunung sapathawung, tante tidak kerja ? " kata Riyan


"iya,,ada yang ingin bertukar shif sementara karena ada acara keluarga katanya dua hari nanti, jadi sementara dua hari ini tante libur tapi minggu depan full sabtu sama minggu " jelas Tari


Tari dan Mila hari ini berencana pergi ke mall untuk bersenang - senang, nonton film dan lainnya. Usai makan dan mengepack bawaannya, Riyan menyalakan motornya setelah pamit pergi dengan Tari dan Mila menuju lokasi gunung sapathawung.


Dengan tas ransel besar di punggungnya, Riyan melarikan motor sportnya dengan kencang agar bisa cepat bergabung dengan Cindy dan teman - temannya. Normalnya dengan kecepatan biasa, perjalanan ketempat itu memakan waktu selama 50 menit. Saat ini jarak itu ditempuh Riyan hanya dalam waktu 20 menit.


Begitu sampai di pemukiman warga yang berada dibawah kaki gunung sapathawung. Riyan memasuki area parkir yang disediakan untuk pengunjung kemudian turun dari motornya. Lahan parkir seluas 100 meter persegi, Banyak Mobil dan motor parkir disana.


Lahan parkir memang sengaja disediakan karena untuk menuju kaki gunung jalan yang dilalui kecil dan tidak cocok untuk mobil. Karena jaraknya yang lumayan jauh, banyak ojek motor yang memberi jasa antar dari pemukiman menuju kaki gunung maupun sebaliknya.


"Alpha, pindai gunung ini dan cari lokasi Cindy dan yang lain " kata Riyan


[Proses pemindaian...waktu yang diperlukan 5 menit ]


Selain dirinya, banyak juga orang yang ingin kesana sehingga pemukiman itu menjadi ramai. Beberapa kali Riyan ditawarkan jasa ojek untuk mengantar ke kaki gunung namun dia menolak karena ingin berjalan kaki.


5 menit kemudian pemindaian yang dilakukan Alpha selesai, muncullah peta hologram 3 dimensi gunung sapathawung didepan Riyan dilengkapi titik - titik merah yang menunjukkan lokasi dan jumlah pengunjung gunung itu.


"ternyata mereka sudah setengah jalan ke puncak, tapi kenapa memilih lewat jalur itu " kata Riyan


[sepertinya mereka ingin mempersingkat waktu ke puncak]


"mungkin saja, jalur itu memang lebih cepat dari jalur biasa " kata Riyan


Kemudian perhatian Riyan teralihkan kepada sebuah gua yang tertutup oleh air terjun besar yang ada di sisi lain gunung tersebut. Bahkan tidak ada satupun titik merah dilokasi itu, yang artinya tidak ada orang disitu.


"sepertinya di sana menarik, besok ajak Cindy kesitu deh " kata Riyan


Sesaat kemudian dia mendengar suara keributan dari tepi pemukiman pada sebuah jalan sepi yang memang akan dilewatinya dan kemudian mendekati asal keributan itu. Riyan melihat puluhan orang - orang berjaket kulit hitam sedang berkelahi dengan dua orang separuh baya, dua pemuda dan satu orang tua yang terlihat seperti penduduk lokal.


Kelima penduduk lokal itu melakukan perlawanan yang hebat dengan 15 orang berjaket hitam itu. Tentu saja kelima penduduk lokal kewalahan menghadapi orang sebanyak itu, terlebih orang yang sudah tua.


Riyan berpikir kalau itu mungkin urusan pribadi yang dia tidak tau siapa yang benar dan salah, kalau dia membantu kelompok yang ternyata salah akan memperpanjang urusannya. Maka akhirnya Riyan memutuskan untuk tidak ikut campur dan fokus untuk mengejar teman - temannya dengan hanya melewati area perkelahian itu.


"aaaaaaarg " teriakan keras dari seorang pemuda penduduk lokal kemudian mengganggu pikiran Riyan


Riyan menoleh kearah perkelahian tersebut, kali ini keputusannya berubah untuk menghajar semua orang yang berjaket hitam. Hal itu dikarenakan apa yang Riyan lihat setelah jaket salah seorang dari mereka terlepas dan menampilkan kaos hitam bergambar ular berbentuk huruf K.


Sebuah simbol yang mengingatkan kejadian kebakaran rumahnya dan kematian neneknya, simbol yang sama dengan pin milik Joni yang digenggamnya saat itu. Simbol yang menandakan bahwa orang - orang itu terhubung dengan Mike yang dia incar.


Riyan meletakkan ranselnya dan berlari mendekat dengan cepat menuju pertarungan mereka, Riyan menarik rambut lawannya dari belakang dan memukul dadanya dengan keras hingga jatuh. Kemudian mematahkan tangan lawan yang meninjunya.


Orang - orang berjaket hitam itu terdiam, begitu juga dengan penduduk lokal membuat perkelahian terhenti, orang berjaket hitam membentak Riyan dan memerintahkan untuk tidak ikut campur urusan mereka.


"bocah, sebaiknya kau pergi saja dari sini atau kau juga akan kami hajar " kata pimpinan orang berjaket hitam


Serangan berikutnya datang dari sebuah tendangan terbang yang disambut Riyan dengan tendangan tingginya ke wajah orang itu. Seperti biasa, gaya bertarung menghindar sambil menyerang membuat satu persatu lawannya terjatuh dan tidak bisa bangkit, baik karena pingsan maupun patah kaki atau tangan.


Kelima orang penduduk lokal disana hanya terdiam kagum menyaksikan kemampuan Riyan mengatasi orang - orang itu. Riyan membuat pemimpin mereka babak belur dan menanyakan lokasi Mike berada.


Sayangnya tidak banyak informasi yang Riyan dapat dari orang itu. Dia mengatakan bahwa Mike selalu berpindah pindah dan tidak jelas keberadaannya. Dia hanya menerima perintah untuk mengambil tanah disini melalui anak buahnya yang lain.


"terima kasih telah membantu kami nak, mereka ini penjahat yang ingin merampas tanah kami " kata orang tua disana kepada Riyan


Riyan menyerahkan orang - orang itu kepada penduduk lokal yang ada disana. Mereka berterima kasih atas pertolongan Riyan dan mengajak kerumah mereka untuk makan siang. Riyan menolak dengan halus dengan alasan dia harus menyusul teman - temannya.


Sekarang sudah setengah satu siang, Riyan mengambil kembali ranselnya dan berjalan sampai sedikit jauh dari tempat itu. Riyan melihat kanan kiri dan ketika yakin tidak ada orang disekitar, dia langsung meningkatkan kecepatannya dan berlari melalui jalur yang tidak pernah dilalui orang lain.


Setelah beberapa menit, Riyan tiba di hutan yang berada di kaki gunung sapathawung. Dia meminta Alpha menampilkan map hologram gunung itu lagi. Posisi teman - temannya sekarang hanya diam di tepi sungai.


"sepertinya mereka sedang istirahat sekaligus makan siang, kalau begitu akan kususul " gumam Riyan


Riyan menaiki sebuah pohon dan melompat dari satu pohon kepohon lain dengan sangat cepat untuk menyusul yang lain.


*********


Cindy dan gadis lain bernama Santi mencuci beras yang mereka bawa disungai, gadis lainnya memotong sayuran sambil berbincang. Para lelaki membuat dua buah api untuk memasak, Fikri dan yang lain mencari ranting untuk bahan tambahan dibakar.


Begitu api menyala, mereka langsung memasak nasi dan sayur. Tidak ada lauk, karena merepotkan makanya mereka tidak ada yang membawanya. Siang hari mereka tidak memasang tenda, hanya menggunakan matras untuk duduk di tempat teduh.


Sementara menunggu matang, mereka bercerita mengenai sekolah dan kadang tertawa ketika mendengar cerita lucu.


Setelah makan siang, semuanya mengistirahatkan badannya sejenak dan memulihkan tenaga mereka dengan bersantai dipinggir sungai. Santi sedang bersama dengan pacarnya duduk ditepi sungai, para laki - laki sedang asik bermain kartu.


Yanti, Reni dan Lina bercebur di sungai menikmati kesegaran airnya, Cindy hanya duduk diatas matras melihat ke arah santi.


"ayo nyebur sini, jangan mikirin Riyan terus " teriak Yanti


" Riyan yang mana? perwakilan olimpiade pelajar kemarin ? " tanya Lina kepada Yanti


(karena memang ada beberapa nama Riyan disekolah SMA Fajar harapan)


"he eh " jawab Yanti yang kemudian menceritakan mengenai kedekatan Cindy dan Riyan.


'apa dia tidak jadi kesini ya ' pikir Cindy termenung


"mikirin siapa neng ? " tanya Riyan


Cindy kaget dengan kedatangan Riyan disampingnya, dia senang akhirnya Riyan menepati janjinya. Terbawa suasana, tanpa sadar Cindy berdiri dan memeluk Riyan.


"ehem...ehem " suara dari Yanti dan gadis lainnya yang sedang berada di sungai tepat dihadapan mereka


Mendengar suara teman - temannya membuat Cindy sadar dan melepaskan dekapannya, wajahnya merah seketika.


"apaan sih " kata Cindy menahan malu


"Cieee" kata teman - temannya di air


Riyan kemudian meninggalkan Cindy dengan Yanti dan yang lain, dia bergabung dengan Fikri dan lainnya yang sedang bermain kartu.


Jam 2 mereka melanjutkan perjalanan ke puncak melewati jalan setapak diantara pepohonan. Ketika hampir puncak, kaki Lina tergelincir hampir jatuh namun ditangkap oleh Riyan. Mereka berhenti sejenak dan memeriksa kaki Lina yang ternyata terkilir. Riyan dan Fadli membantunya naik ke puncak.


Sesampainya di puncak gunung jam 4 sore, disana terdapat lahan luas untuk mereka mendirikan tenda. Tidak ada orang lain disini selain kelompok pecinta alam yang tahu jalurnya, karena wisata jalur umum hanya sampai air terjun dibawah.


Riyan dan Fadli membiarkan Lina meluruskan kakinya. Kemudian Riyan melepaskan sepatu Lina dan sedikit memijat kaki Lina yang terkilir hingga membuatnya lebih baik. Semuanya membangun tenda masing - masing berdekatan mengelilingi api unggun.


Lina mendekati Riyan yang sedang menyalakan api unggun, dan menawarkan bantuannya. Riyan hanya menyuruhnya untuk jangan terlalu banyak bergerak sementara.


"kamu Riyan dari SMP Muriya 3 ? " tanya Lina


"iya, kenapa ? " tanya Riyan


Lina kaget dengan perubahan Riyan saat ini, Lina adalah teman sekelas Riyan sewaktu SMP. Dia mengenal Riyan sebagai anak biasa yang kurus dan tidak bisa lelah dengan penyakit tipesnya. Akan tetapi dihadapannya sekarang dikenal sebagai seorang pemuda jenius dengan wajah bersih dan tubuh atletis.


"harusnya aku yang tanya begitu, kenapa kamu bisa berubah 180 derajat begini ? " kata Lina


Sebelum Riyan menjawab pertanyaan Lina, Cindy datang untuk minta bantuan Riyan memasangkan tenda miliknya dan Yanti.


Semua tenda sudah terpasang dan api unggun sudah menyala. Mereka melihat sunset dari atas gunung dan mengabadikan moment mereka dengan kamera Handphone masing - masing.


Malam hari didepan api unggun mereka bersenang senang bersama hingga larut malam, para wanita memasuki tendanya dan Riyan membisikkan kepada Cindy akan mengajak dia kesuatu tempat besok.


Karena sekarang jumlah pria 8 orang, jadi mereka bergantian jaga tiap 3 jam dalam kelompok 4 orang. Jumlah yang cukup untuk permainan kartu dimana Riyan tidak pernah kalah bermain karena dibantu Alpha.


********


Pagi hari para wanita bangun menyaksikan matahari terbit dari puncak gunung, pemandangan yang luar biasa dan menyenangkan bagi mereka.


Sedang para pria, mereka merebus air dengan api unggun untuk membuat kopi. Suasana dingin di puncak gunung dengan segelas kopi dirasa sangat nyaman bagi mereka.


Setelah berfoto bersama, mereka merapikan barang bawaannya serta membuang sampah kedalam api unggun. Jam 8 pagi mereka turun dari puncak sapathawung, Riyan mengajak mereka menuju sebuah air terjun yang belum pernah di datangi manusia.


Mereka setuju karena memang sekalian ingin mandi, Riyan berpindah ke posisi depan untuk memimpin jalan. Dia mencari rute tercepat menuju air terjun tersebut dengan panduan map dari Alpha. Karena belum ada jalan menuju air terjun tersebut, Riyan membuatnya dengan menebas ranting dan dahan menggunakan parang yang dibawa Fadli.


15 menit kemudian teman - temannya mulai panik berpikir kalau mereka tersesat dan menanyakan kebenaran dan asal informasi air terjun yang dikatakan Riyan. Akan tetapi Riyan meyakinkan mereka bahwa sebentar lagi akan sampai dan tempat ini sangat bagus.


Sesaat kemudian mereka keluar dari hutan dan sebuah air terjun dengan lebar 4 meter dan tinggi 7 meter, serta kolam besar berwarna hijau terang dibawahnya ada dihadapan mata mereka. Mereka semua sangat gembira melihat pemandangan dihadapannya, dan segera melepas ransel kemudian menyeburkan diri kesana.