NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 80 Serangan Langsung



Riyan melihat katana milik Seichi yang diletakkannya di kursi sampingnya, dia berencana menyerap katana itu selagi dalam perjalanan. Namun dia teringat kalau pedang itu dikatakan Alpha mampu menembus baja.


"Alpha, kau bilang pedang ini adalah Wechas. Aku ingin menyerapnya, namun kau juga bilang bahan pedang ini berbeda seperti pedang oriental milikku. Bisa kau jelaskan!"


[Anda benar, pedang katana itu terbuat dari boron nitride yang di jadikan nano material. Sama halnya dengan pedang oriental yang bukan berasal dari logam biasa]


"Tapi kalau kekerasan katana ini sama dengan pedang oriental, kenapa pedang oriental ku tidak bisa menembus baja seperti katana ini?"


[Pada dasarnya kekerasan pedang katana milik Seichi lebih kuat daripada pedang oriental, hanya saja tenaga Seichi tidak cukup kuat untuk menghancurkan oriental]


"Karena itu adalah Wechas, pasti diberikan oleh NOZ. Kalau begitu akan berbahaya juga jika anggota NOZ yang lain memiliki senjata sekuat itu"


[Saya bisa melebur katana itu dan menggabungkannya dengan pedang oriental agar menjadi senjata yang sangat kuat]


"perlu waktu berapa lama?"


[mungkin 10 jam]


"terlalu lama untuk saat ini, kita bicarakan itu nanti, sekarang mengambil kembali Mila adalah yang utama"


Tidak berapa lama kemudian, Riyan memasuki kawasan gunung dimana hanya terdapat kurang dari 10 rumah dengan jarak sangat berjauhan. Tidak berapa lama akhirnya dia tiba di tempat yang ditunjukkan oleh peta hologram Alpha.


"Jadi di sana tempatnya"


"Alpha, lakukan pemindaian!"


Alpha pun memindai kediaman Julia. Riyan meneruskan mobilnya hingga berjarak 100 meter dari kediaman Julia. Dibawah sebuah pohon kecil di pinggir jalan yang gelap, dengan masih mengenakan armornya, Riyan turun dari mobil sport itu dan menuju kediaman Julia.


Alpha menunjukkan hologram hasil pemindaian nya, sebuah rumah yang tidak kalah besar dari tempat tinggal Tirta. Tempat itu mempunyai halaman yang luas dan dikelilingi tembok beton setinggi 3 meter. Hanya saja kediaman Julia ini memiliki dua lantai dengan kolam renang di halaman belakang rumahnya.


Dalam jarak 100 meter itu, Riyan berjalan menuju kediaman Julia sambil terus melihat hologram bangunan itu. Kamera cctv terpasang di sudut tembok, pintu depan, ruang tengah dan belakang. Terdapat tiga pintu masuk ke bagian dalam rumah. Itu adalah pintu depan, pintu belakang, dan pintu yang berada dalam garasi.


Pintu depan berhubungan dengan ruang tamu, pintu garasi langsung menuju ke ruang tengah dimana terdeteksi 7 orang berada di sana. Sedang pintu belakang yang merupakan pintu geser dari kaca besar, langsung menuju kolam renang.


Dibalik pintu pagar berwarna hijau terdapat 4 penjaga sedang berdiri memegang senjata api di tangannya, sedangkan 2 orang lagi berjaga di dalam pos jaga berukuran 4 meter yang berada didepan pintu pagar.


Lima orang berjaga di teras pintu depan, dan puluhan orang berpatroli di halaman depan seluas 50 meter persegi yang terdiri dari rumput taman, lampu dan aspal. Riyan memperhatikan dengan seksama hologram kediaman Julia.


"Hanya tiga ruangan ini yang terdapat manusia, dan dua diantaranya pasti ada Mila" gumam Riyan


Ruangan yang dilihat Riyan adalah kamar Julia yang berada di lantai atas. Karena hanya ada satu titik merah di sana, maka Riyan mengasumsikan tidak mungkin para gadis ada di sana.


Yang tersisa hanya dua ruangan yang berdekatan pada lantai bawah yang berada di bagian samping rumah melalui ruang tengah. Jumlah titik merah di sana sama-sama berjumlah 3, Riyan pun fokus untuk menuju kedua ruangan tersebut.


[Sepertinya tidak mungkin kalau keluar dari tempat ini dengan diam-diam, apa anda punya rencana?]


"Rencana ku mengambil Mila kembali. Dan aku tidak akan masuk atau keluar dari sini diam-diam"


[Jadi anda akan melakukan serangan langsung?]


"Benar"


[Saat meminta saya melakukan pemindaian, saya kira anda akan menyelinap masuk seperti bisanya]


"Tidak untuk kali ini, aku hanya ingin mengetahui dimana kemungkinan Mila berada dan posisi musuhku melalui pemindaian mu" ucap Riyan sambil membuat dua pisau kunai di tangan kirinya.


Sekarang Riyan berada pada jarak 10 meter dari pagar depan dan pos penjagaan. Dengan mengenakan armor hitam, pedang oriental di tangan kanan, dan dua buah kunai di tangan kiri, Riyan berjalan mendekati pintu pagar.


Penjaga yang melihat sosok hitam dengan pedang menjuntai di tangannya, segera mengangkat senjata api yang tergantung di tubuh mereka.


"Berhenti!!" teriak salah satu penjaga


Riyan terus berjalan tanpa menghiraukan teriakan itu. Sedangkan 4 orang penjaga yang berada di belakang pagar, mereka mengarahkan senjata kearah Riyan melalui celah pagar.


Melihat sosok hitam itu terus melangkah maju dan semakin dekat, keenam penjaga serempak menembakkan peluru mereka kearah Riyan.


Satu persatu peluru berjatuhan di depannya, Riyan hanya terus berjalan mendekati pagar dengan peluru yang terus menerus mengenai tubuhnya.


"Syuut...syut" Riyan melempar kunainya dengan cepat.


Dua penjaga yang berada di luar pagar, tepatnya di pos penjagaan tumbang dengan kepala tertancap oleh kunai milik Riyan.


Suara senjata yang berbunyi keras sontak membangunkan Julia yang sedang tidur. Para penjaga yang berada di halaman dan bagian dalam rumah yang juga mendengar bunyi senjata, bergegas menuju pintu pagar depan.


Dengan masih mengenakan baju tidur, Julia segera keluar menuju balkon yang berada di luar kamarnya. Dari atas tempat itu dia menyaksikan seorang dengan pakaian hitam sedang ditembaki oleh anak buahnya.


"Siapa orang gila itu, dimana Kevin?apa Kevin sudah kembali" ucap Julia


Dia pun berbalik kembali ke kamarnya, langkahnya kakinya menuju sebuah meja kecil yang berada di samping tempat tidurnya.


"Dimana Handphone ku?" ucap Julia bingung mencari handphonenya yang tidak ada di sana, karena biasanya dia meletakkan handphonenya pada meja kecil tersebut.


Teringat bahwa sebelum ke lantai atas, dia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Julia pun turun ke lantai bawah menuju dapur, dan benar saja handphonenya berada di atas meja makan.


Dengan santainya Julia mengambil handphone itu dan menyalakannya. Dia melihat notifikasi 7 panggilan berasal dari Afri dan 12 panggilan dari Kevin.


Dengan rasa penasaran, Julia menelpon Kevin untuk menanyakan alasan dia melakukan panggilan sebanyak itu. Beberapa saat kemudian Kevin menerima panggilan telpon dari Julia.


"Kenapa kau belum kembali?dimana kau?" tanya Julia kepada Kevin lewat telepon


"Ada beberapa peristiwa yang ingin saya laporkan, saya sekarang sedang di arah jalan pulang" jawab Kevin


Dari suara di telpon, Kevin mendengar secara samar suara tembakan senjata api.


"Apa yang terjadi di sana bos?" tanya Kevin


"Bukan masalah besar, seorang berpakaian hitam mencoba masuk dan sekarang ditembaki oleh penjaga" jelas Julia


"Pakaian hitam, apa dia yang diceritakan satpam pabrik kertas dan yang kulihat pada cctv diskotik " pikir Kevin


"Bos kau berhati-hati lah! kemungkinan dia adalah orang yang membunuh semua anak buah kita di pabrik kertas dan menghancurkan diskotik" ucap Kevin


"Apa? apa yang kau katakan?" teriak Julia kaget


"Nanti saya ceritakan saat tiba di sana, anda harus hati-hati!" ucap Kevin dan menambah kecepatan mobilnya.


Julia menutup panggilan telpon dan menatap handphonenya dengan penuh pertanyaan akan apa yang ingin disampaikan oleh Kevin.


Riuh suara tembakan senjata telah menghilang. Dengan membawa gelas berisi air putih, Julia berjalan berjalan santai menuju halaman rumahnya untuk melihat keadaan di sana.


Matanya melebar, dengan perasaan panik yang mendatangi dirinya ketika melihat kejadian pada halaman rumahnya. Di sana dia melihat pagar rumahnya hancur, seperti terkena serangan meriam. Penjaganya yang hanya tersisa 11 orang, setelah merasa peluru tidak berguna menghadapi Riyan, mereka menggunakan senjata tajam maupun pemukul .


"Sreet"


"Kling"


"Tak"


"Buk"


"Sepertinya aku perlu memakai pemberian orang NOZ itu" ucap Julia


Tidak berapa lama saat Riyan menghabisi penjaga terakhir, sebuah mobil sedan silver melesat dengan cepat dari arah belakang Riyan hingga hampir menabraknya.


Dengan gesit Riyan melompat berguling ke samping untuk menghindar dari serangan mobil silver tersebut.


"Ciiiiit"


Mobil itu berbelok berputar dan berhenti dengan posisi pintu dihadapan Riyan. Seorang pria tampan perlahan turun dari mobil tersebut dengan mengenakan tuksedo hitam.


"Apa kau kesini mencari adikmu?" tanya Kevin


"Benar, apa kau mau menyerahkannya?" jawab Riyan


Kevin berpikir untuk mencari cara mengalahkan sosok hitam yang berdiri tegak di depannya.


"Bahkan Ratna yang tidak bisa ku kalahkan telah tewas melawan orang ini" ucap Kevin dalam hati


"Kau diam?apa itu artinya aku harus mencarinya sendiri" ucap Riyan mengangkat pedang oriental nya, dan mengarahkan pedang itu kepada Kevin.


"Sial, apa boleh buat" gumam Kevin dengan cepat mengeluarkan pistol dari belakang pinggangnya.


"Dor..dor..dor"


Semua peluru yang mengenai tubuhnya, hanya terjatuh di bawah kaki Riyan menimbulkan bunyi kecil ketika menyentuh tanah.


Riyan merendahkan tubuhnya dan melesat kearah Kevin dengan pedang dibawah pinggangnya, dia bersiap melakukan tebasan serong ke atas mengincar tubuh Kevin.


"Kupikir tembakan itu bisa mengulur waktu, ternyata sia-sia saja" ucap Kevin


Kevin menekan sebuah tombol pada jam tangannya kemudian sarung besi menutupi tangannya hingga sampai siku.


"Klink"


Dengan sarung tangan besi di tangan kiri itu, Kevin menahan tebasan Riyan dengan menangkap pedang oriental yang ada di tangan kanan Riyan.


[Sarung tangan itu wechas dari material Nano]


"Pantas kau berani menghadang tebasan ku" ucap Riyan


Kevin tersenyum tengil kepada Riyan, kemudian dilanjutkan dengan sebuah tinju kanan dari yang mengarah ke wajah Riyan.


"Plank" tinju Kevin mengenai kepala Riyan


Kevin melompat mundur dan memegang tangan kanannya karena kesakitan akibat memukul armor baja kepala Riyan.


"Apa kau bodoh?peluru saja tidak bisa menembus bajuku ini, kau malah meninjunya. Kecuali jika kau punya tinju sekeras baja" ucap Riyan


Kevin terlihat kesal menatap Riyan, dia memang tidak sadar karena serangan reflek untuk menjatuhkan lawan. Kevin mencoba menggerak-gerakkan tangannya yang masih nyeri, disaat itu Riyan kembali menyerang Kevin.


"Sial" ucap Kevin kaget


Dengan gerakan cepat Riyan, Kevin hanya bisa menghindar dengan melompat kesamping dan mundur. Namun Riyan terus mengejar Kevin dan menebaskan pedang oriental kearahnya yang terus melompat menghindar.


"Dooor"


Tiba-tiba suara letusan kencang menghentikan gerakan Riyan, terlihat sebuah peluru seukuran baterai berukuran D melesat cepat kearahnya dari sisi kiri.


Saat itu posisi Riyan tengah menyerang Kevin, sehingga membuatnya terlambat untuk menghindar ataupun menangkis peluru besar itu dengan pedangnya.


"Booom"


Riyan hanya melindungi kepalanya, kemudian peluru itu menghantam bahu Riyan. Ledakan itu membuatnya terlempar sampai 6 meter, selain itu membuat armornya rusak parah pada bagian kiri.


Mila yang mendengar suara ledakan keras itu terbangun, sedang dua gadis lainnya yang sudah di suntikkan narkotika tidak sadarkan diri.


"apa yang terjadi?" gumam Mila


Dengan kaki dan tangan terikat, tidak ada yang bisa dia lakukan. Mila hanya berharap kalau suara ledakan itu bukan pertanda buruk bagi dirinya.


Di halaman rumah dari sisi kiri tempat peluru itu berasal, yaitu dari arah pintu masuk rumah. Julia berdiri dengan rambut terikat seperti Lara Croft dalam film Tomb rider, mengenakan pakaian ketat berwarna hitam dan memegang sebuah pistol besar berwarna metalik dengan bentuk yang berbeda dari senjata biasa.


"keputusanmu tepat memakai senjata itu" ucap Kevin mendekati Julia


"Aku tau, dimana pemberian NOZ milikmu?kenapa hanya tangan kiri" tanya Julia


"Bagian lain ku tinggalkan di kamar" jawab Kevin


"Ambillah! aku yakin orang ini masih bisa bertarung walau terkena tembakan itu" ucap Julia


"baik" ucap Kevin bergegas menuju kamarnya untuk mengambil alat hadiah pemberian organisasi NOZ.


Dugaan Julia benar, tidak dalam waktu lama Riyan bangun dengan armor yang rusak pada bagian kirinya. Julia yang melihat sosok hitam itu bangkit, mengarahkan senjatanya kembali kepada Riyan.


[Hati-hati tuan, senjata itu juga wechas yang berasal dari NOZ. Dan sepertinya itu adalah tekhnologi yang berbeda]


"Apa peluru itu terbuat dari bahan yang bisa menembus baja juga?armor ku sampai hancur" ucap Riyan


[Tidak, peluru itu hanya sebuah peledak namun memang lebih kuat dari peledak biasa]


"kalau begitu, kita kalahkan dia dengan kecepatan. lakukan pemulihan armor!"


[proses pengumpulan material nano]


[15%...38%...67%...100%]


[perbaikan kerusakan dilakukan]


Armor hitam Riyan kembali seperti semula, bagian yang hancur sudah tertutup. Disaat itu Julia kembali menembakkan senjata itu kepada Riyan.


"syuut" peluru besar itu melesat dari pistol besar menuju Riyan.


"Booom" kali ini ledakannya menghancurkan tembok rumah miliknya sendiri.


"yang pertama itu beruntung, selanjutnya kau tidak akan bisa mengenaiku lagi dengan pistol besar itu" ucap Riyan


"benarkah?" ucap Julia dengan sombong


Julia mengeluarkan semacam kamera kecil dari samping senjata besar itu yang berfungsi sebagai penunjuk target. Kemudian Julia mengarahkan kembali moncong pistolnya kepada Riyan.


Begitu sudah terarah kepada Riyan, gambar sosok hitam Riyan muncul pada layar kecil berukuran 3cm itu, bersamaan dengan itu sebuah tulisan juga muncul pada layar pistol milik Julia.


"target Locked"


Dengan senyuman manisnya dan mengangkat satu alis kanannya, "cobalah hindari ini!" Julia menekan pelatuk pistol itu.


"dooor" peluru besar sekali lagi keluar dari pistol besar metalik yang dipegang Julia.