NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 74 Pabrik Kertas



*Markas Kurassha Jakarta*


5 orang penjaga bersenjata berjalan mendorong sebuah meja yang dilengkapi dengan roda dengan makanan di atasnya. Mereka membawa meja itu kedalam kamar para tawanan sebagai sarapan pagi para gadis.


"klek" Pintu terbuka, para gadis ketakutan dengan kehadiran kelima penjaga dengan wajah tertutup membawa meja besar berisi makanan. Para gadis di perintahkan untuk membersihkan diri dan berganti pakaian dengan yang sudah tersedia di dalam lemari, kemudian memakan sarapan yang sudah mereka bawa.


"Makanlah! kami akan kembali dua jam lagi" ucap penjaga


Saat pintu terbuka ketika para penjaga keluar dari kamar tawanan, terdengar suara jeritan seorang wanita yang sangat keras seperti sedang mendapatkan siksaan dari seberang kamar mereka.


Semua gadis yang baru termasuk Mila, menjadi panik mendengar jeritan tersebut. Ditambah saat itu tiba-tiba tubuh Iren mengejang karena mengalami sakau akibat Narkoba yang diberikan para penjahat. Dian dan Mila berlari menghampiri Iren dan memeluknya.


"Iren, bertahanlah!" teriak Dian memegang tubuh dan tangan Iren.


Seorang gadis lain bernama Gita teman Iren segera menuangkan air panas kedalam bak mandi mencampurnya dengan air dingin hingga menjadikan air itu hangat. Dian membawa temannya Iren ke kamar mandi dan merendam tubuh Iren kedalam bak untuk mengurangi sakit yang dideritanya.


Beberapa saat kemudian Iren kembali tenang.


"terima kasih Gita, Dian" ucap Iren


"Apa yang terjadi?" tanya Mila


"Ini biasa terjadi jika kau sudah lama disini dan diberi narkoba, berendam dengan air hangat adalah cara untuk kami sedikit bertahan dari rasa sakit. Untungnya kamar ini disediakan dapur untuk merebus air" jawab Iren


"Aku, Iren dan Gita sudah berada disini selama sebulan, mereka telah sering menyuntikkan narkoba ke tubuh kami sehingga kadang seperti yang kau lihat tadi" ucap Dian


"aku tidak ingin menakuti kalian, tapi kemungkinan besok mereka akan menyuntikkan narkoba kepada kalian yang baru di tangkap" tambah Gita


Saat itu yang baru berjumlah 3 orang dan satu diantaranya seumuran dengan Mila. Mereka saling memandang dan berpelukan, tidak tau apa yang harus dilakukan.


*Jakarta Pusat*


Disaat yang sama Riyan tiba di Jakarta pusat. Dengan mengenakan jaket berbahan jeans dan Ransel di punggungnya, dia mencari taksi ketika keluar bandara.


"Aku teringat dulu kau bisa mencari Alex yang berada di pasar waktu dia mengambil sepeda Mila. Apa kau bisa menemukan Mila dengan cara yang sama?" Tanya Riyan


[saat itu saya melacak Alex juga melalui ponselnya]


"Darimana kau bisa tau handphonenya?" tanya Riyan lagi


[saya memindai Alex waktu pertama berkelahi dengan anda di taman dan mendapatkan handphonenya pada saku celana]


"Jadi begitu, kupikir akan mudah jika kita langsung tau posisi tepat Mila"


Riyan kemudian menaiki sebuah taksi argo dan menyebutkan alamat kepada sopir itu sesuai dengan yang diberikan oleh Sapri.


"Mas mau kerja disana?" tanya supir taksi sambil menjalankan mobilkan


"Kenapa mas?" tanya Riyan tidak mengerti dengan maksud supir


"Iya, itukan pabrik kertas mas" sahut Supir


"Owh..tidak mas, saya cuma mau ketemu adik saya" balas Riyan


"Pabrik kertas?Sapri tidak bilang kalau itu sebuah pabrik" Pikir Riyan


Perjalanan menuju pabrik kertas itu lumayan jauh. Setelah memerlukan waktu 30 menit, akhirnya Riyan tiba di lokasi tersebut.


"Ini tempatnya mas" ucap Supir


"Makasih pak" balas Riyan menyerahkan uang sesuai argo meter kepada supir.


Bangunan itu memang sebuah pabrik kertas dikelilingi tembok beton, terdapat dua orang satpam di depan pintu masuk. Sebuah pabrik biasanya berada di pinggiran kota, namun pabrik kertas itu berada di pusat kota dan tidak jauh dari jalan Raya.


Setelah taksi itu pergi, Riyan meminta Alpha untuk memindai bangunan itu. Kemudian salah seorang satpam mendekati Riyan.


"Siapa kamu?Ada apa kemari?" tanya satpam ketus


"tidak, saya cuma ingin tanya apa disini menerima karyawan baru?" tanya Riyan


"Tidak ada, pergi sana!" ucap satpam itu


"baik mas" sahut Riyan menjauh dari sana


Riyan berjalan ke seberang jalan yang kebetulan ada sebuah warung makan.


"Alpha, kau sudah memindai bangunan itu?"


[Sudah Tuan, ada jalan rahasia menuju ruangan luas di bawah tanah]


"Nanti malam kita akan kesana" ucap Riyan


Riyan tiba warung makan yang ada di seberang jalan pabrik. Riyan hanya memesan minum dan memakan beberapa cemilan. Dari warung tersebut Riyan mendapatkan informasi kalau pemilik perusahaan itu sudah mati dan sekarang yang menjalankan usahanya adalah bekas sekretarisnya yang bernama Julia.


Informasi itu semakin menguatkan dugaan Riyan kalau adiknya ada di dalam ruang bawah tanah bangunan itu. Riyan pun mencari tempat untuk menginap, pemilik warung memberitahu penginapan yang murah.


Namun Riyan mencari penginapan yang paling dekat dengan pabrik. Pemilik warung kemudian merekomendasikan hotel Nova jika Riyan memiliki banyak uang. Menurut pemilik warung, dia mendengar kalau hotel itu sangat terkenal dengan pelayanannya yang bagus dan juga banyak orang penting dan pengusaha kaya yang menginap di sana.


Riyan yang baru saja menginjakkan kaki di Jakarta, mengikuti saran dari pemilik warung tersebut dan meminta alamat hotel Nova dan ternyata memang tidak jauh dari tempat itu. Riyan hanya perlu berjalan kaki selama lima belas menit untuk ke hotel tersebut.


*Hotel Nova*


Disaat yang sama, Julia bersama dengan Kevin dan beberapa anak buahnya tiba di hotel Nova. Senyum dan sapa para karyawan dengan seragam hotel menyambut Julia sepanjang jalan masuk menuju lift.


"Ting" pintu lift terbuka,


Julia dan 4 anak buahnya termasuk Kevin memasuki lift menuju lantai 7 dimana pertemuan sedang di adakan. Sedang anak buahnya yang lain berjaga di lantai dasar.


Begitu lift terbuka di lantai 7, Julia dan anak buahnya menuju ruang pertemuan yang berada di ujung koridor. Di sepanjang koridor depan pintu kamar, banyak anggota Kurassha cabang Jakarta berjaga di sana.


Orang-orang itu menundukkan kepala sejenak saat Julia melewati mereka hingga depan pintu kamar itu.


Kehadiran Julia di sana membuat ke lima pemimpin menjadi kaget. Mereka tidak menyangka kalau Julia datang ke tempat itu secara tiba-tiba. Julia yang saat itu mengenakan blazer hitam dan celana panjang, duduk dan bergabung dengan para pemimpin.


"Kenapa?apa kehadiranku tidak diinginkan?" tanya Julia


"Kau cukup berani datang kemari" ucap Zaki


"Sebagai ketua kalian, aku bisa kemana saja yang aku mau kan" balas Julia


"Aku tau bagaimana kau membunuh ketua terdahulu dan memberikan gadis kepada bos besar untuk mendapatkan posisimu. Kau tidak pantas menjadi ketua cabang Jakarta" ucap Zaki dengan nada keras


Julia menghela nafasnya kemudian berdiri perlahan, dengan cepat dia berlari diatas meja rendah dihadapan mereka menuju Zaki yang berada setelah Galih dan Reno dari Julia.


"Buk"


"Buk"


Julia melakukan tendangan dengan gerakan yang cepat ke arah kepala Zaki kemudian berputar menendang pengawalnya yang ada di tembok belakang Zaki saat hendak mengambil pistol dari balik jasnya.


Tendangan itu membuat Zaki dan pengawalnya terpental hingga mengeluarkan darah di hidungnya, Julia mengambil pistol yang terjatuh dari pengawal Zaki dan mengarahkannya kepada Zaki.


Todongan pistol dari Julia membuat Zaki yang ingin bangkit menjadi tertahan.


"baiklah, kau pantas menjadi ketuanya" ucap Zaki


"Bagaimana dengan kalian?" ucap Julia memandang semua pemimpin yang duduk di ruangan itu satu persatu.


Para pemimpin itu saling berpandangan, setelah beberapa saat mereka menjawab serempak "kami menolak"


Seketika itu empat pistol milik pengawal masing-masing pemimpin mengarah kepada Julia.


"Dor...dor...dor....dor"


Kepala belakang keempat pengawal tersebut sudah di tembus oleh timah panas yang keluar dari senjata Kevin sebelum sempat menembakkan senjata mereka. Corak abstrak terbentuk dari darah yang mengenai dinding ruangan berwarna putih itu.


"Pilihan yang salah" ucap Julia


Keempat pemimpin yang tidak setuju merasakan ketakutan, keringat dingin mengalir dari kepala mereka. Para pemimpin itu memang membawa beberapa pengawal di luar ruangan, namun tidak mungkin bagi mereka dalam kondisi saat ini keluar ataupun berteriak di ruang kedap suara itu. Maka menggunakan ancaman adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk selamat.


"Kalau kau membunuh kami, anak buah kami tidak akan tinggal diam. Jakarta dunia bawah akan terjadi perang" ucap Bahdi


"Bukankah kalian yang ingin memulai perang dengan ingin membunuhku" ucap Julia


Suara tembakan dari pistol yang dipegang Julia memenuhi ruangan kedap suara, tubuh Bahdi seketika terjatuh telungkup di atas meja akibat peluru yang bersarang di kepalanya.


Reno, Galih dan Daniel yang ketakutan melihat kesadisan Julia, kemudian memutuskan untuk mengakuinya sebagai ketua.


"Harusnya kalian menerimaku dari awal, sekarang terpaksa harus mencari pemimpin Jakarta Barat yang baru" ucap Julia


"Carilah pengganti Bahdi secepatnya, aku tidak mau usaha kita terganggu gara-gara hal ini" tambah Julia yang kemudian meninggalkan ruangan itu.


Sekarang terdapat 5 mayat di dalam ruangan itu, Zaki memanggil anak buahnya yang berada di luar kamar tersebut untuk membereskan mayat empat pengawal dan Bahdi secara diam-diam tanpa sepengetahuan pengunjung.


"Aku tidak mengira kalau Julia itu wanita yang mengerikan" ucap Zaki


"Kau benar, dia bahkan tau apa yang kita lakukan disini" balas Galih


Julia bersama dengan Kevin dan beberapa anak buahnya menaiki lift untuk turun ke lantai dasar.


Saat itu Riyan telah menerima kunci kamarnya dari resepsionis hotel Nova. Karena banyaknya pengunjung saat itu, Riyan mendapat kunci nomor 122 yang berada di lantai 3.


Riyan menunggu di depan Lift untuk naik ke lantai 3, di sampingnya berdiri seorang gadis seumuran adiknya dengan ayahnya yang juga menunggu lift.


Begitu pintu lift terbuka, mereka menunggu rombongan Julia dan anak buahnya keluar dari lift itu. Julia menatap gadis itu tajam dengan senyuman saat keluar dari lift, salah satu anak buahnya menyenggol gadis itu hingga hampir jatuh.


"Hei" teriak gadis itu yang marah hampir jatuh


Salah seorang anak buah Julia berpaling dan menghampiri gadis itu, namun ayahnya menghalangi dan segera membawa gadis itu masuk ke lift. Tanpa diduga, orang itu melancarkan tendangan ke arah belakang ayah anak itu.


"Tak...buk"


Tendangan orang itu dihalau oleh tangan Riyan yang kemudian langsung membalas dengan pukulan ringan ke tubuh orang itu dan langsung memasuki lift.


Ayah anak itu segera menekan tombol lift untuk naik ke atas. Kevin yang melihat salah satu rekannya terdorong karena tinju, menatap Riyan yang perlahan menghilang tertutup pintu lift.


"Sudahlah, ayo pergi!" ucap Julia kepada anak buahnya


"Orang itu, entah kenapa aku merasa akan menghadapinya" ucap Kevin dalam hati


Saat itu di dalam lift, ayah gadis itu berterima kasih kepada Riyan telah membantunya terlepas dari orang-orang itu.


"memangnya siapa mereka paman?" tanya Riyan


"Wanita itu seorang pengusaha kaya dan punya banyak pengawal seperti yang kau lihat, namanya Julia. Terakhir dia mengambil alih posisi bosnya di perusahaan pembuat kertas" ucap ayah gadis itu


"Julia pemilik pabrik kertas dekat sini?" tanya Riyan lagi dengan semangat


"benar" jawab ayah anak itu


Tepat saat itu pintu lift terbuka, ayah dan anak gadis itu keluar dari lift. Riyan segera menekan tombol lift kembali menuju bawah berharap masih bisa menemukan orang-orang itu.


"Apa kau memindai gadis itu?" tanya Riyan kepada Alpha


[Maaf tapi saya tidak memindainya tuan]


"ting" pintu lift terbuka, Riyan segera berlari keluar hotel mencari Julia dan anak buahnya.


"sial, mereka sudah jauh. Malam ini akan ku selesaikan semuanya di pabrik itu" gumam Riyan