
Karena jarak kediaman prof Gema yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, Sore itu Riyan memutuskan berjalan kaki untuk pulang. Sambil berjalan, Riyan memikirkan mengenai kemampuan hewan apa yang dirasanya cocok untuk menambah kekuatannya.
"Alpha, kemampuan hewan apa yang kau rekomendasikan untukku?"
[Kekuatan, kecepatan, regenerasi, pembentukan senjata, bahkan pemindaian juga sudah bisa dilakukan. Kalau Rekomendasi saya, mungkin mendapatkan kemampuan racun dari king kobra akan bagus]
"Racun ya, cukup menjanjikan" ucap Riyan
Tiba-tiba sesaat kemudian di depan jalan masuk menuju Rumahnya, Riyan melihat Tari dengan seragam hotelnya berjalan bersama dua orang pengawal yang disewa Riyan.
"Tante Tari" teriak Riyan
Tari menghentikan langkahnya dan melihat Riyan menyeberang jalan berlari kearahnya.
"Bos"
"Riyan, kupikir kau dirumah" ucap Tari
"Kebetulan tadi ada yang harus ku kerjakan, jadi tidak langsung pulang. Kupikir tante libur hari minggu" balas Riyan
"harusnya sih libur, tapi kemarin disuruh lembur hari ini karena ada pesta ulang tahun walikota" jawab Tari
"Pasti banyak pejabat dan pengusaha kaya ya?" tanya Riyan
"Pastinya yan, namanya juga ultah orang nomer satu di kota" jawab Tari
Tari merahasiakan pertemuannya dengan bos Tirta karena memandang Riyan yang baru datang. Mereka pun melanjutkan perjalanannya untuk pulang kerumah.
Setibanya dirumah, para pengawal masuk kedalam pos yang sudah disediakan dekat pagar. Sedang Riyan dan Tari masuk kedalam rumah dimana Mila sedang menonton TV sambil memakan Snack. Diruang tengah itu, semua isi tas yang dibawa Riyan terbongkar.
"Aaaaaa..Mila apa yang kau lakukan?" ucap Riyan kaget
"Kakak kelamaan pulangnya, jadi ku buka duluan oleh-olehnya" jawab Mila
*SMA Fajar Harapan*
Keesokan paginya aktifitas berjalan seperti biasa. Pagi itu di dalam kelas 2.4 yang masih kosong, lima belas menit sebelum jam pelajaran dimulai, Riyan duduk dan meletakkan tasnya keatas meja.
Cindy tiba-tiba menduduki kursi kosong di depan Riyan. Dengan kedua siku di atas meja Riyan, kedua tangannya menopang wajah manis itu seperti kelopak bunga yang mekar.
"Hai sayaaang" sapa Riyan
Cindy tidak membalas sapaan dari kekasihnya itu, dia hanya senyam senyum tidak jelas menatap wajah Riyan.
"Kenapa senyam senyum begitu?" Tanya Riyan
Dengan gerakan perlahan jari telunjuk Cindy mendekati tangan Riyan. Dengan perasaan bingung, mata Riyan mengikuti gerakan jari kecil itu perlahan hingga menyentuh tangannya.
"Zrrreet" percikan listrik keluar dari jari Cindy menyengat tangan Riyan. Seketika itu juga Riyan berteriak dengan reflek menjauhkan tangannya.
Cindy tertawa dan bangkit dari kursinya untuk segera lari menuju keluar kelas. Riyan yang menerima keusilan Cindy langsung mengejarnya sambil tersenyum.
"Hei....awas ya!" teriaknya
Dengan menggunakan kecepatannya, Riyan menangkap Cindy dengan mudah dan mendekapnya dari belakang tepat di depan pintu kelas.
"Kamu curang pakai kemampuan" ucap Cindy
"Kamu juga tadi pakai kemampuan barumu kan" balas Riyan
"Kan untuk uji coba,hehe" ucap Cindy
Disaat itu, Lisa yang baru datang membuka pintu itu dan melihat mereka berdua.
"Pagi-pagi sudah main peluk-pelukan aja" gumam Lisa
Riyan pun melepaskan dekapannya dari Cindy dan keduanya tersenyum melihat satu sama lain. Tidak berapa lama kemudian beberapa murid lain berdatangan memasuki kelas.
Jam istirahat, seperti biasa para siswa pergi ke kantin sekolah. Sedang Riyan pergi menuju atas sekolah untuk sekedar melepas kenangan bersama Andre, Tony dan yang lain. Tempat dimana dia dulu mereka berkumpul, di sana tanpa sengaja Riyan melihat Benny dibully oleh 4 siswa kelas tiga.
Pandangan Riyan terfokus kepada seorang siswa yang tidak dikenalnya dengan rambut spike, dan ukuran tubuh sama seperti ukuran Riyan.
"Bukankah itu Benny?Siapa yang memukulnya?kupikir dengan posisi Benny, tidak ada yang ingin mencari masalah dengannya" Pikir Riyan
Salah satu murid kelas tiga melihat kearah Riyan yang baru saja tiba di sana.
"Hei kalau kau tidak ada urusan, pergi sana" teriak siswa kelas tiga itu kepada Riyan
Tidak ingin mencari masalah, Riyan kembali turun dari lantai atap sekolah. Riyan kembali teringat pertemuannya kala itu dengan Benny di toilet. Saat itu Benny menundukkan wajahnya yang memar ketika bertemu Riyan.
"Apa yang waktu itu juga perbuatan mereka?kupikir sekolah ini sudah tidak ada hal seperti itu lagi, ternyata aku salah" gumam Riyan menuruni tangga.
Begitu lonceng bel pulang berbunyi, Riyan menemani Cindy menuju gerbang sekolah karena hari ini dia akan dijemput ayahnya.
"jadi kamu sudah bisa menggunakan kemampuan listrik dari belut?" tanya Riyan
"ya, aku bisa memunculkan energi listrik dari tubuhku. Aku baru mengetahuinya tadi pagi" jawab Cindy
"Entahlah, aku masih belum begitu mengerti cara menggunakannya. Eh Lisa kemana?" ucap Cindy
"Sudah pulang duluan mungkin" jawab Riyan
Begitu sampai di gerbang sekolah, mobil ayah Cindy sudah berada di sana.
"Wah cepat sekali, biasanya masih belum datang jam segini" ucap Riyan
"Memangnya kenapa?kan bagus kalau cepat" tanya Cindy
"Ya muncul kangennya juga jadi lebih cepat" jawab Cindy
"Bisanya, gombal melulu" balas Cindy
"Cin, ingat itu setruman jangan sampai ketahuan" ucap Riyan
"oke bos" balas Cindy menirukan gerakan hormat
Mereka pun berpisah setelah Cindy berjalan menjauh dan memasuki mobil ayahnya. Riyan kembali kearah sekolah menuju parkiran motornya.
Entah kenapa hari ini Riyan ingin pulang melewati jalan memutar hutan belakang sekolah. Tanpa sengaja sewaktu diperjalanan, dia melihat dua buah mobil parkir di sebuah pabrik yang tidak terurus.
Salah satunya ialah mobil yang dikenali Riyan, yaitu mobil Beny. Riyan menghentikan laju motornya dan berhenti sejenak. Sepintas dia melihat kejadian di atap sekolah terulang kembali. Beny dan Anton seperti sedang berkelahi oleh beberapa anak kelas tiga, hanya saja kali ini dengan seragam yang berbeda.
Peristiwa yang dilihat Riyan dan bangunan tua itu, mengingatkan Riyan dimana dia pernah di aniaya dan dipukuli oleh Benny dan teman-temannya.
Riyan pun kembali menghidupkan motornya dan melanjutkan perjalanannya ke rumah. Karena peristiwa yang dilihatnya barusan, sepanjang jalan dia terus teringat kejadian sewaktu dirinya menjadi bahan Bully oleh Benny setiap hari.
Sementara itu di pabrik tua, Benny dan Anton di pukul oleh masing-masing 4 orang. Mereka berusaha melawan namun kalah jumlah dan kekuatan.
"Ada apa ini?katanya kau preman Fajar harapan kan. Ayolah lawan kami" ucap seorang siswa memegang rambut Benny
Dengan wajah bengkak dan bibir yang mengeluarkan darah, Benny mendorong siswa itu hingga pegangannya pada rambut Benny terlepas. Benny mengepalkan tangannya dan hendak meninju siswa yang di dorongnya, namun satu tangan besar dari siswa lain menangkap tangan Benny dari belakang.
Segera siswa itu membanting tubuh Benny hingga terbang dan jatuh telentang di lantai. Pada sisi lain Anton juga sedang berusaha melawan murid-murid yang mengeroyoknya.
Para siswa sekolah lain itu menendangi tubuh Benny yang tengah terbaring di lantai. Benny hanya bisa melindungi kepalanya menggunakan tangannya.
"breeem" suara motor terdengar mendekat kemudian berhenti tepat di depan para siswa yang sedang asik menghajar Anton dan Benny. Kehadiran motor sport itu membuat semua siswa di sana menghentikan aktifitasnya.
Dari atas motor sport itu, seorang siswa berseragam Fajar Harapan melepaskan Helm full face yang dipakainya dan turun dari motor itu. Benny dan Anton sedikit memperlihatkan senyuman di tengah wajah mereka yang habis di hajar ketika melihat orang dibalik helm itu adalah Riyan.
"Aku akan lari jika jadi kalian" gumam Benny
Riyan melepaskan tas sekolahnya dan berjalan mendekat kearah siswa dari sekolah lain yang berjumlah 8 orang.
"kau teman mereka?" tanya salah satu siswa ketika melihat seragam yang sama dengan Benny
"mungkin dia juga mau dihajar kali" sahut yang lain
Riyan hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan orang-orang itu. Salah satu dari mereka kemudian menyerang Riyan dengan sebuah pukulan lurus ke wajah. Pukulan itu di tangkap Riyan dengan tangan kanannya kemudian memutar lengannya dan menendang siswa itu.
"aku tidak terlalu cocok dengan pembuli, sebaiknya kalian pergi dari sini ! " ucap Riyan
*Kediaman Bos Tirta*
Di ruang tengah yang besar, bos Tirta bersama dengan asisten barunya bernama Mak. Dia adalah lawan di babak final yang dihadapi oleh Tony dalam pertarungan kerangkeng di gudang waktu itu.
Mereka berdua tengah menonton berita dari televisi mengenai kebakaran yang membakar habis sebuah rumah yang berada di pusat kota Muriya. Kebakaran itu menelan banyak korban jiwa yang masih belum bisa diketahui identitasnya karena mayat yang hangus terbakar.
"Itu adalah markas Mike, apa yang sebenarnya terjadi. Apa penduduk lokal sapathawung yang melakukannya?tapi itu tidak mungkin, orang-orang kampung itu tidak akan bisa mengalahkan Mike apalagi Brian" gumam bos Tirta
Sebuah mobil Ferrari merah berhenti didepan pintu rumah bis Tirta. Sepatu biru hak tinggi yang terpasang pada kaki jenjang putih terlihat ketika pintu mobil dibuka. Wanita cantik berambut panjang terurai dengan gaun pendek biru selaras dengan warna sepatunya, dengan gaya anggun turun dari mobil mewahnya. Berjalan melewati dua orang penjaga yang tertegun dengan pesonanya langsung menuju ruang tengah dimana bos Tirta berada.
"Julia...Indriani..duduklah!" sapa bos Tirta membuka tinggi kedua tangannya kepada gadis cantik yang baru saja datang ke hadapannya.
Julia kemudian duduk pada sofa yang bersebrangan dengan bos Tirta dan Mak. Bos Tirta mengambil cerutu dari atas meja didepannya kemudian menyalakan rokok besar itu.
"Apa yang membuat sekretaris ketua cabang Jakarta datang kesini?" tanya bos Tirta
"Big Bos Tadoki yang memintaku secara langsung untuk kemari, dia meminta saya untuk mengawasi anda" jawab Julia
"Apa maksudmu secara langsung?Big bos hanya bicara kepada ketua cabang. Ada apa dengan ketua cabang Jakarta, bos Heru?" tanya bos Tirta
"Dia diistirahatkan permanen, dan saya yang sekarang menggantikan posisinya. Begitu juga jika anda terlalu banyak melakukan kesalahan, saya juga akan mengistirahatkan anda" jawab Julia
Disaat itu Mak bergerak ingin memberi pelajaran gadis itu, namun tangan bos Tirta menghalanginya.
"Kesalahan seperti apa yang kau maksud?" tanya bos Tirta
"Pembangunan lab baru sekutu kita NOZ yang belum berhasil, kematian banyak anggota kelompok anda, terlebih yang terakhir salah satu anggota NOZ juga jadi korban. Sebaiknya anda melakukan sesuatu untuk memperbaiki kesalahan itu" jelas Julia
"Jangan khawatir, aku akan membereskan semuanya" balas bos Tirta
"sebaiknya begitu, atau saya akan memegang jabatan dua ketua cabang" sahut Julia yang berdiri dan meninggalkan tempat itu.