NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 73 Koalisi



Pukul 4 pagi Riyan tiba dirumahnya, penjaga yang ada di pos segera membukakan pagar agar mobil Riyan bisa masuk. Sementara itu Riyan membangunkan Tari dan Safri yang juga tertidur di perjalanan.


"Maaf aku ketiduran" ucap Safri


Tari yang baru saja membuka matanya, terkejut mendengar suara Safri yang ada di kursi belakang.


"Kenapa kau disini?" ucap Tari


"Tidak ada, aku hanya mendapat tumpangan dari Riyan ketika kau tidur" jawab Safri


"Sudahlah, ayo turun!" ucap Riyan setelah sampai di depan garasi rumahnya dan mematikan mobil.


"Buuk"


"Buuk"


Pintu mobil Riyan tertutup, Safri dan Tari berjalan menuju teras Riyan.


"Ini rumah mu?" tanya Safri


"Benar, kau bisa istirahat dulu disini dan menggunakan motorku besok jika ingin pergi ke Seruyan" ucap Riyan


"Kau percaya sekali denganku?" ucap Safri


"Kau tidak akan memilih untuk jadi musuhku kan" ucap Riyan


"Tentu saja, itu pilihan bodoh bagi orang yang sudah tau kemampuanmu" balas Safri


Riyan membuka kunci pintu rumahnya dan mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Riyan kemudian menggunakan Aplikasi untuk memesan tiket pesawat pagi menuju Jakarta. Safri dan Tari berada di ruang tengah untuk sedikit bersantai pada sofa yang ada di depan TV.


"Bagaimana kau bisa akrab dengan Riyan?bukankah kau anak buah Tirta" tanya Tari


"Memang benar dulu aku anak buah Tirta, aku bersama dengan David dan dua orang lagi ditugaskan membereskannya. Kami menculik adik dan neneknya" jelas Safri


"Lalu?"


"Kemudian dia datang dan aku bertarung melawannya, hasilnya aku harus dirawat selama 3 bulan di rumah sakit" jelas Safri


"Jadi begitu, aku juga bertemu dengannya saat adiknya di culik Joni dan Mike" ucap Tari


"Aku tau, saat itu di markas Joni semuanya tewas. Begitu juga di rumah Tirta, terjadi pembantaian" balas Safri


Setelah berbincang, Tari pun langsung menuju kamarnya untuk beristirahat karena lelah. Riyan kemudian datang menghampiri Safri yang berada di ruang tengah.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Safri


"Sudah jelas kan, aku akan mengejar Julia dan menjemput adikku" jawab Riyan menutup Handphonenya usai memesan tiket.


*Markas Kurassha Jakarta*


Para gadis yang menjadi tawanan di kamar itu sedang tidur di kasur kecil mereka masing-masing yang sudah tersedia di kamar itu.


"Klek" pintu kamar terbuka, seorang gadis di lempar masuk ke dalam kamar dimana tempat gadis lainnya di tahan.


Mila yang mendengar suara itu, terbangun dari kasur tempat dia tidur. Dia melihat tubuh seorang gadis yang lemah seperti tidak bertenaga, Mila mendekatinya dan membantu memapah gadis berambut ikal panjang itu. Mila memperhatikan mata gadis itu merah dan berair dengan pupil yang mengecil.


Seorang Gadis lain yang mengenakan kaos ketat warna krem dan celana hot pant, baru saja keluar kamar mandi. Melihat temannya yang sedang lemah, dia bergegas membantu Mila merebahkan gadis yang baru saja dilempar masuk itu keatas kasur.


"Kenapa dengan kakak ini?" tanya Mila


"Namanya Dian, dia telah diberi narkoba dan ini sudah ketiga kalinya" jawab Gadis yang membantunya


"Kenapa?" tanya Mila


Gadis itu menjelaskan kalau setiap dua hari sekali gadis yang ada disini akan diberikan suntikan narkotik secara paksa oleh penjaga untuk membuat para gadis kecanduan sehingga mau mengikuti perkataan mereka.


"Adik kecil, siapa namamu?" tanya gadis berusia sekitar 18 tahun dengan paras imut dengan lesung pipit dan mata besar.


"Mila"


"Mila, namaku Iren. Kau sudah tidak beruntung ketika di bawa kemari. Saat tiba disini, pilihan kita hanya menjadi wanita penghibur atau mati overdosis karena narkotik" ucap gadis itu


Mila menjadi semakin ketakutan mendengar ucapan Iren. Tapi dia memaksakan diri untuk kuat menunggu kakaknya datang menolongnya.


"Jangan khawatir kak, kak Riyan akan datang menyelamatkan ku" ucap Mila


"Aku tidak ingin menghancurkan semangatmu, tapi aku sudah berada disini selama satu bulan. Bahkan polisi tidak bisa menemukan tempat ini" ucap Iren


"Kau bisa tenang untuk sementara, gadis seumuranmu yang kutahu akan diserahkan kepada bos besar. Dan kudengar dari percakapan penjaga kalau bos itu sedang tidak ada di kota ini" ucap Iren dalam hati


*Kota Muriya*


Pagi harinya usai mengepak barang bawaan, Riyan sarapan bersama Tari. Tidak ada semangat terlihat di mata Tari, dia hanya memainkan makanan di piringnya karena pikirannya terus mengarah kepada Mila.


"Tante tenang saja, aku akan menemukan Mila" ucap Riyan untuk memberikan semangat kepada Tari


"Iya" balasnya


Usai sarapan, Riyan menelpon pak Surya untuk memintakan ijin kepada kepala sekolah seperti waktu pergi ke Amerika. Riyan menceritakan semuanya kepada pak Surya dan mengatakan dia akan ke Jakarta mungkin beberapa Minggu untuk mencari adiknya.


"Kau bisa menghubungi Rudy untuk membantumu di sana" ucap pak Surya


"Tidak apa, terima kasih pak" balas Riyan kemudian menutup telponnya


Riyan menuju keluar rumah membawa ransel besar, di teras rumahnya terdapat Safri yang sedang menghisap rokok.


"Ya"


"Aku akan mengantarmu ke bandara" ucap Safri


Riyan setuju, Safri kemudian mengendarai mobil Riyan untuk mengantarkannya. Di tengah jalan Riyan basa basi menanyakan maksud tujuan Safri ke kota Seruyan.


"kau kenapa mau ke Seruyan?" tanya Riyan


"Disana aku mau mendaftar menjadi pengawal bayaran di perusahaan Thorn" jawab Safri


Riyan kemudian menyampaikan kepada Safri berita mengenai Thorn yang sekarang tersisa 14 orang termasuk ketua mereka. Safri terlihat kecewa mendengar berita yang disampaikan Riyan.


"Kenapa?" tanya Riyan melihat wajah Safri yang kecewa dari spion tengah mobil.


"Ku pikir aku bisa mendapat uang jika bekerja di sana. Kalau perusahaan itu hancur, bagaimana bisa memberi gajih. Ternyata mencari pekerjaan yang benar sangat susah" ucap Safri


"bagaimana kalau kau bekerja untukku?" tanya Riyan


"Kerja apa?" balas Safri


"Sopir sekaligus pengawal Tari, tenang saja kau akan kubayar" ucap Riyan


Safri pun setuju dengan penawaran dari Riyan, mulai saat itu Safri akan menjadi pengawal sekaligus sopir Tari.


Tidak berapa lama Telpon dari Cindy masuk, Riyan pun terpaksa berbohong untuk membuatnya tenang. Riyan memberitahukan kepada Cindy kalau dia mendapatkan pekerjaan mendadak lagi dari pak Surya.


*Kediaman Julia*


"Byuur"


Tubuh Julia berbalut dengan bikini warna biru melompat ke dalam kolam, membuat air tenang di kolam itu seketika menjadi beriak.


Beberapa menit kemudian seorang pria mengenakan tuksedo mendekat ke samping kolam membawakan gelas berisi ice lemon tea di atas nampan kemudian menaruh nampan itu keatas meja kecil.


Kepala Julia muncul dari air, kemudian dia menyibak rambut panjangnya yang basah ke belakang.


"ada berita apa Kevin?" tanya Julia


Kevin adalah tangan kanan Julia, seorang supir sekaligus pengawalnya. Dia pria tampan berkulit putih dan hidung mancung serta mata yang agak sipit, dengan keahlian beladiri Taekwondo dan Aikido menjadikannya petarung yang hebat.


"Sedikit gangguan, menurut informan kita, Zaki mengadakan pertemuan dengan pemimpin Jakarta lainnya untuk membuat koalisi menggeser tempat anda" ucap Kevin


"kapan?" tanya Julia


"Hari ini pukul 09.00 di hotel Nova" jawab Kevin


Julia menghela nafas panjang, kepalanya menengadah ke langit merasakan sinar matahari pagi di wajahnya. Dengan tubuh masih berada di dalam air, dia bersandar di tepi kolam.


"Sepertinya perbuatan kita menjadikan para pemimpin Jakarta berambisi menjadi ketua. Pertemuan itu akan diadakan satu jam lagi, sepertinya kita harus mengunjungi mereka" ucap Julia keluar dari kolam.


Tubuh basah Julia yang dibalut bikini warna biru menambah keseksian wanita itu. Dia berjalan menuju kursi santai dan mengambil minumannya dari atas meja.


Kurassha cabang Jakarta terdiri dari pimpinan Jakarta Utara, timur, barat, selatan dan Jakarta pusat. Sebelumnya para pemimpin kota Jakarta memang berasal dari kelompok yang berbeda.


Sejak kelompok Kurassha menjadi kuat dengan dukungan NOZ, mereka tunduk dan bergabung dengan kelompok Kurassha dan menjadi pemimpin wilayah Jakarta. Akan tetapi mereka masih berambisi untuk menguasai Jakarta dan menjadi ketua Kurassha cabang Jakarta.


Kematian ketua cabang terdahulu yang di singkirkan oleh Julia, dan ditunjuknya Julia sebagai ketua cabang Jakarta yang baru, membuat keadaan internal Kurassha di Jakarta saat ini semakin memanas.


"Apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanya Julia


"Perusahaan farmasi Indo Raya, saya dengar mereka melakukan penelitian obat baru" ucap Kevin


"Benarkah? sepertinya kita harus mengunjungi perusahaan itu sesudah masalah ketua ini beres" ucap Julia


Wanita cantik itu kemudian mempersilahkan Kevin meninggalkan tempat itu dan menyiapkan mobil untuk mereka menghadiri pertemuan kelompok Kurassha Jakarta.


*Hotel Nova*


Sebuah hotel mewah bintang 5 di Jakarta Pusat yang memiliki 7 lantai. Hotel itu merupakan milik seorang pria bernama Zaki, pemimpin cabang Jakarta pusat.


Di dalam hotel itu, disiapkan sebuah ruangan khusus kedap suara untuk pertemuan pemimpin Kurassha yang berada di lantai 7. Ruangan tertutup yang tidak terlalu besar dengan warna putih susu, satu meja panjang yang rendah tersedia di tengah ruangan dan setiap orang diberikan bantal untuk duduk di lantai.


Saat itu baru 3 orang pemimpin yang berada di ruangan itu bersama pengawal mereka. Mereka adalah Reno pemimpin Jakarta Selatan, Bahdi pemimpin Jakarta Barat dan Zaki sebagai tuan rumah.


Sebelum pemimpin lain tiba, pembicaraan antara mengenai penolakan Julia sebagai ketua tengah berlangsung.


"Apa kalian benar-benar setuju bos besar memilih Julia sebagai ketua kita?" ucap Reno


"Bos besar telah memutuskan, kita ikuti saja" balas Bahdi


"Tapi kita semua tau bagaimana cara dia mendapatkan posisi itu dan menjadi kesayangan bos besar" ucap Reno


"Bagaimanapun caranya, yang jelas dia sudah berhasil membuat bos Todoki memilihnya menjadi ketua. Permainannya cantik, jadi permainan kita juga harus lebih cantik" ucap Zaki


"Apa maksudmu?" tanya Reno


"Maksudku Jika kalian ingin mengambil posisinya, maka lakukan dengan halus. Jangan sampai bos besar curiga dan malah menghancurkan kita" jawab Zaki


Mereka semua tersenyum memahami maksud Zaki, namun kepercayaan tidak hadir di dalam diri mereka semua yang hadir di sana. para pemimpin itu memiliki keinginan yang sama untuk menguasai dunia bawah Jakarta.


Tidak lama kemudian Daniel, pemimpin wilayah Jakarta Utara memasuki ruangan itu. Diikuti dengan Galih, pemimpin wilayah Jakarta Utara beberapa saat kemudian.


Para pemimpin duduk saling berhadapan dengan meja panjang di tengah mereka. Pertemuan pun dimulai dan diawali dengan ajakan Zaki untuk menyingkirkan Julia.