NANO SYSTEM

NANO SYSTEM
Episode 67 Makan Malam Riyan



Malam itu tepat pukul 18.50 Riyan tiba di depan gerbang rumah Cindy, dengan perasaan sedikit gugup, dia mengetuk pintu gerbang itu.


"Kenapa sekarang aku malah gugup, padahal waktu bertarung tidak pernah seperti ini" gumam Riyan


Tidak berapa lama pintu gerbang terbuka, dan terlihat Cindy dari balik pintu gerbang menyambut Riyan dengan senyuman ceria.


"Wah, gantengnya pacarku" goda Cindy saat melihat Riyan dengan kemeja warna hitam sehingga wajahnya terlihat sangat cerah.


"Iya dong, kan mau ketemu calon mertua" balas Riyan


Cindy hanya menjulurkan lidahnya sedikit untuk membalas perkataan Riyan. Mereka pun berjalan menuju rumah Cindy dan meninggalkan mobil Riyan di depan gerbang rumah.


Kedatangan Riyan sangat disambut di ruang makan keluarga Cindy. Meski canggung dan gugup, Riyan berusaha menyesuaikan diri di tempat itu.


Meja makan di rumah Cindy berbentuk bundar dan terbuat dari kaca tebal dengan diameter berukuran dua meter, dilapis dengan kaca tebal lainnya berdiameter satu setengah meter dengan roll roda dibawahnya.


Di atas meja makan rumah Cindy itu sudah tersedia piring dan sendok untuk tiap orang, sedang berbagai macam hidangan diletakkan pada lapisan kedua yang bisa diputar agar hidangan dapat berpindah.


"silahkan duduk nak Riyan" ucap kakek Cindy


Riyan pun melemparkan senyuman kemudian duduk di samping paman dan kakek Cindy, sedang di depan Riyan adalah Cindy dengan ayah ibunya. Disaat semuanya mengambil hidangan di atas meja, Riyan yang agak canggung merasa tidak enak untuk ikut mengambil makanan di sana.


"Ayo jangan malu-malu" ucap Ibu Cindy


"Iya tante" balas Riyan


"Tau nih tiba-tiba jadi pemalu anaknya" tambah Cindy meledek Riyan


Beberapa saat kemudian Riyan menjadi lebih santai dan menyatu dengan suasana di tengah makan malam itu. Awalnya ayah Cindy bertanya detail kepada Riyan mengenai, sekolah dan orang tuanya. Hingga akhirnya Cindy mengatakan kalau Riyan bahkan punya kerjaan saat ini.


"Apa yang kau kerjakan?" Tanya ayah Cindy


"Hanya kerjasama dengan sebuah restoran om" sahut Riyan


"Restoran mana?" tanya ayah Cindy lagi.


"itu restoran Nature Food yang ada di pusat kota" jawab Riyan


"Milik Surya?" ayah Cindy sedikit terkejut


"Om kenal pak Surya?"


Kemudian ayah Cindy mengatakan kalau dia sering membawa kliennya untuk makan masakan olahan daging rusa di restoran itu. Itulah sebabnya beliau mengenal pak Surya.


Ayah Cindy adalah seorang pengusaha bidang farmasi dimana usahanya bergerak dalam bidang pengolahan dan penyaluran obat-obat untuk rumah sakit dan apotik.


"Anak ini seorang yatim piatu, dikenal sebagai anak jenius di sekolah, selain itu dia sudah bisa menjalin kerjasama dengan restoran kelas atas milik Surya, anak ini bisa mandiri di usia sangat muda, dia luar biasa" pikir ayah Cindy tersenyum


"Kerjasama seperti apa yang kau lakukan yan?" tanya ayah Cindy lagi semakin penasaran


"Bisa dibilang saya sebagai distributor bahan dagangan beliau om" jawab Riyan


Percakapan di atas meja makan beberapa kali berganti topik hingga makan malam berakhir. Segera setelah semuanya meninggalkan meja makan, tempat itu dirapikan oleh bi imah.


Mereka semua berpindah ke ruang tamu, kecuali paman Cindy karena harus melakukan latihan.


"Riyan, Minggu depan om akan membuat kerjasama baru dengan dua perusahaan yang ada di luar pulau. Kalau kau mau, kau bisa ikut" ajak ayah Cindy


Riyan menjadi bingung bagaimana cara menolak ajakan dari ayah Cindy, karena dia tidak berminat untuk mengurusi kesepakatan ataupun perjanjian perusahaan. Tiba-tiba Cindy yang melihat kekasihnya bingung, segera menengahi ajakan ayahnya.


"Kami kan masih ada sekolah yah" sahut Cindy


"Ayah hanya menawarkan, siapa tau Riyan berminat" balas ayah Cindy


"Akan saya pikirkan om" jawab Riyan


Ayah Cindy yang semula terkesan sombong saat pertama bertemu Riyan, sekarang malah keramahan beliau yang sangat terasa kepada Riyan.


Jam 9 malam Riyan pamit pulang kepada keluarga Cindy. Riyan kembali di temani Cindy menuju gerbang rumahnya. Sambil berjalan menuju gerbang, Cindy meminta Riyan agar besok menemaninya latihan di tengah hutan seperti tadi siang.


Riyan pun menyetujui permintaan Cindy karena Riyan juga menginginkan Cindy untuk menjadi lebih kuat.


Di depan pintu Riyan berpamitan dengan Cindy dan mencium keningnya. Riyan kemudian menuju mobil warna merah miliknya.


"Mobil siapa?kamu beli mobil?" tanya Cindy


"Iya..buat anter jemput Mila dan Tante Tari" sahut Riyan


"Owh...hati-hati dijalan, dadaah" ucap Cindy melambaikan tangannya kepada Riyan yang sudah masuk mobil


"Astaga pacarku ini sama sekali tidak bisa dibayangkan, dari mana dia dapat uang buat beli mobil" pikir Cindy kemudian kembali kerumahnya


Saat kembali, dibawah cahaya bulan tanpa sengaja dia melihat pamannya berlatih jurus hukuman petir naga di samping rumah. Paman Cindy mengambil posisi berdiri kemudian membentuk segitiga dengan menyatukan kedua telapak tangan di atas dada.


Pamannya menarik napas perlahan kemudian mendorong kedua tangan yang berbentuk segitiga tersebut ke arah depan sampai kedua tangannya lurus. Sambil memutar telapak tangannya ke arah bawah, paman Cindy terlihat menghembuskan nafas kembali secara perlahan.


"Wah hebat, paman sudah sampai melakukan gerakan nafas petir naga. Kalau begitu aku juga harus berlatih dengan giat besok" gumam Cindy


*Markas NOZ bagian Nevada*


Mobil box besar memasuki garasi bangunan yang menjadi markas NOZ di Nevada. Pintu box terbuka, seluruh tim Thomas dan juga Rinko kemudian keluar dari box dibelakang mobil besar itu.


"Dimana ini ? " tanya Rinko


"tidak perlu tanya, kau ikuti saja " jawab Thomas memimpin timnya memasuki sebuah pintu yang ada di dalam garasi itu.


Dibalik pintu itu mereka melewati sebuah lorong pendek yang mengarah ke ruang tengah bangunan tersebut. Di ruang tengah itu terlihat semua perabotnya tertata rapi seperti rumah bangsawan, dan tidak terlihat seperti markas penjahat.


Tim Thomas meletakkan senjata mereka pada sebuah meja besar yang ada di sana. Beberapa dari mereka menjatuhkan tubuh mereka di atas sofa untuk beristirahat.


Thomas menuang air minum kedalam dua buah gelas dan memberikan satu gelas kepada Rinko.


"Duduklah ! " pinta Thomas


Rinko meminum air pemberian Thomas kemudian menuruti permintaannya untuk duduk pada sebuah kursi yang ada di depan Thomas.


"ceritakanlah ! " pinta Thomas lagi


"Bagian mana yang kau ingin tahu ? " tanya Rinko


"Semuanya yang kau tahu " jawab Thomas


Rinko menceritakan semua yang dia ketahui saat di wallin palace. Mulai dari awal pesta, penculikan senator ke lantai dua dan beradu tembak dengan Ken.


"Lalu bagaimana pasukan yang kami kirim bisa terbunuh semuanya ? " tanya Thomas


Untungnya saat kejadian malam itu di wallin palace, Rinko tidak pernah bertemu Riyan. Pertemuannya hanya sejak pengejaran Yorgi dengan menggunakan mobil milik Jack.


"seperti ninja ? apa itu pengawal seseorang ? " pikir Thomas


"Satu lagi, siapa yang mengalahkan Dasan Hania hingga terluka parah seperti itu ? " tanya Thomas lagi


"aku tidak kenal siapa pemuda itu, mereka memang menyebutkan namanya tapi aku tidak mendengarnya dengan jelas. Saat itu yang mengejar kami adalah agen CIA, Sherif dan pemuda itu. Aku menghadapi CIA dan Sherif sedang Dasan menghadapi pemuda itu " jelas Rinko


"Jadi ada dua orang hebat saat itu, pria seperti ninja yang menghabisi seluruh pasukan NOZ dan satu lagi pemuda yang mengalahkan Dasan Hania " pikir Thomas


"Apa kita perlu mencari informasi mengenai pemuda itu ? " tanya Hana yang mendekat dari belakang Rinko


"Lakukanlah semampu mu! jika mungkin, temukan dimana orang itu berada " ucap Thomas


Mendengar perintah Thomas, Hana segera meninggalkan ruangan tersebut. Sesaat kemudian Rinko meminta untuk bergabung dengan organisasi NOZ. Thomas yang memang tertarik dengan keahlian Rinko, menjadikannya sebagai bawahan.


Sesaat kemudian Martin Wilson dengan rambut pirang klimisnya muncul dari sebuah pintu besar yang berada di ruang tengah itu.


"Thomas, ada berita buruk. Brian telah tewas terbakar di Indonesia " ucap Martin


Thomas dan timnya kaget mendengar apa yang baru saja dikatakan Martin.


"Apa kau yakin ? siapa yang bisa melakukan itu di sana ? " tanya Thomas


"Sebenarnya aku juga masih belum percaya, Brian adalah salah satu dari 6 orang yang mendapatkan peningkatan seperti dirimu. Bahkan kemampuan peningkatan miliknya adalah kecepatan, api tidak akan sempat membakar tubuhnya " ucap Martin


"Terakhir aku dan Brian berada di kota yang bernama Muriya, aku akan mengirim orang ke sana untuk memeriksa apa yang terjadi " ucap Thomas


*Kediaman Prof Gema*


Dalam ruang kerjanya, prof Gema sampai saat ini sudah membuat 8 serum yang siap di campurkan dengan DNA makhluk lain. Beliau memasukkan beberapa serum itu kedalam tabung yang kemudian dimasukkan lagi kedalam sebuah tas untuk dibawa pergi.


"Serum itu mau dibawa kemana prof?" tanya Lisa


"Delhi, India. Aku akan menemui salah satu teman lamaku di sana, mungkin dia bisa memanfaatkan serum ini" jawab prof Gema


"Apa saya juga harus ikut ?" tanya Lisa


"Kau tunggu saja disini, aku mungkin hanya pergi beberapa minggu" balas prof Gema


"Baiklah, lagipula Brian sudah tidak ada" ucap Lisa


*SMA Fajar Harapan*


Keesokan harinya, hujan turun deras pagi itu, beberapa murid menggunakan payung dari gerbang sekolah. Begitu juga Cindy yang baru saja turun dari mobil ayahnya, langsung membuka payung dan berjalan kedalam sekolah. Sebelum ayahnya pergi, Cindy mengatakan kalau dia akan pulang bersama Riyan saat sore hari.


Di perjalanan menuju gedung sekolah, Cindy melihat Fikri dipojokkan oleh beberapa senior kelas tiga. Bahkan mereka mendorong kearah hujan hingga seluruh pakaian dan tas Fikri basah. Cindy geram melihat hal itu langsung menghampiri senior dan Fikri.


"Hei, apa yang kalian lakukan?" teriak Cindy


Para senior itu kemudian menatap kearah Cindy dan mendekatinya. Fikri yang takut hal itu akan membuat masalah, segera berdiri di tengah-tengah mereka. Menjadi pembatas antara Cindy dan para senior.


"Sudah Cin, kita pergi saja ke kelas" bujuk Fikri


"Tidak apa Fik, para senior ini sudah kelewatan" ucap Cindy


Tetapi Fikri memaksa dan menarik tangan Cindy untuk pergi meninggalkan para senior di sana.


"Hei, mau kemana?kita belum mulai bersenang-senang" teriak salah satu senior dan yang lainnya tertawa bebas.


Di dalam kelas, Fikri berterima kasih kepada Cindy. Fikri menceritakan bahwa para senior itu memang sengaja mengganggunya untuk mengambil payungnya. Sesaat kemudian Riyan masuk kedalam kelas.


"Kau tidak membawa payung?" tanya Riyan melihat Fikri dengan seragam yang basah


"Ah iya, aku melupakannya jadi terpaksa harus berlari dari gerbang sekolah kesini" jawab Fikri


Riyan melanjutkan berjalan menuju mejanya yang berada di samping Cindy dan Lisa. Tidak berapa lama, jam pelajaran pertama dimulai. Usai jam pelajaran pertama, berikutnya adalah pelajaran pak Wira. Karena sibuk dengan hal lain, beliau masuk kedalam kelas hanya untuk membuka pelajaran dan memberikan beberapa soal.


Saat bel istirahat berbunyi, seperti biasa Riyan dan teman-temannya pergi ke kantin. Saat itu Cindy meminta Riyan dan yang lain pergi duluan karena harus menyelesaikan sedikit lagi soal yang diberikan pak Wira.


"Kau perlu bantuan?" tanya Riyan


"tidak perlu say, walau agak lama tapi aku mau hasil dari usahaku sendiri. Kamu duluan aja nanti kususul" ucap Cindy


Karena tidak ingin mengganggu, maka Riyan dan yang lainpun meninggalkan Cindy di kelas. 5 menit kemudian Cindy selesai dan menyusul Riyan ke kantin untuk makan siang.


Cindy duduk di sebelah Riyan seperti biasa. Dia melihat selain Riyan, teman-temannya yang lain sedang makan siang.


"Kamu ga makan say?" tanya Cindy


"kan nungguin kamu" jawab Riyan


"Huuu...huuu" Teman-temannya seketika riuh mendengar percakapan kedua pasangan itu.


"Apa sih sirik aja" balas Riyan


Tidak disangka saat itu senior yang mengganggu Fikri tadi pagi masuk ke kantin dan duduk di sebelah meja mereka yang kebetulan kosong. Para senior itu melirik kearah Cindy dengan tajam, namun sesaat kemudian pandangan mereka beralih kearah Benny yang juga baru tiba.


Melihat Benny seorang diri, para senior itu pun ingin mengerjainya untuk melampiaskan kekesalan terhadap Cindy.


"Mulai lagi deh" ucap Lisa


Semua mata mengarah kepada senior kelas tiga itu kecuali Riyan yang memang mencoba untuk tidak peduli. Riyan seperti fokus melihat menu makanan di tangannya, namun sebenarnya pikirannya melayang menahan keinginan untuk membantu Benny.


Melihat dirinya di hampiri senior itu, Benny segera berpikir untuk pergi dari kantin dan mencari makan diluar sekolah. Sayangnya rencana itu harus gagal karena para senior menghalangi jalan Benny.


Saat itu ada 5 senior yang mengelilingi Benny. Satu orang senior merangkul dan membawa Benny keluar kantin dan membawanya ke atap sekolah.


Setelah mereka pergi Riyan kemudian memberikan menu makan kepada Cindy. Hanya saja Riyan kaget mengetahui Cindy sudah tidak berada disebelahnya.


"Dimana Cindy?" tanya Riyan


"Kau itu terlalu fokus dengan menu makanan atau kurang fokus karena lapar? pacar mu disana tuh" ucap Lisa menunjuk kearah Cindy yang mengikuti para senior kelas tiga dari belakang.


"Astaga anak ini" ucap Riyan


Riyan pun bangkit dari kursinya dan mengikuti Cindy sampai ke atap sekolah diam-diam. Di sana Benny berkelahi dengan para senior namun hanya jadi samsak tinju mereka.


"Hei, hentikan" teriak Cindy


Para senior itu tertawa gembira melihat Cindy berdiri disitu.


"hooo ternyata si cantik datang. Padahal kami ingin mengurusmu nanti, tapi kau malah datang kemari " ucap salah satu dari mereka


Di atap sekolah itu, Cindy mengepalkan kedua tangannya bersiap menyerang lima senior.


"sepertinya akan jadi pemanasan yang bagus bagi Cindy" gumam Riyan dari balik belakang pintu menuju atas sekolah.