NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 41 Kereta Api Cepat



Jam 6 pagi Riyan tiba di Benua Amerika Utara tepatnya Negara Amerika Serikat kota New york, artinya di Indonesia saat ini jam 6 sore. Riyan mengenakan celana panjang dengan jaket biru dan penutup kepala. Selain itu dia juga membawa sebuah tas ransel berisi pakaian ganti secukupnya.


Riyan memutuskan berangkat menggunakan kendaraan umum untuk menikmati perjalanan menuju kota terdekat dengan hutan dimana dia akan berburu Antelop. Di bandara, Riyan menghubungi Cindy untuk memberitahukan kedatangannya di Amerika. Seperti pasangan kekasih pada umumnya, Cindy menyuruh Riyan berhati -hati di negara asing.


Selama 20 menit mereka mengobrol lewat telepon, Riyan kemudian menaiki sebuah taksi dan memintanya mengantarkan ke stasiun kereta api yang berjarak 15 km dari Bandara.


"stasiun kereta?memangnya kau mau kemana teman?" tanya supir taksi


"Nevada" jawab Riyan


"itu perjalanan yang sangat jauh kawan. Kau harus berhati-hati naik kendaraan umum saat ini, terlalu banyak kriminal sekarang. Ku sarankan lebih baik kau sewa kendaraan pribadi" kata supir taksi


"tidak apa, aku akan jarang berada di kota" ucap Riyan


"Nevada, kau ingin bersenang-senang di Las Vegas ya " kata supir taksi sambil tersenyum


Riyan hanya diam sambil melihat kota melalui jendela taksi. Dia tersenyum bahagia ketika mengingat kembali kejadian malam sebelum keberangkatannya di rumah Cindy.


**Flash back **


Didepan rumah Cindy malam sebelum Riyan berangkat.


"ada hal lain yang ingin ku katakan" kata Riyan sambil memegang tangan Cindy


"Apa?" tanya Cindy


"I LOVE YOU"


"huh gombalnya mulai lagi " ucap Cindy


"aku serius Cin, seperti yang kamu bilang. Di Amerika saat ini bahayanya sangat tinggi, aku tidak tau bisa kembali atau tidak, makanya aku ingin kamu tau perasaanku" jelas Riyan


"kalau begitu kenapa tidak di batalkan saja kepergian mu" ucap Cindy


"aku tidak bisa " jawab Riyan


Kemudian Cindy memeluk Riyan, dan Riyan membalas pelukan Cindy. Beberapa saat kemudian mereka berdua melepas pelukannya.


"apa itu artinya jawabannya 'iya' ?" tanya Riyan


Cindy membalas pertanyaan Riyan dengan menganggukkan kepalanya dua kali dengan cepat sambil tersenyum malu, Riyan kemudian mengangkat dagu Cindy dan mencium bibir merahnya.


"setibanya disana kamu kabarin aku ya,,yang paling penting kamu harus pulang " ucap Cindy


Kemudian Cindy masuk ke rumahnya sambil terus menatap Riyan dan Riyan pergi dari tempat itu sesaat setelah pintu rumah Cindy tertutup.


[Tuan..Anda tidak akan bisa terluka, kenapa anda mengatakan khawatir tidak akan bisa kembali]


"walau ku jelaskan sekalipun, kau tidak akan mengerti Alpha. Itu hanyalah cara dramatis untuk mempercepat jawaban dari Cindy" ucap Riyan


*********


"kalau ingin ke Las Vegas, ku sarankan lebih baik naik pesawat ke sana, hanya perlu waktu 20 menit" Kata supir taksi memecah lamunan Riyan


"tujuanku bukan ke sana" balas Riyan


Sesaat kemudian taksi berhenti di tepi jalan kota Cleveland, sebuah bangunan yang merupakan stasiun kereta api cepat. Riyan mengeluarkan sejumlah uang sesuai dengan yang tertera pada argo taksi dan menyerahkannya kepada supir.


Berikutnya Riyan membeli tiket kereta api cepat kelas bisnis menuju Kota Carson. Riyan memasuki gerbong dan duduk di kursi panjang yang tersusun seperti pada pesawat, hanya saja dilengkapi sebuah meja kayu didepan kursi tersebut. Perjalanan menuju kota Carson diperkirakan memakan waktu 6 jam dengan 3 kali pemberhentian.


Riyan meletakkan tas ranselnya kebawah meja yang ada didepannya. Beberapa menit sebelum kereta berangkat, banyak orang yang masuk nemenuhi kursi di gerbong tersebut. Seorang pria dewasa kemudian mengisi kursi kosong di samping Riyan. Pria kulit putih berambut pirang dengan jaket kulit berwarna coklat .


Riyan dan Pria itu saling berkenalan. Dirinya memperkenalkan dirinya bernama Frank kepada Riyan, dan Riyan memperkenalkan diri sebagai seorang turis traveler dari Indonesia.


"kau mau kemana? Chicago? Denver?" tanya Frank


"Carson, Nevada. Dan anda ?" tanya Riyan


"aku juga mau ke Nevada, tapi Las Vegas" jawab Frank


Frank menanyakan apa yang dilakukan seorang traveler seperti Riyan di Carson. Menurutnya jika untuk menikmati keindahan alam, di sana bukan tempat yang tepat. Mereka pun berbincang mengenai berbagai hal untuk mengisi waktu perjalanan yang panjang. Termasuk dalam pembicaraan mereka mengenai kejahatan yang meningkat di Amerika terutama pembunuhan para pemburu yang diberitakan di TV.


Pada persinggahan kedua di stasiun ketiga kota Denver, kereta api dibajak oleh kumpulan penjahat. Mereka melepas kait yang menghubungkan Gerbong Ekonomi dan melanjutkan perjalanan kereta api tersebut. Sekarang hanya ada 5 gerbong, 1 gerbong VIP, 2 gerbong kelas satu dan 2 gerbong bisnis.


Kelompok penjahat itu membagi jumlah orang untuk memasuki tiap gerbong yang tersisa. 7 penjahat bersenjata api memasuki gerbong bisnis yang dinaiki Riyan. Dengan menodongkan senjata kearah penumpang, mereka menyuruh penumpang di sana berkumpul pada satu sisi, sekaligus meminta mengumpulkan barang berharga yang dibawa.


"kenapa aku harus berurusan dengan hal ini?" kata Riyan dalam hati


Riyan mengikuti perintah para penjahat itu menuju sisi para penumpang lainnya, hanya saja tidak ada barang yang harus diserahkan. Akan tetapi salah satu penjahat mengambil tas milik Riyan yang berada di bawah meja dan memeriksanya. Setelah semua barang dimasukkan kedalam kantong besar, Penjahat yang membawa kantong itu berpindah ke gerbong berikutnya.


6 orang yang tersisa masih mengacungkan senjata api kepada para penumpang dan menyuruh untuk pindah ke gerbong depan, namun salah seorang dari penjahat itu menodongkan pistol sangat dekat dengan Frank. Seperti sudah terlatih, Frank berbalik dengan cepat dan merebut senjata api jenis pistol ditangan penjahat itu kemudian berbalik menembaknya .


Penjahat yang lain yang tengah kaget dengan suara tembakan itu dan terlambat untuk bereaksi. Akibatnya mereka semua terkena tembakan dari pistol di kedua tangan Frank, satu yang direbut dari penjahat dan satu lagi yang memang dari awal berada di pinggangnya.


Sayangnya satu penjahat lolos dari tembakan dan mengambil Riyan yang ada didekatnya sebagai perisai sekaligus sandera. Penjahat itu menyuruh Frank meletakkan pistol di tangannya, dan mengancam akan menembak Riyan jika Frank tidak melakukannya.


Penjahat itu mendekap leher Riyan disertai pistol yang diarahkan ke kepala Riyan, hal itu membuat Frank tidak punya pilihan selain meletakkan kedua pistolnya di lantai.


"apa ini film laga, rencananya aku hanya mengikuti alur saja" pikir Riyan


"Karena tidak sesuai rencana, apa boleh buat" kata Riyan


Riyan kemudian memukul wajah penjahat itu dengan belakang kepalanya, hingga membuat dekapan penjahat itu terlepas. Segera Riyan berpaling dan disaat penjahat itu mengarahkan senjatanya kepada Riyan, seketika tiga serangan beruntun cepat yang diakhiri pukulan telak ke wajah sampai membentur dinding kereta membuat penjahat itu tidak berdaya.


"kerja bagus Riyan, kau hebat juga" ucap Frank sambil mengambil senjata milik penjahat yang tewas.


"siapa mereka?" tanya Riyan


"Kami?" tanya Riyan


"iya, teman - temanku ada di tiap gerbong, Kau turunlah bersama yang lain" balas Frank yang kemudian berpindah ke gerbong berikutnya.


"kurasa aku juga tidak ingin terlibat masalah di negara orang" pikir Riyan


Frank kemudian melepas kaitan gerbong, dan tidak berapa lama seluruh penumpang merasakan hentakan di gerbong itu. Beberapa saat kemudian gerbong melambat kemudian berhenti pada sebuah pemukiman. Riyan segera turun bersama penumpang yang lain, dia melihat kereta sudah menjauh dan di dalam kereta terlihat Frank baku tembak dengan para penjahat.


"bisakah seseorang mengubungi polisi atau siapapun" teriak salah satu penumpang


Mendengar kata 'menghubungi' , Riyan ingin mengambil Handphone miliknya yang ada di tas. Namun Riyan tidak menemukan Handphonenya, dia teringat seorang penjahat memeriksa tasnya saat di kereta. Riyan menduga Handphonenya diambil oleh penjahat yang mengumpulkan barang, padahal nanti dia harus menghubungi Mila dan Cindy, sedang nomor mereka tersimpan disana.


"haaah..sial, akhirnya memang harus terlibat" ucap Riyan


Kemudian Riyan menjauh dari penglihatan para penumpang lain. Dengan menggunakan armor hitam yang menyelimuti seluruh tubuh hingga wajah, Riyan berlari dengan cepat mengejar kereta api tersebut. Selagi berlari, Riyan mengaktifkan senjata pedang oriental miliknya.


Dalam Gerbong ke empat itu, Frank dan seorang temannya sedang baku tembak dengan para penjahat. Disaat Frank dan temannya kehabisan peluru, para penjahat terus menembaki sambil mendekati mereka berdua. Teman Frank akhirnya terkena tembakan dari penjahat dan tewas.


Disaat Frank sudah sangat terdesak, Riyan melompat masuk dengan armor hitamnya dan mendarat seperti posisi start lomba lari dengan satu lutut dilantai. Belum sempat Riyan berdiri, Para penjahat yang kaget dengan kehadiran sosok hitam misterius itu langsung menghujaninya dengan peluru. Tentu saja hal itu tidak berguna bagi Riyan yang sudah tertutupi armor hitam itu, seluruh peluru yang mengenainya tidak satupun dapat menembus armor itu.


Para penjahat yang kaget melihat hal itu mulai berhenti melakukan tembakan. Dengan gerakan yang sangat cepat seperti ninja, Riyan menghabisi semua penjahat yang ada di sana menggunakan pedang oriental yang sebelumnya dia keluarkan.


Frank yang dari tadi melihat kejadian itu keluar dari belakang kursi tempat dia berlindung dari tembakan penjahat. Riyan menanyakan kemana para penumpang yang ada di gerbong itu, Frank mengatakan mereka dipindahkan ke gerbong VIP di depan. Gerbong dimana di sana ada puluhan kamar untuk penumpang VIP, para penjahat menjadikan mereka sebagai sandera untuk dijadikan tawaran tebusan.


"jadi itu sebabnya penjahat itu hanya membawa gerbong bisnis keatas" kata Riyan


"tapi...kau siapa?" tanya Frank karena suara Riyan juga berubah ketika menggunakan armor hitam.


"anda tidak perlu tau identitas saya, yang jelas saya akan menghabisi para penjahat ini" ucap Riyan


"emmm...kalau bisa biarkan pemimpinnya hidup, kami harus menangkapnya untuk interogasi" kata Frank


"akan ku usahakan" balas Riyan


Frank mengambil senjata para penjahat untuk digunakannya, kemudian mereka berdua menuju gerbong ke tiga yaitu gerbong kelas satu. Di dalam gerbong ke tiga itu hanya gerbong kosong tanpa ada seorangpun di sana, kecuali meja yang berserakan dan rusak penuh dengan lubang peluru. Ketika hendak melangkah ke gerbong berikutnya, seseorang muncul dari balik pintu pembatas gerbong. Seseorang dengan luka tembak pada bahu kanannya, dia membawa seorang lagi yang terluka lebih parah pada bagian luar perut .


Dia adalah rekan dari Frank, salah satunya mengatakan karena kejadian baku tembak di gerbong sebelumnya, para penjahat menjadi lebih siaga dan berkumpul di gerbong VIP yang luas. Frank meletakkan temannya yang terluka pada sebuah kursi dan menyuruh untuk menutup luka itu.


Mereka mengatakan tengah baku tembak dengan para penjahat hingga terpaksa mundur karena keduanya terluka saat itu.


"bagaimana dengan Glen dan Jessie?" tanya Frank kepada temannya


"entahlah, mereka masih berada di gerbong depan, semoga saja tidak ketauan musuh. dimana Fredie? " jawab teman Frank


"dia sudah tewas" jawab Frank


Sesaat kemudian rekan Frank baru sadar dengan kehadiran Riyan yang menggunakan armor hitam didekatnya. Dia memperhatikan dengan seksama sosok hitam Riyan, kemudian Riyan melangkah pergi ke gerbong berikutnya.


"kau jaga dia disini" ucap Frank yang juga ingin melankah kegerbong berikutnya kepada Rekannya


"siapa dia? GI Joe? " tanya rekan Frank menunjuk dengan wajahnya kearah Riyan


"entahlah, Robocop atau Black panther. Dia tidak memberitahuku " jawab Frank kemudian masuk gerbong berikutnya


Sama seperti gerbong sebelumnya, gerbong saat ini juga sangat sepi. Riyan dan Frank bergerak maju perlahan dan sangat hati-hati dengan pedang dan senjata mesin ditangan mereka masing - masing. Tiba-tiba para penjahat muncul dari balik kursi dan pintu menembaki mereka berdua tanpa jeda.


Frank dengan sigap langsung melompat kebalik kursi untuk melindungi diri. Sedang Riyan menangkis semua peluru yang datang kearahnya menggunakan pedang oriental. Selama 5 menit para penjahat tanpa henti terus menembak, Frank sesekali muncul menembaki para penjahat.


"Untunglah dia di pihak kami" ucap Frank dalam hati ketika melihat Riyan menghalau tembakan beruntun itu.


Sesaat kemudian para penjahat berhenti menembak untuk mengisi ulang senjata mereka, saat itulah Frank keluar sepenuhnya dari kursi dan menembaki mereka lebih dulu. Beberapa penjahat berhasil menghindar dari tembakan itu dengan bersembunyi dibalik kursi dan meja. Riyan segera menghampiri mereka yang bersembunyi dan menghajar mereka hingga pingsan.


"hei teman, kau sangat hebat. Tapi bukannya terasa sia-sia kau menangkisnya dengan pedangmu, kau kebal peluru kan" kata Frank


"benar juga, walau terkena pun aku tidak akan terluka. mau bagaimana lagi, itu hanya reflek" balas Riyan


"yasudah, yang penting sekarang didepan adalah gerbong VIP. Mereka pasti sudah siap" kata Frank


*Gerbong VIP*


Sementara itu digerbong VIP, seorang anak buah penjahat melapor kepada pemimpinnya bahwa ada beberapa orang yang berusaha menggagalkan operasi mereka dan sudah membunuh banyak anak buah mereka.


Gerbong VIP adalah puluhan kamar saling berhadapan dengan lorong ditengahnya. Setiap kamar berisi tempat tidur, kamar mandi dan meja makan layaknya sebuah kamar hotel dengan ukuran 3 x 4 meter persegi.


"apa kau tau orang-orang itu?" tanya pimpinan penjahat


"sepertinya polisi bos" jawab anak buah


"perintahkan yang lain bersiap, yang terpenting dari pembajakan kita saat ini adalah membawa 3 orang itu kepada Yorgi, percepat keretanya hingga maksimal" perintah pemimpin penjahat


Para penjahat kemudian mengambil dan membawa tiga orang kedalam sebuah kamar yang berisi pemimpin penjahat. Sedang yang lain menyiapkan jebakan dengan bersembunyi dibalik kamar yang ada di gerbong VIP tersebut untuk menyambut Riyan dan Frank.


Dikamar yang berbeda, tempat para penumpang lain ditahan. Di sana dua orang rekan Frank yaitu Glen dan Jessie meminta penumpang lain untuk tetap tenang, kemudian mereka menyiapkan diri untuk melakukan serangan dengan mengeluarkan senjatanya dan memasang peredam.


Jessie dan Glen berbagi jalur untuk mengurus para penjahat. Dengan gerakan mengendap-endap mereka mengetuk kamar berisi penjahat satu persatu. Tanpa pikir panjang, para penjahat yang ada dikamar membuka pintu itu. Tentu saja seketika peluru dari Jessie dan Glen menembus kepala mereka.


Namun hal itu tidak berjalan lancar dengan lama. Ketika salah seorang penjahat keluar dari ruangan bos mereka, Jessie dan Glen terlihat sedang menembak anggota penjahat itu. Seketika terjadi baku tembak dengan penjahat yang keluar dari ruangan bos, dan membuat yang lainnya keluar mendengar suara tembakan pada lorong kamar.


Jessie dan Glen reflek memasuki sebuah kamar untuk berlindung. Penjahat itu kembali masuk dan melaporkan kejadiannya kepada pimpinan mereka. Seluruh penjahat yang tersisa sekitar 15 orang semuanya diperintahkan keluar dan berada di lorong untuk menyerbu kamar dimana Jessie dan Glen berada.


Dikamar itu ratusan peluru kemudian beterbangan menembus dinding kamar yang hanya terbuat dari kayu. Jessie dan Glen berlindung dibalik tempat tidur yang ada dikamar tersebut. Mereka sudah pasrah dengan apa yang akan mereka hadapi jika pasukan penjahat itu mendobrak masuk.


Semenit kemudian suara tembakan menghilang dari telinga mereka.