
Sore itu setelah pamit dari rumah Cindy, Riyan melewati jalan sepi yang biasa dilaluinya untuk pulang ke rumah. Di tengah jalan, dia melihat tiga buah sepeda motor terparkir di tepi jalan tersebut. Riyan sedikit heran karena selama ini di jalan yang biasa dilaluinya itu, tidak pernah menemui seorangpun. Tanpa memperdulikan hal itu, Riyan terus melanjutkan perjalanan pulangnya dengan santai.
Dibalik pepohonan dan semak tidak jauh dari lokasi sepeda motor itu, Wisnu sedang berkelahi dengan para murid harimau putih. Ketiga temannya sudah dihajar habis oleh murid harimau putih, hanya tersisa dirinya seorang diri. Wisnu mampu menumbangkan 3 dari mereka, akan tetapi masih tersisa 7 orang yang harus dihadapi Wisnu dengan kelelahannya saat ini.
Tidak mungkin bagi Wisnu mengalahkan mereka semua, maka dari itu dia memutuskan segera lari dari sana setelah membuat jatuh beberapa lawan yang menyerangnya. Saat murid harimau putih lengah, Wisnu berhasil menaiki sepeda motornya dan langsung melarikan diri. Para murid harimau putih melihat hal itu, namum sudah sangat terlambat untuk mengejar Wisnu yang sudah mengendarai motornya.
Wisnu pergi menuju perguruannya yaitu rumah Cindy. Disana Wisnu menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan teman - temannya kepada paman dan kakek Cindy yang berada di sana. Segera paman dan kakek Cindy meminta Wisnu untuk mengantarkan mereka berdua ke tempat kejadian. Di saat itu Cindy yang sedang beristirahat mendengar sedikit suara ribut kemudian keluar dari kamarnya.
"Ada apa paman?" tanya Cindy
"Tidak apa - apa, kau istirahat saja" kata paman Cindy
Melihat wajah Wisnu yang terluka membuat Cindy sedikit curiga dengan yang terjadi. Tidak mau menambah keributan, Cindy menurut untuk kembali ke kamarnya meskipun rasa ingin tahu dan penasarannya sangat besar.
Wisnu beserta paman dan kakek Cindy segera pergi menuju lokasi dimana terjadi perkelahian itu. Setibanya di sana, hanya tubuh babak belur teman - temannya sedang tergeletak tidak berdaya yang mereka jumpai. Melihat kondisi murid - muridnya, membuat paman Cindy sangat marah kemudiaan memukul sebuah pohon besar disampingnya dengan kuat untuk meluapkan emosi. Emosi yang harus ditahannya karena harus mengutamakan untuk membawa murid - muridnya itu ke rumah sakit.
*Rumah Sakit*
Setibanya di rumah sakit, sejumlah perawat membantu mengangkat ketiga murid naga petir yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri ke ruang IGD. Paman Cindy menghubungi keluarga dari murid - muridnya yang terluka dan memberitahukan kalau saat ini sedang berada di rumah sakit. Akibat dari perkelahian itu, dua dari tiga muridnya harus dirawat inap selama seminggu di rumah sakit. Paman dan kakek Cindy meninggalkan ruang IGD dan menuju halaman rumah sakit.
Paman Cindy mencoba menghubungi pimpinan guru dari harimau putih yaitu Wira lewat telepon namun tidak ada respon. Beliau terus mencobanya berulang kali namun tetap tidak ada jawaban.
"Apa kau berencana pergi ke perguruan harimau putih?" tanya kakek Cindy
"Iya ayah, tidak terima kekalahan memang manusiawi, tapi perbuatan mereka kali ini sudah kelewatan. Aku akan pergi ketempat mereka malam ini dan menanyakan langsung kepada Wira" ucap paman Cindy
"Kalau begitu ayah akan menemanimu" kata kakek Cindy
Beberapa menit kemudian para orang tua dari murid naga petir yang terluka datang kerumah sakit untuk melihat kondisi anaknya. Setelah sedikit berbincang selama beberapa menit dengan para orang tua, paman dan kakek Cindy pamit meninggalkan rumah sakit tersebut.
********
Pukul 19.15 atau sekitar jam 7 malam tanpa memberitahukan tujuan mereka kepada keluarganya di rumah, paman dan kakek Cindy berangkat pergi ke perguruan harimau putih untuk membahas solusi dan pertanggung jawaban permasalahan perkelahian murid mereka tadi sore .
Setibanya di perguruan harimau putih yang berada di sebelah utara kota, paman dan kakek Cindy menekan bel yang ada pada pintu rumah besar berlogo kepala harimau putih. Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya membukakan pintu dan menanyakan keperluan kedatangan kedua orang itu. Dia adalah seorang bibi pelayan yang membantu pekerjaan rumah di tempat itu.
"Kami ingin berbicara dengan Wira" kata Paman Cindy
Pelayan itu meminta kakek dan paman Cindy untuk menunggu didepan pintu, kemudian pelayan itu berjalan kedalam rumah. Tidak lama kemudian pelayan itu datang lagi, kali ini dia meminta paman dan kakek Cindy untuk mengikutinya.
Mereka berdua mengikuti pelayan itu melewati sebuah ruangan latihan yang sangat luas dilengkapi dengan samsak dan boneka kayu untuk berlatih. Pelayan itu akhirnya berhenti di depan sebuah pintu kemudian mempersilahkan keduanya untuk masuk.
Paman dan kakek Cindy memasuki ruangan itu dan sekarang berada pada sebuah ruang tamu yang cukup luas. Di sana terdapat sebuah meja kaca dengan sofa kulit berwarna hitam mengelilinginya. Wira menyambut kehadiran mereka berdua dan mempersilahkan untuk duduk di sofa tersebut.
"Paman dan Haris temanku, apa yang membawa kalian mampir kesini?" tanya wira sambil tersenyum
"Aku kemari untuk membicarakan suatu hal kepadamu" kata Haris paman Cindy
Setelah itu Paman Cindy menceritakan kejadian yang diketahuinya melalui cerita dari Wisnu. Akan tetapi Wira tidak langsung percaya dengan apa yang didengarnya dan kemudian menyampaikan keraguannya kepada kepada mereka berdua. Argumen masing - masing jadi lemah karena tidak adanya saksi di sana, namun kakek Cindy menengahi mereka.
"Apa kalian anak kecil yang tidak bisa berpikir?untunglah aku ikut kesini" kata kakek Cindy
Kakek Cindy menyarankan untuk menanyakan kepada semua yang dinyatakan terlibat dalam kejadian itu, barulah menentukan siapa yang harus bertanggung jawab atas semuanya sekaligus menerima hukuman. Kedua master itu setuju dengan segala sesuatunya yang disampaikan kakek Cindy.
"Karena kami akan latihan lusa, maka besok sebaiknya kita tanyakan kepada yang di rumah sakit terlebih dahulu baru yang lain" kata Wira
"Baiklah, kami setuju" balas kakek Cindy
*Sebuah gudang di Palangka Raya*
Pukul 23.00 atau jam 11 malam, di sebuah tempat yang terlihat seperti gudang tua dari luar. Namun dari dalam, itu seperti sebuah arena tinju dengan arena yang terkurung kerangkeng kawat dari besi seperti sebuah kandang besar. Dilantai dua yang dikelilingi kursi, dari sana pertarungan yang berada pada lantai satu bisa terlihat dengan jelas.
Para petarung juara dari berbagai daerah yang akan bertanding saat ini termasuk Tony sedang duduk di kursi yang ada pada sekeliling sisi luar arena. Mereka belum memulai pertarungannya karena menunggu bos Tirta dan lainnya.
Lima belas menit kemudian 3 mobil hitam berhenti di depan gudang tersebut. Sekumpulan pria mengenakan setelan hitam turun dari tiap mobil. Hanya dua orang asing bertubuh tinggi yang mengenakan jaket dan yang satu lagi mengenakan kemeja biru motif hawai.
Mereka memasuki gudang tersebut dan naik kelantai atas menduduki kursi pertama dimana bisa melihat pertarungan tanpa halangan. Bos Tirta dan dua orang asing dari organisasi NOZ duduk berdekatan, kemudian seorang anak buah bos Tirta memerintahkan pemandu acara untuk memulai pertarungan antar juara pertarungan jalanan.
Pemandu acara memasuki arena kandang yang dikelilingi oleh kawat besi membawa sebuah ember hitam kecil. Dengan bersemangat dia membuka pertarungan hingga sorak penonton menjadi heboh. Sebelum memulai pertarungan dia mempersilahkan peserta pertarungan mendekatinya untuk mengambil nomer undian yang ada di ember hitam untuk menentukan lawan masing - masing.
"Aku ragu mereka bisa membuatku tertarik" kata Brian
Petarung yang hadir berjumlah 24 orang dari berbagai wilayah berbeda dan keahlian bertarung berbeda juga, tidak ada aturan ketika berada didalam kandang besi tersebut. Bahkan jika menyerah, semuanya tergantung lawan untuk membiarkan tetap hidup atau membunuhnya. Kali ini untuk taruhan dipasang di awal, dimana harus menentukan jagoan mereka masing - masing. Juara terakhir yang bertahan menjadi pemenangnya.
Tony memegang nomer 14, setelah semua petarung selesai mengambil nomernya, seluruh peserta diminta untuk kembali ke kursi masing - masing. Peserta nomer 1 dan 2 dipanggil masuk kandang besi untuk bertarung, kemudian 4 dan 5 sampai seterusnya.
Peserta nomer satu terlihat seperti orang biasa, namun nomer dua seperti petarung yang berasal dari negara thailand dengan muay thai nya. Mereka berdua melompat lompat kecil melakukan pemanasan didalam arena tersebut.
"Standar disini rendah sekali, kurasa ini akan cepat, nomer satu itu akan kalah telak" kata Brian
Thomas hanya tersenyum mendengar perkataan Brian sambil minum bir yang disediakan untuk mereka.
"Jangan samakan disini dengan di tempat kita" balas Thomas
Petarung nomer satu menggerakkan tangannya seperti mengeluarkan sebuah jurus silat. Sedang petarung nomer dua hanya menggenggam kedua tangannya pada posisi tinju seperti petarung muay thai. Sebuah lompatan tinggi yang cepat disertai sebuah tinju dari nomer satu membuka pertarungan itu. Nomer dua terpaksa mundur hingga dinding arena untuk menghindari serangan itu.
Serangan kedua berupa tendangan dilancarkan petarung nomer satu, dengan tendangan tinggi kaki kanannya diarahkan mengincar kepala lawan. Namun serangan tendangan dari petarung nomer dua lebih cepat dan akurat menuju kepala petarung nomer satu hingga membuatnya terjatuh tidak sadarkan diri sebelum sempat mengenai kepala petarung nomer dua.
Petarung nomer dua mengangkat kedua tangannya dan seketika penonton bersorak. Ketika petarung nomer satu berusaha berdiri "buuuk " sebuah tendangan keras dari petarung nomer dua mendarat di pipinya hingga membuat mulutnya menyemburkan darah. Kemenangan mutlak diraih oleh petarung nomer dua hanya dalam waktu 3 menit diumumkan oleh pemandu acara, dan berakhirlah pertarungan pertama dengan mudah.
*Rumah Prof Gema*
"Prof apa kau tidak istirahat?" teriak Lisa menuju ruang kerja Prof Gema
Lisa membuka pintu ruang kerja itu dan melihat Prof Gema yang sudah kembali menjadi tua lagi sesuai umurnya karena kehabisan effect serum masih melakukan sesuatu dihadapan komputer.
"Kau bahkan lupa meminum serum mu sendiri" kata Lisa
"Tenang saja, aku akan meminumnya sebentar lagi. Aku sudah berhasil membuat dua serum peningkatan berbeda namun masih tidak bisa digabungkan dengan darahmu, aku harus menemukan alasannya untuk bisa menambah kekuatanmu" jelas Prof Gema
"Baiklah, tapi jangan lama - lama. kau perlu istirahat juga. Aku akan menonton TV sebentar" kata Lisa kemudian pergi meninggalkan Prof Gema
Prof Gema melanjutkan penelitiannya, dia terus mensimulasikan berbagai kombinasi pada komputer sebelum melakukannya secara langsung. Langkah mengatasi keterbatasan unsur buatan dengan menggunakan beberapa gabungan enzim untuk menciptakan reaksi yang diinginkannya bergantung pada penggunaan katalis, yang seringkali beracun dan tidak bisa menyatu dengan objeknya.
Pilihan terakhir prof Gema setelah lelah berpikir, dia mencoba sembarang untuk mencocokkan serum buatannya dengan darah dan susunan genetika selain manusia. Ditambah melakukan pembakaran buatan yang bukan dari api melainkan menggunakan murni dari tenaga matahari . Hal mengejutkan muncul di monitor komputernya yang membuat Prof Gema sangat senang sekaligus takjub.
Barium dari jamur yang diberikan Riyan mampu beradaptasi dan menyesuaikan dengan susunan genetika dan darah hewan. Hal itu memberikan ide lain bagi Prof Gema, kemudian dia mencoba mensimulasikan serumnya yang bercampur dengan darah binatang dimasukkan kedalan tubuh manusia, dan hasilnya diluar perkiraan.
Penggabungan tersebut memberikan 80% kemampuan unik genetik hewan bisa menjadi milik manusia.
"Astaga, ini bahkan lebih bagus dari serum peningkatan, aku harus meminta Riyan agar memberitahukan tempat jamur ini" kata Prof Gema
*Sebuah gudang di Palangka Raya*
Berikutnya petarung nomer 13 akan melawan Tony yang memegang nomer 14. Keduanya dipanggil untuk memasuki kandang besi. Petarung nomer 13 merupakan lelaki dengan kaki yang panjang mengenakan celana kain hitam tanpa baju, dan Tony saat ini mengenakan kaos hijau dan celana jeans pendek.
"Hei aku suka gaya orang bercelana pendek itu" kata Brian
Nomer 13 memperagakan tendangan dengan kaki panjangnya dan Tony hanya tersenyum kecil melihat yang dilakukan lawannya itu.
"Sampai kapan kau akan melakukan tendangan maut itu" ejek Tony kepada lawannya
Perkataan Tony membuat lawannya kesal hingga kaki panjangnya lurus menerjang Tony seperti sebuah tombak. Dengan cepat Tony bergerak kesamping lawannya dan melakukan tendangan keras tepat dikepala bagian belakang hingga membuat lawannya pingsan. Penonton senyap sejenak seakan takjub dengan kecepatan penyelesaian pertandingan, kemudian sorakan kembali terdengar riuh setelah beberapa detik.
"Mungkin dia lawanku di final" gumam petarung nomer dua
"Ternyata selain gayanya, dia lumayan juga" kata Brian
"Ada yang membuatmu tertarik?" tanya bos Tirta
"Lumayan" jawab Thomas
Pertarungan berikutnya berlangsung sedikit lebih lama dan pada akhirnya pukul 02.30 dini hari menyisakan 12 orang yang akan lanjut bertarung. Lima diantaranya sudah babak belur akibat pertarungan pertama, sehingga mudah untuk dikalahkan petarung lain.
5 pemain yang menang dengan mudah termasuk Tony dan petarung nomer 2. Dipertarungan lainnya lawan yang cukup sulit juga ditemukan, yaitu petarung nomer 8. Meski pukulannya tidak kuat, namun kegesitannya dalam menghindar dan menaiki kandang arena yang terbuat dari besi mampu mengecoh lawan dan menjatuhkannya. Dengan begitu membawa dirinya menuju pertarungan berikutnya.
Enam petarung yang tersisa saat ini nomer 2,8,11,14,17, dan 23. Untuk pertarungan kali ini, semua petarung akan berada dalam satu kandang dan melakukan battle royal. Siapa yang masih bertahan hingga akhir maka dinyatakan sebagai pemenangnya dan mendapatkan hadiah besar.
15 menit kemudian keenam petarung diperintahkan memasuki kandang dan saling berhadapan. Setelah semuanya siap, pertarungan dimulai.