
*Rumah sakit Las Vegas*
Tiffany duduk sendirian didepan ruang UGD pada sebuah kursi tunggu panjang yang terbuat dari besi. Dia membayangkan betapa mengerikannya Riyan saat melihat kondisi Dasan Hania yang mengalami luka sangat parah.
Sesaat kemudian Reihard Stone tiba di Rumah Sakit bersama 4 anggota CIA lain. Dengan langkah cepat yang terdengar serempak di lantai Rumah Sakit, mereka mendekat ke arah Tiffany.
"Dimana orang itu? " Tanya Reihard
"Dasan Hania sedang dirawat didalam " jawab Tiff
Reihard masuk ke dalam ruang UGD untuk melihat kondisi Dasan Hania. Hampir seluruh tubuhnya terkoyak, 5 orang perawat sedang menjahit luka di tubuh Dasan. Bahkan Reihard merasakan kengerian melihat keadaan pembunuh bayaran terkenal di dunia yang ada dihadapannya.
Dasan Hania, salah satu pembunuh bayaran tingkat platinum yang lama menjadi buron CIA dan Interpol. Sekarang terbaring tidak berdaya di ruangan itu. Reihard kembali menemui agen Tiffany yang berada di luar.
Reihard meminta Tiff ikut bersama mereka ke kantor polisi tempat dimana Rinko berada. Reihard menggali informasi mengenai detail pengejaran Yorgi dari Tiff selagi berjalan keluar Rumah Sakit.
"Siapa yang bertarung melawan Dasan ? " tanya Reihard
"Seorang anak muda, pengawal Luke Vargas. Anak itu sangat hebat, dia bahkan bisa menahan peluru sniper dari Don Larry " jawab Tiff
"bawa anak itu menemui ku besok ! "
"Baik pak " sahut Tiff
*Di mobil patroli polisi Jack*
Tuan Luke, Jack, Ken dan Riyan dalam perjalanan menuju kediaman Luke Vargas. Jack memegang kemudi mobil di samping Luke, sedang Ken dan Riyan duduk di kursi belakang.
Riyan lega ketika tuan Luke memberitahukan kalau senator Joseph yang merupakan ayah dari Alice masih hidup.
"Jadi senator Joseph di pesta waktu itu ternyata palsu ya " Ucap Riyan
"Ya " jawab Luke
"tapi tetap saja orang yang menggantikannya menjadi korban " ucap Riyan
Terpengaruh perkataan Riyan, Luke yang melihat Ken dibalut perban di bahu kiri dan Riyan di bagian leher. Menjadi sedikit merasa tidak enak, namun dia bersyukur mereka tidak tewas malam ini.
Situasi menjadi sedikit lebih dingin didalam mobil patroli itu. Jack yang merasakan berusaha merubah suasana.
"itu memang sudah tugas mereka " balas Jack
Jack kemudian menceritakan pengejaran mereka dengan seorang agen CIA bernama Tiffany. Dia dengan antusias menceritakan detail pengejaran itu.
"Aku dan Tiff bahkan kesulitan mengalahkan gadis beracun itu " ucap Jack
Mendengar kata 'gadis beracun' dari Jack, Ken teringat akan racun mandara yang tercium olehnya saat di pesta.
"Gadis beracun ? Apa dia dari Jepang ? " tanya Ken penasaran
"Teman, kau ingat gadis Jepang cantik yang membagikan minuman di pesta ? Itu orangnya, namanya kalau tidak salah Rinko " sahut Riyan di kursi belakang
"Gadis itu ada di pesta ? kenapa aku tidak melihatnya.Tunggu dulu, dari mana kau tau namanya ? " ucap Jack
"Bukannya waktu itu si sniper memanggil namanya untuk minta perlindungan " balas Riyan
Jack semakin heran dengan Riyan, saat itu dipenuhi suara tembakan dan jarak mobil mereka dengan mobil Yorgi lumayan jauh. Akan tetapi Riyan bisa mendengar apa yang diucapkan Don Larry saat itu.
"Apa kau itu punya telinga kelinci? Sudahlah, yang jelas akhirnya kami bisa memojokkannya dan membuatnya menyerah. Serangan jarum dan gerakan lompatan lincahnya sangat merepotkan " ucap Jack
Disaat itu, Ken masih memikirkan mengenai gadis beracun yang diceritakan Jack. Dia mencoba menyimpulkan semua informasi yang didapatnya.
"Jarum, lompatan yang lincah, racun mandara. Apa itu dia ? tapi Riyan bilang namanya Rinko " ucap Ken dalam hati
Merekapun tiba di gerbang rumah Luke Vargas pukul 3 pagi. Melihat banyaknya penjaga di rumah Luke, Riyan jadi teringat saat di Wallin Palace.
Menurut informasi, Yorgi memiliki banyak anak buah seperti Luke. Tetapi di Wallin Palace, anak buah Yorgi hanya penjaga tamu di depan dan belakang. Bahkan mereka juga dibunuh oleh pasukan NOZ, itu membingungkan bagi Riyan.
"Ah sudahlah, yang penting tugasku sekarang selesai dan besok bisa kembali ke Indonesia " ucap Riyan dalam hati
Mobil patroli yang dibawa Jack kemudian berhenti tepat didepan pintu masuk rumah Luke. Semuanya turun dari mobil dan menuju ke ruang tengah Luke. Pada ruangan itu terdapat bar kecil, di sanalah mereka semua duduk. Luke mengambilkan empat buah gelas dan sebotol bir kemudian menuangkan kepada gelas mereka bertiga.
"Jadi bagaimana dengan mu Riyan ? Apa ceritamu ? " tanya Luke
"biasa saja, tidak ada yang menarik, aku hanya mengalahkan pemain pisau Apache itu dengan beberapa jurus " jawab Riyan santai
"Apanya yang biasa, kau mengalahkan Dasan Hania dengan meninggalkan luka parah di tubuhnya. Hanya saja saat itu aku tidak melihat kau melakukannya " balas Jack
"Anda terlalu melebihkan " ucap Riyan
"Dengan kemampuanmu yang kulihat dari cctc, tentu saja kau bisa mengalahkan pembunuh kelas platinum " ucap Luke dalam hati.
Setengah jam kemudian Jack pergi meninggalkan mereka untuk kembali pulang. Untuk malam ini, Riyan diminta tetap berjaga di rumah Luke. Ketika Jack pergi, Riyan memberikan katana milik Yoshinori kepada Ken sebagai hadiah.
"Jadi ini pedang yang kau gunakan untuk membantai pasukan NOZ " ucap Ken
Riyan tidak mengerti dengan apa yang Ken katakan. Wajah bingungnya membuat Luke memberitahukan apa yang mereka lihat melalui rekaman cctv di ruang mesin pengawas wallin palace.
"Aku melihat rekaman cctv di wallin palace, kau membantai semua pasukan NOZ itu " ucap Luke kemudian meminum birnya dari gelas.
"Sial, ini akan merepotkan jika identitas ku sebagai pengguna armor hitam bocor. Kupikir karena listrik padam cctv juga akan ikut mati, itu sebabnya kenapa aku tidak meminta Alpha untuk menghapus rekaman cctv " ucap Riyan dalam hati
"Jangan khawatir aku sudah menghapus rekaman cctv di sana, jadi tidak ada yang akan tau perbuatan mu " ucap Luke
"Lalu ? " Tanya Riyan penasaran
"Karena kau merupakan pengawal ku, harusnya tidak masalah jika kau menghabisi pasukan itu secara terang-terangan. Kau tidak perlu repot-repot memutus aliran listrik bahkan berganti pakaian dengan kain hitam seperti ninja " jelas Luke
"Kain hitam ? Berganti pakaian ? Jadi mereka tidak melihat saat aku merubah pakaianku, mereka hanya berpikir aku mengganti pakaian " pikir Riyan
"Kami ingin tau kenapa kau merahasiakan kemampuanmu? Apa karena kau orang luar ? " Tanya Ken
Riyan kebingungan dengan jawaban apa yang harus dia berikan, sebenarnya Riyan memadamkan listrik agar tidak terlihat memakai armor hitam nano material dan mengambil senjata wechas pasukan NOZ.
Namun alasan seperti itu tidak mungkin dikatakan Riyan kepada tuan Luke dan Ken. Akhirnya Riyan membuat alasan yang dirasanya masuk akal.
"Sebagian besar iya. Terakhir kali aku menggunakan keahlian ku untuk menyelamatkan tuan Luke, CIA menganggap ku sebagai anggota NOZ. Ditempat pesta itu begitu banyak anggota CIA dan tamu, aku tidak ingin kemampuanku diketahui oleh mereka. Tapi sekarang kalian sudah melihatnya, Jack dan Tiff juga mengetahui aku mampu menahan peluru dan mengalahkan Dasan " ucap Riyan
Tuan Luke dan Ken bisa menerima alasan Riyan yang dibuatnya asal dan mendadak. Akhirnya Luke dan ken memutuskan merahasiakan mengenai pembantaian pasukan NOZ yang dilakukan oleh Riyan. Riyan bisa sedikit lega mengenai rahasia nano material dan nano system miliknya.
"Syukurlah mereka tidak tau mengenai nano material dan armor ku, bahkan pedang oriental milikku mereka pikir adalah katana Yoshinori " ucap Riyan dalam hati
"Kalian beristirahatlah. Riyan, besok orang ku akan mengantarkan mu ke hotel " ucap tuan Luke
Karena sejak tiba di wallin palace Riyan tidak memulihkan tenaganya, menyebabkan dia saat ini menjadi sangat lelah.
"Alpha, pulihkan tenaga dan luka ku " ucap Riyan
[Pemulihan tenaga 1%...25%..80%...]
[Pemulihan selesai]
Riyan merasakan tenaganya kembali pulih, dan luka dari tebasan Yoshinori perlahan menutup dan hilang tanpa bekas.
"Baiklah, sekarang kita ke bagian utamanya " ucap Riyan
Dari balik kantong jas tuksedo yang sudah di sobeknya, Riyan mengeluarkan 71 wechas. Semua wechas itu diletakkan di atas tempat tidur, kemudian Riyan mengunci kamar itu dari dalam.
Riyan berdiri di samping tempat tidur dan meletakkan telapak tangannya keatas wechas.
"Alpha, mulailah "
Satu persatu wechas di atas tempat tidur itu berubah menjadi nano material, dan perlahan masuk ke tubuh Riyan melalui telapak tangannya.
Jumlah wechas sebanyak itu memerlukan waktu yang lama untuk menyerapnya. Oleh sebab itu Riyan memutuskan mengunci pintu kamarnya.
Keesokan harinya, pukul 11 siang Riyan selesai menyerap wechas. Alpha mengatakan kalau jumlah nano material sudah terpenuhi untuk meningkatkan 10% lagi kemampuan otak.
"Lakukan " ucap Riyan bersiap menerima kesakitan yang sangat hebat seperti sebelumnya.
Benar saja, Riyan kembali tersungkur ke lantai menahan kesakitan proses peningkatan kemampuan otaknya. Sama seperti sebelumnya, selama 2 menit Riyan menahan proses yang menyakitkan itu. Setelah selesai, Riyan merasakan didalam tubuhnya terdapat banyak nano material,
"Alpha, Kenapa aku bisa merasakan nano material dalam diriku ? sebelumnya hanya nano material yang ada di luar tubuh ku yang bisa kurasakan " ucap Riyan
[Bukankah kemampuan otak anda sudah meningkat, keterkaitan anda dengan nano material juga semakin kuat]
"Jadi begitu, tapi untunglah cadangan kita kali ini banyak. Sehingga tidak perlu menghabiskan nano material seperti pertama kali " ucap Riyan
[Proses pembentukan juga menjadi 3 kali lebih cepat]
"Benarkah? Akan ku coba " ucap Riyan
Teringat lemparan jarum Rinko dan perang senjata api, pikiran pertama Riyan adalah untuk membuat sebuah perisai. Riyan mengarahkan telapak tangannya ke depan pintu, hanya dalam waktu satu detik nano material keluar dari seluruh pori-pori lengan dan telapak tangannya.
"Shuuut " sebuah perisai hitam berbetuk lingkaran besar melayang di depan telapak tangannya.
"Jadi sekarang aku bisa membuat benda ini melayang " ucap Riyan
[Selama jaraknya masih 1 meter, anda bisa menggerakkan nano material tanpa menyentuh]
"Ya, aku ingat apa yang kau jelaskan di hutan kematian waktu itu " ucap Riyan
Ketika menurunkan tangannya, perisai itu masih tetap melayang dihadapannya. Riyan mencoba menggerakkannya dengan berkonsentrasi, perisai besar itu bergerak sesuai arahan pikiran Riyan.
Keatas, kesamping kanan dan kiri, bergerak bebas jauh satu meter dari posisi Riyan. Kemudian Riyan mencoba mengubahnya menjadi berbagai senjata.
"Kalau aku bisa menggerakkannya lebih jauh akan sangat keren, akan ku perdalam teknik penggunaan ini " gumam Riyan
Riyan mencoba membuka pintu kamar menggunakan nano material. Dari tangannya dia membuat sebuah tali panjang hingga ke gagang pintu, dari sana dia menggerakkan tali itu hingga membuat pintu terbuka.
"Wow..aku suka hidupku..ini sedikit lebih praktis " ucap Riyan
Riyan keluar dari kamarnya dan heran melihat di samping pintu kamarnya terdapat sebuah meja berisi buah-buahan dan makanan.
"Apa ini ? " gumam Riyan
Pelayan rumah Luke datang menyapa Riyan, seorang wanita paruh baya mengenakan pakaian maid. Dia memberitahu kalau makanan di atas meja adalah sarapan untuk Riyan.
Karena dari pagi Riyan sibuk menyerap nano material dari wechas, hingga tidak mendengar suara ketukan dan panggilan dari pelayan. Itulah sebabnya makanan itu diletakkan di depan samping pintu kamar Riyan.
"Terima kasih " ucap Riyan
Pelayan itu kemudian hendak pergi meninggalkan Riyan. Begitu langkah ke lima, Riyan ingin memanggil pelayan tersebut. Akan tetapi karena tidak mengetahui namanya, Riyan hanya langsung melemparkan pertanyaan.
"Dimana tuan Luke ? " tanya Riyan
Pelayan itu membalikkan badannya menghadap Riyan dan menjawab
"di ruang tengah bersama dengan tuan Jack "
Riyan mengambil 1 buah apel dari meja dan memakannya sambil menuju ruang tengah. Dari kamar Riyan menuju ruang tengah, Riyan tidak menyadari kalau terdapat taman kecil dijalan dari ruang tengah dan kamarnya.
Riyan tiba di ruang tengah, disana Jack dan Luke sedang duduk santai di sofa. Sedang dari arah pintu terlihat 2 pria dan 1 wanita pergi keluar meninggalkan rumah Luke.
"Siapa mereka ? " tanya Riyan mengagetkan Luke dan Jack
"Riyan, kau sudah keluar dari pertapaan mu ya " ucap Jack
Riyan mengangkat kepalanya sedikit untuk membalas perkataan Jack.
"Mereka adalah CIA, Tiff ingin kau datang menemui pimpinan mereka Reihard " ucap Luke
Riyan mendekati Luke dan Jack kemudian duduk bersama mereka di sofa.
"apa aku harus menuruti mereka ? " tanya Riyan
Luke memberikan keputusan itu kepada Riyan, Jack mengambil sebuah tiket dari kantongnya dan menyerahkannya kepada Riyan. Itu adalah tiket penerbangan sore ini menuju Indonesia, itu adalah 5 jam lagi.
"Jika kau siap, aku akan menyuruh anak buah ku mengantarmu ke Hotel. Dan kau bisa menemui Reihard setelah itu " ucap Luke
Riyan kembali bingung untuk membuat keputusan. Dia pun meminta Luke untuk memberikan arahan.
"Entahlah, apakah tidak apa jika aku menolak menemuinya ? "
"Sudah kubilang, itu terserah kepadamu kawan. Hanya saja jika kau menemuinya, mungkin kau perlu membeli tiket baru lagi " ucap Luke
Riyan memutuskan tidak menemui Reihard. Dia meminta diantar kembali menuju hotel untuk mengepak semua barang-barangnya yang ada di sana.
"sepertinya aku tidak akan menemuinya, sampaikan maaf ku nanti jika kalian bertemu " ucap Riyan
Riyan menoleh ke kanan kiri tapi tidak terlihat adanya Ken.
"dimana Ken ? apa dia masih tidur ? " Tanya Riyan penasaran
"Dia pergi ke penjara Las Vegas untuk menemui Rinko, katanya ada sesuatu yang harus diselesaikan antara mereka berdua " jelas Jack