
Hari berikutnya pukul 09.00, kelompok anak buah bos Tirta mulai bergerak berangkat dari kediaman bos Tirta dengan menggunakan 9 buah mobil Van.
Sejumlah 50 orang menuju kota Muriya untuk melaksanakan tugas mereka secara diam-diam. Satu kelompok untuk mencari informasi kematian Mike, satu kelompok lagi untuk mencari dan menangkap Cindy dan Riyan, dan 30 orang untuk membereskan masalah di gunung Sapathawung.
Sedang 4 kelompok lain yang berjumlah 40 orang menuju kota Seruyan yang berbatasan dengan kota Muriya untuk menyerang perusahaan Thorn dengan membawa senjata api tipe Ak-47.
*Gedung Perusahaan Jasa pengawalan Thorn*
Sebuah bangunan yang mana dipenuhi dengan banyak kaca hitam tebal sebagai dindingnya dan pada bagian atasnya tertulis 'THORN PROFESIONAL SECURITY' dengan warna emas. Bangunan itu memiliki tinggi kurang lebih 100 meter yang terdiri dari tiga lantai, setiap lantai dihubungkan oleh sebuah tangga dan dua buah lift.
Lantai dua atau lantai atas adalah tempat ruang Pimpinan Thorn yaitu Heru, ruang rapat serta ruang para staf yang menerima permintaan dari klien yang memerlukan jasa mereka.
Lantai satu adalah tempat dengan desain seperti kamar kos dengan jumlah kamar saat ini berjumlah 10 kamar, dimana tiap kamar digunakan oleh 4 orang. Selain kamar yang merupakan tempat para pengawal berada, di lantai ini juga terdapat ruang latihan dan senjata.
Pada lantai dasar berisi meja resepsionis ukuran besar untuk tiga orang, dan beberapa meja tamu dilengkapi dengan sofa untuk menunggu. Lantai dasar adalah lantai yang terlihat lebih luas karena tidak memiliki ruangan di sana selain ruang toilet.
Berbagai hiasan ruangan seperti tanaman dan patung yang berada di pojok ruangan untuk sedikit memperindah pemandangan.
Tepat didepan pintu masuk yang terbuat dari kaca terang, dua orang penjaga dengan pistol di pinggang bertugas memeriksa orang yang masuk menggunakan metal detektor.
Saat itu di lantai atas, Heru sedang melakukan pertemuan dengan seorang klien. Dilantai dua ada sekitar 20 orang pengawal yang sedang berlatih.
Empat buah Mobil Van berhenti di depan pintu masuk. Anak buah bos Tirta memasang penutup wajah mereka masing-masing.
"Sreeek" pintu tengah mobil Van di geser dan terbuka, anak buah bos Tirta keluar dari mobil itu dengan membawa senjata api.
Dua orang penjaga pintu yang kaget melihat sejumlah orang bersenjata dengan penutup wajah keluar dari mobil, segera mengambil pistol di pinggangnya namun penjaga itu telah lebih dulu tertembak oleh orang-orang kurassha.
Suara tembakan dan bunyi dari pintu kaca yang pecah akibat tertembak peluru, membuat resepsionis di lantai dasar panik. Untungnya saat itu di lantai satu sedang tidak ada tamu, sehingga hanya ada 3 orang resepsionis di sana.
Ketiga resepsionis itu mengangkat tangan mereka ketika anak buah bos Tirta memasuki lantai dasar. Namun anak buah bos Tirta mengarahkan senjata kepada mereka, dan mulai menembak.
Ketiga orang itu menunduk dan berlindung dibawah meja resepsionis dari serangan peluru, seseorang dari mereka menekan tombol alarm yang ada di bawah meja.
"Teeet..teeet...teeet" suara alarm memenuhi seluruh gedung, membuat semua orang di dalam gedung itu panik.
Para pengawal yang sedang berlatih di lantai dua bergegas mengambil senjata mereka masing-masing untuk menuju lantai dasar. Sedang orang-orang di lantai dua berdiri dan berkumpul meninggalkan meja kerja mereka.
Heru yang sedang berada di kantornya bersama klien, bergegas kembali ke mejanya untuk melihat komputer cctv. Setelah melihat pasukan bersenjata di lantai dasar, Heru segera mengklik sebuah switch yang terpasang di bawah mejanya.
Sebuah dinding besi turun menutup pintu dan jendela gedung itu. Salah seorang anak buah bos Tirta yang melihat pintu terhalang besi, mencoba menembak dinding kaca untuk membuat jalan keluar. Namun dinding gedung itu adalah tersusun dari kaca anti peluru.
Salah satu pasukan bos Tirta melemparkan granat dengan ledakan kecil kemeja resepsionis yang berlindung.
"Duaar" suara ledakan itu bersamaan mengantarkan nyawa ketiga resepsionis itu.
Setelah itu, anak buah bos Tirta membagi dua tim. Tim pertama menaiki dua buah lift dan langsung menuju lantai dua. Sebagian lagi tergabung dalam tim dua menggunakan tangga menuju lantai satu.
Tim dua dalam perjalanan mereka di tangga bertemu dengan beberapa pengawal dari Thorn, dan baku tembak pun tidak bisa dihindari.
Tim pertama yang langsung menuju lantai dua, tidak mendapatkan perlawanan karena di sana hanya ada dua orang penjaga di pintu masuk kantor pimpinan.
*Pemukiman gunung Sapathawung*
Kelompok lain dari anak buah bos Tirta tiba di pemukiman gunung Sapathawung. Sama seperti yang lain, kelompok yang dikirim ketempat itu juga bertugas untuk membereskan penduduk Sapathawung. Mereka sudah tidak lagi menggunakan jalan diskusi, tetapi ingin merebut paksa dan menghabisi semua penduduk di sana.
Tetapi proses itu tidak berjalan dengan mulus. Sejak kejadian pertama dengan Mike dan Brian, polisi setempat menugaskan empat orang anggotanya untuk berjaga di sana.
Saat itu 4 polisi yang bertugas tidak mengenakan seragam polisi mereka, sehingga anak buah bos Tirta tidak mengetahui keberadaan polisi di pemukiman itu. Anak buah bos Tirta turun dari mobil van mereka juga dengan mengenakan penutup wajah dan senjata api.
Beberapa warga yang berada di luar rumah, berlari dan masuk ke rumahnya masing-masing saat melihat pasukan bos Tirta. Sedang polisi yang bertugas bersembunyi di pos masuk pemukiman sambil mengawasi orang-orang itu.
"SEMUANYA KELUAR!" teriak salah seorang pemimpin kelompok itu meminta seluruh penduduk keluar karena tidak tau tanah milik siapa yang akan di ambil.
Tentu saja dengan kehadiran orang-orang yang mengenakan penutup wajah dan membawa senjata api sebanyak itu, membuat polisi yang bertugas curiga dan segera menghubungi kantornya.
"Tretetet...tretet"
Tiba-tiba anak buah bos Tirta melakukan penembakan kepada rumah-rumah penduduk di sana. Polisi yang bertugas keluar dari pos dan langsung menembakkan senjatanya mengenai tiga orang anak buah bos Tirta.
Tembakan dari polisi itu seketika membuat pos masuk tempat petugas berada dihujani tembakan dari senjata anak buah bos Tirta. Para polisi terpojok dan hanya sesekali melakukan tembakan balasan.
*Pusat Kota Muriya*
Kelompok yang bertugas mencari Cindy dan Riyan menyebar di seluruh kota. Mereka mencari hanya dengan bermodal foto Cindy sewaktu ditangkap Mike yang di bagikan oleh Aldo melalui handphonenya.
Selain itu informasi yang mereka ketahui hanyalah mereka sekolah di salah satu SMA kota Muriya. Karenanya mereka membagi menjadi kelompok dua orang untuk pergi ke tiap sekolah dan menanyakan kepada murid-murid, maupun satpam sekolah yang mereka temui.
Hingga siang hari akhirnya 10 orang yang bertugas menangkap Cindy dan Riyan berkumpul kembali di taman pusat kota Muriya.
"Kalian dapat sesuatu?" tanya seorang
"tidak" sahut mereka
tidak satupun dari mereka yang berhasil menemukan Cindy setelah mencari di seluruh SMA di pusat kota Muriya.
"Coba kalau Aldo ingat nama SMA tempat sekolah anak itu, kita tidak perlu mengecek seluruh SMA di kota ini" gumam salah seorang dari mereka
"mau bagaimana lagi, kita harus menjalankan tugas bos. Sekarang tersisa satu SMA lagi, tapi ada di luar pusat kota" sahut salah seorang dari mereka
"Yasudah, ayo kita ke sana!semoga anak itu kita temukan. SMA apa?"
"SMA Fajar Harapan"
Mereka pun berangkat bersama-sama menuju SMA Fajar Harapan. Karena sudah siang, mereka bergegas agar tiba sebelum jam sekolah selesai.
*Pemukiman gunung Sapathawung*
Siang hari itu, pos masuk pemukiman terlihat hancur akibat ledakan granat dan meninggalkan mayat dua orang petugas di sana. Dua orang polisi yang lain sempat keluar dan lari berlindung di belakang sebuah pohon besar.
Namun karena kehabisan peluru, mereka tidak bisa melakukan tembakan balasan kepada anak buah bos Tirta. Pasukan bos Tirta menembaki pohon itu sambil terus berjalan mendekat.
"Tretetet...tretetet"
4 buah mobil patroli berhenti tepat di depan gerbang masuk membentuk pagar mobil. Dua orang polisi yang berlindung di pohon bergabung dengan rekan-rekannya.
"Kalian semua menyerahlah" teriak petugas polisi menggunakan megaphone
Namun anak buah bos Tirta menembaki barikade mobil patroli polisi dan menimbulkan baku tembak kedua di pemukiman itu.
"Akan berbahaya jika kita lebih lama disini" ucap salah satu anak buah bos Tirta
"Baiklah, semuanya bersiap untuk kembali! hancurkan barikade mobil itu" balas pemimpin kelompok mereka
Pemimpin kelompok itu memerintahkan semua bawahannya masuk mobil melalui pintu samping kecuali beberapa orang terus menembak untuk mengalihkan perhatian polisi.
Disaat itu salah satu anak buahnya mengambil sebuah Bazoka dan menyerahkannya kepada pemimpin kelompok. Pada mobil lain, masing-masing juga sudah siap dengan bazoka mereka.
Melihat ada tiga orang mengarahkan bazoka kearah mereka, polisi yang memimpin operasi itu segera memerintahkan anggotanya untuk menghindar.
"Shuuut.....Boom"
Ledakan dari bazoka itu sampai membuat mobil polisi yang berada tengah melambung tinggi dan terbakar.
"Shuuut.....Boom"
Berikutnya mobil kedua yang berada di tengah juga mengalami hal yang sama seperti sebelumnya.
"kenapa tidak bilang kalau mereka punya bazoka?" tanya pemimpin polidi
"Aku juga tidak tau" sahut polisi yang bertugas menjaga pemukiman Sapathawung.
Serangan bazoka itu membuat celah besar di tengah barikade mobil. Petugas polisi menggunakan radionya untuk meminta tambahan bantuan.
Sementara itu pasukan bos Tirta sudah menaiki mobil Van mereka, beberapa polisi kembali mencoba menghadang kepergian orang-orang itu dengan menembaki mobil mereka.
Sebuah bazoka keluar dari pintu depan mobil Van dan membuat barisan polisi berlari mengindar.
"Shuuut.....Boom"
Meskipun bisa menghindar, namun udara dari ledakan membuat sebagian polisi terhempas jatuh. 3 buah mobil Van milik anak buah bos Tirta pergi dari lokasi itu diiringi dengan tembakan dari polisi.
Kejadian ditempat itu meninggalkan 2 buah mobil yang terbakar, 6 polisi terluka dan 2 polisi yang bertugas tewas. Sedang di pihak lawan tidak terdapat korban jiwa, hanya empat orang terkena luka tembak.
*Gedung Perusahaan Jasa pengawalan Thorn*
Disaat yang sama, siang itu di Jonathan dan tiga orang lainnya baru selesai menjalankan pekerjaan mereka mengamankan konser seorang artis di luar kota.
Saat itu kondisi bangunan seperti semula tanpa dinding besi yang menutupi pintu dan jendela. Di dekat pintu masuk, mereka terkejut melihat kaca pintu pecah. Mereka pun bergegas masuk dan begitu kaget melihat meja resepsionis yang hancur karena ledakan bersama dengan mayat tiga orang.
Jonathan, Adrian, Lei dan Hendri dengan cepat menuju lantai satu dan dua. Perasaan mereka sekarang tidak karuan, kaget, shok, sedih semuanya tidak bisa tergambarkan ketika melihat mayat teman-temannya penuh darah terbaring di lantai.
Bahkan di lantai dua tidak ada satupun karyawan yang dibiarkan hidup. Mereka menuju ruang pimpinan mereka Heru, tapi di sana mereka tidak menemukan mayat pimpinannya.
Adrian menuju meja pak Heru dan memutar ulang cctv pada monitor yang berada di meja. Adrian sangat marah melihat kejadian dalam rekaman cctv, sumpah serapah keluar dari mulutnya.
"Siapa mereka?" teriak Adrian kemudian
Lei mendekat membawa sebuah pin ular berbentuk huruf 'K' yang diambilnya dari salah seorang mayat di lantai satu. Dia melemparkan pin itu keatas meja kerja pak Heru untuk menunjukkan pin itu kepada teman-temannya.
"Kurassha" ucap mereka
"dimana pimpinan?" tanya Lei
"Mereka membawanya bersama seorang klien" ucap Adrian menunjuk monitor cctv
"Bagaimana sekarang?" tanya Hendri
"Informasikan kejadian ini kepada teman-teman kita yang masih di luar dan Katakan kejadian ini. Terserah mereka mau kembali atau tidak" ucap Jonathan
"Aku tidak tau dengan kalian, tapi aku akan menyelamatkan bos" ucap Adrian
Mereka semua berdiam dalam ruangan itu seakan setuju dan mendukung Adrian untuk menyelamatkan bos mereka. Kecuali Lei, dia berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga di ruangan itu.
"Apa kau tidak mau menolong bos?" ucap Jonathan
"Kita akan melawan Kurassha, aku mau mengambil peralatan ku di bawah sebelum menyerang mereka" sahut Lei
*SMA Fajar Harapan*
Kelompok yang ditugaskan mencari Cindy akhirnya sampai di gerbang SMA Fajar Harapan. Mereka bertanya kepada penjaga sekolah mengenai murid yang tidak terlihat satupun, padahal waktu itu adalah jam pulang sekolah.
Waktu mereka memang tepat. Hanya saja penjaga sekolah memberitahu orang-orang itu, bahwa dikarenakan ada rapat komite maka murid dipulangkan lebih cepat.
Mereka pergi dengan kecewa dan sedikit takut akan mendapat hukuman atas kegagalan mereka. Orang-orang itu menaiki mobil Van mereka dan berhenti pada sebuah toko untuk membeli air minum.Disaat mereka sudah pasrah akan menerima hukuman, mereka melihat Tari di seberang jalan yang turun dari mobil untuk membeli makan siang.
Saat itu Tari sedang jam istirahat siang, karena itu setelah menjemput Mila dia membeli makan untuk mereka berdua dan pengawal yang bersama mereka di mobil.
"walau gagal mendapatkan gadis itu, Paling tidak kita bisa membawa wanita ini menghadap bos" ucap salah seorang dari mereka
Empat orang anak buah bos tirta pun menyebrang jalan dan mendekati tari yang sedang menunggu penjual membungkis makanan.
"mau kemana mereka" gumam anak buah bos Tirta yang ada di dalam mobil
Tari sempat berpaling dan terkejut melihat orang mengenakan kaos berlambang Kurassha mendekatinya, dia ingin kembali ke mobil namun tangannya sempat di tangkap oleh anak buah bos Tirta.
Penjual makanan sempat mau menolong namun todongan senjata api kearahnya membuat dia tidak bisa melakukan apa-apa. Pengawal Tari dan Mila turun dari mobil melepaskan kemudinya, mereka berdua sama sekali tidak takut menghadapi todongan senjata dan malah bisa merebut senjata itu dengan cepat.
Karena hanya bertugas untuk menculik, kelompok ini hanya dibekali pistol. Orang-orang bos Tirta lainnya yang melihat itu dari dalam mobil ikut turun membantu teman-temannya. Mereka berjalan menyebrang jalan, dan saling todong pistol dengan para pengawal.
Sialnya Mila yang berada di dalam mobil turun dan di tangkap oleh seorang anak buah bos Tirta. Dengan mengancam Mila, para pengawal akhirnya melepaskan pistol mereka dan dihajar oleh pasukan bos Tirta dan berakhir dengan tiga tembakan di tubuh mereka.
Tari dan Mila dipaksa masuk kedalam mobil Van, merekapun akhirnya berhasil membawa Tari dan Mila untuk diserahkan kepada bos Tirta.